Seorang pria tua, mantan narapidana, harus berusaha mencari kebenaran dari rentetan pembunuhan yang menyeret namanya.
"Aku masih tak mengerti, apa motif si pembunuh dengan menjadi peniru?"
"Tapi pembunuh kali ini, dia tampak lebih cerdas. dia sudah memikirkan dengan matang semua langkahnya."
"Kurasa bukan peniru, tapi memang dia sendiri pelakunya, dia... Santaroni ingin mengulang pembunuhannya dengan lebih sempurna."
Mampukah Santaroni—si residivis, membuktikan pertobatannya, dan menemukan pelaku pembunuhan yang telah meniru jejaknya?
note: mungkin akan ada beberapa adegan keji, mohon bijak saat membaca. ingat: 'ini hanya cerita karangan, jika ada kesamaan nama tokoh dan situasi, hanya kebetulan yang sengaja dibetul-betulkan.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teori Jack—Petunjuk kematian Diaz—Bocah sialan?
Detektif Jack melebarkan mantel musim dingin di lantai, matanya memindai setiap detail. "Misty, coba masuk ke dalam," katanya dengan nada serius.
Meski bingung, Misty menurut tanpa bertanya. Ia melangkahkan kaki ke dalam kantong mantel yang luas, lalu Jack menutup resleting. “Got it!” seru Jack setengah puas.
Beberapa detik kemudian, resleting dibuka, dan Misty keluar dengan ekspresi lega.
"Ternyata muat," kata Jack dengan nada puas, membuktikan teori liarnya bahwa mayat bisa disembunyikan di dalam mantel itu.
Detektif Sarah mendekati dengan wajah bingung. "Jack, apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu menyuruh Misty masuk ke dalam mantel?"
Jack tersenyum, "Aku sedang menguji teori, Sarah. Aku curiga pelaku menggunakan mantel ini untuk memindahkan mayat."
Sarah menggelakkan kepala, "Tapi... mengapa kamu tidak menggunakan boneka atau sesuatu? Mengapa harus Misty?"
Jack tertawa, "Ah, itu karena aku ingin memastikan mantel ini bisa menampung tubuh manusia dewasa. Dan kurasa Misty memiliki ukuran yang pas."
Sarah masih tak mengerti, ia kembali mengingat adegan dalam rekaman CCTV. "Tunggu, Jack, jika itu mayat, bagaimana cara membawa mereka? Diikat? Atau sesuatu?"
Jack wajahnya tiba-tiba serius, "Benar katamu, aku butuh manekin!"
Misty dengan cepat menjawab, "Jika itu mendesak, kita lakukan bersama. Aku akan berpura-pura menjadi mayat, kau tak perlu mencari manekin!"
Rekan-rekan mereka yang menyaksikan tidak bertanya, mereka menyaksikan dengan seksama sambil menerka isi kepala Jack. Detektif Sarah hanya bisa menggeleng, "Kalian berdua..."
Jack mengambil gunting dari mejanya dan membuat lubang kecil di dalam mantel agar kedua lengan Misty bisa keluar dari desain kantong tidur. "Aku butuh tali!" serunya.
“Biar kuambilkan!” sahut salah satu petugas bergegas mengambil beberapa rafia dari dalam kantor.
Jack mengikat kedua lengan Misty, "Maaf untuk ini, Misty."
Misty tersenyum, "Tidak apa, semua demi penyelidikan!" serunya bersemangat.
Jack melingkarkan lengan Misty yang terikat ke lehernya, kemudian mengenakan mantel itu dengan Misty tersimpan di bagian punggungnya. Tubuh Misty sempurna tak terlihat.
Sarah menahan napas karena tak menyangka kebenaran yang mereka saksikan, "T-tapi kepalanya masih..." Sarah tak melanjutkan ucapannya, namun dengan sigap ia membalik tudung mantel, dan tepat sekali, kepala Misty tertutup mantel dengan sempurna.
