NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:205.2k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13

"Mas...."

Yuda memandang istrinya yang terlihat bingung. Ia tau, tapi dia sudah terlanjur kesal.

"Tadi... Kamu mau gamis yang mana?"

Ning tersentak, bingung dengan situasi sekarang.

"Tadi, kami tunjukkin gamisnya sama Mbak yang itu... Tolong ambilkan gamis yang tadi ya?" kata Yuda sambil menunjuk penjaga toko yang tadi.

Wanita yang ditunjuk Yuda gelagapan. Dia tadi memang tak begitu memperhatikan, karena memang sudah malas saja.

Pemilik toko itu mengerutkan kening, menatap penjaga tokonya bergantian dengan Yuda. Suasana mendadak senyap, hanya suara pendingin ruangan yang berdengung pelan.

“Benar kayak gitu?” ulang si pemilik toko, nadanya tidak tinggi, tapi cukup membuat sang penjaga menunduk.

Wanita itu menggigit bibir. “Maaf, Pak… saya kira—”

“Kira lihat-lihat saja?” potong Yuda, suaranya dingin. Tangannya refleks meraih lengan Ning yang memegang kruk, seolah menguatkan. “Kalau memang enggak niat melayani, bilang dari awal.”

Ning menarik pelan lengannya. “Mas…” bisiknya, tak nyaman.

Pemilik toko menghela napas, lalu menoleh pada penjaga tokonya. “Kamu layani Mbaknya baik-baik. Dari awal sampai selesai. Jangan asal.”

Penjaga itu mengangguk cepat. “Iya, Pak. Maaf, Mbak.”

Yuda belum puas. “Sekarang, gamis yang tadi ditunjuk istri saya. Tolong ambil. Dan tolong bantu dia coba.”

Ning tersentak. “Mas, enggak usah—”

“Enggak apa-apa,” potong Yuda. “Kamu duduk saja. Biar dia yang bantu.”

Nada Yuda terdengar tenang, tapi Ning tahu—ia sedang sengaja. Ada kesal yang dipaksakan rapi. Ning merasa dadanya menghangat aneh, bukan nyaman, justru risih.

Penjaga toko itu tampak makin canggung. Ia mengambil beberapa gamis, lalu mendekat ke Ning. “Mari, Mbak… saya bantu.”

Ning menatap kruk di tangannya, lalu ke wajah wanita itu. “Enggak usah, Mbak. Saya bisa sendiri.”

Yuda menggeleng. “Enggak. Kakimu jangan dipaksa.”

Ning menelan ludah. Ia duduk di bangku kecil dekat cermin, sementara penjaga toko berlutut sedikit, membantu mengancingkan bagian belakang gamis. Tangan wanita itu gemetar halus. Ning bisa merasakannya.

“Maaf ya, Mbak,” bisik penjaga itu lirih. “Tadi saya salah.”

Ning tersenyum tipis. “Enggak apa-apa.”

Justru itu yang membuat Ning makin tak enak hati. Ia melirik Yuda di pantulan cermin—suaminya berdiri dengan rahang mengeras, tatapannya mengawasi setiap gerak.

“Mas,” panggil Ning pelan setelah gamis itu terpasang. “Sudah. Ning enggak jadi beli apa-apa.”

Yuda menoleh cepat. “Kenapa?”

Ning bangkit dengan bantuan kruk. “Enggak apa-apa. Ning enggak mood.”

Ia melepas gamis itu, menyerahkannya kembali. Lalu, tanpa menunggu jawaban, Ning berjalan keluar toko. Langkahnya pelan, tertatih, tapi tegas.

Yuda menoleh ke pemilik toko, suaranya menahan emosi. “Lihat, Pak. Pelayanan kayak gini bikin pelanggan enggak nyaman.”

Pemilik toko tampak serba salah. “Saya minta maaf, Mas. Ini salah saya.”

Yuda tidak menjawab. Ia hanya melangkah keluar, meninggalkan toko tanpa satu pun belanjaan.

Di luar, Ning berdiri di tepi trotoar. Matanya memandang jalanan ramai tanpa fokus. Yuda mendekat, napasnya masih berat.

“Ning,” panggilnya lembut.

“Kamu marah sama Mas?” tanya Yuda pelan.

Ning menggeleng. “Enggak.”

“Tapi kamu pergi.”

“Ning cuma… pengin pulang.”

Yuda menghela napas. “Maafin Mas.”

Ning akhirnya menoleh. “Mas ngapain minta maaf? Ning beneran enggak marah.”

“Kalau enggak marah, kenapa mukanya kayak gitu?”

Ning terdiam. Bibirnya terkatup rapat. Lalu berkata lirih, “Ning cuma… baper.”

“Kenapa?”

Ning menggeleng lagi. “Udah, Mas. Pulang aja.”

Yuda berhenti melangkah. “Enggak.”

