"Aku hamil" Tiara akhirnya mengatakan rahasia yang di tutupinya selama beberapa minggu ini pada atasan sekaligus kekasihnya, Rex Hamilton, setelah kegiatan panas Mereka berdua yang baru selesai beberapa menit lalu.
Rex yang tengah mengenakan kembali pakaian dalamnya, terdiam sejenak.
"Gugurkan" Ucap Pria itu datar, tanpa melirik Tiara sama sekali.
Rex memang seperti itu, sikapnya dingin dan datar pada siapapun, termasuk pada Tiara yang telah menjadi sekretaris sekaligus teman tidurnya selama 3 tahun terakhir.
"Aku ingin melahirkan anak ini"
Rex menatapnya tajam. Pria itu kemudian menghampiri Tiara dengan langkah pelan tapi penuh ancaman.
"Hanya karena Kamu bisa naik ke ranjangku, bukan berarti Kamu bisa menjadi Nyonya Hamilton. Sadarlah dengan posisimu. Kamu hanyalah simpananku"
"Jika Kamu mau mempertahankan janin sialan itu, maka enyahlah dari hidupku. Tentukan pilihanmu"
"Aku akan mempertahankannya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maufy Izha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehancuran Lina
Rex langsung pulang ke rumah keluarga Hamilton setelah mendapatkan perawatan dari dokter pribadinya dan merasa lebih baik setelah meminum obat yang di resepkan untuknya.
Desmon menunggu Rex untuk bersiap pergi ke kantor. Hari ini, Rex akan bertemu dengan pihak perusahaan keluarga Holand, yang di jalankan oleh Ayah mertua dan suami dokter Lina.
Pembatalan sepihak oleh Perusahaan Hamilton tentu saja membuat perusahaan properti itu mengalami kerugian besar. Tapi, Rex bertindak bukan tanpa perhitungan. Selain keluarga Holland, proyek itu masih bisa di berikan pada perusahaan properti lain yang berada di kasta yang sama dengan keluarga Holand. Rex ingin menghancurkan keluarga itu dulu sebelum menghancurkan Lina. Karena jika keluarga Holand bangkrut, otomatis tidak akan ada yang menopang Lina, baru setelah itu Rex akan menyerang keluarga Lina Marlina yang merupakan pejabat daerah.
Bukan hal yang sulit untuk mendapatkan informasi tentang orang tua Lina, dalam waktu singkat, kebobrokan Mereka sudah ada di tangannya, hanya saja, jika membuat Mereka bangkrut saja, itu tidak akan cukup, Rex akan membuat hidup Mereka terasa seperti neraka hingga rasanya akan hidup segan mati tak mau.
Rex sudah tahu bahwa Tiara sudah memiliki beberapa skandal milik dokter Lina, Dia tetap akan membiarkan Tiara menjalankan rencananya sendiri, Sementara Rex akan membantunya dalam versinya sendiri.
"Mereka sudah datang ke kantor?"
Tanya Rex pada Desmon begitu turun dari arah kamarnya di lantai 3.
"Sudah Pak, Mereka sudah menunggu hampir 2 jam"
"Hahh, baru dua jam, Aku berniat membuat Mereka menunggu sampai melewati jam makan siang nanti. Kita lihat apa setelah itu Mereka masih akan berusaha menjilat"
"Baik, jika itu yang Anda inginkan"
"Jangan lupa serahkan kontrak kerjasama yang baru pada PT. Suaka Alam. Biar Mereka yang ambil alih proyek ini"
"Sudah Pak, Mereka langsung setuju dengan isi kontrak nya, bahkan Mereka juga mengundang Anda ke acara perjamuan Mereka Minggu depan"
"Baiklah, Aku akan datang... Bersama Tiara"
"Ya?"
Rex pura-pura tidak mendengar, kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah. Semenjak pulang, Rex tidak melihat keberadaan Tiara. Kebetulan Bi Surti muncul dari arah taman belakang rumah. Rex pun berjalan menghampirinya dan bertanya,
"Jayden dan Tiara dimana?"
