NovelToon NovelToon
What We Were Never Given

What We Were Never Given

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Oryelle

Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.

Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?

Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Mendidih

“Kalau aku hamil gimana?” tanya Nareya.

“Ya bagus lah,” sambar Kala.

“Kita mau cerai. Aku nggak siap punya anak.” teriak Nareya, kedua tanganya meremas rambut dan menggeleng kuat.

“Saya sudah jelaskan dan kamu juga tau kan kalau saya pakai pengaman? Berhenti teriak! pusing saya.”

Hari ini Kala terpaksa tidak berangkat kerja lagi, karena Nareya belum juga bisa tenang sejak kemarin malam. Bahkan saat bangun dari tidurnya Nareya menangis sepanjang malam. Alhasil Kala juga tidak bisa melakukan apapun, niatan untuk mengerjakan pekerjaan pun gagal semua.

“Nangis lagi kamu? Kamu ini benar-benar masih anak kecil ya” ucap Kala mengelus rambut Nareya. “Mau saya masakan apa?” tanya Kala.

Mendengar kata makan, perut Nareya langsung berbunyi “Aku maunya makan seafood di restoran mahal yang itu.” ucap Nareya spontan.

Kala menahan senyumnya, “Makan di restoran saja ayo!” ajak Kala.

“Buruk rupa begini, belum mandi, mataku juga sembab.” ucap Nareya menunjukan wajahnya ke Kala.

Kala menatap Nareya “Hem memang buruk sekali sih, makanya jangan nangis terus kamu.” ucap Kala.

Nareya justru kembali meneteskan air mata, kali ini karena pertama kalinya mendapat komentar buruk soal wajahnya. Sepertinya Kala memang melakukan banyak hal yang menjadi pengalaman pertama Nareya.

“Belum juga capek menangis? nanti makin sembab tidak bisa buka mata kamu.”

“Tadi maksudnya aku jelek?”

Kala langsung menatapnya “Sekarang menangisnya karena merasa jelek?”

“Aku cantik, kamu yang bilang begitu.”

“Saya tidak mengatakan kamu jelek, tapi sembab mu itu yang sudah parah sekali.” ngeles Kala.

“Tapi aku cantik?”

Pertanyaan itu sepontan membuat Kala terbahak-bahak “Kamu itu unik ya, iya kamu cantik.”

“Kamu bisa ketawa begitu?” Nareya tidak percaya.

“Tapi cantik siapa? Aku atau Sabreena?” lanjut Nareya.

Seumur hidup Kala itu pertama kalinya dia dibuat kewalahan dengan tingkah seorang perempuan. Nareya tiba-tiba berpindah topik membuat Kala tidak bisa membaca apa yang sebenarnya istrinya itu mau.

“Sama cantiknya” jawab Kala singkat.

Menurutnya itu adalah jawaban paling netral yang aman. Setelah semua cara telah dilakukan. Dengan cara lembut semalam, nyatanya tidak membuat Nareya tenang. Berbicara jujur juga membuatnya kembali menangis.

“Ya sudah kenapa tidak nikahi saja dia.”

“Karena kamu yang saya nikahi.”

Bagi Kala faktanya memang Nareya lah yang menjadi istrinya. Tidak ada satu pun alasan untuk mempertimbangkan perempuan lain lagi. Ketika dia sudah memilih maka dia akan pertanggungjawabkan seumur hidup. Bukan hal istimewa baginya itu hanya sewajarnya laki-laki. Tapi meski begitu, setengah jiwanya mengalir darah Wira. Satu-satunya Atmasena yang beristri dua.

“Ceritain dong Sabreena orangnya kayak gimana?”

“Dia dari keluarga terpandang, baik, dan sukses juga.”

Nareya menggelengkan kepalanya, “Terlalu sempurna untuk lo batalkan lamaranya begitu aja.” ucap Nareya. “Jahat sih, masa demi posisi kamu menyakiti perasaan dia. Sebagai sesama perempuan aku harus memperjuangkan kehormatannya”

Kala sudah mengernyitkan dahinya, mencoba mengikuti pembicaraan Nareya.

“Kamu hubungi dia sekarang, sampaikan permintaan maafku. Karena aku tidak tahu apa-apa dengan hubungan kalian.”

“Kamu bicara apa Nareya? Kamu sepertinya salah paham. Saya yang minta maa ke kamu karena banyak yang menghujat kamu di sosial media.”

“Nggak, itu udah biasa. Sama sekali gak masalah. Tapi rasa bersalah aku ke Sabreena itu beneran mengganggu.”

“Kita…” ucapan Kala terpotong saat Nareya mengambil handphonenya dari saku. “Itu tidak seperti yang kamu banyangkan,” lanjut Kala.

“Passwordnya apa?” tanya Nareya menyodorkan handphone itu.

Kala langsung memasukan kombinasi angka, Nareya dengan cepat menarik kembali, langsung membuka whatsapp.

