desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4: Pertemuan Kedua
Butik "Gadis Kinarya" di pagi hari selalu punya aroma khas. Campuran antara wangi kain baru, kopi tubruk yang selalu dibuat Mbak Yuni—cleaning service—dan sedikit wewangian lavender dari pengharum ruangan. Aira sudah hafal aroma itu. Sudah tiga tahun ia bekerja di sini, dan setiap pagi aroma itu seperti lagu yang sama, memulai hari dengan cara yang sama.
Tapi pagi ini berbeda.
Aira tiba pukul setengah delapan. Lebih awal dari biasanya. Ia tak bisa tidur semalaman. Pikiran tentang Arka terus berputar. Cara anak itu memegang tangannya. Cara anak itu bertanya dengan polos, "Kamu mau jadi mama aku?"
Dan pesan dari Raka. "Saya ingin bertemu untuk membahas pesanan baju, sekaligus... mungkin bicara sesuatu."
"Aira, dasar lebay," gumamnya sendiri sambil merapikan meja kerja. "Dia cuma mau pesan baju. Biasalah. Orang kaya, banyak maunya."
Tapi jantungnya tetap berdebar tak karuan.
Pukul sembilan, Maya masuk dengan semangat. Langsung nemplok di samping Aira.
"Mba! Mba! Tadi malam aku enggak bisa tidur! Gila, apartemennya mewah banget. Anak kecil itu, Arka, lucu ya? Tapi sedih. Matanya sedih banget."
Aira tersenyum tipis. "Iya."
"Bapaknya ganteng enggak, Mba? Aku sempat lihat sekilas, cuma dari pintu. Kayaknya ganteng. Tapi tegang gitu."
"Maya, sini bantu aku sortir benang."
"Ah, Mba Aira mah gitu terus. Kalau diajak ngomongin cowok ganteng, kabur."
Maya tertawa lalu pergi ke gudang. Aira menghela nafas. Ia tahu Maya hanya bercanda. Tapi memang benar. Aira tak pernah tertarik pada pria. Bukan karena ia tak mau. Tapi karena hidupnya sudah penuh dengan jahitan, pola, tenggat waktu, dan kiriman uang bulanan untuk ibu di kampung.
Cinta? Itu kemewahan yang tak mampu ia beli.
---
Pukul sepuluh kurang sepuluh menit, seorang pria masuk ke butik.
Aira sedang memotong kain pola di meja besar. Dari kaca jendela, ia melihat bayangan seseorang. Lalu pintu kaca terbuka. Lonceng kecil di atas pintu berbunyi kring.
Raka berdiri di ambang pintu.
Pagi itu ia memakai kemeja putih lengan panjang, tanpa dasi. Lengan kemejanya digulung sedikit sampai siku. Celana bahan hitam. Sepatu pantofel hitam yang mengilap. Rambutnya rapi, tapi ada sedikit helai yang jatuh di dahi. Seperti ia buru-buru menyisir.
Matanya—Aira baru sadar semalam tak sempat melihat mata Raka dengan jelas—matanya lelah. Bukan lelah karena kurang tidur. Tapi lelah karena memikul sesuatu yang berat. Garis halus di bawah matanya seperti bekas air mata yang tak pernah jatuh.
"Selamat pagi, Nona Aira," suaranya berat. Dalam.
Aira meletakkan gunting kain. Menyeka tangan yang tiba-tiba berkeringat di kain celemek.
"Selamat pagi, Pak Raka. Silakan duduk."
Ia menunjuk sofa kecil di sudut butik. Sofa untuk tamu. Raka mengangguk. Berjalan ke arah sana. Cara jalannya tegap. Tapi bahunya agak membungkuk. Seperti orang yang selalu menunduk memikul beban.
Maya muncul dari gudang. Begitu melihat Raka, matanya membelalak. Ia langsung menepuk lengan Aira pelan.
"Mba, itu dia?" bisiknya.
Aira mengangguk. "Kau jaga di belakang. Siapkan air minum."
Maya berlari kecil ke dapur.
Aira duduk di kursi menghadap Raka. Jarak mereka hanya sekitar satu meter. Cukup dekat untuk melihat detail. Cukup jauh untuk tetap sopan.
"Terima kasih sudah bersedia bertemu pagi-pagi," kata Raka. "Saya tahu, butik buka jam sepuluh. Maaf kalau mengganggu."
"Tidak mengganggu, Pak. Saya memang sudah di sini dari pagi."
Raka mengangguk. Tangannya merogoh saku jas. Mengeluarkan selembar kertas. Sebuah gambar. Gambar anak-anak. Dinosaurus. Dengan warna hijau dan oranye. Warna keluar garis. Tapi jelas itu dinosaurus.
"Ini gambar Arka. Katanya, dia ingin baju bergambar ini. Untuk ultahnya."
Aira menerima gambar itu. Tersenyum. Gambar itu sederhana. Tapi penuh imajinasi.
