“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.
"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."
Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.
"Ning, ayo nikah sama Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
"Mas...."
Yuda memandang istrinya yang terlihat bingung. Ia tau, tapi dia sudah terlanjur kesal.
"Tadi... Kamu mau gamis yang mana?"
Ning tersentak, bingung dengan situasi sekarang.
"Tadi, kami tunjukkin gamisnya sama Mbak yang itu... Tolong ambilkan gamis yang tadi ya?" kata Yuda sambil menunjuk penjaga toko yang tadi.
Wanita yang ditunjuk Yuda gelagapan. Dia tadi memang tak begitu memperhatikan, karena memang sudah malas saja.
Pemilik toko itu mengerutkan kening, menatap penjaga tokonya bergantian dengan Yuda. Suasana mendadak senyap, hanya suara pendingin ruangan yang berdengung pelan.
“Benar kayak gitu?” ulang si pemilik toko, nadanya tidak tinggi, tapi cukup membuat sang penjaga menunduk.
Wanita itu menggigit bibir. “Maaf, Pak… saya kira—”
“Kira lihat-lihat saja?” potong Yuda, suaranya dingin. Tangannya refleks meraih lengan Ning yang memegang kruk, seolah menguatkan. “Kalau memang enggak niat melayani, bilang dari awal.”
Ning menarik pelan lengannya. “Mas…” bisiknya, tak nyaman.
Pemilik toko menghela napas, lalu menoleh pada penjaga tokonya. “Kamu layani Mbaknya baik-baik. Dari awal sampai selesai. Jangan asal.”
Penjaga itu mengangguk cepat. “Iya, Pak. Maaf, Mbak.”
Yuda belum puas. “Sekarang, gamis yang tadi ditunjuk istri saya. Tolong ambil. Dan tolong bantu dia coba.”
Ning tersentak. “Mas, enggak usah—”
“Enggak apa-apa,” potong Yuda. “Kamu duduk saja. Biar dia yang bantu.”
Nada Yuda terdengar tenang, tapi Ning tahu—ia sedang sengaja. Ada kesal yang dipaksakan rapi. Ning merasa dadanya menghangat aneh, bukan nyaman, justru risih.
Penjaga toko itu tampak makin canggung. Ia mengambil beberapa gamis, lalu mendekat ke Ning. “Mari, Mbak… saya bantu.”
Ning menatap kruk di tangannya, lalu ke wajah wanita itu. “Enggak usah, Mbak. Saya bisa sendiri.”
Yuda menggeleng. “Enggak. Kakimu jangan dipaksa.”
Ning menelan ludah. Ia duduk di bangku kecil dekat cermin, sementara penjaga toko berlutut sedikit, membantu mengancingkan bagian belakang gamis. Tangan wanita itu gemetar halus. Ning bisa merasakannya.
“Maaf ya, Mbak,” bisik penjaga itu lirih. “Tadi saya salah.”
Ning tersenyum tipis. “Enggak apa-apa.”
Justru itu yang membuat Ning makin tak enak hati. Ia melirik Yuda di pantulan cermin—suaminya berdiri dengan rahang mengeras, tatapannya mengawasi setiap gerak.
“Mas,” panggil Ning pelan setelah gamis itu terpasang. “Sudah. Ning enggak jadi beli apa-apa.”
Yuda menoleh cepat. “Kenapa?”
Ning bangkit dengan bantuan kruk. “Enggak apa-apa. Ning enggak mood.”
Ia melepas gamis itu, menyerahkannya kembali. Lalu, tanpa menunggu jawaban, Ning berjalan keluar toko. Langkahnya pelan, tertatih, tapi tegas.
Yuda menoleh ke pemilik toko, suaranya menahan emosi. “Lihat, Pak. Pelayanan kayak gini bikin pelanggan enggak nyaman.”
Pemilik toko tampak serba salah. “Saya minta maaf, Mas. Ini salah saya.”
Yuda tidak menjawab. Ia hanya melangkah keluar, meninggalkan toko tanpa satu pun belanjaan.
Di luar, Ning berdiri di tepi trotoar. Matanya memandang jalanan ramai tanpa fokus. Yuda mendekat, napasnya masih berat.
“Ning,” panggilnya lembut.
“Kamu marah sama Mas?” tanya Yuda pelan.
Ning menggeleng. “Enggak.”
“Tapi kamu pergi.”
“Ning cuma… pengin pulang.”
Yuda menghela napas. “Maafin Mas.”
Ning akhirnya menoleh. “Mas ngapain minta maaf? Ning beneran enggak marah.”
“Kalau enggak marah, kenapa mukanya kayak gitu?”
Ning terdiam. Bibirnya terkatup rapat. Lalu berkata lirih, “Ning cuma… baper.”
“Kenapa?”
Ning menggeleng lagi. “Udah, Mas. Pulang aja.”
Yuda berhenti melangkah. “Enggak.”
Ning menoleh cepat. “Mas?”
“Kalau kamu kesal, marah aja,” kata Yuda. “Keluarin.”
“Ning enggak berhak marah.”
Yuda terkekeh kecil. “Siapa bilang?”
“Mas baik sama Ning. Mas selalu belain Ning. Ning enggak pantas marah ke Mas.”
