Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SOLO CAREER DI KOSAN DAN INSIDEN DASTER PINK
Siang itu, matahari Jakarta seolah sedang membalas dendam. Setelah tragedi "Ayam Geprek Level Maut", Aruna terpaksa membuat keputusan tersulit dalam hidupnya yaitu meninggalkan Javi sendirian di kamar kos.
"Dengar, Ujang! Aku harus ke kampus karena Pak Bambang sudah mengancam akan mengganti namaku di daftar absen jadi Almarhumah kalau aku telat lagi," ucap Aruna sambil memakai tas ranselnya yang berat.
Javi terbaring di lantai dengan lidah terjulur, tangannya memegang botol susu kosong.
"Aruna... jangan tinggalkan saya... perut saya terasa seperti sedang mengadakan pesta kembang api ilegal..."
"Makanya jangan sok jago! Intinya JANGAN KELUAR KAMAR. Kalau ada suara ketukan, pura-pura mati saja. Kalau lapar, ada kerupuk di kaleng. Mengerti?"
Javi mengangguk lemah.
"Mengerti, Majikan... Hati-hati di jalan, sampaikan salam saya pada Pak Bambang, semoga dia segera insyaf."
Aruna pun berangkat, meninggalkan sang superstar amnesia itu sendirian dengan satu misi sederhana yaitu Diam.
Sepuluh menit setelah Aruna pergi, rasa panas di perut Javi mencapai titik didih. Dia butuh air dingin. Air di galon Aruna habis (karena dipakai Javi untuk membasuh mukanya yang kepedasan tadi).
"Saya tidak bisa mati konyol karena cabai," gumam Javi.
Dia bangkit, memakai kacamata hitamnya, dan melilitkan sarung kakek Aruna ke lehernya seperti syal high-fashion.
Javi membuka pintu sedikit. Lorong kosan sepi. Dia melihat ada dispenser besar di area umum dekat jemuran. Dengan gerakan mengendap-endap ala ninja yang lebih mirip model catwalk sedang sembunyi dari paparazzi, Javi meluncur menuju dispenser.
Namun, rintangannya bukan cuma dispenser. Di samping dispenser, ada jemuran milik Mbak Widya yang melambai-lambai tertiup angin.
"Warna ini..." Javi terpaku melihat sebuah daster pink motif bunga kamboja.
"Ini sangat artistik. Teksturnya terlihat... lembut."
Tiba-tiba, suara sandal jepit beradu dengan lantai terdengar.
Plak! Plak! Plak!
Itu Mbak Widya! Dia sedang menuju area jemuran sambil membawa ember.
Javi panik jantungnya berdegup lebih kencang daripada beat lagu dance-nya. Tidak ada tempat sembunyi selain di balik daster-daster yang sedang dijemur.
Tanpa pikir panjang, Javi masuk ke sela-sela jemuran. Tapi karena tubuhnya yang setinggi tiang basket, kakinya tetap terlihat jelas. Dalam keputusasaannya, Javi melihat daster pink tadi. Dia meraihnya dan... memakainya di atas kaos oblongnya.
"Siapa itu?!" teriak Mbak Widya yang melihat ada sosok tinggi besar berdiri kaku di balik jemuran dasternya.
Javi membeku. Dia menarik daster itu sampai menutupi kepalanya, menyisakan lubang kecil untuk matanya yang memakai kacamata hitam.
"Anu... saya... saya petugas kontrol jemuran, Mbak!" jawab Javi dengan suara yang diberatkan agar tidak dikenali.
Mbak Widya mendekat, memegang sapu lidi.
"Petugas kontrol jemuran? Seumur-umur saya punya kosan, nggak ada jabatan kayak gitu! Heh, kamu maling ya?! Kok pake daster saya?!"
Javi mulai melakukan gerakan robotic dance dengan refleks amnesianya saat panik.
"Ini... ini adalah seragam baru dari kelurahan, Mbak. Untuk memastikan... kelembapan kain agar tidak terjadi jamur estetik."
"Halah! Bohong kamu! Buka nggak?!" Mbak Widya mulai memukulkan sapu lidinya ke arah kaki Javi.
"Aduh! Mbak, jangan! Ini kulit asisten... maksud saya, kulit rakyat jelata ini sensitif!"
Javi lari berputar-putar di sekitar jemuran dengan daster pink yang berkibar-kibar.
Tepat saat itu, Aruna baru saja pulang karena kelasnya dibatalkan (Pak Bambang ternyata diare karena makan ayam geprek yang sama). Begitu masuk gerbang, Aruna nyaris pingsan melihat pemandangan di depannya.
