Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meninggal
“Gimana keadaan Oma saya, Dok?”
Suara Aera bergetar hebat. Tangannya mengepal, seolah menahan sesuatu yang siap runtuh kapan saja.
Dokter Diana menghela napas panjang. Wajahnya tampak berat, matanya menyiratkan kelelahan sekaligus iba.
“Oma kamu… kondisinya sudah sangat parah, Aera,” ucapnya hati-hati. “Kanker payudaranya sudah masuk stadium akhir. Kemungkinannya sangat kecil untuk bisa tertolong.”
Kata-kata itu jatuh seperti petir di siang bolong.
“Dok…” Bibir Aera bergetar. Air matanya jatuh tanpa suara. “Tolong… tolong selamatkan Oma saya. Aera udah nggak punya siapa-siapa lagi, Dok…”
Tangannya gemetar saat menarik lengan jas dokter itu, penuh harap yang rapuh.
Dokter Diana menahan napas, matanya berkaca-kaca. Ia menggenggam tangan Aera dengan lembut.
“Dek Aera… rumah sakit hanya bisa berusaha. Soal umur dan hidup… itu sudah bukan kuasa manusia.”
Ia tersenyum tipis, penuh empati. “Perbanyak doa ya, Nak.”
Kalimat itu justru membuat tangis Aera pecah. Ia menutup mulutnya, berusaha menahan isak agar tak terdengar terlalu keras. Tak lama kemudian—
“ATAS NAMA IBU ANETHA?”
Aera tersentak. Ia mendongak cepat ke arah suara itu.
Dengan tergesa, ia menghapus air matanya, lalu berjalan mendekati petugas rumah sakit.
“Ini dengan Ibu Anetha?” tanya petugas itu ramah.
“S-saya cucunya,” jawab Aera lirih.
“Baik. Sebelum pengambilan obat, ini rincian pembayarannya.” Petugas itu menyerahkan selembar kertas dan menunjuk angka di sana.
Langkah Aera terhenti. Matanya membulat. “Tiga juta… sehari? Ya Tuhan…”
Dadanya terasa sesak.
“Dapet dari mana uang sebanyak ini? Bahkan buat tidur di rumah sakit aja harus semahal ini…”
“Pembayarannya bisa langsung ke kasir sebelah kanan ya, Kak,” ucap petugas itu masih dengan senyum ramah.
Aera hanya mengangguk pelan.
Kakinya melangkah gontai, seolah membawa beban yang jauh lebih berat dari tubuhnya sendiri. Ia duduk di bangku rumah sakit, menatap kosong ke depan.
Air matanya jatuh lagi. “Kalau aku nggak minta tolong… Oma bisa kenapa-kenapa,” bisiknya lirih.
“Dan satu-satunya orang yang bisa bantu… cuma ayah.”
Tangannya mengepal erat. Hatinya menjerit, antara harga diri yang sudah hancur dan nyawa satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Dengan napas tertahan dan hati yang gemetar, Aera bangkit. Ia tahu… langkah berikutnya akan lebih menyakitkan dari apa pun yang pernah ia rasakan.
...----------------...
Di Rumah Reno—Ayah kandung Aera.
"Pak, Buka gerbangnya aku mau ketemu dengan ayah." Teriak Aera tidak terima karena kedatangan nya malah di tahan oleh satpam rumah.
"Maaf non Aera, bapak di sini cuman di suruh sama tuan dan nyonya. Kalau ada non Aera pulang ke rumah katanya usir saja jangan biarkan non Aera masuk."
Deggg...
"Pak Andi Aera mohon. Buka pintunya sebentar, Aera pengen bertemu sama ayah sebentar doang." Mohonnya.
"Maaf non Aera tidak bisa. Bapak hanya menjalankan perintah yang diberikan oleh tuan sama nyonya di dalam,” Jawab pak Andi-satpam rumah.
“Hiksss...Hiksss...Hiksss...”
Pak Andi tidak tega dengan Aera yang sudah menangis seperti itu pun ia merasakan sakit yang sama seperti Aera rasakan. Namun, mau bagaimana pun pak Andi hanyalah satpam dia tidak bisa berbuat apa-apa mau menolong pun dia lebih takut pekerjaan nya di pecat.
