Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Penyesalan Daviko Yang Dalam Di Balik Sikap Dingin Saliha
Sesuai dengan ucapannya kemarin, Daviko benar-benar mewujudkan rencananya untuk membawa Saliha ke acara santai rekan-rekan sekantornya. Acara itu diadakan di sebuah ballroom hotel semi-terbuka dengan konsep pesta kebun yang elegan. Daviko tahu, jika ia membiarkan Saliha bersiap sendiri, wanita itu pasti hanya akan mengenakan pakaian paling sederhana yang ia miliki.
Maka, tanpa sepengetahuan Saliha, Daviko memesankan sebuah gaun berwarna nude dengan aksen brokat halus yang simpel namun sangat mewah. Ia juga mengirimkan seorang penata rias ke kamar Saliha sore itu.
"Ini berlebihan, Pak. Saya hanya pengasuh Kaffara," protes Saliha saat melihat gaun dan penata rias itu sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
Daviko yang sudah rapi dengan kemeja batik tulis modern yang pas di tubuh tegapnya, hanya menatap Saliha datar. "Kamu membawa nama baik rumah ini, Saliha. Rekan-rekanku bukan orang sembarangan. Aku tidak mau mereka berpikir aku tidak memperlakukan pengasuh anakku dengan layak. Pakailah, ini perintah."
Saliha tidak punya pilihan. Dengan hati yang bergemuruh, ia membiarkan wajahnya dipoles riasan tipis yang natural. Rambut sepinggangnya ditata simpel namun sangat rapi. Saat ia keluar dari kamar, Bi Tita yang sedang menggendong Kaffara sampai melongo. Saliha tampak begitu anggun, kecantikan alaminya yang selama ini tersembunyi di balik wajah pucat dan pakaian sederhana, kini terpancar sempurna.
Daviko yang sedang menunggu di ruang tengah pun sempat menahan napasnya. Ia terpesona. Saliha tampak seperti bidadari yang baru turun dari langit. Ada rasa bangga, tapi juga rasa takut yang mendalam di hati Daviko, takut jika pria lain juga menyadari betapa indahnya wanita ini.
Sesampainya di acara, kehadiran Daviko yang menggandeng Kaffara, dengan Saliha yang berjalan tenang di sampingnya, langsung menjadi pusat perhatian.
Rekan-rekan Daviko, para perwira dan pengusaha muda, segera mengerumuni mereka.
"Wah, Kapten! Akhirnya keluar juga dari 'pertapaan'. Ini siapa? Cantik sekali," tanya Mayor Hendra, rekan akrab Daviko, sambil matanya menatap Saliha dengan penuh kekaguman.
Daviko berdehem, tangannya tanpa sadar sedikit lebih dekat dengan posisi berdiri Saliha. "Ini Saliha, dia yang menjaga Kaffara."
"Penjaga Kaffara?" Hendra tertawa kecil, tidak percaya.
"Jangan bercanda, Dav. Penampilan dan pembawaannya tenang begini, lebih cocok jadi nyonya rumah. Kalian terlihat sangat serasi, beneran!"
Pujian itu mengalir deras dari satu teman ke teman yang lain. Saliha hanya menunduk sopan, memberikan senyum tipis yang sangat formal. Namun, setiap kali seseorang mengatakan mereka "cocok" atau "serasi", Saliha merasa seperti sedang berdiri di atas bara api. Ia merasa tidak nyaman berada di posisi yang seolah-olah mengaburkan statusnya yang sebenarnya.
"Maaf, Pak. Kaffara sepertinya haus, saya izin ke pojok ruangan dulu," bisik Saliha pada Daviko, mencari alasan untuk menghindar dari kerumunan itu.
"Aku antar," jawab Daviko sigap.
"Tidak usah, Pak. Bapak di sini saja bersama teman-teman Bapak," tolak Saliha tegas, lalu segera melangkah pergi membawa Kaffara.
Saliha duduk di area pojok yang lebih sepi, ia menghela napas panjang. Ia menatap pantulan dirinya di kaca besar. Gaun indah ini, riasan ini, semua ini terasa seperti mimpi buruk baginya. Ia merasa Daviko sedang menjebaknya dalam sebuah sandiwara yang indah namun menyakitkan.
"Kenapa melamun?"
Saliha tersentak. Daviko sudah berdiri di sana, membawa segelas minuman untuknya.
"Terima kasih, Pak," ujar Saliha sambil menerima gelas itu.