"Oh, tadi di jemput supir, katanya Nyonya mau ajak Mereka makan siang di luar"
"Mama udah pulang dari Singapore?"
"Kayaknya sih udah den"
"Hmn, ya sudah"
Rex pun mengangguk kemudian berbalik pergi, bersama dengan Desmon pergi untuk menangani proyek sebelum menemui keluarga Holand yang sudah menunggu Rex selama 2 jam sambil menggerutu dalam hati.
Barulah setelah jam makan siang, Rex datang ke kantor pusat Hamilton untuk menemui Mereka di ruang meeting.
Begitu melihat Rex masuk ke ruangan, suasana yang tadinya hening langsung berubah tegang.
Apalagi, saat Richard melihat Rex lagi, secara langsung.
"Halo Pak, Richard... masih ingat Saya?" Rex tersenyum, tapi tatapan tajamnya seolah ingin menguliti Richard hidup-hidup.
Handoko Holand, yang merupakan pimpinan Holand Group sekaligus Ayah Richard tampak bingung karena ternyata Rex mengenal Putranya. Dia pun tertawa canggung sambil berkata,
"Wah, rupanya Anda kenal dengan putra Saya, Richard? Hehehehe" Handoko tampak senang, sepertinya kedatangannya dengan membawa Richard adalah keputusan yang tepat. Mungkin juga pembatalan itu hanya kesalahpahaman.
Bagaimanapun, Holand Group telah mempertaruhkan modal yang sangat besar untuk bisa mendapatkan proyek pembangunan perumahan terbesar di Jawa Tengah itu. Jika Proyek ini gagal di kerjakan oleh Holand Group, maka perusahaan Mereka akan benar-benar tamat.
"Benar sekali, Saya pernah bertemu putra Anda sekali, bersama istrinya, kalau tidak salah kemarin. Betul kan Pak Richard?"
Richard menelan ludahnya dengan kasar. Jantungnya berdegup kencang, Ia tidak menyangka bahwa orang yang kemarin bersitegang dengan Istrinya adalah Rex Hamilton. Pimpinan sekaligus pemilik perusahaan keluarga Hamilton yang terkenal kejam dan bengis selama memimpin dan menjalankan perusahaan keluarganya. Tidak segan dan ragu untuk menyingkirkan lawannya dengan cara apapun meskipun usianya masih terbilang sangat muda.
Handoko menatap putranya yang diam membisu dengan ekspresi jengkel. Tiba-tiba perasaan tidak nyaman merasuki pikirannya.
"Apa... Ada sesuatu yang terjadi, Pak Rex?"
"Silahkan tanyakan pada putra Anda, kira-kira apa yang terjadi? Oh, maksud saya apa yang istrinya lakukan pada Saya dan orang Saya"
Istri? Maksudnya si Lina pembuat onar itu? Handoko memejamkan matanya sambil menahan amarah. Dia sudah lama tidak menyukai menantunya yang tidak tahu tata krama itu meskipun wanita itu adalah seorang dokter. Dia juga sering membuat masalah dan akhirnya keluarga Holand ikut menanggung malu. Jika perempuan itu kembali membuat masalah dan menyebabkan kerugian besar, Handoko bersumpah akan memberi Lina pelajaran. Anehnya, Richard sangat tergila-gila pada perempuan itu! Bahkan setelah melahirkan anak yang cacat pun Richard masih bersikeras untuk tetap bersama wanita itu.
Sial betul nasibnya memiliki anak yang bodoh dan menantu yang selalu membuat Keluarganya dalam masalah.