“Kamu belum dapat izin saya untuk membuka hp saya.” ucap Kala. Namun sama sekali tidak berusaha merebut handphone miliknya.”Saya tidak punya nomor dia” lanjut Kala.

“Pasti kamu sembunyikan kan? Ini siapa nih Budi.”

“Itu teman bisnis saya, kita ada program baru tapi semua tertunda.” ucap Kala, lalu menatap Nareya lama.

Mereka belum juga beranjak dari sofa. Kala sehabis gym pun belum sempat membersihkan badanya. Semua agendanya berantakan dan masih mencoba mengikuti permainan Nareya.

“Terus ini siapa? Anastasya, kamu pasti samarkan namanya kan,”

“Sudah sini, itu receptionist,” Kala mengulurkan tanganya.

“Sebentar…” cegah Nareya mengalihkan tubuhnya. “Mohon maaf pak sudah ditunggu Pak Budi. Mas Ardhito sedang meeting.” Nareya membacakan pesan yang baru saja dia buka itu.

“Nanti saya coba tanyakan apa Sabreena mau bertemu langsung, kalau kamu betul ada yang dibicarakan.” ucap Kala. “Sudah sini, saya harus segera membalas itu.”ujar Kala.

Tidak satupun pesan yang tampak mencurigakan, akhirnya Nareya mengembalikan handphone itu.

“Aku laper banget, cepat pesan makananya.” ucap Nareya mengguncang lengan Kala berkali-kali.

Kala yang sedang membalas pesan pun terganggu, “Berhenti bersikap kekanakan. Kamu menangis semalaman untuk hal yang kamu setujui. Kamu mebuat semuanya kacau untuk kekhawatiran yang belum tentu terjadi.” Kala menatap Nareya tajam.

Nareya seketika terdiam mendengar nada serius Kala. “Tunggu di sini, beri saya waktu tenang lima menit.” ucap Kala.

Nareya merasa bersalah, benar itu memang kekanakan. Tapi sebagian kecil hatinya merasa menyesal. Tapi benar, itu memang keputusan Nareya juga. Meski memang keputusan itu diambil saat kondisinya tidak sepenuhnya dalam keadaan sadar dan stabil.

“Saya sudah selesai. Sekarang dengarkan tanpa memotong pembicaraan saya.” Kala menjeda menunggu jawaban Nareya, namun tak kunjung bersuara. “Jawab dulu, kamu!”

“Tadi bilang dengarkan dan jangan potong. Iya aku dengar.” gerutu Nareya.

“Pertama, kamu belum siap punya anak saya tidak akan memaksa. Saya orangnya penuh perhitungan dan saya teliti.” ucap Kala perlahan namun tegas.

Nareya mengernyitkan dahinya dan matanya menyipit memandang Kala.

“Kedua itu terjadi dengan kesepakatan kamu. Saya paham kamu itu menyesali karena itu bukan keputusan saat kamu dalam keadaan penuh kendali. Tapi tidak kemudian kamu menyakiti dirimu sendiri dengan menangis semalaman.” jelas Kala.

Sudut bibirnya sudah terangkat, namun belum berniat membuka suara.

“Saya orangnya paling tidak suka kalau orang sekitar saya mengabaikan soal kesehatan. Lihat matamu! Sshhh… nanti kita obati.”

“Ketiga, kamu membuat satu masalah diihidupmu berkembang menjadi masalah baru,”

“Itu bukan keputusan dewasa, kekhawatiranmu tidak hilang, urusan saya berantakan. Kamu juga jadi tidak bekerja. Semua berantakan.”

“Saya mau pesan makanan dahulu. Kamu coba pahami perkataan saya.”

Nareya menggertakkan giginya, rasanya emosi sudah memuncak. Entah mengapa emosi Nareya memang begitu campur aduk hari ini.

“Saya sudah pesankan makanan, sebentar ya.’ Kala langsung meletakan handphone nya di atas meja. “Sampai di mana saya tadi?” lanjut Kala bertanya.

“Semua urusan berantakan, kamu minta aku pahami.”

“Iya itu benar. Lain kali apapun itu tidak perlu berbelit, sampaikan saja mau kamu seperti apa.”

“Ya aku cuma bingung karena semuanya sudah terjadi, aku menyesal. Ketakutan terbesarku adalah memiliki anak. Makanya pernikahan itu tidak aku banyangkan akan terjadi hidupku.”

“Saya harus jelaskan lagi berapa kali?” tanya Kala

Nareya menatap penuh kebencian saat dirinya jujur namun tidak ada simpati sedikitpun ke arahnya.

“Pakai pengaman tidak bisa menjamin seratus persen aman. Aku benar-benar tidak menginginkan anak di hidupku.” ucap Nareya sampai menggeram.

Kala tertegun dengan ucapan Nareya. Mempertanyakan kembali keputusan memilih Nareya sebagai istrinya di kepalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!