𝘛𝘳𝘢𝘨𝘦𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝙈𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙂𝙡𝙤𝙧𝙮—𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘞𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘦𝘭𝘪𝘵𝘦 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘸𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.
𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘯𝘥𝘰𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶— 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
왕신 ー 16
...왕신...
...ー...
Beberapa waktu akan Shin berikan untuk Ana, keberadaannya dalam jangkauan mata wanita itu mungkin hanya akan menjadi pengeruh keadaan.
Keputusannya adalah pulang.
“Tuan Muda kembali?” Paman Hong langsung menghampiri saat dia tengah menutup semua tirai karena udara beranjak gelap.
Shin baru saja mendorong pintu dan masuk.
“Hmm. Bagaimana tamu Jepangku? Apa dia merengek?”
“Tidak, Tuan Muda. Sepertinya yang dilakukan Nona Aiko sepeninggal Tuan Muda hanya berdiam diri di kamar. Saya tidak bisa pastikan apakah dia tidur atau menonton acara tv.”
“Begitu,” tanggap Shin ringan, lalu bertanya hal lain, “Bibi sudah memberinya pakaian ganti?”
“Sudah, Tuan Muda.”
“Baiklah. Paman boleh teruskan. Aku akan menemuinya.”
“Silakan.”
Langkah lebar dalam sekejap membawa Shin ke hadapan pintu kamar yang dihuni Aiko Hart.
Ketukan dilakukan.
Tidak ada sahutan saat hanya sekali, sampai ketiga pun tidak, akhirnya dia memutuskan membuka saja.
Matanya tertuju ke ranjang ..., rapi. Mengitar ke semua sudut kamar, tidak ada. Langkah terdorong ke balkon, dan hening. Satu kemungkinan hanya ke kamar kecil, tapi bahkan tidak ada suara walau tetesan air. Saat diputar handlenya, pintunya pun tidak terkunci, dan jelas ... kosong.
Shin diam sambil berpikir, menatap keheningan sambil merenung, sampai tatapannya tertuju pada sesuatu di bawah bantal. Segera dia menghampiri untuk mengambil.
Secarik kertas bertuliskan kalimat singkat;
𝒯𝒾𝒹𝒶𝓀 𝓊𝓈𝒶𝒽 𝓂𝑒𝓃𝒸𝒶𝓇𝒾𝓀𝓊, 𝒶𝓀𝓊 𝓅𝑒𝓇𝑔𝒾. 𝒯𝑒𝓇𝒾𝓂𝒶 𝓀𝒶𝓈𝒾𝒽!
^^^愛子ー Hคrt^^^
Ditanggapi dengan tersenyum kecut, sebelum kemudian menaruh kertas itu begitu saja ke atas meja.
“Baiklah, lakukan sesukamu.”
**
Melupakan Aiko Hart yang menolak dilindungi, esok hari setelah rapi, Shin kembali meninggalkan rumah. Dia memutuskan akan menemui Ana, sekali lagi.
Semalam sambil menatap beranda langit di atas balkon dengan secangkir kopi, dia mengacak isi pikiran sampai mendapati kesimpulan yang ingin dia lakukan, yaitu; Mengajak Anda kembali berkisah-kasih sebagai suami istri.
Iya, akan sangat kejam jika satu kesempatan saja tidak diberikan. Ana mungkin hanya terbawa dengan kisah masa lalunya bersama Gibaek, dan akan membaik jika dia dan wanita itu saling meminta dan memaafkan.
“Aku akan membawanya pulang ke rumahku.” Dia memutuskan. Tidak bisa terus menyembunyikan jati diri dari seseorang yang jelas atau mungkin, sudah menempati tulang rusuknya.
Ana sempat mengandung buah hatinya meski hanya sesaat dan dia terlambat tahu, itu adalah kebaikan yang tidak bisa disepelekan.
Alasan kenapa Shin tidak pernah mengungkap diri secara benar adalah karena pandangannya terhadap Ana masih bernilai skeptis.
“Seharusnya sekarang aku sudah yakin, bukan?”
Namun saat semua yang disusun sebaik mungkin dalam kepala untuk memulai kehidupan yang baru itu, Ana malah 'tak terkendali.
