Mandala, pemuda tampan berusia 24 tahun dari kampung di seberang kota, bekerja sebagai sopir pribadi di sebuah perumahan elit. Tanpa diketahui siapa pun, pekerjaannya bukan sekadar mencari nafkah melainkan jalan untuk menemukan jati dirinya.
Mandala menyimpan kebencian mendalam pada ayah kandung yang tak pernah ia kenal, pria yang ia yakini telah menghancurkan hidup ibunya hingga mengalami gangguan jiwa. Ketika ia ditugaskan mengantar Keyla, putri cantik seorang konglomerat, Mandala yakin takdir sedang memihak dendamnya. Keyla adalah anak dari pria yang ia sebut Ayah.
Cinta pun ia jadikan senjata. Mandala berniat membalas luka masa lalu dengan membuat Keyla jatuh cinta padanya. Namun seiring waktu, perasaan yang tumbuh tak lagi bisa dikendalikan, dan rencana balas dendam perlahan runtuh.
Saat Mandala hampir menuntut pertanggungjawaban, Kenyataan mengejutkan terungkap.
Bagaimana kebenaran tentang Mandala dan bagaimana kisah cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
berpacu waktu
Keyla baru saja melangkah dua langkah dari ranjang ketika suara lirih itu terdengar.
“Argh...”
Mandala mengerang pelan, tangannya refleks mencengkeram seprai. Wajahnya yang tadi sudah sedikit berwarna kembali pucat.
Keyla langsung berbalik. “Mandala?!”
Ia kembali ke sisi ranjang dengan cepat. “Sakit lagi? Di mana?”
Mandala mencoba menarik napas dalam, tapi dadanya terasa seperti ditekan dari dalam. Nyeri itu menjalar dari perut, ke punggung, lalu naik hingga ke dada.
“Cuma… sedikit,” bohongnya, rahangnya mengeras menahan rasa.
Keyla tidak percaya.
Tangannya segera menyentuh dahi Mandala, lalu menekan tombol memanggil perawat dengan panik. “Suster! Tolong, sakitnya kambuh!”
Tak butuh waktu lama, perawat masuk memeriksa tekanan darah dan kondisi infusnya.
“Tekanan naik turun, Mbak. Kami panggil dokter jaga dulu,” ujar perawat cepat.
Keyla berdiri di sisi ranjang, jantungnya ikut berdebar tak karuan.
Mandala menoleh pelan ke arahnya. Dalam rasa sakitnya, ia masih sempat tersenyum tipis.
“Harusnya… kamu udah pulang,” gumamnya pelan.
“Diam,” potong Keyla cepat, suaranya bergetar. “Kamu kira aku tega pergi kalau kamu begini?”
Mandala menatapnya.
Ada sesuatu di mata Keyla ketakutan yang tulus. Bukan sekadar khawatir biasa.
Dan itu membuat rasa bersalahnya semakin dalam.
Dokter masuk, memeriksa ulang hasil lab semalam.
“Kami akan tambahkan obat pereda nyeri sementara,” ucap dokter. “Tapi untuk memastikan penyebab pastinya, siang ini kita lakukan pemeriksaan lanjutan. Kemungkinan fungsi ginjalnya memang sudah terganggu cukup lama.”
Cukup lama.
Kalimat itu menggantung di udara.
Setelah dokter dan perawat keluar, suasana kembali hening.
Keyla duduk lagi di kursinya.
“Kamu masih mau nyuruh aku pulang?” tanyanya pelan.
Mandala menghela napas lemah. “Aku cuma nggak mau kamu ikut capek.”
“Aku capek kalau kamu kenapa-kenapa,” jawab Keyla cepat.
Mandala terdiam.
Beberapa detik berlalu.
“Key…” suaranya lebih serius kali ini.
“Iya?”
“Kalau nanti hasilnya nggak bagus… kalau ternyata ini lebih parah dari yang aku kira…”
Keyla menatapnya tajam. “Kita hadapi.”
Kita.
Satu kata itu terasa asing… tapi juga menenangkan.
Mandala memejamkan mata sejenak.
tak lama, ponsel Keyla berdering. Keyla segera membuka tasnya.
Mandala yang sejak tadi memejamkan mata, perlahan membukanya saat mendengar nama itu.
Ayah.
Bayu Pratama.