Ning menoleh cepat. “Mas?”

“Kalau kamu kesal, marah aja,” kata Yuda. “Keluarin.”

“Ning enggak berhak marah.”

Yuda terkekeh kecil. “Siapa bilang?”

“Mas baik sama Ning. Mas selalu belain Ning. Ning enggak pantas marah ke Mas.”

Yuda tertawa lebih lepas kali ini. “Ya Allah… Ning.”

“Apa?” Ning mulai tersinggung.

“Kamu tau enggak?” Yuda mendekat, menunduk agar sejajar. “Kamu lagi marah sekarang. Tapi kamu tahan.”

“Ning enggak—”

“Kamu kesal,” potong Yuda lembut. “Dan itu wajar.”

Ning menggigit bibir. “Ning cuma ngerasa… Mas tadi sama aja kayak dia.”

“Siapa?”

“Penjaga toko itu.”

Yuda terdiam.

“Dia bikin Ning enggak nyaman. Mas juga,” lanjut Ning lirih. “Dengan cara yang beda.”

Yuda menghela napas panjang. “Mas kesal karena dia meremehkan kamu.”

“Tapi Mas bikin dia dipermalukan,” balas Ning. “Ning malah kasian.”

Yuda tak langsung menjawab. Ia merangkul bahu Ning, menariknya ke dada. “Maaf.”

“Ning masih kepikiran.”

Yuda tersenyum , ia tau istrinya ini wanita spesial. Ia mengeluarkan ponsel. “Kalau gitu, Mas bikin kamu enggak kepikiran lagi.”

Ia menelpon pemilik toko. Ning tak mendengar jelas, hanya menangkap beberapa kata. Yuda menutup telepon, lalu tersenyum.

“Mas?” tanya Ning.

“Mas minta semua gamis yang tadi kamu coba dibungkus.”

Mata Ning membesar. “Mas! Ngapain—”

“Tadi katanya kepikiran,” Yuda menepuk bahunya.

“Tapi enggak dibeli semua juga, Mas.”

"Enggak, tadi katanya karena kita udah dibuat enggak nyaman, dia kasih potongan harga."

Ning tersenyum kecil, ada lega. “Benarkah? Alhamdulillah.”

Namun, kebingungan muncul. “Tapi… kok pemilik tokonya kayak nurut banget sama Mas?”

Yuda tampak gelagapan sesaat. “Oh… dia temanku. Dulu aku pernah nolong dia. Mungkin itu.”

Ning mengangguk. “Oh.”

Ia tak tahu, di balik layar ponsel Yuda, pesan singkat sudah meluncur: Bang, bikin dua nota ya. Satu harga asli, satu banyak potongan. Yang asli kasih ke saya. Yang potongan buat istri saya.

Pesan lain menyusul: Tip buat Mbak yang tadi saya transfer juga. Tolong sampaikan.

Mereka masuk ke toko ponsel. Ning terpukau melihat etalase.

"Mas, ngapain kita ke sini?"

“Kita lihat-lihat aja,” jawab Yuda santai. "Siapa tau ada yang bagus."

Belum lama, seorang pegawai mendekat. “Selamat, Mbak. Anda pengunjung ke seribu hari ini. Kami ada hadiah.”

“Hah?” Ning melongo.

“Ini ponsel, Mbak.”

Ning menoleh panik ke Yuda. “Mas?”

Yuda tersenyum santai. “Woooww ponsel gratis.”

"Tapi..."

"Selamat, ya Mbak," kata salah satu sales hp.

Ning memeluk kotak ponsel itu, matanya berkaca-kaca. “Ini... Beneran gratis buat Ning?”

“Iya, selamat ya... Karena Mbak adalah pengunjung ke 1000 kami.”

Ning tersenyum, dia sangat bahagia, ini adalah ponsel pertamanya.

Sore itu, mereka makan di sebuah warung tak jauh dari ruko baju tadi. Pemilik toko menyerahkan beberapa tas besar. “Ini pesanannya, Mbak.”

"Terima kasih, Pak. Sampai repot anter ke sini," kata Ning sungkan.

Ning menerima nota. Matanya membesar melihat angka diskon. “Pak, ini… potongannya banyak banget.”

Pemilik toko tersenyum. “Iya, Mbak.”

"Bapak enggak rugi?"

pemilik toko itu melirik Yuda, lalu tersenyum, "Enggak. Anggaplah ini penarik rejeki, Mbak. Sebagai permintaan maaf kami karena tidak melayani dengan baik."

Ning menunduk hormat. “Terima kasih banyak. Sebenarnya, ini enggak perlu, Pak.”

"Enggak papa, Mbak. Terima kasih udah berbelanja di tempat kami."

Di kontrakan, Ning menghitung-hitung uangnya. “Mas, Ning ganti ya.”

Yuda menggeleng. “Enggak.”