Pihak rumah sakit mengatakan jika wanita itu meminta pulang lebih cepat sebelum waktu yang ditentukan. Saat dihubungi, malah tidak bersambut.
Sialnya, pacuan kuda besinya kembali berakhir nihil. Tiba di rumah, dengan ketus, Son Hadam mengungkapkan jika Ana pergi ke kantor polisi.
Bayangan di kepala Shin sudah menjurus ke satu titik.
Tidak mungkin istrinya ke sana untuk menemui atau sekedar mampir membawa kopi seperti yang kadang dilakukannya untuk Park Junwon, melainkan ... demi Sol Gibaek.
Tidak ingin bertengkar dengan waktu, karena dia akan mengalahkannya. Dalam beberapa saat sudah tiba di kantor polisi setelah membuat kemarahan seorang supir pajero di kemacetan.
Seharusnya Park Junwon menyambut senang, tapi wajahnya malah terlihat tidak nyaman dengan berulang kali tersenyum palsu dan garuk-garuk leher belakang.
Ada sesuatu dan itu jelas.
“Kudengar Ana kemari, bisa kau tunjukkan di mana dia?”
Keraguan Park Junwon bukan hal yang harus dipertimbangkannya, Shin merangsek melewati polisi itu untuk bertanya pada polisi lain, “Di mana ruang tahanan Sol Gibaek?!”
Tidak lama sampai dia mendapatkan jawaban, langkah cepat mengantarnya ke tempat di mana Ana berada. Tak sampai mendekat untuk diketahui kedatangannya, dia berdiri di jarak cukup jauh di belakang wanita itu.
“Pemandangan yang indah,” komentarnya saat disuguhi roman picisan, dua telapak tangan masuk kiri dan kanan saku celana di saat sama. “Mereka saling memaafkan mendahuluiku," sambungnya terkekeh masam sambil menggeleng-geleng, menertawakan diri sendiri.
Ana dan Gibaek saling menggenggam tangan, sorot mata saling bertatap dalam, duduk di atas kursi panjang berdempet di ruang besuk, sama-sama menguatkan satu dan yang lainnya.
Park Junwon tidak sampai bertanya-tanya melihat situasi itu setelah menyusul dan berdiri di sebelah Shin. Dia tahu siapa Sol Gibaek dan bagaimana Ana selalu mengatakan kerinduannya saat mereka masih berstatus anak kuliah.
Polisi itu juga terkejut, ternyata pemimpin dari geng mafia yang dikejarnya adalah Sol Gibaek, orang yang sama dengan yang sangat dirindukan Ana.
"Kau tidak akan menemui mereka?" tanya Junwon dengan nada yang ragu-ragu.
Shin menoleh pria itu, tapi tidak menjawab. Kembali diluruskannya tatapan pada Yoo Ana.
Pikirannya sedang bertempur sekarang, untuk setidaknya sebuah keputusan yang dipaksa cepat.
Sampai ....
“Park Junwon.”
“Ya.”
“Ana sudah menemukan tambatan hatinya. Jadi tugasku mendampinginya ... akan cukup sampai di sini.”
“Apa?! ... Apa kau bilang?!”
"Kau berikan ini pada Ana."
Sebuah benda kecil diletakkan Shin di telapak tangannya, Park Junwon menatap itu dengan tatapan nyalak. “Ini ... cincin pernikahan kalian?”
“Hmm.”
“Apa maksudmu dengan ini?!”
“Berikan saja pada Ana, dan tolong katakan padanya ... terima kasih banyak ... dariku.”
Junwon kebingungan dan tergagap-gagap. “S-Shin, ini ....”
“Berikan saja!” tegas Shin. Sesaat dia melihat ke arah Ana, sebelum kemudian berbalik dan pergi. Langkah lebar memaknai keyakinan setelah menghapus ragu, hasil kontemplatif beberapa saat selama memerhatikan.
Sisa Park Junwon dengan segenap kebingungannya. Cincin di telapak tangan ditatapnya, lalu digulung dalam genggaman.
Dia memang dekat dengan Ana, teman dari kuliah sudah cukup membuatnya seperti keluarga dengan wanita itu. Akan tetapi untuk menyampaikan hal sepribadi ini ... “Kenapa Shin tidak melakukannya sendiri saja?”