"Boleh saya simpan sebentar, Pak? Untuk pola."
"Silakan."
Hening.
Raka menunduk. Menatap tangannya sendiri. Lalu mengangkat kepala. Matanya menatap Aira. Lama. Seperti mencari sesuatu.
"Ada yang ingin Bapak bicarakan?" tanya Aira pelan.
Raka menghela nafas panjang. Itu helaan nafas orang yang sudah menahan banyak hal.
"Nona Aira, saya... saya mungkin akan terdengar gila. Tapi Arka, anak saya, dia... dia tidak pernah tersenyum seperti kemarin. Sudah setahun. Setahun terakhir, sejak ulang tahunnya yang keempat, dia jarang tersenyum. Apalagi tertawa. Tapi kemarin, saat dengan Nona, dia tersenyum. Berkali-kali."
Aira diam. Mendengarkan.
"Saya ingin bertanya... apa Nona bisa... membantu? Mungkin sesekali datang, bicara dengan Arka? Main sebentar? Saya akan bayar. Saya akan bayar berapapun."
Ada keputusasaan dalam suara Raka. Seorang pria yang terbiasa memerintah ribuan karyawan, terbiasa membuat keputusan bisnis milyaran rupiah, kini duduk di sofa butik kecil, memohon bantuan pada wanita yang baru sekali ditemuinya.
Aira menatap Raka. Ia melihat seorang ayah yang patah hati. Seorang pria yang tak tahu lagi cara membuat anaknya bahagia.
"Pak Raka," suara Aira lembut. "Saya bukan psikolog anak. Saya cuma desainer."
"Nona salah satu orang yang membuatnya tersenyum. Hanya itu yang saya tahu."
Aira diam. Memikirkan Arka. Wajah bulat itu. Mata yang dalam.
"Saya tidak bisa janji banyak, Pak. Tapi saya... saya suka Arka. Dia anak yang baik. Saya akan senang bisa main dengannya sesekali. Tapi tolong, jangan bayar saya. Ini bukan pekerjaan."
Raka terkejut. "Tapi Nona—"
"Arisan," sela Aira sambil tersenyum. "Anggap saja ini arisan. Saya dapat teman baru. Arka dapat teman baru. Tidak perlu uang."
Raka menatap Aira. Lama. Ada sesuatu di mata wanita ini. Sesuatu yang jarang ia temui di Jakarta yang hiruk pikuk. Ketulusan. Tanpa pamrih.
"Terima kasih," bisik Raka. Hanya itu. Tapi dua kata itu keluar dari hati.
Maya datang membawa dua gelas air putih. Meletakkan di meja. Lalu cepat-cepat pergi.
"Arka ulang tahun kapan, Pak?" tanya Aira mencairkan suasana.
"Tanggal 20 bulan depan."
"Berarti tiga minggu lagi. Cukup waktu. Saya akan buatkan baju dengan gambar dinosaurusnya. Spesial."
Raka mengangguk. Lalu tiba-tiba ia berkata, "Nona Aira, saya... saya ingin cerita sedikit. Tentang Arka. Tentang ibunya."
Aira diam. Tak menyangka.
"Tapi Nona mungkin sibuk. Maaf, saya jadi aneh."
"Tidak apa-apa, Pak. Saya punya waktu."
Raka menatap jendela butik. Di luar, mobil-mobil lalu lalang. Orang-orang berjalan cepat. Jakarta tak pernah lambat.
"Dia pergi tiga tahun lalu. Arka baru tiga tahun. Sedang demam. 40 derajat. Saya sedang di kantor, rapat dengan investor Jepang. Saya matikan ponsel. Saya minta pengasuh jaga. Tapi Lita—mantan istri saya—bilang dia akan jaga. Katanya saya tak usah khawatir. Saya percaya. Saya pulang malam. Arka masih demam. Lita tak ada. Hanya ada surat di atas meja."
Raka berhenti. Menelan ludah.
"Surat itu bilang dia pergi. Dengan pria lain. Pria yang katanya bisa memberinya kehidupan yang lebih baik. Dia tinggalkan Arka. Anaknya sendiri. Sedang demam. Demam."
Aira diam. Dadanya sesak. Ia tak bisa bayangkan. Seorang ibu tega melakukan itu.
"Sejak itu, Arka berubah. Dia jarang bicara. Dia tak mau dekat dengan siapa pun. Bahkan dengan saya. Kadang saya lihat dia diam di kamar, memeluk guling, menatap ke luar jendela. Seperti menunggu seseorang yang tak akan kembali."
Raka mengusap wajahnya. Tangannya gemetar.
"Saya sudah coba segalanya, Nona. Psikolog. Terapi bermain. Dokter. Guru. Tapi tak ada yang bisa membuatnya tersenyum seperti kemarin. Saya... saya tak tahu lagi harus bagaimana."
Aira merasakan air mata di pelupuk matanya. Ia tahan.