Javi idol nomor satu di Asia, sedang dikejar-kejar Mbak Widya sambil memakai daster pink motif bunga kamboja miliknya.
"MBAK WIDYA! BERHENTI, MBAK!" teriak Aruna sambil meloncat turun dari motor.
"Ar! Liat ini! Ada maling gila pake daster aku! Tinggi bener, kayaknya dia maling spesialis daster ukuran XL!" seru Mbak Widya terengah-engah.
Aruna segera berdiri di antara mereka.
"Mbak! Mbak, tenang! Ini bukan maling! Ini... ini Ujang sepupu saya!"
Javi berhenti berlari, berdiri di belakang Aruna sambil masih memakai daster itu sebagai kerudung.
"Benar, Mbak. Saya Ujang. Saya sedang melakukan... uji coba ketahanan kain terhadap angin siang hari."
Mbak Widya melongo.
"Ujang sepupu kamu? Kok makin aneh sih kelakuannya? Tadi pagi sakit gigi, sekarang jadi pemerhati jemuran?"
"Iya, Mbak! Ujang ini emang punya trauma masa kecil, dulu dia pernah kehilangan jemuran kesayangannya, makanya sekarang dia sangat protektif sama kain-kain yang dijemur!"
Aruna mengarang bebas, otaknya bekerja lebih cepat daripada proses rendering Photoshop.
Mbak Widya menatap Javi dengan curiga.
"Tapi kok daster saya dipake sama dia?"
Javi dengan polosnya menjawab,
"Tadi saya merasa panas, Mbak. Daster ini memiliki pori-pori udara yang sangat futuristik. Saya merasa sangat adem."
"SUDAH! UJANG, MASUK KAMAR!"
Aruna menarik daster itu dari tubuh Javi dengan paksa dan menyerahkannya kembali pada Mbak Widya yang masih bengong.
"Maaf ya mbak ,sudah bikin ribut siang-siang", ucap Aruna sambil meringis malu.
"Jagain bener-bener Ar, sepupu kamu itu. Meskipun gantengnya kayak Javi tapi tingkah laku nya ampun deh ..."
Setelah berhasil masuk ke kamar dan mengunci pintu, Aruna langsung menjatuhkan dirinya ke kasur.
"Aku mau mati aja. Aku mau pindah ke Mars sekarang juga."
Javi duduk di lantai, merasa bersalah.
"Maaf, Majikan Aruna. Saya hanya ingin air dingin. Dan daster itu... benar-benar nyaman."
Aruna menatap Javi yang berkeringat.
"Javi... daster itu harganya lima puluh ribu di pasar. Kariermu harganya miliaran. Tolong, punya martabat sedikit kenapa sih?"
Javi tertawa kecil, suara baritonnya mengisi ruangan sempit itu.
"Di sini, saya tidak punya karier, Aruna. Saya hanya punya kamu dan perut yang perih. Dan tadi... saat Mbak Widya mengejar saya, saya merasa... bebas. Tidak ada yang memotret saya, hanya ada wanita galak dengan sapu lidi."
Aruna terdiam. Dia kaget dengan yang diucapkan Javi.
Apa jangan-jangan nie anak udah inget lagi.
" Kamu udah inget,kamu siapa jang??"
" Bukannya saya ini asistennya majikan Aruna , tapi entah kenapa dari dalam lubuk hati terdalam ada rasa seperti saya itu bintang yang menggantung di langit."
"Ya sudah. Nih,"
Aruna melempar dua buah es mambo stroberi yang tadi dia beli di jalan.
"Makan ini buat dinginin perutmu. Besok-besok kalau mau air, ketok tembok aja, biar Mbak Widya nggak nyangka ada penampakan penunggu jemuran."
Javi menerima es mambo itu dengan mata berbinar.
"Es stroberi? Ini... lebih baik daripada daster pink tadi."
Mereka berdua menghisap es mambo dalam diam di kamar kos yang pengap. Di luar, Mbak Widya masih bergumam heran sambil mengendus dasternya yang kini berbau parfum mahal. Sementara itu, di seberang jalan, Genta baru saja menurunkan kameranya setelah memotret Javi yang memakai daster.
"Ujang ya?"
Genta tersenyum licik sambil melihat hasil fotonya.
"Kayaknya aku tahu siapa yang bakal jadi pemenang lomba desain bulan ini kalau aku pakai foto ini buat negosiasi sama Aruna."