Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.
Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTARUHAN DI AMBANG KIAMAT
Langit di atas Padepokan Lingga seolah-olah sedang berduka. Awan hitam pekat menggantung rendah, tebal dan berat, menelan cahaya rembulan yang seharusnya menyinari jagat. Bau amis darah dan aroma belerang merayap naik dari lereng bukit, dibawa oleh angin kencang yang menderu-deru di antara celah bebatuan, menciptakan suara seperti rintihan ribuan roh yang gelisah. Di kejauhan, derap langkah ribuan kaki dan ringkik kuda terdengar bagai guntur yang merambat di atas tanah, mengguncang fondasi padepokan yang telah berdiri ratusan tahun itu.
Di depan gerbang utama yang terbuat dari kayu jati berlapis kuno, Tirta berdiri tegak. Di tangan kanannya, pedang pemberian Mayangsari bersinar redup—sebuah pendar perak yang seolah merespons detak jantung tuannya yang kencang. Di sampingnya, Mayangsari dan Dimas Rakyan berdiri dengan kuda-kuda kokoh. Mereka adalah garis pertahanan terakhir. Di belakang mereka, di pendopo utama yang sunyi, Ki Ageng Lingga sedang melakukan meditasi Catur Tunggal, mengumpulkan sisa kekuatan batinnya untuk menghadapi badai yang mustahil dihindari.
"Mereka datang," bisik Dimas. Jemarinya menggenggam erat sepasang belati pendek yang berkilat dingin. "Banyak sekali, Tirta. Sepertinya Nyai Rukmina telah menjual jiwanya pada iblis untuk mengumpulkan pasukan sebanyak ini."
"Biarkan mereka datang," jawab Tirta dengan suara rendah namun bertenaga, getaran suaranya mengandung wibawa yang tak pernah ia miliki sebelumnya. "Tanah ini sudah terlalu kenyang meminum air mata petani. Malam ini, biar ia meminum darah para penindas agar keseimbangan kembali tegak."
Tiba-tiba, sebuah bola api raksasa melesat dari kegelapan hutan, menghantam gerbang kayu hingga hancur berkeping-keping. Ledakan itu menyemburkan serpihan api ke segala arah, menerangi wajah-wajah penuh ketegangan. Dari balik asap yang mengepul, muncul barisan prajurit berseragam hitam dengan wajah-wajah dingin tanpa emosi.
Di tengah barisan itu, duduk di atas tandu megah yang diusung oleh delapan pria bertubuh kekar, adalah Nyai Rukmina. Ia tampak anggun namun mengerikan dalam balutan kebaya hitam bersulam emas, rambutnya disanggul tinggi dengan tusuk konde perak yang nampak seperti taring ular yang siap mematuk. Di sisi kiri tandu, berdiri Lurah Karta dan Demang Wirya dengan seringai kemenangan yang menjijikkan. Namun, yang paling menarik perhatian adalah sosok di sisi kanan: Rakapati. Pemuda itu kini mengenakan zirah hitam legam, matanya memancarkan kegilaan dan kebencian yang mendalam.
"Tirta! Mayangsari!" teriak Rakapati, suaranya menggelegar di sela suara api yang melalap puing gerbang. "Hari ini adalah akhir dari pengkhianatan kalian terhadap takdir! Menyerahlah, dan aku akan meminta Nyai Rukmina untuk membiarkan kalian mati tanpa rasa sakit!"
Nyai Rukmina tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan sutra yang mematikan. "Rakapati, jangan terlalu murah hati. Aku ingin melihat sejauh mana 'Sinar Gadhing' itu bisa bertahan sebelum aku mencabutnya dari jantung bocah desa ini."
"Serbu! Ratakan tempat ini!" perintah Demang Wirya dengan suara parau.
Pertempuran pecah seketika. Ratusan prajurit merangsek maju bagai gelombang pasang yang ingin menelan pantai. Dimas Rakyan melesat lebih dulu, gerakannya secepat kilat, menghilang dan muncul di antara barisan lawan. Dengan jurus Elang Menerjang Badai, ia melompat di antara pundak prajurit, memberikan tusukan-tusukan mematikan di titik-titik vital.
"Jangan biarkan satu pun anjing ini mendekat ke pendopo!" teriak Dimas di sela-sela desingan senjata.
Mayangsari bergerak dengan keanggunan seorang dewi perang. Pedang tipisnya menari-nari, membelah udara dengan suara siulan yang tajam. Setiap kali pedangnya berkelebat, setitik darah terpercik dan satu musuh jatuh. Ia nampak seperti pusaran angin perak yang tak tersentuh. Namun, langkahnya terhenti saat Rakapati melompat turun dari tandu dan menghantamkan pedang besarnya dengan kekuatan luar biasa.
CLANG!
Percikan api tercipta saat kedua logam beradu. Mayangsari terdorong mundur lima langkah. Kekuatan fisik Rakapati kini nampak berlipat ganda, urat-urat di lehernya menghitam, sebuah tanda bahwa ia telah menggunakan Ilmu Hitam Kalatidu yang terlarang.
