Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.
Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orbit yang Bersinggungan
Senin pagi di Jakarta selalu memiliki ritme yang sama: tergesa-gesa, bising, dan penuh kepulan asap. Namun bagi Katyamarsha, Senin ini adalah gerbang menuju fase hidup yang baru. Dengan setelan kerja pertamanya—rok span gelap dan kemeja putih tulang yang rapi—ia berdiri di depan gedung perkantoran menjulang tinggi di kawasan Sudirman. Di tangannya, sebuah map berisi kontrak kerja sebagai staf junior di sebuah perusahaan konsultan finansial yang ternyata merupakan mitra strategis dari perusahaan milik Donny.
Katya tidak tahu bahwa di balik layar, ayahnya dan Donny telah melakukan pembicaraan panjang mengenai kariernya. Bukan karena Katya tidak kompeten, namun Arman ingin memastikan putrinya berada di lingkungan yang aman, di bawah pengawasan mata yang ia percayai.
"Semangat, Ya. Jangan malu-malu kalau bertanya," pesan Arman saat melepasnya tadi pagi.
Katya melangkah masuk ke lift. Saat pintu hampir tertutup, sebuah tangan menahannya. Seorang pria dengan setelan jas abu-abu gelap masuk. Bau parfum kayu manis dan maskulin yang sangat akrab memenuhi ruang sempit itu. Katya mendongak dan matanya membelalak.
"Om Donny?"
Donny, yang sedang memeriksa jam tangannya, sedikit tersentak. Ia menatap Katya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Gadis kecil yang dulu sering merengek minta dibelikan es krim itu kini menjelma menjadi wanita karier yang tampak sangat profesional. Jantung Donny berdegup kencang, sebuah pengkhianatan dari tubuhnya sendiri yang selalu gagal bersikap biasa saja di depan Katya.
"Pagi, Katya. Kamu... mulai hari ini?" tanya Donny dengan nada sedatar mungkin, mencoba menyembunyikan kekagumannya.
"Iya, Om. Di lantai dua belas. Om Donny ngapain di sini? Oh iya, kantor Om kan di lantai paling atas ya?"
Donny mengangguk. "Kebetulan ada rapat di lantai sepuluh sebelum naik ke atas. Kamu sudah sarapan?"
"Sudah, Om. Tadi dibuatkan bekal sama Ibu."
Lift berhenti di lantai sepuluh. Sebelum keluar, Donny menoleh sebentar. "Simpan nomor kantor saya. Kalau ada apa-apa, atau kalau seniormu galak, hubungi saja."
Katya terkekeh. "Siap, Om Bos!"
Sepanjang hari itu, Katya menyadari satu hal: di gedung ini, Donny bukan sekadar "Om" yang sering menyeruput kopi di teras rumahnya. Donny adalah The Great Donny. Namanya disebut dengan nada hormat dan sedikit segan oleh para staf senior. Ia adalah legenda yang membangun bisnis dari nol setelah kematian istrinya, pria yang dikenal dingin, tanpa kompromi, namun sangat jenius.
"Kamu tahu Pak Donny dari perusahaan pusat?" tanya Shinta, senior Katya saat istirahat siang. "Dia itu idaman semua orang di sini, tapi hatinya kayak es batu. Nggak ada yang bisa mendekat. Kabarnya dia masih belum bisa move on dari mendiang istrinya."
Katya terdiam. Ia baru sadar betapa sedikit yang ia ketahui tentang kehidupan pribadi Donny. Selama ini, Donny selalu ada untuk ayahnya, namun Donny sendiri seolah tidak memiliki siapa-siapa.
Kejutan terjadi di sore hari. Katya diminta atasannya untuk mengantarkan berkas revisi ke lantai paling atas—kantor Donny. Dengan perasaan campur aduk, ia naik ke sana. Ruangan itu luas, berdinding kaca besar yang menampilkan panorama Jakarta, dan sangat sunyi.
Donny sedang duduk di balik meja mahoninya yang besar, kacamata bertengger di hidungnya, dikelilingi tumpukan dokumen. Ia tampak begitu berwibawa sekaligus sangat kesepian.
"Permisi, Om... eh, Pak Donny," Katya masuk dengan ragu.
Donny melepas kacamatanya dan menyandarkan punggung. Senyum tipis muncul di wajahnya yang lelah. "Masuk, Katya. Letakkan saja di meja."
Katya berjalan mendekat. Ia melihat ada foto kecil di sudut meja Donny. Foto seorang wanita cantik berwajah sendu. Itu pasti istrinya. Katya merasakan cubitan aneh di dadanya—rasa cemburu pada masa lalu yang tidak pernah ia miliki.