Pak Andi yang tidak tega itu pun ia menarik nafasnya berat,
"Non Aera tunggu di sini. Bapak sampaikan dulu kepada tuan Reno." Pak Andi pun langsung bergegas masuk ke dalam rumah untuk mencari Reno dan memberitahukan kepada Reno bahwa anak majikannya itu ada di depan rumah.
Aera hanya mengangguk pelan lalu kembali menatap rumah megah itu dengan air mata yang tidak bisa ia tahan lagi.
"MAU APA LAGI KAMU KEMARI." Bentak Reno sambil berjalan menuju pintu gerbang yang diikuti oleh Belva—ibu tiri Aera.
"AYAHHH..." pekiknya. "Ayah tolongin Aera tolong selamatkan Oma Anetha. Dia sedang kritis dirumah sakit, Aera tidak punya uang untuk biaya pengobatan nya ayah."
"Cihhh... itu urusan kamu, kenapa datang kesini!"
"Aera masih punya ayah, makannya Aera datang kemari, tolong ayah, ini yang terakhir Aera merepotkan ayah." Lirihnya.
Reno sama seperti sebelumnya. Ia tidak pernah peduli dan malah mengacuhkan nya.
"Ayah… AYAH DENGAR AERA KAN? AERA MOH—" belum sempat Aera menyelesaikan ucapannya Reno langsung kembali menampar pipi mulus Aera.
Plak!!
"Saya sudah mengusir kamu! Dan jangan pernah kembali lagi ke rumah ini. Pergi!" Usir Reno dengan mendorong tubuh Aera kasar supaya ia pergi dari rumah ini.
Brukkk!
Aera terjatuh ketanah, “Hiksss Hiksss...Hiksss... Ayah—"
"CEPAT PERGI."
“ADA APA INI?!”
Suara keras itu menggema dari arah belakang. Seorang laki-laki berdiri di sana dengan wajah terkejut bercampur marah. Dialah Alfino Jenar Jirawavega—kakak tiri Aera, anak kandung Belva.
Alfino yang baru pulang dari basecamp terpaku melihat pemandangan di hadapannya. Namun keterkejutannya berubah menjadi kemarahan saat pandangannya jatuh pada Aera.
Tubuh gadis itu terlihat lemah. Wajahnya pucat, mata sembab, dan bekas luka jelas terlihat. Tanpa ragu, Alfino langsung menghampiri dan menopang tubuh Aera.
“Bangun…” ucapnya pelan namun tegas.
Aera hanya menggeleng kecil. Tubuhnya gemetar.
“Siapa yang tega melakukan ini…” batin Alfino bergolak.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya lagi, mencoba menahan emosinya.
Tak ada jawaban. Aera hanya menunduk, seolah ketakutan bahkan untuk bersuara. Itu membuat dada Alfino semakin sesak.
“Kamu ke mana aja, Aera? Ayo masuk ke kamar kamu. Abang antar.”
Aera kembali menggeleng. Bukan karena tidak mau—tetapi karena tidak boleh.
Ia menoleh ke arah ayahnya, berharap… walau sedikit.
Namun Reno hanya berdiri tegak dengan tangan terlipat di dada. Diam. Dingin.
Harapan Aera runtuh seketika.
Rumah yang dulu penuh tawa kini terasa seperti neraka.
Keluarga yang dulu hangat kini hanya menyisakan luka.
Alfino akhirnya menoleh tajam ke arah Reno dan Belva.
“Apa yang kalian lakukan?”
Tak ada jawaban.
“JAWAB!” bentaknya. Urat lehernya menegang. “Apa yang kalian lakukan ke Aera?!”
Belva melangkah mendekat. “Alfino, masuk.”
“Jawab, Mah!”
“Jangan ikut campur urusan anak itu!” perintah Belva lagi.
Alfino mengabaikannya. Ia menatap Reno tajam.
“Papa… apa yang Papa lakukan ke anak Papa sendiri?”
“Aera sudah saya usir,” jawab Reno datar.
“KETERLALUAN!” teriak Alfino. “Papa masih punya hati nggak?!”
Belva mencoba menenangkan. “Alfino, jangan—”
“MAMAH YANG HARUS DIAM!” bentak Alfino.
Belva terdiam. Ini pertama kalinya anaknya membentaknya.
Alfino lalu menarik Aera masuk ke dalam rumah tanpa peduli siapa pun. Yang ia pedulikan hanya satu—keselamatan adiknya.
