Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.
“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”
“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”
“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”
“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”
“Namanya juga pelacur!”
Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.
Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan.
Di tengah kekacauan besar itu, Adara mengalami kecelakaan mobil dan membuatnya koma.
Begitu terbangun dari tidur panjangnya, tiba-tiba saja orangtuanya memperkenalkannya dengan pria asing sebagai suaminya.
“Ahlan istriku…"
Bagaimana mungkin dia bisa tiba-tiba memiliki suami. Apa sebenarnya yang terjadi di sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berencana Merebut
Hari itu Daarul Afkar berbenah lebih cantik dari biasanya. Gapura depan dipasangi rangkaian bunga putih dan pita warna hijau zamrud. Karpet merah dibeberkan dari halaman utama menuju gedung serbaguna pesantren. Beberapa santri putri berlarian kecil sambil mengatur papan tamu, sementara santri putra berbaris membantu mengangkat kursi dan sound system dengan rapi.
Adara berdiri di pinggir halaman, memerhatikan semua itu dengan senyum kecil. Rasanya seperti menonton potongan hidupnya sendiri dari kejauhan.
“Lima tahun aku mondok di sini, dan nggak pernah kebayang bakal liat Balqis duduk di pelaminan,” gumamnya lirih.
“Enam tahun,” Rafka mengoreksi halus sambil menyodorkan segelas air mineral dingin.
Adara menerima gelas itu. “Eh, lidahnya kepeleset.” Adara menepuk dahinya.
Rafka terkekeh pelan. “Kamu nggak bakalan nangis kayak waktu wisuda kan?” ejek Rafka.
“HEI!” Adara melotot. “Waktu itu aku nangis karena Balqis, Ayumi sama Aqeela nangis semua. Aku cuma fomo!” ujar Adara. Tak mau terlihat cengeng di depan Rafka.
“Iya nangis pura-pura sampe matanya bengep.” Rafka kembali mengejek.
“Ih kok merhatiin sih!” Adara menangkup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan. Ia terlihat sangat malu.
“Nggak sengaja keliatan,” jawab Rafka. “Tapi lucu.”
“Ih ngejek mulu!” Adara berdecak kesal lalu pergi meninggalkan Rafka.
Junia berdiri beberapa langkah dari mereka, memperhatikan interaksi mereka. Adara terlihat begitu dihormati di tempat ini. Semua orang mengenal Adara, menyapanya, memanggilnya dengan hormat, bahkan santri laki-laki pun menunduk ketika melewatinya.
Rafka bahkan terlihat sangat menyayangi Adara. Ia memarahi para santri putra yang menatap ke arah Adara dengan kagum.
“Jun! Ayo masuk ke dalam. Ngapain bengong di sini.” Aqeela menepuk bahu Junia. Mereka sudah mulai banyak mengobrol tadi.
Junia mengangguk pelan. “Ayo!”
Jam menunjukkan pukul sembilan pagi, tamu dikumpulkan di ruang utama pesantren. Pelaminan dibuat seperti gedung hotel. Bunga lily dan mawar putih mendominasi.
Adara, Aqeela dan Junia ikut menemani Balqis di kamar pengantin. Mereka tampak membantu dan menemani Balqis dengan sangat telaten.
Prosesi akad dimulai saat Kyai Hannan naik ke atas podium, membuka acara dengan suara tenang namun penuh wibawa.
“Akad nikah adalah ibadah besar. Hari ini kita menyaksikan bersatunya dua hamba Allah…”
Hening seketika menyelimuti gedung, hanya suara kipas AC dan detak gugup beberapa orang yang terdengar samar.
Ayah Balqis duduk di depan, bersiap menerima ijab kabul. Ikhsan duduk bersila di depannya, tangannya bergetar sedikit. Rafka duduk sebagai saksi keluarga laki-laki. Mufasa menjadi saksi kedua.
“Saudara Ikhsan… saya nikahkan engkau dengan putri saya Balqis binti Abdul Wahid, dengan maskawin seperangkat alat shalat dan uang tunai dibayar tunai.”
“Aku terima nikahnya Balqis binti Abdul Wahid dengan maskawin tersebut dibayar tunai!” sahut Ikhsan.
Adara langsung memeluk Balqis, mengucapkan selamat kepada temannya itu. “Bahagia selalu ya Balqis!” bisiknya penuh haru.
“Tahun depan kamu sama Gus Rafka, kan?” Goda Balqis.
Adara hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Balqis. “Doain semoga semuanya lancar dan ujian sebelum pernikahannya bisa kami atasi dengan baik,” jawab Adara.
“Aamiiin…” jawab Aqeela dan Balqis serentak.
“Aku sedih karena Ayumi nggak bisa dateng,” ucap Balqis.
