NovelToon NovelToon
ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: DavidTri

Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.

Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.

Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...

baca novelnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21 - Kekacauan Dari Dalam #7

Kalian Tahu tidak? Tidak? Yaudah Cuma Mau Kasih Tahu Jika Perang tidak selalu dimulai dengan teriakan (Hidup JKW - Jiwa yang Kuat para Warrior).

Kadang ia dimulai dengan angka yang salah di laporan logistik, kuda yang tidak datang tepat waktu, atau meriam yang tak pernah sampai ke garis depan.

Dan itulah yang Arthur sedang tunggu sejak kemarin.

Di perbatasan barat wilayah Florence, kabut pagi belum sepenuhnya terangkat ketika laporan pertama tiba ke tenda komando Duke New Gate. Rantai suplai gandum dari selatan mulai tertunda. Empat gerobak amunisi meriam serta pedang seperti menghilang ditelan angin. Seorang perwira penghubung Polein ditemukan tak berny#wa, dengan luka parah dua hari terakhir.

Bagi tentara biasa, ini hanyalah kekacauan awal perang.

Bagi Arthur, ini adalah langkah pertama dari perang singkat yang ia rancang.

Sabotase Tanpa Nama

Dua puluh mata-mata Borein telah menyebar.

Mereka tidak membunuh jenderal, tidak membakar gudang besar. Terlalu mencolok.

Sebaliknya, mereka:

Mengganti peta rute suplai dengan versi lama

Menyebarkan bisik-bisik bahwa pasukan Florence kekurangan makanan

Menyabotase sumbu meriam agar macet setelah tembakan ketiga

Mengubah jadwal rotasi penjagaan tanpa perintah resmi

Tidak ada satu pun tindakan yang cukup besar untuk disebut pengkhianatan.

Namun bila digabungkan mereka menciptakan benang ketidakpercayaan.

Dan ketidakpercayaan lebih mematikan dari pedang.

Dewan Perang yang Retak

Di markas utama New Gate dan Polein, suasana menegang.

“Ini bukan kebetulan biasa” bentak Duke New Gate sambil membanting meja kayu. “Florence pasti bermain kotor dibelak layar.”

Duke Polein tidak langsung menjawab. Wajahnya lebih pucat dari biasanya.

“Atau mungkin saja...” katanya pelan, “kita sedang bergerak terlalu cepat. Kita menyewa dua puluh ribu tentara bayaran. Mereka datang bukan karena loyalitas, tapi karena bongkahan emas berkilau ini.”

Ucapan itu membuat ruangan sunyi.

New Gate menoleh tajam.

“Hey Polein, apakah kau mulai ragu dengan ku sekarang?”

Polein menarik napas panjang.

“Aku mulai sadar ini bukan perang biasa. Arthur Fireloren… dia tidak menyerang kita. Dia membiarkan kita menyerang diri kita sendiri.”

Untuk pertama kalinya sejak perang diumumkan, Duke New Gate tidak langsung membalas.

Arthur dan Peta yang Tidak Digambar

Di benteng Florence, Arthur berdiri di depan meja kosong. Tidak ada peta besar. Tidak ada bidak kayu pasukan.

Hanya catatan kecil:

Waktu tempuh suplai musuh

Jumlah tentara bayaran

Rasio kelelahan pasukan

Moral setelah kekalahan kecil

Toxen memperhatikan dari kejauhan.

“Kau belum menggerakkan pasukan utama, tuan muda” katanya.

Arthur mengangguk.

“Karena perang ini belum memasuki fase serius seperti menggunakan fisik.”

Ia menatap keluar jendela, ke arah dataran yang akan segera menjadi merah merona.

“Mereka mengira aku menunggu. Padahal aku sedang menghitung kapan mereka mulai saling menyalahkan.”

Surat Balasan yang Tidak Pernah Dikirim

Di sudut meja Arthur, ada satu surat yang belum ia balas.

Surat dari wilayah keluarga sekutu beberapa menyatakan siap membantu, beberapa meminta jaminan, beberapa hanya menunggu arah angin.

