AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 26: happy birthday, papa
DI hari kedua setelah Elora bangun dan hidup kembali, masa hukuman Hamon selesai dan dia telah keluar dari ruang pendisiplinan di hari ke-8 sejak dia masuk. Sebelum bertugas kembali, aku memberinya izin untuk memulihkan diri selama dua pekan. Sebab tidak merekrut ksatria pengganti sebagai pengawal Elora selama Hamon cuti, untuk sementara anak itu akan bermain hanya ditemani Ibu asuh dan pelayan pribadinya.
Selama rentang waktu itu, pesta ulang tahun kaisar yang sempat tertunda selama anak itu masih dalam proses pemulihan dibuat dua kali lebih mega dari sebelumnya. Selain karena ini adalah pesta ulang tahun kaisar, acara ini akan dirangkaikan juga dengan perayaan hari kembalinya Elora setelah divonis mati. Daripada menganggapnya sebagai pesta ulang tahun, aku lebih menganggap pesta ini sebagai pesta penyambutan Elora karena telah kembali dalam hidupku.
Berbicara tentang hari kelahiranku, sebenarnya, aku tidak terlalu peduli dengan perayaan ulang tahun yang sebentar lagi akan diadakan dengan meriah. Kelahiranku pun di dunia ini juga hanya dijadikan alat permaisuri untuk mengekang kaisar sebelumnya; sebuah alat yang bisa dibuang kapan saja dan tidak pernah benar-benar diinginkan. Bahkan para tamu undangan yang hadir di pesta ulang tahunku pun mengetahui dengan baik cerita ini.
Pesta yang digelar selama seminggu untuk merayakan pertambahan usiaku tidak lain hanyalah sebuah skenario untuk memamerkan kekuatan kekaisaran sebagai sebuah negara dengan otoritas militer yang kuat. Selain menampilkan keagungan dan kekuatan sebuah negara, kehadiran Elora di pesta ulang tahunku akan mengukukuhkan posisinya sebagai putri kaisar tiran yang memiliki julukan ‘Si Peminum Darah’ di medan perang.
Bersama dengan dikukuhkannya Elora sebagai putriku, di saat itu pula aku menjadi Ayah bagi gadis mungil berusia lima tahun yang cantik, pintar, dan berani ini–yang akan menyinari Adenium dengan cahayanya yang terang, seperti namanya.
Elora Xanthippe de Adenium–cahaya matahari Adenium yang kuning.
***
Setelah pesta selesai, aku kembali pada rutinitas sehari-hari. Pekerjaan dan segala tanggung jawab sebagai kaisar yang harus kukerjakan sedangkan Elora biasanya akan berjalan-jalan di taman istana atau rumah kaca, bermain petak umpet, atau mengejar kelinci yang kubelikan. Namun, setelah mengetahui bahwa Hamon telah bebas dari hukuman, dia berulang kali menyelinap ke asrama ksatria. Mulai dari bersembunyi di dalam keranjang berisi selimut yang akan dibawa pelayan sampai melarikan diri saat aku sedang sibuk rapat dan tidak bisa mengawasinya–ya, meski semua usaha yang anak itu lakukan pada akhirnya sia-sia karena selalu ketahuan olehku.
Ada satu kebiasaan Elora yang berubah sejak aku mengizinkan dia bermain di luar. Ketika waktu makan siang tiba, dia akan menghampiriku di ruang kerja untuk mengajak makan siang bersama. Padahal, biasanya dia hanya akan muncul di celah pintu, mengintip dari sana, dan hanya menampilkan sebagian tubuhnya.
“Papa, ayo makan belsama.”
Pena yang bergesekan dengan kertas terhenti. Aku menoleh dan berkata, “Makanlah lebih dulu.”
“Tetapi, El tidak mau makan sendili.”
Aku menghela napas panjang dan meletakkan pena bulu di dalam kotak tinta; melepas kacamata baca dan bangkit berdiri. Tangan mungilnya segera terulur ketika aku menghampirinya di depan pintu. Netra biru cerah yang selalu memandangku dengan pandangan yang berbinar itu akhirnya membuatku meraih uluran tangannya menuju ruang makan.
Menu yang ada di meja didominasi oleh masakan berbahan dasar daging dengan dua menu utama: steak daging sapi muda yang dipanggang setengah matang bersama dengan kentang yang dihaluskan dan sayuran yang terdiri dari jagung manis, kacang polong, dan wortel. Lalu, ada Tyrolen Grostl yang berasal dari pegunungan Alpen; merupakan campuran daging babi dan kentang yang ditumis bersama jintan dan daun parsley–di atasnya diberi telur mata sapi setengah matang–di mana kedua menu tersebut adalah kesukaan Elora.
“El suka daging!”
Dia berkata sambil memegang garpu yang ditabrakkan ke meja. Ketika pelayan meletakkan steak daging sapi di hadapannya, netra biru cerah itu sertamerta bersinar. Dia sudah tidak sabar untuk makan. Ibu Asuh kemudian menyelipkan saputangan di leher Elora sebelum memotong-motong daging steak menjadi bagian yang lebih kecil. Setelah semua persiapan selesai, anak itu memakan makanannya dengan perasaan bahagia yang tergambar jelas di wajah.
“Enak?”
“Sangat enak!”
Aku tersenyum dan mulai memotong daging steak; memasukkan potongan daging ke dalam mulut dan merasakan sensasi daging yang meleleh di lidah. Dari segi rasa maupun tekstur, sebenarnya tidak ada yang berubah, tetapi anehnya hidangan kali ini terasa jauh lebih enak dari sebelumnya.
