"Dia mencintaiku sampai mati, tapi justru membunuhku perlahan setiap hari."
Di balik kemewahan gaun sutra dan rumah bak istana, Yati hanyalah seorang tawanan yang jiwanya diremukkan oleh suaminya sendiri, Stevanus. Bagi dunia, Stevanus adalah pahlawan; bagi Yati, dia adalah iblis berwajah malaikat.
Puncak pengkhianatan terjadi saat Stevanus membuangnya dalam keadaan hancur demi kekuasaan dan wanita lain. Mereka mengira Yati sudah tidak berdaya dan terkubur bersama rahasia gelap mereka.
Namun, rasa sakit tidak mematikan Yati—ia justru melahirkan sosok baru yang kuat dan tangguh. Kini Yati kembali dengan identitas berbeda, menyusup ke jantung kehidupan Stevanus untuk merebut kembali hidup dan harga dirinya.
Ini adalah kisah tentang perjuangan Yati membuktikan bahwa dari kehancuran, ia bisa bangkit lebih kuat.
Bersiaplah, karena kisah ini akan membawamu pada perjalanan emosional yang penuh liku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: DETAK DARI KEGELAPAN
Dingin. Kehampaan yang kurasakan sebelumnya bukanlah kegelapan yang menakutkan, melainkan sebuah ruang hampa yang sunyi. Di sana, aku tidak merasakan sakit. Tidak ada memar di punggungku, tidak ada perih di rahimku, dan tidak ada bau napas Stevanus yang memuakkan. Aku merasa bebas.
Namun, di tengah kesunyian itu, aku mendengar sebuah suara. Bukan suara manusia, melainkan dentuman ritmis yang kuat. Dug-dug... dug-dug...
Itu adalah suara kehidupan. Sebuah tarikan magnet yang sangat kuat memaksa jiwaku kembali ke dalam raga yang hancur. Rasanya seperti ditarik paksa masuk ke dalam jeruji besi yang panas.
"Dia kembali! Detak jantungnya stabil! Oksigen, cepat!"
Aku tersentak. Mataku terbuka lebar, namun yang kulihat hanyalah cahaya putih yang menyilaukan. Rasa sakit yang luar biasa kembali menghujam perutku, seolah-olah ribuan pisau sedang mengaduk isi rahimku. Aku mencoba berteriak, namun hanya suara parau yang keluar dari balik masker oksigen.
"Nona Widya, tenanglah. Anda berada di rumah sakit. Anda aman," suara seorang perawat terdengar di telingaku.
Aman? Kata itu terdengar seperti ejekan. Tidak ada tempat yang aman selama Stevanus masih menghirup udara yang sama denganku.
Aku mencoba menggerakkan tanganku yang kaku, meraba perutku yang terbalut perban tebal. Air mata jatuh di sudut mataku. Dia masih di sana. Anakku masih di sana. Mukjizat medis di tahun 2026 ini, atau mungkin sekadar tekad iblis yang ingin membalas dendam, telah menjaga nyawa kecil ini tetap berdenyut.
Tiga hari berlalu dalam kabut obat bius. Aris duduk di samping tempat tidurku saat aku akhirnya benar-benar sadar sepenuhnya. Wajahnya tampak kusam, ada lingkaran hitam di bawah matanya yang menunjukkan dia tidak tidur berhari-hari.
"Stevanus?" tanyanya tanpa menunggu aku bicara.
"Di penjara pusat," jawab Aris, suaranya parau. "Polisi menahannya atas percobaan pembunuhan di depan petugas. Senjata yang dia gunakan adalah senjata ilegal. Maya masih koma, tapi kondisinya stabil. Tim hukum kita sedang bekerja untuk memastikan tidak ada celah bagi Stevanus untuk keluar dengan jaminan."
Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak lagi mencapai mataku. "Hanya percobaan pembunuhan? Itu tidak cukup, Aris. Aku ingin dia membusuk karena pengkhianatan, pencucian uang, dan perampasan harta."