“Dia sedang sibuk ngurus anak-anak yang sedang trauma healing pasca banjir di Kalimantan. Kita doakan saja dia, ya,” ucap Aqeela.
“Iya mau gimana lagi. Pekerjaan dia memang kayak gitu. Super sibuk,” jawab Adara.
Acara berlangsung dengan lancar. Semua gerak dan interaksi Adara tak luput dari pantauan Junia. Seolah ia sedang mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk menghancurkan Adara.
---
Menjelang sore, tamu mulai pulang. Santri putri masih membantu membereskan bunga, sedangkan santri putra membantu mengangkat kursi.
Adara, Aqeela dan Junia duduk di bawah pohon mangga besar dekat lapangan. Rafka dan Mufasa ikut duduk beberapa meter dari mereka.
“Gimana hari ini? Dari satu sampai seratus dapet berapa?” tanya Mufasa.
“Sembilan puluh sembilan persen,” jawab Aqeela cepat.
“Kok kurang satu persen?” tanya Mufasa.
“Iya, agak enek dikit liat kamu soalnya!” jawab Aqeela.
“Nggak usah ngajak aku berantem ya Aqeela! Sedang nggak mood!” jawab Mufasa.
“Oke! Aku juga nggak mood denger suara kamu,” sahut Aqeela.
“Kenapa sih dari dulu kalian ribut terus?” tanya Adara.
“Kalau yang dari dulu kecintaan kan Rafka ke kamu Dar,” jawab Mufasa spontan.
“Diem!” Rafka melotot ke arah Mufasa.
“Oh iya! Mumpung ada Gus Rafka disini, aku punya beberapa pertanyaan nih.” Aqeela tersenyum sumringah.
“Hah? Pertanyaan apa?”
“Sejak kapan Gus Rafka suka sama Adara? Kenapa langsung ngiket dia karena takut diduluin orang lain?” tanya Aqeela.
“Rahasia.” jawab Rafka singkat.
“Yah! Nggak asik!” sahut Aqeela lagi. “Kalau nggak jawab berarti cinta pertama Gus Rafka bukan Adara!” ucapnya ngasal.
“Eh! Nggak ada, ya. Cinta pertama saya Adara, cinta terakhir saya Adara juga. Cinta satu-satunya yang saya miliki tetap Adara dan akan selalu Adara!” cerocos Gus Rafka.
Adara meneguk salivanya mendengar penuturan Rafka. Sungguh sangat mengejutkan baginya. Karena biasanya pria itu tidak pernah mengungkapkan perasaannya sama sekali.
Mufasa menahan tawanya. “Bos kita over sharing nih!” ujarnya.
“Maaf kelepasan.” Rafka menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Kamu sih mancing-mancing, Qeel. Kalau Adara salah paham dan ngira aku pernah suka sama cewek lain gimana?” kesalnya.
“Maaf Gus, Maaf…” Aqeela cekikikan.
“Maaf Adara…” lirih Rafka.
“Maaf untuk apa?” tanya Adara gugup. Ucapan Rafka tadi masih terngiang-ngiang di telinganya.
“Takutnya kamu nggak nyaman karena omongan aku,” lirihnya.
Adara tertawa kecil. “Nggak apa-apa, kok. Makasih, ya…” jawab Adara.
“Untuk apa?” tanya Rafka bingung.
“Rahasia. Nanti aku jawab di hari pertama setelah kita menikah!” jawab Adara.
“Ciee…” goda Aqeela dan Mufasa.
Rafka mengangguk pelan. “Kalau gitu… aku janji, Dara. Apapun yang terjadi, sesulit apapun ujian yang akan datang, aku nggak akan pernah ninggalin kamu.”
“Kamu tau, kan? Ujian menjelang pernikahan akan sangat sulit. Ikhsan juga mengakuinya. Aku harap kita bisa melewati itu bersama-sama.” Rafka tersenyum tipis.
“Aku tau Raf… dan aku siap untuk itu. Aku selalu mengiringi perjalanan kita dengan doa-doaku,” jawab Adara.
“Semoga Allah berikan kita kekuatan dalam perjalanan menuju halal ini.” lanjutnya.
“AAAMIIIINNN” Sahut Aqeela dan Mufasa penuh semangat.
Junia menarik napas kasar. Sejak tadi ia hanya menyimak obrolan mereka saja. Sesekali ikut tertawa saat yang lain tertawa. Mereka memaklumi hal itu karena Adara mengatakan Junia memang gadis pemalu dan pendiam.
“Ujian menjelang pernikahan, ya?” batin Junia lalu tersenyum miring dari balik cadarnya. Entah kenapa semakin dia melihat kebahagiaan yang Adara rasakan semakin pula ia ingin Adara merasakan penderitaan.
“Kalau aku rebut Rafka… Adara bakal menderita nggak, ya?” batin Junia.
***
Bersambung…
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.