Season 2 dari Novel Sang Penakluk.
Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.
Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.
Selamat Membaca...,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20. Menolak Lamaran
Sebelum Kaisar Jack Zen sempat menjawab, terdengar suara langkah kaki dari luar aula.
Langkah itu tidak tergesa-gesa. Tidak pula berat. Namun entah mengapa, setiap langkahnya terasa jelas, seolah menarik perhatian tanpa perlu usaha.
Pintu Aula Utama terbuka.
Seluruh hadirin menoleh bersamaan.
Seorang pemuda melangkah masuk dengan sikap santai dan penuh wibawa. Rambut hitamnya terikat rapi, matanya tajam namun tenang. Ia mengenakan pakaian bangsawan sederhana, namun aura yang menyelubunginya membuat beberapa pejabat tanpa sadar menahan napas.
Di belakangnya, lima sosok berdiri berbaris rapi—Bai Hu, Han Yu, Bear, Tiger, dan Trile. Aura mereka tersembunyi, namun bagi mereka yang peka, keberadaan kelima orang itu terasa seperti dinding baja yang tak terlihat.
“Pangeran Ray Zen…” gumam beberapa pejabat.
Ray Zen melangkah ke tengah aula, lalu membungkuk singkat ke arah singgasana.
“Ayah, Ibu,” katanya tenang. “Para Permaisuri. Jenderal Gan Che.”
Kaisar Jack Zen menatap putranya dengan sorot mata yang dalam. “Ray Zen. Kau datang di saat yang… ramai.”
Ray Zen tersenyum tipis. “Sepertinya aku datang di saat yang tepat, Ayah.”
Tatapannya kemudian beralih ke arah Permaisuri Mue Che. “Ibu kedua Mue Che,” ucapnya dengan nada sopan namun tegas, “aku tidak sependapat dengan perkataanmu.”
Aula mendadak sunyi.
Permaisuri Mue Che mengangkat alis. “Oh? Dan apa alasannya, Pangeran Ray Zen?”
Ray Zen menatapnya lurus-lurus. “Karena Kakak Mei Zen tidak akan pernah mau menerima lamaran yang diputuskan tanpa dirinya.”
Beberapa pejabat terkejut dan sependapat. Beberapa lainnya tampak tidak senang.
“Ini urusan negara!” seru salah satu pejabat tinggi. “Bukan urusan perasaan pribadi!”
Ray Zen menoleh ke arah pejabat itu, tatapannya tenang namun tajam. “Justru karena ini urusan negara, kita tidak boleh gegabah.”
Ia kembali menatap Huang Shen. “Aliansi yang dibangun di atas pemaksaan dan asumsi sepihak tidak akan bertahan lama.”
Huang Shen memperhatikan Ray Zen dengan penuh minat, namun sebelum ia sempat berbicara, salah satu Jendral Kekaisaran Awan Kuning, pria tua berjenggot, melangkah maju dengan wajah marah.
“Bocah lancang!” bentaknya. “Siapa kau hingga berani mencampuri urusan antara dua kekaisaran besar?”
Jenderal lainnya ikut maju, aura mereka melonjak tajam. “Kau bahkan belum genap dua puluh tahun! Apa yang kau tahu tentang politik dan kekuatan? Auramu saja bahkan tidak bisa menyamai aura dari pasukan terlemah kami.”
Tekanan aura mereka menyebar ke seluruh aula. Beberapa pejabat mundur setengah langkah, wajah mereka pucat.
“Kekuatan tempur Kekaisaran Awan Putih,” lanjut Jendral berjenggot dengan nada merendahkan, “tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kami.”
Kelima pengawal Ray Zen refleks melindungi tuannya. Siap bertarung kapanpun Ray Zen perintahkan.
Suasana menegang hingga batasnya.
Ray Zen tidak bergerak. Tidak gentar. Tidak pula marah. Ia hanya tersenyum tipis.
“Sungguh?” katanya pelan.
Senyumnya membuat kedua jenderal itu semakin geram.
“Jika Kekaisaran Awan Kuning merasa begitu yakin,” lanjut Ray Zen dengan nada santai, “kalian bisa mencobanya kapanpun.”
Kata-kata itu jatuh ringan, namun efeknya seperti petir di siang bolong.
Beberapa pejabat tersentak. Jenderal Gan Che menyipitkan mata, sementara Kaisar Jack Zen tetap diam, mengamati putranya dengan penuh perhatian.
“Berani sekali kau!” bentak Jendral yang berperawakan tinggi, aura kultivasinya melonjak keluar, menunjukkan ranah Legend *1.
Sebagian besar orang yang berada di aula utama itu tertekan, bahkan beberapa ada yang berlutut.