"Kau sudah kehilangan kemanusiaanmu, Rakapati!" bentak Mayangsari sambil menahan getaran di tangannya.
"Kemanusiaan adalah kelemahan, Mayang! Kekuatan adalah segalanya!" balas Rakapati dengan serangan yang lebih membabi buta.
Sementara itu, Tirta dikepung oleh Lurah Karta dan Demang Wirya bersama belasan prajurit elite. Tirta masih belum menghunus pedangnya secara penuh. Ia bergerak menggunakan Langkah Bintang Songo—sebuah gerakan kaki yang tampak lambat namun sulit ditangkap mata, seolah-olah ia bergeser di atas permukaan air.
"Bocah sialan! Berhenti menari dan matilah!" Lurah Karta mengayunkan golok besarnya, golok yang sama yang telah merenggut nyawa Ki Darman.
Melihat golok itu, memori pahit di Desa Gadhing kembali meledak di benak Tirta. Ia merasakan aliran panas yang luar biasa mengalir dari ulu hatinya menuju ujung jarinya. Matanya yang biasanya teduh kini berkilat perak, memancarkan aura dingin yang membekukan udara.
"Kau... yang membunuh orang tuaku," ucap Tirta dengan nada yang sanggup membekukan jantung siapa pun.
Tirta menghunus pedangnya secara penuh. Cahaya perak yang menyilaukan meledak dari bilah pedang itu, menerangi seluruh halaman padepokan seolah-olah fajar telah tiba lebih awal. Inilah kekuatan penuh Sinar Gadhing yang dipicu oleh rasa keadilan, bukan sekadar dendam.
WUSH!
Tirta bergerak. Ia nampak seperti sekelebat cahaya rembulan. Dalam satu gerakan melingkar yang sempurna, ia menangkis golok Lurah Karta hingga patah menjadi tiga bagian, lalu memberikan satu pukulan telak dengan telapak tangan terbuka ke dada pria kejam itu.
BUMM!
Lurah Karta terlempar puluhan meter, menabrak tandu Nyai Rukmina hingga hancur berkeping-keping. Pria itu tewas seketika, dadanya gosong seolah terkena hantaman petir murni. Demang Wirya yang melihat itu langsung pucat pasi, namun sebelum ia sempat melarikan diri, Dimas Rakyan sudah lebih dulu mematahkan lehernya dengan satu tendangan melingkar.
Namun, kemenangan itu segera sirna. Suasana tiba-tiba menjadi sangat dingin hingga napas semua orang nampak seperti kabut putih yang tebal. Nyai Rukmina bangkit dari reruntuhan tandunya, wajahnya yang cantik berubah menjadi pucat pasi penuh ketakutan. Ia mundur perlahan, memberi jalan bagi sosok yang sejak tadi berdiri diam di kegelapan bawah pohon beringin tua.
Seorang pria tua berjubah abu-abu melangkah maju. Langkah kakinya pelan, namun setiap kali kakinya menyentuh tanah, bumi bergetar hebat seolah-olah alam pun ketakutan. Ia tidak membawa pedang, hanya sebuah tasbih kayu hitam yang melilit di tangannya. Namun, auranya begitu pekat, menghisap semua cahaya dan api di sekelilingnya hingga padam dengan sendirinya.
Dialah Aki Sapu Jagad. Sang Pemunah.
"Hentikan keributan yang sia-sia ini," suara Aki Sapu Jagad pelan, namun terdengar jelas di telinga setiap orang, menembus dinding dan sukma.
Para prajurit yang masih hidup segera menjauh dengan tubuh gemetar. Bahkan Rakapati dan Mayangsari terpaksa menghentikan pertarungan mereka, dada mereka terasa sesak dihimpit hawa membunuh yang luar biasa pekat.
Aki Sapu Jagad menatap Tirta dengan mata yang cekung tanpa pupil—hanya kegelapan total yang seolah bisa menelan dunia.
"Jadi, kau adalah wadah baru bagi cahaya itu? Terlalu lemah. Terlalu rapuh untuk menampung takdir."
Tirta mencoba mengangkat pedangnya, namun tangannya terasa seberat timah. Udara di sekelilingnya seolah membeku, mengunci gerakannya. "Siapa pun kau... cahaya ini tidak akan padam oleh kegelapanmu!"
Aki Sapu Jagad mengangkat tangan kanannya. Cahaya hitam kelam—Sinar Pangruwat—mulai terkumpul di telapak tangannya, membentuk bola energi yang menghisap oksigen di sekitarnya. "Cahaya hanya menciptakan bayangan, Nak. Dan aku adalah bayangan yang akan menelan cahayamu untuk memurnikan dunia ini."
Tepat saat Aki Sapu Jagad akan melepaskan serangannya, pintu pendopo utama terbuka dengan dentuman keras. Ki Ageng Lingga melangkah keluar. Tubuhnya nampak memancarkan cahaya keemasan yang tenang, rambut putihnya berkibar ditiup angin yang diciptakan oleh energinya sendiri.
