Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Perasaan yang Tidak Pernah Dipilih
Song An mulai terbiasa dengan satu hal di istana.
Ia tidak lagi sendirian.
Pagi itu, ia duduk di paviliun kecil dekat taman belakang, tempat yang tidak terlalu ramai, tidak terlalu sepi. Angin berembus pelan, membawa suara dedaunan.
Ia sedang mengunyah kue ketika suara langkah kaki terdengar.
“Pagi-pagi sudah makan?” suara itu terdengar santai.
Song An menoleh. “Selir Li.”
Selir Li berjalan mendekat tanpa sikap formal. Tidak ada pelayan. Rambutnya diikat sederhana.
“Kalau tidak makan, aku pusing,” jawab Song An.
Selir Li duduk di sampingnya. “Kau benar-benar tidak berubah.”
“Kenapa harus berubah?”
Selir Li tersenyum kecil. “Itu yang membuatmu berbeda.”
Belum sempat percakapan berlanjut, suara lain menyela.
“Kalian sudah di sini.”
Selir Zhang datang sambil membawa kantong kecil.
“Aku bawa cemilan,” katanya ringan.
Song An menepuk bangku. “Duduk.”
Mereka duduk bertiga. Tanpa jarak. Tanpa basa-basi berlebihan.
“Lucu,” kata Selir Zhang sambil membuka kantong, “kalau dipikir-pikir, kita jarang bertemu seperti ini sebelumnya.”
“Karena dulu kita sibuk berpura-pura,” jawab Selir Li.
Song An mengangguk. “Pura-pura sibuk. Pura-pura patuh. Pura-pura bahagia.”
Selir Zhang tertawa kecil. “Kau selalu bicara langsung ke intinya.”
“Capek muter.”
Mereka tertawa pelan.
Keheningan setelah tawa itu terasa nyaman, bukan canggung.
“Song An,” kata Selir Li tiba-tiba, “kau tahu tidak?”
“Apa?”
“Kau itu aneh.”
Song An mengangguk. “Aku tahu.”
“Bukan itu,” lanjut Selir Li. “Aneh karena kau tidak menginginkan apa pun dari istana ini.”
“Justru karena itu aku bertahan,” jawab Song An santai.
Selir Zhang menatapnya lama. “Kau tidak pernah bertanya masa lalu kami.”
“Kalau kalian mau cerita, aku dengar. Kalau tidak, juga tidak apa-apa.”
Selir Zhang menunduk sebentar.“Kalau begitu… aku mau cerita.”
Song An berhenti makan.
Selir Li ikut menoleh.
Selir Zhang menarik napas dalam-dalam.“Aku tidak ingin jadi selir.”
Tidak ada dramatisasi. Tidak ada air mata.
Hanya kalimat sederhana.
Song An mengangguk pelan. “Aku tahu.”
Selir Zhang tersenyum pahit. “Tentu saja kau tahu.”
“Ada pria yang kau sukai?” tanya Song An pelan.
Selir Zhang terdiam sebentar, lalu mengangguk. “Sudah lama.”
“Siapa?” tanya Selir Li lembut.
“Putra seorang tabib desa. Kami bertemu saat aku masih di rumah.”
“Kau mencintainya?”
“Iya.”
Song An tidak terkejut. Tidak menghakimi.“Lalu kenapa kau di sini?” tanyanya.
Selir Zhang tertawa kecil tanpa suara. “Karena ayahku bilang cinta tidak bisa memberi masa depan.”
Selir Li memejamkan mata.
“Dan karena aku anak perempuan,” lanjut Selir Zhang, “aku tidak punya hak menolak.”
Hening.
Angin lewat.
Daun bergerak.
“Aku juga,” kata Selir Li tiba-tiba.
Song An menoleh.
Selir Li tersenyum tipis. “Aku juga tidak ingin jadi selir.”
“Pria?” tanya Song An.
“Iya.”
“Masih kau sukai?”
“Masih.”
Selir Zhang menoleh cepat. “Kau tidak pernah bilang.”
