Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
Lalu datanglah Mori.
Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Hari yang dinanti-nantikan pun tiba. SMA Garuda disulap menjadi area festival yang megah. Balon-balon biru emas menghiasi setiap sudut, dan sebuah panggung raksasa dengan tata cahaya profesional berdiri kokoh di tengah lapangan utama. Harum makanan dari berbagai stan bazar bercampur dengan aroma parfum ratusan murid yang berdandan maksimal.
Di balik panggung, Mori tampak gelisah. Ia mengenakan kostum tarian modern bertema street-chic yang senada dengan Lian. Tangan kanannya memang sudah tidak diperban, tapi masih terasa sedikit kaku. Namun, bukan tangannya yang menjadi masalah utama sekarang, melainkan jantungnya.
Sejak tadi, setiap kali ia berpapasan dengan Lian yang tampil sangat memukau dengan jaket kulit hitam dan rambut yang ditata sedikit berantakan—visual Gabriel Guevara yang benar-benar berada di level tertingginya—Mori merasa dunianya berputar. Ia terus-menerus salah tingkah.
Sementara itu, di sisi gelap belakang panggung, Alina sedang mengendap-endap. Di tangannya ada botol minyak pelicin dan gunting kabel. Matanya menyala penuh dendam. Ia berencana menyiram lantai panggung tepat di posisi Mori akan melakukan putaran, agar gadis itu jatuh dipermalukan di depan seluruh sekolah.
"Satu siraman, dan lo bakal tamat, Mori," bisik Alina licik.
Baru saja ia hendak menuangkan minyak itu, sebuah tangan besar mencengkeram kerahnya.
"Lagi mau main masak-masakan, Al?" suara Jojo terdengar sangat dingin.
Alina tersentak dan menjatuhkan botolnya. "Jojo! Lepasin! Gue cuma..."
"Gue udah liat semuanya dari tadi," Jojo merampas gunting dari tangan Alina. "Lo bener-bener nggak ada kapoknya ya? Pilihannya cuma dua: lo pergi dari sini sekarang dan jangan muncul lagi sampai acara selesai, atau gue laporin ke Pak Broto sekarang juga biar lo dikeluarkan permanen."
Alina gemetar. Melihat keseriusan di wajah Jojo yang biasanya ceria, ia tahu ia tidak punya pilihan. Dengan wajah pucat dan penuh amarah yang tertahan, Alina lari meninggalkan area panggung. Sabotasenya gagal total.
"Selanjutnya, penampilan special couple dance dari kelas 10-B!" teriak pembawa acara.
Musik hip-hop dengan dentuman bass yang kuat mulai menghentak. Mori dan Lian naik ke atas panggung. Ribuan pasang mata menatap mereka. Begitu lampu spotlight menyorot mereka, sorakan histeris pecah, terutama dari para siswi yang memuja Lian.
Mori merasa kakinya lemas. Ia terus melakukan kesalahan-kesalahan kecil karena konsentrasinya buyar. Setiap kali Lian menarik tangannya atau merangkul pinggangnya sesuai koreografi, Mori merasa wajahnya memanas. Ia tidak bisa menatap mata Lian; ia terus membuang muka, membuatnya terlihat sangat salah tingkah di atas panggung.
Lian menyadari hal itu. Di tengah gerakan tarian, dia berbisik tepat di telinga Mori, "Fokus ke gue, Mor. Cuma ada gue sama lo di sini."
Sentuhan Lian di punggungnya saat melakukan gerakan dip membuat Mori hampir kehilangan keseimbangan. Beruntung, Lian menahannya dengan sangat kuat. Penampilan itu berakhir dengan pose ikonik di mana Lian memeluk Mori dari belakang, membuat satu sekolah berteriak "CIEEE!" secara serentak.
Setelah penampilan selesai dan acara hampir mencapai penghujung, Lian tiba-tiba kembali naik ke panggung. Kali ini dia tidak membawa bola basket atau gitar. Dia membawa sebuah mikrofon.
"Perhatian semuanya, gue punya sesuatu buat diomongin," suara Lian bergema di seluruh lapangan.
Di pinggir panggung, Mori yang sedang minum air mineral langsung tersedak. Jojo, dengan senyum nakalnya, tiba-tiba menarik lengan Mori dan menyeretnya paksa kembali ke tengah panggung.
"Ayo Mor, jangan kabur! Ini momen lo!" seru Jojo sambil tertawa.
Mori berdiri di tengah panggung, merasa sangat telanjang di bawah sorotan lampu. Lian berjalan mendekatinya, menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam dan jujur—tatapan yang belum pernah ia berikan pada cewek mana pun sebelumnya.
"Mori," ucap Lian lewat mic. "Gue tau gue orangnya menyebalkan. Gue tau gue punya banyak reputasi buruk. Tapi sejak lo dateng, variabel di hidup gue berubah total. Gue nggak mau lagi tebar pesona ke cewek lain. Gue cuma mau lo."
Seluruh lapangan hening. Ribuan cewek menahan napas, banyak yang menatap Mori dengan rasa iri yang luar biasa. Seorang Lian, sang raja sekolah, menyatakan cinta secara terbuka.
"Mori, lo mau jadi pacar gue?"
Lian mengulurkan tangannya, menunggu Mori menyambutnya. Senyum miringnya muncul tipis, penuh harap bahwa Mori akan luluh karena aksi romantis ini.
Mori menatap tangan Lian, lalu beralih menatap wajah cowok itu. Jantungnya memang berdebar, tapi otaknya masih bekerja dengan sangat logis. Dia ingat bagaimana Lian memaksanya, bagaimana Lian membawa drama ke hidupnya, dan bagaimana Lian memperlakukannya seperti objek tantangan di awal pertemuan mereka.
Mori menarik napas panjang. Ia mengambil mic dari tangan Jojo yang berdiri di dekatnya.
"Lian," suara Mori terdengar stabil, meskipun tangannya gemetar. "Makasih buat semua perhatian lo selama ini. Makasih udah nyelametin gue dari Alina."
Mori menjeda kalimatnya. Suasana makin tegang.
"Tapi jawaban gue adalah... nggak. Gue nggak bisa pacaran sama lo."
Lian terpaku. Tangannya yang menggantung di udara perlahan turun. "Kenapa, Mor? Kurang apa lagi yang gue lakuin?"
"Lo lakuin semuanya dengan cara yang salah, Lian," jawab Mori tegas, kini ia menatap Lian tanpa rasa salah tingkah lagi. "Lo itu cowok red flag. Lo posesif, lo egois, dan lo ngerasa semua hal bisa lo dapet dengan cara maksa. Gue butuh ketenangan, dan lo adalah definisi dari keributan. Gue nggak suka cowok kayak lo."
Mori mengembalikan mic ke tangan Jojo, lalu berbalik dan berjalan turun dari panggung tanpa menoleh lagi.
Lian berdiri mematung di tengah panggung yang megah. Sorakan penonton berubah menjadi bisik-bisik kasihan. Raja sekolah itu baru saja ditolak secara mentah-mentah di depan semua orang oleh satu-satunya gadis yang paling dia inginkan.
Jojo hanya bisa menepuk bahu Lian. "Gue udah bilang, Mor itu beda, Li."
Lian tidak menjawab. Dia melihat punggung Mori yang semakin menjauh di kegelapan koridor. Untuk pertama kalinya, warna merah di benderanya tidak lagi terasa seperti kekuatan, melainkan seperti luka yang sangat dalam. Dia sadar, kali ini, pesonanya benar-benar tidak berguna di hadapan kejujuran seorang Mori.