Arthur membaca ulang satu kalimat yang ditulis ayahnya sebelumnya:

“Jangan menangkan perang ini dengan kebencian. Menangkan dengan ketenangan.”

Ia melipat surat itu rapi.

Bantuan akan datang.

Tapi tidak sekarang.

Jika semua bergerak bersamaan, musuh akan bersatu.

Jika satu per satu mereka akan bingung dengan sendirinya, dan kebingungan adalah senjata yang cocok saat ini.

Tembakan yang Gagal

Sore itu, Duke New Gate memerintahkan uji tembak meriam baru senjata kebanggaannya dari Kota Pusat Kekaisaran Valerion: Aurelion Prime, kota logam, emas, dan intrik.

Meriam pertama menyalak.

Meriam kedua berhasil.

Meriam ketiga macet.

Asap hitam memenuhi udara. Seorang teknisi berteriak. Seorang tentara bayaran mundur ketakutan.

New Gate menatap laras besi itu dengan rahang mengeras.

“Perbaiki. Sekarang!!.”

Namun dalam benaknya, sebuah pikiran mulai tumbuh kecil, tapi berbahaya:

Bagaimana jika ini bukan kesalahan teknis?

Di kejauhan, di benteng Florence, Arthur menutup matanya sejenak.

Perang telah dimulai sejak seminggu atau bahkan sudah sebulan, tidak ada yang menggitu dengan benar.

Tapi belum ada yang benar-benar bertarung.

Dan justru di situlah, ia paling berbahaya.

Tidak ada pasukan yang runtuh karena satu serangan.

Mereka runtuh karena keyakinan yang perlahan terkikis.

Malam itu, perkemahan Duke New Gate tampak hidup api unggun menyala, tenda berdiri rapat, suara besi dan langkah kaki terdengar tanpa henti. Namun di balik itu, sesuatu telah berubah. Para tentara bayaran tidak lagi tertawa keras. Mereka berbicara pelan. Terlalu pelan.

Seorang prajurit berdiri di dekat api, menatap koin emas di telapak tangannya.

“Hey apakah kalian melihat Emas ini?” gumamnya, “apakah benda kecil seperti ini cukup untuk menjadikan alasan kita untuk mati di tanah orang lain?”

Tak ada yang menjawab. Tapi semua mendengar.

Benih Keraguan

Keesokan paginya, laporan demi laporan masuk.

Dua kompi tentara bayaran menolak maju sebelum dibayar penuh. Seorang kapten Polein menuduh perwira New Gate menyembunyikan suplai

Tiga prajurit kabur saat pergantian jaga

Duke Polein membaca laporan itu sambil duduk, wajahnya semakin suram.

“Ini bukan lagi gangguan” katanya akhirnya. “Ini pembusukan dari dalam.”

Duke New Gate berdiri di dekat meja, tangan mengepal.

“Diamn kau!” bentaknya. “Ini hanya efek awal perang saja. Florence pasti ketakutan sekarang. Mereka mencoba memperlambat kita.”

“Tapi bagaimana jika tidak? NEW. GATE” balas Polein, suaranya lebih tajam dari biasanya.

“Bagaimana jika mereka tidak memperlambat tapi menunggu kita pecah?”

Kata menunggu membuat New Gate menoleh.

Untuk sesaat, ia teringat isi surat dari orang Misterius.

Tentang Arthur.

Tentang perang yang tidak terlihat.

Mata-Mata yang Hampir Terbongkar

Di sisi lain perkemahan, seorang pria bernama Kael tentara bayaran dari barat sedang membersihkan pedangnya. Tangannya tenang. Terlalu tenang untuk seorang prajurit bayaran biasa.

Seorang perwira New Gate mendekat.

“Hey kamu, yang sedang menggosok benda tak berguna itu” katanya curiga. “Dari unit mana kamu berasal?”

Kael mengangkat wajahnya perlahan. Matanya kosong, seperti orang yang sudah terlalu sering melihat kematian.

