"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.
Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.
Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pengulangan
Cahaya lampu basement yang remang-remang menyinari helai rambut coklat pucat dan struktur wajah yang terlampau simetris untuk ukuran manusia biasa.
Di sana, di tengah kepungan massa dan bau mesiu, berdiri seorang bangsawan yang seharusnya berada di istana, bukan di tempat ini.Andersen menyelipkan pistolnya ke balik pinggang, lalu melakukan sesuatu yang membuat Fina terpaku.
Ia mengambil satu langkah maju dan membungkukkan badannya. "Mohon maaf, Nona, saya sedikit terlambat menyadari kehadiran Anda," ucap Andersen, suaranya tenang. "Perkenalkan, nama saya Andersen, murid tahun pertama dari Kelas 10."
Ia mendongak sedikit, matanya mengunci pandangan gadis itu. " Sebuah keanehan melihat seorang bangsawan Inggris, berada di dalam mobil Xpander. Ditambah saat ini sedang ada kerusuhan di luar sana."
Gadis bangsawan itu menatap Andersen dengan perasaan tenang. "Tidak masalah, Andersen. lagipula, aku juga tidak pernah membayangkan hal ini terjadi."
Ia melangkah mendekat ke pria itu, membiarkan cahaya lampu basement yang berkedip-kedip menyinari lencana kecil di kerah pakaiannya, sebuah simbol kuno yang menandakan garis darah penguasa.
"Saat ini, aku menunjukmu sebagai pengawal pribadiku," lanjutnya dengan nada yang tidak meminta. "Lindungi aku sampai tim pengawal utamaku datang kemari. Sebagai imbalannya, kau akan menerima pengakuan resmi sebagai, pengawal pribadi yang akan menjaga bangsawan Inggris.
Apakah ini yang dimaksud, sebagai "Pilihan Terbaik"? Menjadi pelindung bagi seorang putri Bangsawan... Gumam Andersen dalam hati.
Ia menyetujui kontrak yang sangat mendadak itu, bukan karena ingin mendapat gelar, melainkan untuk menguji sejauh mana takdir akan membawanya kali ini.
Dari balik bayang-bayang pilar beton, muncul sekelompok pria dengan seragam yang gelap, mereka bergerak dalam formasi mematikan. Langkah mereka teratur, sangat kontras dengan kerusuhan tak berarah di luar sana.
Andersen menahan napas, matanya menyipit saat ia menangkap pantulan cahaya pada laras senapan laras pendek mereka.
"Visual didapatkan. Tunggu dulu... apakah Putri dari Inggris ini adalah target kita?" bisik salah satu pasukan.
"Negatif," jawab pemimpin tim dengan nada datar yang mengerikan. "Dia tidak masuk dalam daftar eliminasi. Namun, protokol operasional kita: tidak boleh ada saksi hidup. Sama seperti unit-unit yang kita bersihkan sebelumnya, lenyapkan siapa pun yang melihat wajah kita."
"Tugas utama sudah selesai. Selesaikan ini dengan cepat dan rapi". Dari balik perlindungan bodi Xpander yang tebal, Andersen melihat siluet mereka mulai menyebar untuk melakukan pengepungan.
"Tuan Putri, masuk ke dalam mobil saya! Sekarang!" perintah Andersen dengan suara rendah. Ia membukakan pintu Honda Civic-nya yang terparkir tepat di samping mereka. "Merunduk lah di bawah dasbor.Begitu pintu tertutup, Andersen segera mengambil posisi.
Ia menjadikan Xpander yang bertubuh bongsor itu sebagai barikade pertahanan, memanfaatkan ruang di antara roda dan mesin untuk meminimalkan sudut tembak musuh.
Bunyi klik pintu Honda Civic yang tertutup rapat menjadi lonceng dimulainya pertempuran. Tepat setelah kedua gadis itu aman di dalam kabin, pasukan taktis itu melepaskan tembakan serentak. Ruang basement, seketika berubah menjadi kuali gema yang memekakkan telinga. Yang dipenuhi oleh percikan api senjata otomatis yang memercik diantara beton dan Body Xpander.
Andersen mencoba membalas. Adrenalin membanjiri nadinya, tetapi adrenalin bukanlah pengganti pengalaman tempur. Tembakannya liar, didorong oleh kepanikan daripada presisi. Di hadapan musuh yang bergerak seperti mesin pembunuh, keberanian Andersen ini tampak seperti permaianan anak kecil.