“Gawat… “ batin Belva. “Alfino mulai membela anak itu.”
...----------------...
“Aku ke sini bukan buat tinggal lagi,” ucap Aera lirih saat
berjalan di samping Alfino. “Aku cuma mau ketemu ayah.”
“Ini rumah kamu, Aera,” jawab Alfino. “Kamu berhak di sini.”
Aera tersenyum pahit. “Gue ke sini cuma mau pinjam uang… buat biaya Oma Anetha. Dia kritis.”
“Sakit apa?” tanya Alfino terkejut.
“Kanker payudara. Stadium akhir.”
Alfino terdiam. “Berapa yang kamu butuhin?”
“Tiga juta. Sekarang.”
“Kita ke rumah sakit. Abang ikut.”
Di perjalanan—
Drettt… Drettt…
Nomor tidak dikenal.
“Hallo, ini Aera Jelita?”
“Iya…”
“Kami dari rumah sakit. Pasien atas nama Ibu Anetha dinyatakan meninggal dunia pukul 16.22.”
DUARRR— Dunia Aera runtuh.
“Tidak… nggak mungkin…” isaknya.
Alfino langsung mengerem mendadak. “Aera! Kamu kenapa?!”
“Oma…” suaranya patah. “Oma sudah meninggal…”
Deg.
Tanpa berkata apa pun, Alfino langsung memacu mobil menuju rumah sakit.
Di rumah sakit—
“Dokter!” teriak Alfino.
Dokter Diana menghampiri. “Dek Aera…” Ia mengusap kepala Aera lembut. “Oma kamu sudah tenang. Maaf… kami sudah berusaha.”
Kata-kata itu menjadi pukulan terakhir.
“HIKSS… HIKSS…”
Alfino tak sanggup menahan air matanya. Ia memeluk Aera erat.
“Udah… abang di sini, Dek,” bisiknya. “Kamu nggak sendirian.”
Dan di dalam pelukan itu, Aera akhirnya runtuh sepenuhnya—kehilangan satu-satunya keluarga yang benar-benar ia miliki.
...----------------...
Langit sore itu mendung. Awan kelabu menggantung seolah ikut berduka atas kepergian Oma Anetha.
Di pemakaman umum yang sederhana, beberapa orang berdiri diam. Tidak ramai. Tidak mewah. Hanya sunyi—sunyi yang terasa menekan dada.
Aera berdiri di sisi liang lahat dengan tubuh kaku. Kedua tangannya mengepal di sisi rok hitam yang ia kenakan. Matanya kosong, menatap tanah yang perlahan ditimbun.
Itu tempat terakhir Oma…
Orang yang sejak kecil menggenggam tangannya.
Yang selalu menunggu di depan rumah kecil mereka.
Yang memanggil namanya dengan suara paling lembut di dunia.
“Almarhumah Ibu Anetha… telah selesai kami makamkan.”
Suara itu terdengar samar di telinga Aera.
Ketika tanah terakhir diratakan—
Bruuk.
Kaki Aera melemas. Ia terduduk di tanah tanpa peduli pakaian hitamnya kotor. Nafasnya tercekat, dadanya terasa sesak.
“Oma…” suaranya pecah. “Oma jangan tinggalin Aera…”
Air matanya jatuh satu per satu, tanpa jeritan—hanya isakan kecil yang justru lebih menyakitkan.
Alfino langsung berjongkok dan memeluk bahu Aera dari samping.
“Dek… nangis aja. Nggak apa-apa,” ucapnya lirih.
“Tadi pagi Oma masih genggam tangan Aera…”
“Aera belum sempat bilang makasih… belum sempat bilang kalau Aera capek, Oma…”
Isaknya semakin menjadi.
“Aera sendirian sekarang…” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.
Alfino menunduk. Dadanya ikut terasa sesak.
“Kamu nggak sendirian,” jawabnya tegas meski matanya basah. “Selama abang masih ada, kamu nggak sendirian.”
Ketika semua orang mulai meninggalkan pemakaman, Aera masih duduk di sana. Menatap nisan sederhana dengan nama yang paling ia cintai.
“Oma…” ucapnya lirih. “Kalau Aera capek nanti, Aera cerita ke siapa?”
Angin sore berhembus pelan, menggerakkan dedaunan kering di sekitar makam.