NovelToon NovelToon
Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mantan / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:41
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berusaha Tegas

"Adiknya Mar itu cantik ya, padahal masih kecil." Oto yang tiba-tiba membahas gadis kecil yang masih duduk di SD tetangga Pie.

"Oh, iya. Kakaknya saja cantik mana mungkin adiknya jelek." Pie sedikit terkejut dengan ucapan Oto yang memuji perempuan lain walaupun anak kecil. Itu membuat Pie sedikit cemburu dan aneh.

"Betul. Kakaknya sudah cantik, ramah lagi." Pie diam. Ia kesal pada Oto yang sekarang memuji wanita dewasa di depannya.

"Pie, Kalau Oto mengajakmu keluar, jangan mau ya." Ayah berbicara serius saat Pie sedang memotong sayuran di dapur.

"Kenapa, Yah?"

"Dia belum ada bicara apapun pada ayah. Minta izin berkenalan atau main ke rumah."

Pie baru menyadarinya setelah beberapa bulan menjalin hubungan bersama Oto, pria itu sama sekali belum berbicara serius dengan ayahnya. Hanya mengobrol biasa saat bertemu.

"Iya, yah."

"Ingat pesan ayah, Pie."

Pie mengangguk mantap.

"Iya, yah."

"To, kenapa belum kirim uang? Ibumu bingung mau beli bahan masakan." sudah sebulan ayah Oto menikah, namun masih meminta uang Oto untuk kebutuhan sehari-hari.

"Pak, kenapa bapak tidak cari kerja untuk menafkahi istri? Oto kirim uang seadanya, di sini Oto juga banyak kebutuhan, Pak."

"Halah, kebutuhan apa? Kau tinggal di mess, makan tidur ditanggung. Jangan boros-boros, lebih baik berikan uangnya pada bapak."

"Oto ingin menikah, Pak."

"Kau sudah punya pacar?"

"Sudah, Pak. Orang sini."

"Kenalkan sama bapak. Biar bapak yang bicara."

"Iya."

"Bicara apa maksudnya?" gumam Oto memandang layar ponsel yang mati.

"Mas. Bisa kita menikah dalam waktu dekat?"

"Kenapa buru-buru, dik? Mas masih usahakan tentang biayanya."

"Tidak enak dengan tetangga, kita sering bertemu takut terjadi fitnah."

"Mas usahakan cepat ya, dik."

Pie mengangguk paham. Sejujurnya ia tak tega mendesak Oto untuk cepat menikahinya, namun Mama dan ayahnya terus bertanya kapan pria itu akan melamar anak gadis mereka.

Pie mengerti dengan posisi kedua orangtuanya, mereka tinggal di desa, yang mana para tetangga masih sangat 'peduli' terhadap sesama warga.

"Ma, Bapaknya mas Oto sudah menikah."

"Lalu?"

"Tapi masih minta uang ke mas Oto. Beliau tidak bekerja."

"Apa-apaan itu? Laki kok tidak ada harga dirinya? Mau kawin tapi tak mau kerja."

"Aku takut nanti kalau aku menikah dengan mas Oto, beliau mengganggu kami."

"Kau tegaskan pada Oto, Pie. Bagaimana sikapnya pada bapaknya itu. Kalau lembek, putus saja. Jangan mau menikah kalau Oto tidak tegas pada bapaknya."

"Mama tidak setuju pada Oto ya?"

"Bukan begitu, Pie. Mama sangat tahu kehidupan berumah tangga. Itu tidak mudah jika ada mertua mengganggu rumah tangga anak dan menantu, apalagi masalah keuangan."

Pie diam mendengarkan.

"Oto itu gajinya tidak besar. Kalau terus-menerus mengirim uang dalam jumlah yang sama setelah kalian menikah, bisa-bisa anak Mama menderita."

"Jadi aku harus bertanya padanya?"

"Harus. Semua harus jelas di awal jika berniat menikah, Pie."

"Baik, nanti aku akan bertanya."

"Secepatnya."

"Kenapa terburu-buru? Mas Oto saja belum siap melamar."

"Nah, sampai kapan kita menunggu? Pie, para tetangga semakin menggunjing dan bertanya tentang kalian. Mama tidak enak mendengarnya."

"Mas Oto bilang modalnya belum cukup, Ma."

"Itulah, Mama heran dengan kebanyakan lelaki. Berani mendekati tapi modal masih sedikit. Jika didesak begini dia kelimpungan, kan?"

Pie hanya meringis mendengar ucapan Mama yang sedikit emosi.

"Kenapa Mas? Kok wajahnya kusut?" Oto yang mengapeli Pie pada malam minggu gagal menyembunyikan keresahannya.

"Bapakku, dik. Menolak kerja alasan capek."