"Sepertinya Pak Richard sampai kehilangan kata-kata karena terkejut melihat Saya. Jadi, tidak ada lagi yang perlu kita bahas pak Handoko, kerjasama antara Hamilton Group dan Holand Group berakhir sampai disini karena anggota keluargamu berani menghina keluarga Saya. Apalagi menantu anda dengan lancangnya menyebut anak Saya, pewaris Saya sebagai anak sialan"
"Ap-apa?? Tunggu, pak Rex, Saya mewakili Mereka-"
"Tidak perlu. Karena Saya bukan orang baik hati dan pemaaf. Silahkan keluar dan tinggalkan kantor Saya. Selamat tinggal"
"Tun-tunggu pak Rex, bukankah sangat tidak bijaksana kalau Anda mencampur adukkan antara urusan pribadi dengan pekerjaan, sekelas keluarga Hamilton tidak mungkin melakukan hal yang tidak profesional seperti ini kan?" Sambung Handoko dengan suara bergetar. Rex tidak tahu seberapa besar keberanian yang Handoko kumpulkan untuk bisa mengatakan hal ini.
"Bagaimana ya...? Saya sih tidak sudi bekerja sama dengan orang yang berani menghina keluarga Saya. Persetan dengan profesionalitas. Mendengar nama putra dan menantu Anda saja sudah membuat saya jijik. Apalagi harus memberi keuntungan dengan menjalin kerjasama, Saya belum gila Pak Handoko. Jadi pergilah, kerjasama dibatalkan. Kalau Anda mau menuntut tanggung jawab ya tuntutlah anak dan menantu anda yang tidak pandai menjaga mulut Mereka"
Handoko terdiam, sementara Richard sudah tertunduk lesu. Meskipun Ia tidak benar-benar berdebat dengan Rex, tapi Ia mendengar dengan jelas bagaimana Lina mencari masalah dengan wanita bernama Tiara yang pernah memviralkan Lina beberapa waktu lalu karena kematian anaknya. Padahal Tiara hanya baby sitter, tapi Pria bernama Rex ini melakukan hal sampai sejauh ini. Tidak masuk akal!
Tapi, Richard terlalu penakut untuk mengemukakan protesnya di depan Rex. Melihat tatapan matanya saja membuat Richard merinding.
Rex meninggalkan kedua orang itu dengan senyum puas di bibirnya. Tapi, ini belum seberapa, sebentar lagi, kejutan lain yang lebih menyakitkan, sudah menangis Mereka.
"Desmon"
"Ya, Pak"
"Terbitkan beritanya"
"Tentang wanita itu?"
"Ya, jangan lupa sertakan semua buktinya, dan muat berita itu sebanyak mungkin"
"Dimengerti"
Rex mengangguk puas. Kemudian bergumam pelan. "Terimalah awal kehancuranmu karena telah membunuh anakku, Lina Marlina sialan!"
𝐚𝐪 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚, 𝐠𝐢𝐥𝐢𝐫𝐚𝐧 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥𝟐 𝐲𝐠 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐧𝐲𝐚 𝐠𝐤 𝐧𝐲𝐚𝐦𝐛𝐮𝐧𝐠 𝐝𝐚𝐧 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐧𝐲𝐤
𝐡𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐢 𝐲𝐠 𝐛𝐞𝐠𝐨 𝐲𝐠 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚 🤭🤭🤭
𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐦𝐮 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐥𝐨 𝐭𝐡𝐨𝐫
klo Tiara berubah dan tak ingin mngulang msa lalu... jgn km merasa marah & tak terima....
salahkn saja sikap dan mulut jahatmu yg sll merendahkn tiara... bhkn km jga mnolak ank yg di kndung tiara...
dan salahkn jga mama mu.... yg sll mengagungkan kasta... smpe tak berperasaan mnghina Tiara...
asal km tau... yg mninggal itu cucumu..
km dan ibumu itu bedebah rex ....
km pecundang dgn lbh memilih mmbuang anknu jga tiara.... dri pda mmprjuangknnya....
msa iya km lupa rex.... km bhkn mngatakn tiara hanya sampah...
dan untukmu ny viona.... tiara prgi jga krnamu... mulutmu yg kejam sdh mnghina statusnya yg tak sepadan dgnmu....
🙄🙄