"Baskara! Cukup! Jangan kau nodai lagi tanah ini dengan kesesatanmu!" teriak Ki Ageng Lingga.
Aki Sapu Jagad berhenti sejenak, senyum sinis tersungging di bibirnya yang kering. "Lingga... saudara lamaku yang malang. Kau masih mencoba mempertahankan dunia yang sudah busuk ini? Biarkan aku memurnikannya."
"Memurnikan bukan berarti memusnahkan, Baskara!" balas Ki Ageng Lingga.
Kedua legenda itu saling berhadapan. Inilah pertarungan yang telah tertunda selama puluhan tahun. Ki Ageng Lingga memberikan isyarat rahasia kepada Tirta agar menjauh. Pertarungan tingkat tinggi pun dimulai. Setiap benturan energi emas dan hitam mereka menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan bangunan-bangunan kayu dan menerbangkan pepohonan di sekitar mereka.
Namun, perlahan nampak bahwa Ki Ageng Lingga mulai terdesak. Usianya dan luka batin di masa lalu mulai menggerogoti pertahanannya. Aki Sapu Jagad, yang selama ini melakukan meditasi hitam di Puncak Semeru, nampak jauh lebih perkasa.
"Matilah bersama idealisme bodohmu, Lingga!" Aki Sapu Jagad melepaskan hantaman telapak tangan jarak jauh yang berbentuk seperti kepala naga hitam yang menganga.
Ki Ageng Lingga mencoba menangkis, namun pertahanannya hancur. Ia terlempar menghantam pilar utama pendopo dan memuntahkan darah segar yang kental.
"GURU!" teriak Mayangsari. Ia berlari hendak menolong, namun Nyai Rukmina menghalangi jalannya dengan selendang suteranya yang beracun.
Aki Sapu Jagad berjalan mendekati Ki Ageng yang terkulai lemas. Ia mengangkat tangannya, siap memberikan pukulan pemungkas. Melihat gurunya di ambang maut dan Mayangsari yang terancam, sesuatu dalam diri Tirta meledak. Ini bukan lagi sekadar teknik silat, ini adalah kebangkitan jiwa.
Tirta memejamkan mata. Ia membuang jauh semua teori jurus. Ia memanggil setiap kenangan indah—senyum ibunya, pengorbanan bapaknya, dan janji Mayangsari semalam. Energi Sinar Gadhing di tubuhnya tidak lagi meledak-ledak liar, melainkan mengalir dengan tenang dan menyatu dengan setiap tetes darahnya.
Tirta membuka matanya. Sekarang, bukan hanya pedangnya yang bercahaya, tapi seluruh tubuhnya memancarkan sinar rembulan yang murni dan dingin. Ia melesat dengan kecepatan yang melampaui batas pandangan manusia.
TING!
Tirta berdiri tegak di depan Ki Ageng Lingga, menahan tangan Aki Sapu Jagad dengan tangan kosong. Benturan antara Sinar Gadhing murni dan Sinar Pangruwat menciptakan ledakan energi statis yang luar biasa.
Aki Sapu Jagad tertegun untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun. "Bagaimana bisa... seorang manusia biasa menahan kekuatan pemunahku?"
Tirta menatap Aki Sapu Jagad dengan mata yang jernih, tanpa kebencian. "Karena aku tidak bertarung untuk memuaskan ambisiku. Aku bertarung untuk mereka yang kau anggap debu."
Dengan satu sentakan bertenaga dalam murni, Tirta mendorong mundur sang legenda itu. Ia menoleh sedikit ke arah Mayangsari dan Dimas. "Bawa Guru pergi melalui jalur rahasia! Sekarang! Aku akan menahan mereka di sini!"
"Tapi Tirta—" Mayangsari ragu, air mata mulai menggenang.
"Pergilah! Demi masa depan Tanah Gadhing, kau harus membawa Guru selamat!" tegas Tirta.
Dimas segera menggendong Ki Ageng Lingga yang pingsan, sementara Mayangsari memberikan tatapan yang dipenuhi doa dan cinta sebelum akhirnya mereka mundur menuju jalur rahasia.
Kini, di tengah reruntuhan Padepokan Lingga yang terbakar, Tirta berdiri sendirian menghadapi Aki Sapu Jagad, Nyai Rukmina, Rakapati, dan sisa pasukan mereka. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke arah langit. Awan hitam di atas mulai tersingkap oleh kekuatan batinnya, memperlihatkan bulan purnama yang bersinar tepat di atas kepalanya. Cahaya bulan seolah-olah terserap masuk ke dalam tubuh Tirta, menjadikannya satu-satunya sumber cahaya di lembah yang gelap itu.
"Aku tidak sendirian," bisik Tirta, suaranya menggema di seluruh lembah. "Seluruh cinta dan harapan orang-orang yang tertindas ada di belakangku."
Di bawah saksi bisu rembulan, Tirta siap mempertaruhkan nyawanya untuk menjadi benteng terakhir bagi kedamaian yang ia impikan.