Yuda tertawa lebih lepas kali ini. “Ya Allah… Ning.”
“Apa?” Ning mulai tersinggung.
“Kamu tau enggak?” Yuda mendekat, menunduk agar sejajar. “Kamu lagi marah sekarang. Tapi kamu tahan.”
“Ning enggak—”
“Kamu kesal,” potong Yuda lembut. “Dan itu wajar.”
Ning menggigit bibir. “Ning cuma ngerasa… Mas tadi sama aja kayak dia.”
“Siapa?”
“Penjaga toko itu.”
Yuda terdiam.
“Dia bikin Ning enggak nyaman. Mas juga,” lanjut Ning lirih. “Dengan cara yang beda.”
Yuda menghela napas panjang. “Mas kesal karena dia meremehkan kamu.”
“Tapi Mas bikin dia dipermalukan,” balas Ning. “Ning malah kasian.”
Yuda tak langsung menjawab. Ia merangkul bahu Ning, menariknya ke dada. “Maaf.”
“Ning masih kepikiran.”
Yuda tersenyum , ia tau istrinya ini wanita spesial. Ia mengeluarkan ponsel. “Kalau gitu, Mas bikin kamu enggak kepikiran lagi.”
Ia menelpon pemilik toko. Ning tak mendengar jelas, hanya menangkap beberapa kata. Yuda menutup telepon, lalu tersenyum.
“Mas?” tanya Ning.
“Mas minta semua gamis yang tadi kamu coba dibungkus.”
Mata Ning membesar. “Mas! Ngapain—”
“Tadi katanya kepikiran,” Yuda menepuk bahunya.
“Tapi enggak dibeli semua juga, Mas.”
"Enggak, tadi katanya karena kita udah dibuat enggak nyaman, dia kasih potongan harga."
Ning tersenyum kecil, ada lega. “Benarkah? Alhamdulillah.”
Namun, kebingungan muncul. “Tapi… kok pemilik tokonya kayak nurut banget sama Mas?”
Yuda tampak gelagapan sesaat. “Oh… dia temanku. Dulu aku pernah nolong dia. Mungkin itu.”
Ning mengangguk. “Oh.”
Ia tak tahu, di balik layar ponsel Yuda, pesan singkat sudah meluncur: Bang, bikin dua nota ya. Satu harga asli, satu banyak potongan. Yang asli kasih ke saya. Yang potongan buat istri saya.
Pesan lain menyusul: Tip buat Mbak yang tadi saya transfer juga. Tolong sampaikan.
Mereka masuk ke toko ponsel. Ning terpukau melihat etalase.
"Mas, ngapain kita ke sini?"
“Kita lihat-lihat aja,” jawab Yuda santai. "Siapa tau ada yang bagus."
Belum lama, seorang pegawai mendekat. “Selamat, Mbak. Anda pengunjung ke seribu hari ini. Kami ada hadiah.”
“Hah?” Ning melongo.
“Ini ponsel, Mbak.”
Ning menoleh panik ke Yuda. “Mas?”
Yuda tersenyum santai. “Woooww ponsel gratis.”
"Tapi..."
"Selamat, ya Mbak," kata salah satu sales hp.
Ning memeluk kotak ponsel itu, matanya berkaca-kaca. “Ini... Beneran gratis buat Ning?”
“Iya, selamat ya... Karena Mbak adalah pengunjung ke 1000 kami.”
Ning tersenyum, dia sangat bahagia, ini adalah ponsel pertamanya.
Sore itu, mereka makan di sebuah warung tak jauh dari ruko baju tadi. Pemilik toko menyerahkan beberapa tas besar. “Ini pesanannya, Mbak.”
"Terima kasih, Pak. Sampai repot anter ke sini," kata Ning sungkan.
Ning menerima nota. Matanya membesar melihat angka diskon. “Pak, ini… potongannya banyak banget.”
Pemilik toko tersenyum. “Iya, Mbak.”
"Bapak enggak rugi?"
pemilik toko itu melirik Yuda, lalu tersenyum, "Enggak. Anggaplah ini penarik rejeki, Mbak. Sebagai permintaan maaf kami karena tidak melayani dengan baik."
Ning menunduk hormat. “Terima kasih banyak. Sebenarnya, ini enggak perlu, Pak.”
"Enggak papa, Mbak. Terima kasih udah berbelanja di tempat kami."
Di kontrakan, Ning menghitung-hitung uangnya. “Mas, Ning ganti ya.”
Yuda menggeleng. “Enggak.”
"Tapi, mas udah keluar uang banyak loh. Ning enggak enak."
"Coba bilang, mas siapa?"
"Mas Yuda."
Yuda tersenyum kecil. "Bukan. Maksudnya... Mas siapanya Ning?"
"Suami Ning."
"Nah, betul. Memang sudah sepantasnya Mas kasih Ning baju."
"Tapi..."
"Kamu tetep mau ganti?"
Ning mengangguk.
"Oke. Kamu bisa ganti. Tapi enggak dengan uang."
“Terus gantinya apa?”
Yuda mendekat, menatapnya dengan mata usil. “Mas mau Ning bayar dengan ini,” katanya seraya menyentuh bibir Ning.