Nama yang selama ini menjadi alasan ia mendekati Keyla.
Tangannya yang lemah sedikit menegang di atas seprai.
Keyla memberi isyarat kecil dengan mata meminta Mandala tenang.
Ia mengangkat telepon.
“Halo, Yah…”
“Key, kamu di rumah sakit?”
Suara Bayu Pratama terdengar tegas, khas seorang pria yang terbiasa mengendalikan situasi.
Keyla menggigit bibirnya. “Em… iya, Yah. Tadi Mandala sakit lagi kata suster, jadi aku ke sini. Tapi Ayah tenang saja… aku nginep di rumah teman kok, yang dekat sama rumah sakit. Aman.”
Ia melirik Mandala sekilas.
Mandala menatap kosong ke langit-langit, tapi rahangnya mengeras.
“Kuliah kamu bagaimana, Key?” lanjut Bayu di seberang sana. “Lima hari lagi Ayah pulang sama Mama. Ayah mau bicara serius soal bisnis… dan perjodohan kamu dengan Erga.”
Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit.
Jantung Mandala seperti berhenti sepersekian detik.
Perjodohan.
Dengan Erga.
Keyla berdiri kaku.
“Ayah…” suaranya berubah tegang. “Kenapa Erga lagi? Aku nggak mau, Yah.”
“Ini bukan soal mau atau tidak mau. Ini soal masa depan,” potong Bayu dingin. “Keluarga Arifal punya pengaruh besar. Kerja sama ini penting.”
Nama itu kembali terdengar.
Arifal.
Semua seperti saling terhubung dalam lingkaran yang rumit.
“Lihat, gara-gara Erga Mandala jadi sakit!” ucap Keyla tanpa sadar, emosinya naik.
Di ranjang, jari Mandala sedikit bergerak.
Bayu terdiam beberapa detik.
“Apa maksud kamu?”
“Erga memukulnya, Yah! Kalau bukan karena itu, Mandala nggak akan masuk rumah sakit!”
Nada suara Bayu berubah lebih tajam. “Jangan berlebihan. Anak muda berkelahi itu biasa.”
“Ini nggak biasa!” balas Keyla, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku nggak mau dijodohkan dengan orang yang bahkan nggak bisa mengendalikan emosinya sendiri.”
Mandala menutup mata.
Setiap kalimat Keyla terasa seperti pisau bermata dua.
Ia datang dengan niat menghancurkan ayah gadis itu.
Namun kini… gadis itu justru berdiri melawannya demi dirinya.
Di ujung telepon, Bayu menarik napas panjang.
“Kita bicarakan nanti saat Ayah pulang. Untuk sekarang, fokus kuliah kamu. Dan jangan terlalu dekat dengan laki-laki itu.”
Laki-laki itu.
Bukan nama.
Bukan identitas.
Hanya sebutan.
Panggilan terputus.
Keyla menurunkan ponselnya perlahan.
Ruangan kembali hening.
Mandala menoleh pelan. “Perjodohan…?”
Keyla menatapnya, sorot matanya campuran marah dan lelah.
“Ayah nggak pernah tanya aku mau atau nggak,” gumamnya. “Semua selalu tentang bisnis.”
Mandala terdiam.
Bayu Pratama.
Pria yang ingin ia jatuhkan.
Pria yang ternyata juga mengatur hidup putrinya tanpa kompromi.
“Key…” suara Mandala rendah.
“Iya?”
“Kalau… suatu hari kamu harus memilih antara keluarga kamu dan aku…”
Keyla langsung memotong, tegas.
“Aku nggak akan memilih orang yang memperlakukanku seperti aset bisnis.”
Tatapannya lurus ke arah Mandala.
“Aku memilih yang memperlakukanku seperti manusia.”
Jantung Mandala berdegup keras.
Untuk pertama kalinya, balas dendamnya terasa seperti sesuatu yang kotor… dan tidak adil.
Karena di tengah rencananya menghancurkan Bayu' Ada Keyla.
Dan ia tidak lagi yakin sanggup menjadikan gadis itu sebagai bagian dari permainan.
....
Siang itu, setelah Keyla pergi, dokter datang membawa hasil pemeriksaan.
Satu kalimat menghantam Mandala lebih keras dari pukulan siapa pun.
Gagal ginjal.
Bukan ringan. Bukan sementara. Sudah cukup lama berkembang… tanpa ia sadari.