Detektif Sarah dan petugas lain yang masih berkumpul menyaksikan rekaan itu, juga memandang Jack dengan campuran rasa tak percaya dan kagum. "Kamu… bagaimana kau berpikiran sejauh ini, Jack? tanya Sarah.
“Entahlah, aku hanya terus memikirkan pria itu mengenakan mantel yang terlalu mencolok, padahal cuaca tak sedingin itu.”
Misty, masih dalam posisi terikat, mencoba berbicara, suaranya sedikit teredam oleh mantel. "Kamu bisa mengeluarkanku sekarang, aku mulai tak bisa bernapas,"
Jack bergegas melepaskan mantel dan melepaskan tali yang mengikat lengan Misty. Misty keluar dari dalam mantel, wajahnya sedikit merah karena kurangnya oksigen.
Rekan-rekan mereka yang menyaksikan masih dalam keadaan diam, mencoba memproses apa yang baru saja terjadi.
Sarah akhirnya berbicara, "Baiklah, kita punya teori baru. Tapi kita masih perlu bukti untuk membuktikan bahwa pelaku menggunakan cara ini."
Jack mengangguk, "Aku tahu. Aku akan memeriksa rekaman CCTV lagi, mungkin ada sesuatu yang terlewatkan."
Jack memandang rekan-rekannya dengan serius. "Mari periksa mantel orang itu! Jika kita menemukan lubang atau robekan seperti yang kubuat, dia adalah pelaku!"
Sarah dan petugas lainnya pun mengangguk penuh semangat, seolah mereka baru saja berhasil mengurai sekumpulan kekusutan.
“Baiklah, mari kita lakukan!” sahut para petugas hampir kompak.
Jack kemudian memandang dua rekan lainnya. "Kalian berdua, kembali ke kedai tempat Rey makan. Kedai dekat bengkel Santaroni, itu terlalu mencolok! Sekali lagi lakukan pemeriksaan menyeluruh, jika perlu minta keterangan dari semua pelanggan, apa benar Rey hanya pelanggan disana!"
Sarah bertanya, "Kenapa kau curiga, Jack?"
Jack menggeleng ringan, "Entahlah, dia terlalu sering berkunjung ke tempat itu, entah hanya untuk makan, atau sekaligus mengawasi Roni dari tempat itu. Jadi tolong pastikan itu."
“Hm, ada benarnya, sebagai pembunuh peniru, mungkin dia butuh memastikan sesuatu,” jawab Sarah.
"Aku akan ke kediaman Rey bersama Alex. Aku ingin tahu apa yang dia sembunyikan di rumahnya," ujar Jack.
Alex, yang berdiri di samping Jack, mengangguk, "Siap!” responnya cepat.
Para petugas kembali menempatkan diri di pos masing-masing. Sarah dan James menuju ke kedai dekat bengkel Santaroni, sedangkan Jack bersama Alex bergegas menuju ke kediaman Rey.
………
Di dermaga penyeberangan, Santaroni berdiri di depan petugas pemeriksa identitas, wajahnya tenang meskipun jantungnya berdetak kencang. Petugas itu, seorang pria berumur sekitar 40 tahun, memandang Roni dengan teliti, membandingkan wajahnya dengan identitas yang diserahkan.
"Raman?" panggil si petugas, suaranya netral.
"Ya!" jawab Roni singkat, mencoba mempertahankan nada suaranya agar tetap stabil.
Petugas itu mengangguk, masih memandang Roni dengan sedikit keraguan. Dalam hatinya, dia merasa tak asing dengan wajah Roni, meski tak yakin seperti pernah melihatnya di suatu tempat.
Akhirnya, petugas itu mempersilakan Roni menaiki kapal tanpa curiga lebih lanjut. "Selamat berlayar, Pak Raman," katanya, menyerahkan kembali identitas Roni.
Roni tersenyum, mengambil identitasnya dan berjalan menuju kapal. Petugas itu memandanginya hingga Roni menghilang di dalam kapal, masih merasa ada yang tidak beres dengan wajah Roni. Tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa, karena identitas Roni terlihat sah.