"Terus?"

"Jadi Mas bertanggung jawab sama Ibu baru untuk membantu keuangan bapak."

"Aku penasaran."

"Apa, dik?"

"Kalau kita jadi menikah, apa nanti Mas masih mengirim uang ke bapak?"

"Iya."

"Jadi, gaji Mas dibagi dua?"

"Menurut adik, baiknya bagaimana? Jujur mas pusing dengan tingkah bapak yang seenaknya."

"Tapi?"

"Tapi mas tidak tega sama bapak."

Pie menghela napasnya. Sudah ia duga, laki-laki ini lembek dengan urusan seperti ini.

"Kita tidak tahu kebutuhan nanti bagaimana. Maaf, aku membahas ini karena harus jelas ke depannya."

"Iya, dik. Tidak apa, kita memang harus membahasnya."

Pie mengangguk.

"Seandainya, keuangan Mas tiba-tiba merosot apa yang akan mas lakukan?"

"Berusaha."

Pie menggeleng.

"Apa yang mas lakukan terhadap bapak?"

"Maksudnya?"

"Tetap mengirim uang dalam keadaan kita yang terdesak?"

"Jika bapak meminta, mas harus apa, dik?"

Pie menghela napas dalam.

"Mas masih memikirkan bapak yang sudah punya tanggungan?"

"Bapak tidak kerja, dik. Jadi mas yang harus mengirim uang."

"Tidak bisa distop?"

Oto menggeleng lemah. Sekarang Pie paham ia harus bagaimana.

"Maaf, kita putus saja Mas." ucapan Pie membuat Oto membelalakkan matanya, ia benar-benar terkejut.

"Apa? Kenapa, dik? Mas salah apa?"

"Mas tidak tegas pada bapak. Oke, kalau mengirim uang hanya sekedar memberi bukan kewajiban."

"Tapi bapak tidak kerja, dik."

"Dik, jangan putus. Oke, Mas akan lebih giat lagi bekerja biar kita cepat menikah." Pie mendesah pelan. Bukan itu yang dirinya inginkan. Oto benar-benar tidak menangkap maksudnya.

"Dik, jangan putus. Ya?"

Oto menggenggam tangan Pie. Kedua maniknya memohon agar gadisnya berubah pikiran.

"Mas harus tegas."

"Iya, mas janji."

"Benar?"

"Iya. Jangan putus ya? Ya?"

"Iya." Pie pun tak tega memutuskan Oto, ia sudah terlanjur memiliki perasaan pada pria itu.

Hari-hari berikutnya..

Oto memandang Pie dengan lekat. Ia jatuh cinta pada gadis desa yang hampir setiap hari lewat di depan mess perusahaannya.

"Dik, Mas ingin minta tolong."

"Ya? Apa itu?"

"Bisa pegang ATM milik Mas?"

"Huh? Kenapa?"

"Mas boros Dik, Gaji pokok masuk ke ATM itu biar adik yang pegang. Biar Mas tidak bisa mengirim uang ke bapak lagi."

"Lalu? Untuk kebutuhan Mas bagaimana?"

"Mas ada uang premi, dari situ untuk jajan Mas."

"Ini, dik. Tolong bantu simpan ya? Kalau adik mau jajan atau beli apapun, ambil saja uangnya di ATM. Ini pinnya." Oto menyerahkan kartu ATM ke tangan Pie dan mengirimkan pesan yang berisi nomor Pin ATMnya.

"Ya, aku bantu simpan uangnya."

"Terima kasih, dik. Mas pulang dulu ya, sebentar lagi masuk kerja."

"Ya, hati-hati."

"Nanti mas hubungi adik."

Pie mengangguk, ia mengantar Oto sampai ke depan hingga pria itu hilang dari jarak pandangnya.

"Untuk apa minta simpankan lalu menyuruhku memakai uangnya?" gumam Pie menatap kartu kecil di genggamannya.

("Pie kemari, ayo upacara akan segera dimulai!" Kim berteriak ke arah Pie yang baru datang. Kim terlihat tersenyum dengan tampan. Sekumpulan siswa yang mulai memenuhi lapangan untuk bersiap mengikuti upacara, Pie segera bergegas menghampiri Kim untuk masuk barisan.

"Kenapa terlambat? Kau kesiangan?"

"Ya." Pie menatap Kim dengan slow motion. Ia sangat terpesona dengan Kim yang mengenakan seragam putih-abu. Rasanya Pie ingin memekik kencang.")

"Kenapa mimpi itu lagi? Kim, kata orang jika bermimpi seseorang maka orang tersebut sedang rindu. Kim, kau merindukanku?" gumam Pie. Lagi-lagi ia bermimpi tentang Kim.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!