Namun sebelum ia melangkah lebih jauh, sebuah suara menahan mereka.
“Cukup.”
Huang Shen mengangkat tangannya. Wajahnya tetap tenang, namun sorot matanya tajam.
“Kalian melampaui batas,” katanya dingin kepada kedua jendralnya. “Ingat di mana kalian berdiri.”
Kedua Jendral itu terdiam, meski jelas menahan amarah.
Huang Shen kemudian menatap Ray Zen. “Pangeran muda,” katanya perlahan, “kau berbicara seolah memiliki wewenang besar. Kau membuatku penasaran.”
Ia melangkah maju satu langkah. “Siapakah dirimu sebenarnya? Dan apa hakmu ikut campur dalam urusan lamaran ini?”
Huang Shen terkejut dengan ketenangan Ray Zen. Ray Zen bahkan tidak merasa tertekan dengan aura yang baru saja dikeluarkan oleh jendralnya.
Ray Zen membalas tatapan itu tanpa gentar. “Aku Ray Zen,” jawabnya tenang. “Putra Kaisar Jack Zen.”
Beberapa pejabat mengangguk, seolah itu sudah jelas.
"Lebih dari itu,” lanjut Ray Zen, “aku adalah adik Mei Zen.”
Suaranya tidak meninggi, namun penuh keyakinan.
“Dan sebagai adiknya,” katanya tegas, “aku tahu satu hal dengan pasti.”
Ia menatap Huang Shen lurus-lurus.
“Jika Kakakku berada di sini hari ini, ia akan menolak lamaran ini tanpa ragu.”
Aula kembali hening.
Tatapan Huang Shen mengeras, karena tantangan intelektual dan emosional yang baru saja muncul di hadapannya.
Permainan diplomasi ini… ternyata jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.
Aula Utama Kekaisaran Awan Putih kembali terbenam dalam keheningan yang mencekam.
Setelah pernyataan tegas Ray Zen, tidak ada satu pun yang langsung berbicara. Semua mata tertuju pada Putra Mahkota Kekaisaran Awan Kuning—Huang Shen.
Wajah Huang Shen yang sebelumnya tenang kini tampak mengeras. Sorot matanya tidak lagi menyimpan ketertarikan atau kesabaran, melainkan kejengkelan yang perlahan berubah menjadi amarah tertahan. Ia menatap Ray Zen cukup lama, lalu mengalihkan pandangannya ke arah singgasana Kaisar Jack Zen.
“Aku akan bertanya sekali lagi, Yang Mulia Kaisar,” ucap Huang Shen dengan suara berat, menekan setiap kata. “Apakah Kekaisaran Awan Putih benar-benar menolak lamaran ini?”
Aula terasa semakin dingin.
Kaisar Jack Zen berdiri dari singgasananya. Jubah kekaisarannya bergoyang perlahan, dan aura seorang penguasa sejati menyebar tanpa ia sadari. Tatapannya tajam, namun tidak dipenuhi kebencian—hanya ketegasan.
“Jawabanku tidak akan pernah berubah,” katanya tenang. “Selama Mei Zen belum menyatakan kehendaknya sendiri, lamaran ini tidak akan kami terima.”
Permaisuri Mei Ling berdiri di sampingnya, ekspresinya lembut namun penuh keyakinan. “Putriku bukan hadiah,” tambahnya pelan. “Dan bukan pula alat untuk membeli aliansi.”
Kata-kata itu menjadi pemicu terakhir.
Huang Shen menarik napas panjang, lalu tertawa pendek—bukan tawa bahagia, melainkan tawa penuh kekecewaan.
“Baik,” katanya akhirnya. “Sangat baik.”
Ia berbalik setengah badan, lalu kembali menatap Kaisar Jack Zen. “Aku datang dengan itikad baik. Aku menahan egoku, datang sendiri, membawa jendral terbaikku, dan menawarkan aliansi yang akan menguntungkan kalian.”
Tatapannya beralih ke Ray Zen, kali ini penuh tekanan. “Namun yang aku dapatkan justru tantangan terang-terangan.”
Kedua Jendral Kekaisaran Awan Kuning melangkah maju, aura mereka bergejolak, wajah mereka dipenuhi amarah yang tak lagi disembunyikan.
“Putra Mahkota telah bersikap terlalu baik,” geram salah satu Jendral. “Akan tetapi Kekaisaran Awan Putih memilih jalan yang salah.”
Huang Shen mengangkat tangan, menghentikan mereka sejenak. Ia kembali menatap Kaisar Jack Zen—kali ini tanpa sedikit pun rasa hormat yang tersisa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss.....
Selamat Membaca.....
Lanjut Terussss.....
reader yg setia masih menanti update yg terbaru