"Tapi, mas udah keluar uang banyak loh. Ning enggak enak."

"Coba bilang, mas siapa?"

"Mas Yuda."

Yuda tersenyum kecil. "Bukan. Maksudnya... Mas siapanya Ning?"

"Suami Ning."

"Nah, betul. Memang sudah sepantasnya Mas kasih Ning baju."

"Tapi..."

"Kamu tetep mau ganti?"

Ning mengangguk.

"Oke. Kamu bisa ganti. Tapi enggak dengan uang."

“Terus gantinya apa?”

Yuda mendekat, menatapnya dengan mata usil. “Mas mau Ning bayar dengan ini,” katanya seraya menyentuh bibir Ning.

1
bibuk Hannan & Afnan
hayuh loh, kalian semuanya knp tdk jujur sedari awal saat Ranu sadar siuman dr koma mengenalkan Ning sebagai anggota keluarga baru status nya istri Yudha biar tdk ada kesalah pahaman
Agunk Setyawan
Ning dimanfaatin Bu anggun orangvtua egois Yuda juga aneh knp g jujur
sutiasih kasih
knapa g jujur aj bu anggun... demi kbaikan smua org....
krn klo diam & mnyembunyikan fakta.... yg ada semakin mnmbah masalah...🙄🙄
Ariany Sudjana
muak lama-lama dengan keluarga Yuda, apalagi Bu anggun, uang ada, tapi menyodorkan Ning untuk menemani Ranu terapi, dan ga mau jujur kaalu Ning itu istrinya Yuda
Sapna Anah
kenapa ga jujur aja sebelum terlambat makin d tutupi justru makinmenyskitkan bagi Ranu dan ning
muthia
bu Anggun egois, kasian ning😭
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
smakin ngeselin in novel, banyak ahli terapys knp nyusahin ning, udh gt si anggun jg gak bil kl ning istri yuda, bodohnya lg ning juga gak bilang kl sdh nikah, ah
Bunda Juna
ibunya goblok greget bnget knpa gak jujur dari awal .....
Sri Rahayu
knp sih ngga terus terang ma Ranu...kl Ning itu istri nya Yuda...ya resiko lah apa yg akan Ranu rasakan, drpd.bohong trs nanti terlalu dlm perasaan Ranu pd Ning... lanjut Thorr😘😘😘
mama
bu anggun soplak.. greget bgt.. tak skip aja lah nunggu semuanya kebongkar aj baru tau rasa.. buat ning ny pergi jauh thor setelah tau semuanya.. biar Yuda sama anggun kalang kabut nyari🤣.. enk aj ning mau di manfaatin cuma buat kesembuhan ranu.. gk mikir ati ny ning blas km yud sm bu anggun😭
Arin
Mending jujur sekarang sebelum terlalu jauh. Daripada nunggu nanti-nanti Bu Anggun
Arieee
sembunyikan terus biar anak u saling benci😡😡😡😡😡😡
Nurmaulida Zahra
satu kata egois untuk keluarga yuda
Sri rahayu
demi anaknya hidup dia menghancurkan anaknya yg lain .sungguh kejam Bu anggun .seharusnya setelah Ranu bangun jujur sebenarnya Ning udah menikah dengan Yuda .jadi Ranu tidak mengharap Ning terlalu dalam
Sri rahayu
kasihan Ning tidak tau sekenario orang tua Yuda dan Yuda sendiri .dia seperti pion yg diumpankan kepada Ranu supaya Ranu mau berusaha tetap hidup dan berjalan seperti sedia kala .mungkin nanti Ning di suruh menikah dengan Ranu .dan Ning tidak tau sekenario yg mereka ciptakan
sutiasih kasih
mna ktegasanmu dbg suami yud....
jgnlah krna ibumu km tega mmbuat ning dlm posisi sulit... pdhl km pun jga merasakn ancaman dlm rmh tanghamu...
boleh bakti trhdp org tua yud.... tpi mnolak hal yg akn mmbuat rmh tanggamu hncur jga suatu keharusan yuda........
krna prmintaan ibumu itu konyol... & mrmaksakn khendaknya...🙄🙄
Indah Puspia Sari
klw percya y bodoh ,udah tes DNA tp klw percya y bodoh
Indah Puspia Sari
klw percya y bodoh ,udah tes DNA tp klw percya y bodoh
Arieee
demi anak yang sakit anak yang sehat ditekan sampai sakit hati🤧🤧🤧🤧
Ariany Sudjana
Yuda bodoh, ga mau bicara sama Ning, apa yang dirasakan. Ning juga bodoh, suami pulang kerja, kok tetap urus Ranu, suaminya dulu yang diprioritaskan. Bu anggun juga bodoh, kan orang kaya, kenapa Ning yang disuruh jadi terapisnya Ranu? ini yang akan menghancurkan rumah tangga Yuda dan Ning
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!