“Unit keempat t-tuan. Saya direkrut tiga minggu lalu oleh t-tuan Polein.”

Perwira itu menyipitkan mata.

“Siapa komandannya?”

Kael tidak menjawab langsung. Ia tersenyum tipis.

“K-K-Komandan ku...y-yang mati dua hari lalu.”

Hening.

Perwira itu mundur satu langkah, tak yakin harus curiga atau mengumpat.

Dan Kael tahu ia lolos.

Namun malam itu, ia mengirim pesan singkat melalui kurir rahasia Borein:

Mereka mulai saling mencurigai, tuan borein. Tapi waktu kita tidak banyak.

Arthur Menggerakkan Bayangan

Di benteng Florence, Arthur akhirnya menggeser satu bidak.

Bukan pasukan utama.

Bukan ksatria elit.

Ia memerintahkan satu hal sederhana:

menghentikan arus informasi palsu(hoax) dan membiarkan kebenaran kecil bocor.

Beberapa mata-mata ditarik. Beberapa sabotase dihentikan.

Marquis Florence mengernyit.

“Bukankah ini terlalu cepat?”

Arthur menggeleng.

“Jika tekanan tidak naik-turun, mereka akan menyesuaikan diri. Aku ingin mereka berpikir… mereka hampir memahami segalanya, tuan Marquis.”

Ia menatap peta wilayah Polein.

“Harapan palsu lebih berbahaya daripada keputusasaan.”

Kesalahan Fatal Duke New Gate

Merasa kehilangan kendali, Duke New Gate mengambil keputusan yang tidak direncanakan.

Ia memerintahkan pergerakan pasukan besar lebih awal tanpa menunggu semua suplai siap.

Polein berdiri dari kursinya.

“Ini terlalu cepat new gate. Medan belum kita kuasai sepenuhnya!?.”

“Kita tidak bisa menunggu lagi!” bentak New Gate.

“Setiap hari kita diam, Ba#ingan itu mengikat simpul baru setiap saat!”

Pasukan bergerak.

Dan di situlah kesalahan itu terjadi.

Jalur suplai yang belum stabil, tentara bayaran yang setengah hati, dan meriam yang belum diuji ulang semuanya dipaksa berjalan bersamaan. Di kejauhan, dari menara pengintai Florence, asap mulai terlihat.

-Pesan dari Utara

Sore itu, seorang kurir tiba di benteng Florence dengan napas tersengal.

Arthur menerima gulungan kecil itu. Hanya satu kalimat.

“Pasukan New Gate bergerak lebih cepat dari jadwalmu. Tapi mereka tidak tahu apa yang menunggu di lembah selatan.”

-Anonim

Arthur membaca ulang pesan itu.

Untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, ia tersenyum bukan senyum puas, tapi senyum orang yang tahu satu hal penting:

Perang akan segera berubah dari permainan pikiran menjadi pertumpahan darah.

Dan kali ini, ia harus memilih:

tetap mengendalikan dari balik bayangan, atau turun tangan langsung menghadapi pasukan dua keluarga besar.

1
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
sukses selalu untuk semua karyanya kak
DavidTri: terimakasih kak🌞
total 1 replies
Vanillastrawberry
kritis banget tuan muda Arthur
Zan Apexion
Nice story 👍
DavidTri: Terima kasih 👋🏻
total 1 replies
Zan Apexion
Sedikit saran Thor, lupa tanda baca 'titik' setelah kata hentakan. letaknya di paragraf awal.
DavidTri: benar, lupa naruh titik di akhirannya, btw terima kasih
total 1 replies
DavidTri
21 nama yang sangat ...🗿
DavidTri
Episode 6 - 13 udah ada di draft😄 tinggal nunggu Minggu depan biar jadi jadwal up 1-2/Minggu🥳 Btw boleh baca Novel terbaru ku, Judulnya: Welcome To SERIAL KILLER
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥
DavidTri: btw kenapa cover nya masih ngadep belakang dah🗿 padahal udah diganti si Arthur hadap ke depan ngelihat orang ganteng/cantik😀
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!