"Saliha, kamu dengar apa yang mereka katakan tadi?" Daviko duduk di kursi sebelah Saliha, jarak mereka cukup dekat hingga Saliha bisa mencium aroma parfum Daviko yang maskulin. "Mereka bilang kita cocok. Dan jujur, malam ini kamu benar-benar cantik."
Saliha meletakkan gelasnya kembali. Ia menatap Daviko dengan sorot mata yang dingin namun bergetar. "Bapak sengaja melakukan ini, kan? Memberi saya baju mahal, membawa saya ke depan teman-teman Bapak agar mereka memuji saya. Untuk apa, Pak? Untuk memuaskan ego Bapak?"
"Bukan begitu, Saliha...."
"Dengar, saya, Pak," potong Saliha. "Pujian mereka itu hanya karena mereka tidak tahu siapa saya sebenarnya. Kalau mereka tahu saya adalah wanita yang dulu Bapak usir dan Bapak sumpahi, mereka tidak akan bicara seperti itu. Jangan buat saya merasa terbang ke langit hanya untuk Bapak jatuhkan kembali ke tanah."
Daviko terdiam. Kalimat Saliha selalu saja kembali pada luka lama itu. "Aku melakukan ini karena aku ingin kamu merasa berharga, Saliha. Aku ingin dunia tahu bahwa kamu istimewa."
"Saya sudah merasa berharga dengan menjadi ibu susu Kaffara, Pak. Saya tidak butuh pengakuan dari teman-teman Bapak," sahut Saliha. Ia bangkit dan berdiri. "Sepertinya kita harus pulang, Pak. Kaffara sudah mulai gelisah."
Daviko tidak menolak, apalagi Kaffara memang terlihat kurang nyaman berada di tempat itu.
Dalam perjalanan pulang, suasana di dalam mobil jauh lebih mencekam daripada keberangkatan tadi. Daviko menyetir dengan rahang yang mengeras, sementara Saliha membuang muka ke arah jendela, memandangi lampu-lampu kota yang buram karena air mata yang ia tahan.
"Kamu benar-benar keras kepala, Saliha," ucap Daviko memecah kesunyian.
"Maaf, saya hanya mencoba realistis, Pak. Kontrak saya dua tahun. Saya tidak ingin kontrak dua tahun ini menjadi beban bagi saya karena Bapak terus-menerus mencoba melewati batas," jawab Saliha tanpa menoleh.
"Batas? Batas apa? Aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita!"
"Tidak ada yang perlu diperbaiki dari hubungan kita, Pak. Biarkan saya menyelesaikan tugas saya dengan tenang. Setelah itu, biarkan saya pergi mencari kehidupan saya sendiri, seperti yang saya katakan pada Bi Tita."
Mendengar kata-kata itu lagi, Daviko mendadak menginjak rem dengan cukup keras hingga mobil berhenti di pinggir jalan yang sepi.
Saliha tersentak, untungnya ia mendekap Kaffara dengan erat.
Daviko memutar tubuhnya menghadap Saliha. Matanya berkilat marah namun juga penuh kerapuhan. "Mencari kehidupan sendiri? Maksudmu mencari pria lain? Setelah semua yang aku lakukan, kamu masih tetap ingin pergi dan mencari orang asing untuk menggantikanku?"
Saliha menatap Daviko dengan berani. "Bapak tidak pernah ada untuk digantikan, karena Bapak memang sudah tidak ada di hati saya sejak lama. Jadi, siapapun yang saya pilih nanti, itu bukan urusan Bapak."
"Saliha!" bentak Daviko tertahan.
Tangisan Kaffara tiba-tiba pecah karena kaget mendengar suara ayahnya. Saliha segera menimang bayi itu dengan penuh kasih sayang, mengabaikan Daviko yang sedang didera amarah dan cemburu yang membakar jiwa.
"Lihat? Bapak hanya membuat anak ini takut," bisik Saliha dingin. "Tolong, kita harus segera pulang. Kaffar ingin segera sampai rumah."
Daviko memukul setir mobil dengan kesal, lalu kembali menjalankan kendaraannya. Di dalam hatinya, Daviko merasa sangat kalah. Penampilan cantik Saliha malam ini justru menjadi bumerang baginya. Semakin cantik Saliha, semakin ia merasa tidak pantas memilikinya. Dan semakin Saliha menunjukkan kedinginannya, semakin besar keinginan Daviko untuk mengurung wanita itu dalam hidupnya selamanya.
"Dua tahun... kamu pikir aku akan membiarkanmu mencari pria lain dalam dua tahun ini? Kamu salah besar, Saliha," batin Daviko penuh obsesi dan penyesalan yang mendalam.
semangat ya😚