Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 - Perempuan yang Tidak Lagi Menunggu
Aluna Prameswari menyukai keteraturan. Dia menyukai hidup yang bisa diprediksi... reaksi orang-orang, posisi mereka, siapa berdiri di mana. Selama bertahun-tahun, Raka Mahardika selalu berada di tempat yang sama... di sisinya, dalam jarak yang bisa dia jangkau kapan pun dia mau.
Nadira Savitri adalah gangguan kecil yang bisa diatur.
Atau setidaknya, dulu begitu.
Aluna berdiri di depan cermin toilet kampus, merapikan lipstik dengan gerakan pelan. Pantulan wajahnya tenang, hampir lembut. Tidak ada yang bisa menebak apa yang bergerak di balik matanya.
Dia berubah, pikir Aluna.
Perubahan itu bukan ledakan. Bukan drama. Justru ketenangan Nadira yang mengganggu. Tidak lagi bereaksi. Tidak lagi mencari pembenaran.
Perempuan seperti itu berbahaya.
Aluna menyelipkan ponsel ke saku dan melangkah keluar. Hari ini, dia tidak berniat menunggu keadaan membaik. Dia akan menggerakkannya.
Di sekretariat BEM, Raka terlihat lelah. Lingkar gelap di bawah matanya semakin jelas. Dia duduk membungkuk, menatap layar laptop tanpa fokus.
Aluna duduk di sampingnya, cukup dekat untuk terasa, cukup jauh untuk tidak mencolok.
"Kamu kurang tidur?" Tanyanya lembut.
Raka menghela napas. "Sedikit."
"Karena Nadira?"
Raka menoleh cepat. "Kenapa bawa-bawa dia?"
Aluna tersenyum tipis, seperti baru menyadari kesalahannya.
"Maaf. Aku cuma... khawatir. Kamu kelihatan kepikiran."
Raka memijat pelipisnya. "Dia akhir-akhir ini dingin."
Dingin, ulang Aluna dalam hati.
Dulu kata itu miliknya.
"Kadang orang capek." Kata Aluna hati-hati. "Tapi kalau dibiarkan, jarak bisa makin jauh."
Raka terdiam.
"Aku nggak ngapa-ngapain."
Aluna menoleh, menatapnya dengan mata penuh pengertian.
"Justru itu."
Kalimat itu jatuh lembut... cukup untuk menanamkan rasa bersalah tanpa menyebutkan tuduhan.
Aluna bergerak cepat. Dia tahu kapan harus terlihat peduli, kapan harus mendorong.
Siang itu, dia mengirim pesan ke Nadira.
[Dir, kamu ada waktu bentar? Aku mau ngobrol.]
Tidak ada balasan.
Lima menit. Sepuluh. Dua puluh.
Aluna tersenyum kecil. Baik, pikirnya. Kita pakai cara lain.
Dia mendekati Raka yang baru saja selesai rapat. "Raka, kamu bisa bantu aku? Ada data yang Nadira pegang, tapi dia nggak balas chat."
Raka mengernyit. "Serius?"
"Iya." Aluna menghela napas kecil. "Aku nggak enak juga ganggu dia terus."
Raka meraih ponselnya dan mengetik cepat.
[Dir, Aluna butuh data. Kamu kenapa nggak balas?]
Pesan terkirim. Dibaca.
Tidak ada balasan.
Raka menatap layar lebih lama dari seharusnya. Ada sensasi aneh... perasaan diabaikan yang tidak biasa dia rasakan dari Nadira.
"Dia sibuk, kali." Kata Aluna ringan, tapi sudut bibirnya terangkat tipis.
Raka tidak menjawab. Dadanya terasa tidak nyaman.
Nadira duduk di perpustakaan, fokus pada layar laptop. Buku-buku terbuka rapi. Dia sengaja memilih tempat ini... jauh dari sekretariat, jauh dari kebiasaan lama.
Ponselnya bergetar. Nama Raka muncul. Dia membacanya. Tidak membalas.
Bukan karena marah. Bukan karena ingin membuat Raka gelisah.
Dia hanya... tidak ingin lagi berlari setiap kali namanya dipanggil.
Salsa duduk di seberangnya, menutup buku.
"Kamu nggak balas?"
Nadira menggeleng. "Nanti."
"Kamu yakin?"
Nadira menatap tulisan di layarnya.
"Dulu aku selalu balas cepat. Dan aku mati sendirian."
Salsa terdiam.
Kalimat itu tidak diucapkan dengan emosi berlebihan. Justru ketenangannya yang membuatnya terasa berat.