"Bagaimana hari pertamamu? Capek?" tanya Donny lembut.
"Seru, Om. Tapi ternyata dunia kerja nggak seindah di film-film ya. Senior aku cerewet banget soal font laporan."
Donny tertawa pelan. "Itu namanya kedisiplinan. Mau pulang jam berapa? Saya antar sekalian, saya mau mampir ke rumah Ayahmu."
"Nggak apa-apa, Om? Katya nggak mau merepotkan."
"Saya yang mau, Katya. Bukan kamu yang minta."
Perjalanan pulang di mobil Donny terasa berbeda. Tidak ada suara radio, hanya hembusan AC yang dingin. Katya merasa jarak antara kursi pengemudi dan kursi penumpang terasa begitu dekat. Ia berkali-kali melirik profil wajah Donny dari samping. Garis rahangnya yang tegas, jemarinya yang mantap memegang kemudi.
"Om," panggil Katya pelan.
"Ya?"
"Kenapa Om Donny nggak menikah lagi? Om kan hebat, sukses, dan... ganteng."
Donny hampir saja menginjak rem mendadak mendengar kata terakhir itu. Ia terdiam cukup lama, membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka.
"Menikah itu bukan soal mencari pengganti, Katya," ujar Donny akhirnya. "Tapi soal menemukan seseorang yang membuatmu merasa pulang. Selama lima tahun ini, saya merasa rumah saya adalah kantor. Sampai akhirnya..." Donny menggantung kalimatnya. Ia tidak sanggup mengatakan bahwa belakangan ini, ia merasa "pulang" setiap kali melihat lampu teras rumah Arman menyala dan melihat bayangan Katya di balik jendela.
"Sampai akhirnya apa, Om?" kejar Katya.
Donny menoleh saat mobil berhenti di lampu merah. Tatapannya dalam, seolah sedang membaca setiap inci wajah Katya. "Sampai akhirnya saya sadar, ada seseorang yang tumbuh tanpa saya sadari, dan dia mulai merubah definisi rumah bagi saya."
Katya menahan napas. Kalimat itu terlalu puitis untuk seorang Donny yang kaku. Jantungnya berdegup kencang. Ia merasa ada sesuatu yang tak terucap sedang menari-nari di antara mereka.
"Siapa dia, Om?" bisik Katya berani.
Donny kembali menatap ke depan seiring lampu berubah hijau. "Seseorang yang namanya saya berikan sendiri agar dia selalu murni."
Dunia Katya seolah berhenti berputar. Ia bukan gadis bodoh. Ia tahu arti kalimat itu. Nama yang diberikan agar selalu murni... Itu adalah dirinya. Katyamarsha.
Keheningan setelahnya terasa sangat intens. Katya tidak berani bertanya lebih lanjut, takut jika jawabannya akan mengubah segalanya. Sementara Donny mengutuki dirinya sendiri karena telah membiarkan sedikit celah pada bentengnya terbuka.
Sesampainya di rumah, Arman sudah menunggu di depan. Donny turun dan bersalaman dengan sahabatnya itu, kembali ke perannya sebagai "Om Donny" yang sopan. Namun, saat Katya turun dari mobil, mata mereka bertemu sekali lagi. Ada sebuah rahasia yang kini mereka bagi di balik punggung Arman.
Malam itu, Katya tidak bisa tidur. Ia memandangi cermin, menyentuh pipinya yang terasa panas. Kalimat Donny terus berputar di kepalanya. Di sisi lain kota, Donny berdiri di balkon apartemennya, menatap kerlip lampu kota. Ia tahu ia baru saja memulai sesuatu yang berbahaya.
Arman, di rumahnya, sedang merapikan piring bekas makan malam. Ia tersenyum tipis melihat putrinya yang tampak melamun. Ia teringat ucapannya pada Donny di parkiran wisuda. Ia tahu, ombak besar akan datang. Ia hanya berharap bahwa persahabatannya dengan Donny cukup kuat untuk menahan benturan antara norma masyarakat dan suara hati.
Donny mengambil sebuah buku catatan tua. Di sana, ia menuliskan sesuatu yang sudah lama ia simpan: Aku mencintaimu sejak pertama kali aku menamai jiwamu. Namun aku membenciku karena tidak bisa berhenti menginginkanmu yang seharusnya hanya menjadi keponakanku.
Dua puluh satu tahun lalu, mereka adalah sahabat dan bayi. Hari ini, mereka adalah dua kutub magnet yang mulai ditarik oleh takdir yang tak terhindarkan.