"Kita sudah memiliki tanda tangan agunan itu, Widya. Secara hukum, mulai hari ini, aku telah mengeksekusi penyitaan atas seluruh aset pribadinya karena dia gagal memenuhi syarat likuiditas," Aris menyerahkan sebuah tablet. "Rumahnya, kantornya, bahkan mobil yang dia pakai untuk menyeretmu dulu... sekarang adalah milikmu."
Aku melihat layar tablet itu. Foto rumah besar itu kini berstatus Seized by Consortium. Hatiku terasa kosong. Kemenangan ini seharusnya terasa manis, tapi kenapa rasanya sepahit empedu? Mungkin karena anakku yang satu lagi tetap tidak akan pernah kembali.
"Aku ingin pergi ke sana," kataku tiba-tiba.
"Ke mana? Ke penjara?"
"Bukan. Ke rumah itu. Aku ingin mengambil sesuatu sebelum rumah itu dihancurkan."
Satu minggu kemudian, dengan kursi roda dan penjagaan ketat, aku kembali ke rumah itu. Garis polisi sudah dilepas, namun rumah itu terasa angker. Mbok Nah menyambutku dengan isak tangis, memeluk kakiku seolah aku adalah orang suci yang bangkit dari kematian.
Aku meminta Aris membawaku ke gudang bawah tanah, tempat meja kerja Ayah disimpan. Dengan kunci yang diberikan Kak Surya, aku membuka laci rahasia itu. Di sana, di balik tumpukan dokumen tua, terdapat sebuah amplop cokelat yang tersegel rapi.
Wasiat asli Ayah. Dan ada sesuatu yang lain. Sebuah rekaman video pendek di dalam flashdisk kuno.
Saat aku memutar video itu di laptop Aris, nafasku tercekat. Di video itu, Ayah tampak pucat, berbicara dengan nada ketakutan. "Yati, jika kau melihat ini, berarti aku sudah tiada. Jangan percaya pada Stevanus. Dia tidak hanya menginginkan tanah kita... dia bekerja untuk seseorang yang jauh lebih besar. Seseorang yang menginginkan sesuatu yang tertanam di bawah tanah desa kita. Jangan pernah biarkan mereka menggali tanah itu, Yati. Janjilah pada Ayah..."
Video itu terputus. Jantungku berdetak kencang. Jadi, Stevanus hanyalah bidak catur? Ada kekuatan lain di belakangnya?
Tiba-tiba, lampu gudang berkedip dan mati. Suara langkah kaki yang sangat kukenali terdengar di tangga gudang. Langkah kaki yang seret dan pincang.
"Sudah kutilang, kau harus cepat, Yati," suara Kak Surya muncul dari kegelapan.
"Kakak? Apa maksud video Ayah?"
Surya tidak menjawab. Dia menunjuk ke arah pintu gudang yang tiba-tiba tertutup rapat dan terkunci dari luar. Bau gas yang menyengat mulai memenuhi ruangan.
Sebuah suara terdengar dari interkom gudang yang tersembunyi. Suara yang sangat halus, sangat tenang, dan sangat berbeda dari suara kasar Stevanus. Suara seorang wanita yang sangat berkuasa.
"Kerja bagus, Widya. Kau telah membersihkan Stevanus untukku. Sekarang, serahkan wasiat itu dan biarkan kakakmu pergi, atau aku akan meledakkan rumah ini bersama sisa-sisa kenangan burukmu dalam sepuluh detik."
Aris mengeluarkan senjatanya, tapi Kak Surya justru tersenyum pahit. "Yati... wanita di balik interkom itu... dia adalah ibu kandung Stevanus yang selama ini dianggap sudah mati."
JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA🫰
Like Setiap Bab Kalau selesai 👍
Rate Bintang 5 🌟
Vote setiap hari Senin 🙏
Kalau Ada Poin Boleh Mawar sebiji🌹
Tinggalkan komentar, penyemangat, kritik & Saran, 🎖️
Makaseh banya samua 🙇🙏😇
tapi ini kisah sat set beres. gak bertele tele. langsung pada inti nya...
semoga mati ny tdk mudah.
gila stevanus.
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik
sakit jiwa nih lakik...