Nadira menaruh ponsel ke dalam tas. "Aku mau belajar."
Dan untuk pertama kalinya, itu bukan alasan.
Aluna tidak menyukai kegagalan kecil. Dia mempercepat langkah. Jika Nadira tidak mau bereaksi secara langsung, dia akan membuatnya terpojok secara sosial.
Sore itu, Aluna mengumpulkan beberapa anggota BEM.
"Kita butuh laporan keuangan hari ini." Katanya tegas tapi lembut. "Nadira pegang datanya."
"Belum dikirim?" Tanya seseorang.
Aluna menggeleng, wajahnya terlihat cemas. "Aku takut dia lagi kurang enak badan. Raka juga nggak bisa hubungi."
Beberapa pasang mata saling bertukar pandang.
Narasi kecil itu cukup. Tidak menuduh, hanya menyiratkan.
Raka mendengar bisik-bisik itu. Dadanya mengeras. Dia merasa harus bertindak. Dia berjalan cepat keluar gedung, menelepon Nadira.
Panggilan pertama tidak diangkat.
Kedua, sama.
Kesalahan pertamanya terjadi di panggilan ketiga... saat kesabarannya habis.
"Nadira, kamu di mana?" Suaranya meninggi begitu panggilan terhubung.
"Kamu tahu kita butuh data itu hari ini?"
Nadira terdiam di seberang sana. Suara latar perpustakaan terdengar pelan.
"Aku lagi belajar." Jawabnya tenang.
"Belajar bisa nanti! Ini tanggung jawab kamu."
Nadira menarik napas. "Aku kirim malam ini."
"Kenapa harus nunggu malam?" Raka membentak. "Kamu sengaja bikin repot?"
Kalimat itu... sengaja... menusuk sesuatu yang rapuh.
Nadira menutup mata sesaat. Bayangan lorong dingin itu kembali.
"Aku nggak sengaja." Katanya pelan. "Aku cuma nggak mau lari-lari lagi."
Raka terdiam, bingung dengan jawabannya sendiri.
"Nadira..."
Telepon itu terputus.
Bukan karena sinyal.
Nadira yang menutupnya.
Aluna menyaksikan Raka berdiri mematung dengan ponsel di tangan. Ada sesuatu yang berubah di wajahnya... bukan marah, tapi kehilangan kendali.
"Raka?" Panggil Aluna lembut.
Raka menoleh. "Dia nutup telepon."
Aluna menyentuh lengannya, empatinya terlihat tulus. "Mungkin dia lagi sensitif. Kamu jangan keras."
Sudah terlambat, pikir Aluna dengan puas.
Namun di balik kepuasan itu, ada kegelisahan kecil yang tumbuh. Nadira tidak menangis. Tidak datang meminta maaf. Tidak kembali.
Perempuan yang tidak menunggu tidak bisa dikendalikan dengan cara lama.
Malamnya, Nadira mengirim data itu tepat pukul sembilan. Lengkap. Rapi. Tanpa pesan tambahan.
Raka membaca surel itu berulang. Tidak ada catatan. Tidak ada penjelasan. Tidak ada kalimat penenang yang biasa ia terima.
Dia mengetik.
[Maaf aku tadi keras.]
Pesan terkirim. Dibaca.
Tidak dibalas.
Raka menatap layar sampai gelap. Untuk pertama kalinya, dia merasa bukan Aluna yang dia cari... melainkan Nadira.
Dan Nadira tidak datang.
Di kos, Nadira menutup laptop. Tugas selesai. Data terkirim. Semua kewajibannya dipenuhi.
Dia duduk di tepi kasur, memeluk lutut, napasnya bergetar kecil. Melepaskan kebiasaan lama ternyata lebih menyakitkan dari yang dia kira.
Ponselnya menyala, pesan dari Raka.Dia membacanya. Menatap lama. Lalu meletakkan ponsel itu terbalik di meja.
"Aku capek menunggu orang berubah." Gumamnya pada dinding kosong. "Aku capek mati pelan-pelan."
Air mata jatuh... satu, dua... tanpa isak.
Ini bukan kemarahan. Ini duka atas diri sendiri yang dulu.
Di tempat lain, Aluna menatap layar ponselnya dengan alis berkerut. Rencananya berjalan... tapi tidak sepenuhnya.
Dan di sekretariat BEM yang sepi, Raka Mahardika duduk sendiri, menyadari kesalahan pertamanya... tanpa tahu bahwa itu bukan yang terakhir.
Nadira Savitri, di sisi lain, akhirnya benar-benar berhenti menunggu.
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚
𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁
𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