“Karena tidak ada gunanya.”
Song An bersandar.“Orang tua kalian?”
“Mereka bilang ini kehormatan,” jawab Selir Li. “Padahal ini transaksi.”
Song An mengangguk pelan. “Klasik.”
“Kau?” tanya Selir Zhang. “Bagaimana denganmu?”
Song An tersenyum kecil. “Aku bahkan tidak dipilih.”
“Kau keturunan pejabat,” kata Selir Li.
“Iya. Itu satu-satunya alasan aku dihormati.”
“Padahal kau selir bayangan,” kata Selir Zhang.
“Dan tetap dianggap karena darah,” lanjut Song An. “Bukan karena diriku.”
“Mereka munafik,” gumam Selir Zhang.
Song An mengangguk. “Tapi itu istana.”
—
Tidak jauh dari paviliun itu, seorang pria berpakaian sederhana berjalan perlahan.
Topi kain menutupi sebagian wajahnya.
Ia berhenti saat mendengar suara Song An.
Ia berdiri di balik pohon.
Diam.
Mendengar.
Kaisar Shen tidak berniat menguping.
Namun ia juga tidak melangkah pergi.
—
“Aku iri padamu, Song An,” kata Selir Li.
“Kenapa?”
“Kau berani terlihat tidak peduli.”
“Karena aku sudah pernah kehilangan segalanya.”
“Kehilangan?” Selir Zhang menoleh.
“Aku mati karena hidup yang tidak kupilih,” jawab Song An ringan.
Keduanya terdiam.
“Aku hidup kembali,” lanjut Song An, “dan aku tidak mau mengulanginya.”
Selir Zhang mengusap matanya cepat. “Kau tahu?”
“Apa?”
“Kita semua di sini… sama.”
Song An tersenyum. “Makanya aku betah sama kalian.”
—
Di balik pohon, Kaisar Shen mengepalkan tangannya.
Ia mendengar semuanya.
Tidak ada kebencian.
Tidak ada rencana jahat.
Hanya orang-orang yang hidup di tempat yang tidak mereka pilih.
—
“Aku sering merasa bersalah,” kata Selir Li pelan. “Pria yang kusukai menungguku. Tapi aku di sini.”
“Dia tahu?” tanya Song An.
“Iya.”
“Masih menunggumu?”
“Entahlah.”
Song An menatap kolam. “Kalau suatu hari kalian bisa memilih lagi… apa yang kalian lakukan?”
Selir Zhang menjawab tanpa ragu, “Pergi.”
Selir Li mengangguk. “Hidup biasa.”
Song An tersenyum. “Jawaban yang sama.”
Mereka tertawa kecil, pahit tapi hangat.
—
“Aku senang bertemu kalian,” kata Selir Zhang. “Aku tidak merasa sendirian lagi.”
“Kita bertiga aneh,” jawab Song An. “Tapi setidaknya jujur.”
Selir Li mengulurkan tangan.
Selir Zhang ikut.
Song An meletakkan tangannya di atas tangan mereka.
Tidak ada sumpah.
Tidak ada janji besar.
Hanya kebersamaan.
—
Kaisar Shen melangkah mundur perlahan.
Dadanya terasa berat.
Bukan karena cemburu.
Bukan karena marah.
Tapi karena ia baru benar-benar mendengar suara mereka.
Selama ini, ia melihat selir sebagai posisi.
Hari ini, ia mendengar mereka sebagai manusia.
—
Malam itu, Song An kembali ke paviliunnya.
Mei menatapnya heran. “Selir terlihat… tenang.”
“Aku menemukan orang yang jujur,” jawab Song An.
Mei tersenyum kecil.
Di tempat lain, Kaisar Shen duduk sendirian.
“Dipaksa,” gumamnya.
Ia menutup mata.
Untuk pertama kalinya, ia mempertanyakan sistem yang selama ini ia pertahankan.
Dan untuk pertama kalinya pula, ia tahu
Song An bukan hanya selir bayangan.
Ia adalah cermin yang memantulkan kebenaran istana.
Bersambung