“El mau itu.”
Dia menunjuk Tryolean Grostl meski steak-nya masih tersisa setengah di piring. Aku kemudian membawa makanan itu ke hadapannya. Dia sertamerta menusukkan garpu ke daging dan merasakan kebahagiaan setelah makanan itu masuk ke dalam mulut. Mata yang tertutup, mulut yang mengunyah, dan kepala yang mengangguk, lalu disusul suara dehaman pelan, membuatku yang sudah beberapa kali melihat ekspresi itu menjadi terkagum-kagum padanya.
“Kalau makan seperti itu, lama-lama kau bisa mabuk karena daging.”
Dia memiringkan kepala. Sejenak tertegun sebelum lanjut menusuk garpu ke daging dan memasukkannya ke dalam mulut. “Tidak apa-apa. El suka daging,” katanya setelah menelan makanan.
“Kalau tubuhmu menggemuk seperti babi, maka giliranmu yang terbaring di piring itu.”
Tak.
Garpunya jatuh ke piring. Dia seketika menoleh dengan mulut yang penuh. Pipi bagian dalamnya membulat seperti tupai yang menyimpan makanan. Di detik berikutnya, dia berhenti mengunyah dan menatapku dengan pandangan horor. Sementara itu, sudut bibirku bergetar. Aku segera mengalihkan pandanhgan dan melanjutkan makan siangku yang tertunda karena terus memperhatikan anak itu. Namun, ketika melirik dan dia masih memasang ekspresi ketakutan itu, aku menusukkan garpu ke setak dan melanjutkan,
“Aku bercanda.”
“Sungguh?”
“Ya, makanlah yang banyak.”
Helaan napas lega masuk ke dalam indra pendengaranku ketika dia akhirnya memasukkan kembali daging ke dalam mulut. Makan siang kami pun berlanjut dengan damai sebelum aku mendengar anak itu tersedak. Dengan cepat aku menoleh dan melihat dia mengeluarkan sebagian makanan yang belum dikunyah bersama batuk. Dia memandangku dengan tatapan menahan tangis. Kedua tangannya menempel di dada–berusaha mengatur napas yang entah sejak kapan memendek.
“Papa ….”
Aku sertamerta berdiri dan menghampirinya. Membawa dia masuk ke dalam gendonganku dan merapalkan mantara. Namun, itu sama sekali tidak berguna karena anak itu tetap merasakan sakit. Di tengah keadaan yang mulai kacau, kebingungan sertamerta menghampiriku lalu disusul dengan kepanikan yang luar biasa. Aku dengan cepat membawa Elora menuju kamar sedangkan Ibu asuh dan kepala pelayan mengikut di belakang.
“Kirim perintah ke negara suci sekarang dan bawa kemari semua utusan dewa yang masih tersisa di Adenium.”
“Baik, Yang Mulia.”
Setelah kepergian Ibu asuh dan kepala pelayan, aku meraih tangan Elora dan menggenggamnya erat. Melihat dia kesakitan dan tersiksa seperti ini, perasaanku menjadi kalut karena tidak dapat berbuat apa-apa. Dia tidak bisa diobati dengan sihir miliku atau penyihir menara sihir; dokter yang menggunakan herbal dan yang memadukan sihir bersama obat sepertinya juga tidak berguna. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan putriku sekarang adalah utusan dewa dari negara suci.
“Papa ….”
“Jangan bicara.” Aku mengeratkan genggaman padanya. “Simpan tenagamu.”
Dia memandangku dengan tatapan lemah–membuatku yang melihatnya menjadi lebih takut. “Bertahanlah sebentar lagi. Papa akan mengusahakan yang terbaik.” Aku berkata dengan nada pahit karena merasa tak berguna–padahal, aku berjanji akan melindunginya dengan nyawaku. Namun, di saat seperti ini, kekuatan yang kumiliki begitu tidak berguna. Elora hanya mengangguk lemah sebelum tiba-tiba berteriak kesakitan.
Bekas tebasan pedang di lehernya yang melingkar muncul dan bersinar terang. Aku dengan cepat merobek pakaiannya menggunakan sihir dan persis seperti dugaan, bekas tebasan pedang di bagian dadanya juga ikut bersinar.
“PAPA, HIKS!”
Selama Elora kesakitan, bekas tebasan tersebut mengeluarkan cahaya putih yang menyilaukan mata. Aku tidak tahu harus melakukan apa dan hanya bisa membelai kepalanya sembari mengeratkan genggaman tanganku padanya, seolah kekuatan dan kekuasaan yang kupunya tidak berguna saat melihat dia tersiksa seperti ini.
“Yang Mulia!”
Pintu terbuka bersama dengan kepala pelayan, Ibu asuh, dan utusan dewa. Aku segera mundur dan memberikan jalan ketika utusan dewa mendekat dan mulai memeriksa Elora. Sepanjang pemeriksaan berlangsung, aku hanyabisa menggigit bibir bagian bawah–merasa sama sekali tak berguna sebagai seorang Ayah.
Ketika utusan dewa merapalkan doa, secara perlahan sinar yang ada pada bekas tebasan pedang di leher dan dada Elora meredup kemudian menghilang. Sebuah cahaya lalu menerangi seluruh tubuhnya bersama dengan hilangnya suara tangis dan teriakan anak itu.[]
ya ampun.... elora
detil sekali penjelasannya
butuh siraman cinta agar lebih melunak