Mereka tahu kelemahannya. Salah satu musuh mengambil posisi rendah, membidik melalui celah sempit di bawah sasis Mitsubishi Xpander.
DAR!
Sebuah proyektil kaliber 9mm melesat di atas lantai beton dan menghantam tulang kering kanan Andersen dengan presisi yang mengerikan. Rasanya bukan seperti ditusuk, melainkan seperti dihantam palu yang membara. Panas yang luar biasa menjalar seketika, meremukkan tulang dan membakar jaringan otot.
Keseimbangan Andersen runtuh. Ia tersungkur ke lantai basement yang dingin dan berdebu, mengerang menahan rasa sakit yang teramat sakit. Pistolnya hampir terlepas dari genggaman, namun insting bertahan hidup memaksanya untuk terus menarik pelatuk, memuntahkan peluru ke arah bayang-bayang yang mendekat tanpa arah yang jelas.
Tindakan itu hanya mengundang lebih banyak timah panas.
Tembakan balasan datang bertubi-tubi. Andersen merasakan sentakan keras di bahu kirinya, disusul rasa panas yang merobek perutnya. Dunianya mulai miring. Napasnya terasa berat dan beraroma tembaga, darah mulai memenuhi paru-parunya.
Di detik-detik terakhir kesadarannya yang mulai memudar, pandangan Andersen yang memburam menangkap satu gerakan di sampingnya. Lampu mundur Honda Civic menyala terang, memandikan area itu dengan cahaya putih. Fina, dengan kepanikan yang luar biasa, menginjak pedal gas dalam-dalam.
Mobil itu melesat mundur dengan kecepatan penuh, ban berdecit memilukan di atas beton. Andersen melihat percikan bunga api saat beberapa peluru musuh menghantam bodi samping Civic itu, namun mobil tersebut terus bergerak menjauh, membawa sang Putri keluar dari zona maut.
Mereka selamat, batin Andersen, sebuah pemikiran terakhir yang terasa damai di tengah rasa sakit.
Kemudian, sebuah hantaman keras menghancurkan segalanya. Peluru terakhir menembus tengkoraknya, memadamkan semua cahaya seketika. Kegelapan total menyelimutinya.
Tidak ada rasa sakit lagi. Namun, sepersekian detik sebelum kesadarannya benar-benar hilang, gendang telinganya menangkap satu suara terakhir sebuah LEDAKAN yang menggelegar, mungkin dari tangki bensin Xpander yang akhirnya meledak, menjadi penutup tirai yang dramatis bagi hidup Andersen yang singkat.
“Keberuntungan.”
Kata itu bergema di dalam tempurung kepala Andersen seperti denting lonceng pemakaman. Kesadarannya tersentak kembali ke realitas saat ia masih dalam posisi membungkuk di hadapan sang Putri Inggris. Memori tentang peluru yang merobek kakinya dan ledakan yang memekakkan telinga masih terasa sangat nyata, meninggalkan rasa sakit hantu yang berdenyut di sarafnya.
Pikirannya berpacu secepat superkomputer, mengolah fragmentasi kejadian yang baru saja dialaminya—sebuah kematian yang seharusnya sudah terjadi, namun dianulir oleh kekuatan yang ia sebut 'anugerah'. Ia mengacuhkan sisa-sisa pembicaraan formal sang Putri; ia tahu maut sedang merayap di balik pilar-pilar beton itu.
"Maaf, Tuan Putri. Kita harus segera menjauh dari tempat ini sekarang juga!" perintah Andersen, sambil segera memasuki mobil Honda civic miliknya.
Ia duduk ke kursi kemudi Honda Civic-nya, membuka kaca jendela, dan memberi isyarat keras agar kedua gadis itu masuk. Begitu pintu terbanting tertutup, Andersen menghidupkan mesin. Raungan mesin VTEC-nya membelah sunyi basement, bensin disemprotkan ke ruang bakar dengan tekanan tinggi. Tanpa membuang satu detik pun, ia menginjak pedal gas dalam-dalam saat transmisi berada di posisi mundur.
Ban mobil berdecit hebat, menciptakan awan asap karet yang menyengat saat mobil itu melesat mundur dengan kecepatan penuh, lalu berputar arah menuju jalur keluar parkiran luar. Andersen berpikir ia selangkah lebih maju. Ia merasa kali ini ia bisa menghindari takdir.