Setelah satu jam penyeberangan, Roni akhirnya tiba di sebuah negara kepulauan kecil yang damai. Kota yang nyaman dengan penghijauan yang lebat dan udara yang terasa bersih menyambutnya. "Tempat yang bersih untuk remaja penuh potensi," gumamnya seraya menarik napas dalam-dalam, seolah ingin mengganti seluruh isi paru-parunya dengan udara segar dari pulau itu.
Roni turun dari taksi yang mengantarnya dari pelabuhan menuju alamat yang dia tuju. Ia memandang sekeliling dengan sekilas senyum terkembang, seolah tak ada yang berubah dari tempat itu.
Sebuah bangunan mansion megah di pinggiran pulau, yang dikelilingi oleh taman yang indah dan pagar tinggi. Namun, gerbangnya tertutup rapat dan digembok.
Gerbang yang tertutup rapat itu membuat Roni merasa seperti ada sesuatu yang disembunyikan di baliknya. Dia memandang ke sekeliling, mencari cara untuk masuk, tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan. Keheningan itu mulai membuatnya merasa tidak nyaman.
Kemudian pintu kecil di samping pagar terbuka, seorang pria tua muncul dari sana dengan menggandeng seorang gadis kecil yang berusia sekitar 5 tahun. "Kakek, kita jalan-jalan ke taman!" seru bocah itu, menarik tangan pria tua itu.
Roni mendekat, untuk bertanya. "Permisi, apa tempat ini masih milik seorang konglomerat bernama Diaz?"
Pria tua itu berhenti sejenak, memandang Roni dengan mata yang sedikit menyipit. "Kau siapa?" tanya menelisik.
Pria tua itu memandang Roni lebih dekat, dan tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah, seolah mengenali Roni. "Kau?!” bentaknya, sebelum Roni menjelaskan siapa dirinya. “Kau saudara anak sialan itu! Apa lagi yang kau inginkan?!” dengan suara gemetar, kakek tua yang tampak lebih tua beberapa tahun dari Roni itu menunjukkan tatapan penuh kebencian.
Roni berusaha tetap tenang, “Apa terjadi sesuatu? Aku hanya bermaksud menemuinya, apa—”
Pria tua itu tidak membiarkan Roni menyelesaikan kalimatnya. Wajah rentanya terlihat semakin memerah, “Anak tak tau diri itu, sudah pergi setelah berusaha menjual mansion ini! Beruntung putraku yang lain berhasil menggagalkan niatnya!”
“Apa yang terjadi? Rey bukan orang yang bisa melakukan hal seperti itu!” balas Roni tak terima.
“Aku bahkan curiga Diaz mati karena anak itu, tapi tak ada yang percaya padaku!” bentak sang kakek lagi membuat cucunya terisak karena takut.
“Baiklah, kurasa cucumu tak nyaman, bisa katakan saja kemana Rey pergi?”
“Tanyakan pada polisi setempat! Terakhir kali aku bertemu dengannya di kantor polisi!” gertak si kakek kemudian membopong cucunya dan berbalik kembali masuk melalui gerbang kecil itu.
Roni terpaku sesaat, kemudian mencoba mencerna situasi. Tak ada satupun petunjuk mengenai Rey, hanya kematian Diaz yang disebutkan dua orang dengan kecurigaan sama. Tak punya pilihan, Roni pun bergegas menuju kantor polisi terdekat, sesuai arahan pria tua tadi.
"Banyak sekali yang tak kuketahui," desis Roni dalam perjalanan, ia mendengus kesal seolah sedang mengolah penyesalan yang sulit ia percaya. "Makam Teo, keberadaan Rey dengan julukan anak sialan, kematian Diaz, bahkan pelaku yang seolah menggiringku."
Roni menghela napas, menatap keluar jendela taksi mewah yang ditumpanginya. "Apa yang sudah kulakukan?" lirihnya.
...****************...
Bersambung...