"Pak Raka, saya tidak tahu banyak tentang anak kecil. Tapi saya tahu satu hal. Anak kecil itu lebih pintar dari yang kita kira. Mereka tahu siapa yang tulus. Mereka tahu siapa yang benar-benar peduli. Saya... saya tidak melakukan apa-apa kemarin. Saya hanya bicara biasa saja padanya. Seperti teman."
"Tapi itu yang sulit saya lakukan," kata Raka lirih. "Saya selalu cemas. Selalu takut. Takut dia sedih. Takut dia sakit. Takut dia tak bahagia. Mungkin karena terlalu takut, saya jadi kaku."
Aira mengangguk paham. "Kadang, anak kecil hanya butuh kita hadir. Tanpa rasa takut. Tanpa beban. Hanya hadir."
Keduanya diam. Suara mesin jahit dari ruang belakang terdengar samar. Maya sedang mencoba mesin.
Ponsel Raka bergetar. Ia lihat sebentar. Lalu matikan.
"Maaf, Nona. Saya harus pergi. Ada rapat."
Ia berdiri. Aira ikut berdiri.
"Terima kasih sudah mau mendengarkan cerita saya."
"Terima kasih sudah percaya cerita pada saya, Pak."
Raka melangkah ke pintu. Lalu berhenti. Berbalik.
"Nona Aira, boleh saya minta nomor telepon Nona? Untuk koordinasi soal baju Arka... dan mungkin jika Arka ingin bertemu."
Aira tersenyum. "Tentu. Saya tulis."
Ia mengambil secarik kertas dari meja. Menulis nomor ponselnya. Menyerahkan pada Raka.
Raka menerima. Membaca. Lalu menyimpan di saku jas.
"Sampai jumpa, Nona Aira."
"Sampai jumpa, Pak Raka."
Pintu kaca terbuka. Lonceng kecil berbunyi kring. Raka melangkah keluar. Menyatu dengan keramaian Jakarta.
Aira berdiri di depan pintu. Menatap punggung Raka yang menjauh. Pria itu berjalan tegap. Tapi Aira tahu, di balik ketegapan itu, ada luka yang tak kunjung sembuh.
Maya muncul dari belakang.
"Mba, udah pergi?"
"Udah."
"Ngobrolin apa aja? Lama banget."
Aira berbalik. Kembali ke meja kerjanya. "Ngobrolin Arka."
"Ah, Mba. Masa ngobrol sama cowok ganteng, topiknya anak kecil."
Aira tertawa kecil. "Memangnya harus topik apa?"
Maya mendengus. "Ya apa gitu. Drama. Percintaan. Gitu."
Aira tak menjawab. Ia mengambil gambar dinosaurus Arka. Menatapnya lama. Lalu tersenyum.
"Kerja, Maya. Kita bikin baju terbaik buat Arka."
---
Di tempat lain, di dalam mobil yang melaju di tengah kemacetan Jakarta, Raka duduk di kursi belakang. Sopirnya, Pak Harto, diam membawa mobil.
Raka mengeluarkan secarik kertas dari saku jas. Kertas dengan nomor telepon Aira. Ia membacanya. Lalu menyimpannya lagi.
Ponselnya bergetar. Lagi. Sebuah pesan dari nomor yang sama semalam.
"Rak, kenapa tak balas? Aku hanya ingin ketemu Arka. Aku ibunya. Aku punya hak."
Raka membaca. Matanya menyipit. Jari-jarinya mengetik balasan.
"Kau tinggalkan dia saat demam. Kau tak punya hak apa-apa."
Kirim.
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
"Aku akan datang. Mau kau suka atau tidak."
Raka memejamkan mata. Jakarta di luar jendela tetap macet. Hatinya juga macet. Terjebak antara masa lalu yang menyakitkan dan masa depan yang tak pasti.
Ia ingat Arka. Ingat senyum Arka kemarin. Ingat wanita yang membuat senyum itu.
"Pak Harto, putar balik."
"Pak? Tadi kata Bapak mau ke kantor?"
"Urung. Antar saya ke rumah dulu. Saya mau lihat Arka."
Mobil berbelok di putaran berikutnya. Meninggalkan gedung-gedung tinggi SCBD. Menuju apartemen mewah yang sunyi. Menuju seorang anak laki-laki yang sedang menunggu.
Menunggu seseorang yang tak akan pernah kembali.
Atau mungkin, menunggu seseorang yang baru datang.
---
Catatan Penulis Chapter 4:
Di chapter ini, kita mulai melihat kedalaman karakter Raka. Tere Liye sering menggambarkan tokoh pria yang kuat di luar tapi hancur di dalam. Raka adalah tipikal itu. Sementara Aira mulai menunjukkan sisi keibuannya, bukan dengan drama, tapi dengan kehadiran yang tenang.
Dialog tentang "hadir tanpa rasa takut" adalah inti dari chapter ini. Kadang, cinta tak perlu kata-kata besar. Cukup dengan hadir. Sepenuh hati.
---