Dunia seolah mengecil dalam satu ruangan putih yang pengap. Namun alih-alih panik, Mandala justru meminta satu hal.
“Dok, Jangan beri tahu siapa pun. Termasuk keluarga saya.”
Dokter tak bisa menjanjikan. Jika kondisinya memburuk, mereka akan tetap menghubungi keluarga.
Tapi Mandala tak peduli.
Siang itu juga, dengan keras kepala, ia memaksa pulang. Dokter menolak. Ia tetap bersikeras. Ia merasa tubuhnya masih kuat.
Atau mungkin… ia hanya tak punya waktu untuk terlihat lemah.
Sekarang dalam pikirannya. Bayu Pratama melarang Keyla mendekatinya.
Baik.
Mandala justru akan melakukan sebaliknya.
Ia akan semakin dekat dengan Keyla. Membuat gadis itu melawan ayahnya sendiri. Membuatnya menjadi pembangkang.
Itulah rencananya.
Cara paling kejam untuk menghancurkan Bayu.
Namun kali ini ada yang berbeda.
Dendamnya kini berpacu dengan waktu.
Dengan tubuhnya sendiri.
Dengan penyakit yang diam-diam menggerogoti hidupnya.
Dan sebelum ginjalnya benar-benar menyerah…
Mandala bertekad menyelesaikan balas dendamnya.
Meski ia mulai tak yakin
yang akan hancur nanti hanya Bayu… atau justru dirinya sendiri.
...
Dengan kondisi yang ia paksakan kuat. Dengan obat yang di berikan dokter. Mandala kembali ke rumah Pratama. Namun bukan rumah utama. Tentu tanpa Keyla tahu.
penasaran... di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪
duhh Mandala mau magang di hotel milik Arifal? pst Mandala bisa lbh sukses dari Erga 🐱
duhhh Keyla curhat dg Mandala...
Mandala blm sadar klo dia mencintai Keyla 🐱🐱
duhhh Keyla mau nya Mandala kerja di hotel Arifal 🐱🐱
penasaran lanjut nya
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🤗🥰💪
duhhh Bayu jadi marah sama Keyla karena Keyla lebih pilih Mandala. tapi bnr kata Keyla bahwa Erga bukan org baik...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuuu🤗🥰💪🐱
lahhh Erga tiba-tiba minta maaf tapi Keyla gk percaya. jgn di percaya si Erga 😡😡😡 Erga sama kyak Alira... 😡😡
ciieee Keyla suruh Bi Minah antar Sop buat Mandala🐱🐱
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🤗🥰 penasaran dg cerita nya🤗🤗
duhhh Keyla blg ke Ayahnya gmn Erga tapi Ayahnya gk percaya🥲🥲
duhh anak pertama Arifal dan Citra hilang di bawa Babysitter 🥲🥲
penasaran dg lanjut nya di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu 🥰🤗💪
jgn² Erga anaknya Alira, Mandala anaknya Arifal.
greget bacanya Sayyy pengen tak palu 😄😄😄😡😡😡
jd sbnrnya mandala ini ank siapa ya 🤔 kok membagongkan. yg gila itu brrti bkn ibu mandala. asli puyeng
duhh Erga gangguin Keyla dan Mandala mulu dasar stress Erga 😡😡
duhhh jantung nya berdebar² gk tuh yaa kan dan Mandala pun gombal ma Keyla 😁😁
dahhh lah Author nya pun senyum² sambil nulis 😁😁😁
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy quuu🥰💪🐱🤗
kenapa tuhhh Erga paksa Keyla bersama nya dahh mulai stress Erga. jgn² Erga anak si Alira soalnya stress nya sama 😡😡
Duhh Mandala dekati Keyla buat balas dendam, kira² Mandala bakal dgr nasehat Bu Heni yaaa???
tapi apa iya Erga anaknya Arifal dan Citra? terus klo bukan Erga anak siapa??
duhhh Mandala bawa Keyla ke rumah nya... 😔😔
emng stres si Erga, dia yg selingkuh, tapi merasa tersakiti seolah-olah jadi korban.
ciieee Keyla merangkul tangan Mandala, panas tuhh Erga marah² gk jelas padahal dia yg selingkuh😡😡
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🤗🥰💪🐱
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🥰🤗💪