NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:22
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pingsan

Dengan napas yang masih terengah-engah, Anya berlari menghampiri mereka dengan langkah yang semakin cepat. Wajahnya memerah menahan amarah. "Awas saja kamu, Arga! Lihat saja apa yang akan aku lakukan!" gerutunya dengan nada penuh ancaman.

Dengan langkah cepat, Anya menghampiri mereka dan langsung menarik paksa lengan Arga. "Ayo pulang sekarang, Arga!" bentaknya dengan nada membentak.

Meski tubuhnya masih sangat lemah dan tak berdaya, Arga terpaksa menuruti kemauan Anya dan memaksakan diri untuk berdiri.

"Nggak usah kasar gitu, dong!" Rina menahan tangan Anya yang menarik Arga dengan kasar.

Anya menatap tajam wanita yang berdiri di hadapannya itu. Ia sangat mengenali wajah itu. Sudah dua kali ia bertemu dengan Rina, dan dua kali pula wanita itu selalu mencampuri urusan rumah tangganya dengan Arga.

"Oh, jadi ini toh dalang di balik semua ini! Kamu yang ngajak Arga buat kabur, kan?!" ucap Anya dengan nada penuh amarah sambil menunjuk ke arah Rina.

Rina mendengus kesal, ia memang tidak pernah menyukai istri Arga itu. Baginya, Anya terlalu kasar dan tidak pantas untuk Arga. "Memang kenapa kalau aku ngajak Arga buat lari? Lagian, kamu sendiri kan yang nggak becus ngurus dia?" balas Rina dengan nada sinis.

"Jaga mulutmu!" Anya mendorong Rina dengan keras. "Jangan sok tahu ikut campur urusan rumah tangga orang!"

Rina membalas dorongan Anya dengan lebih beringas. "Memangnya kenapa kalau aku ikut campur?! Kenyataannya, Arga nggak bahagia sama kamu!"

Anya memandang Rina dengan tatapan jijik. Wanita di hadapannya ini benar-benar keterlaluan. Terlalu ikut campur dalam urusan pribadinya.

"Ini urusan rumah tanggaku! Sebagai orang asing, seharusnya kamu bisa jaga sikap!" ucap Anya dengan nada penuh penekanan.

Rina mencibir dengan nada meremehkan. "Sikap? Sikap apa yang harus aku jaga dari seorang istri yang nggak becus ngurus suaminya sendiri? Kamu itu memperlakukan Arga kayak anak kecil, tahu nggak?! Pantas aja dia nggak bahagia sama kamu!" Rina menarik paksa lengan Arga, berusaha membawanya pergi. "Ayo, Arga. Kita pergi dari sini, biar dia sadar!"

Sungguh keterlaluan, Rina dengan sengaja mengajak Arga pergi di depan Anya, seolah tidak menghargai status Anya sebagai istri sah Arga.

Anya tidak terima dengan perlakuan Rina. Ia menarik kasar lengan Arga dari sisi lain. "Kamu itu suami aku! Jangan pernah berani ikut campur sama wanita lain! Tapi kalau kamu memang lebih milih dia," Anya menunjuk Rina dengan tatapan penuh amarah, "Jangan harap bisa balik lagi ke rumah! Kita cerai!" ancam Anya dengan nada membentak.

Di tengah kemarahannya, Anya mulai berpikir jernih. Jika Arga memang memilih untuk pergi dengan wanita itu, ia bisa memanfaatkan situasi ini untuk mengajukan perceraian tanpa perlu khawatir dengan ancaman Pramudya. Ia bisa menuduh Arga berselingkuh dengan Rina, atau bahkan menuduh Arga sudah jatuh cinta pada wanita itu dan ingin berpisah dengannya.

Arga, yang sedari tadi hanya diam dan merasa sangat lelah, akhirnya membuka suara. Ia menatap Anya dengan tatapan kosong. "Arga capek... Arga mau pulang," jawab Arga dengan suara lirih, seolah tidak mempedulikan ancaman yang baru saja diucapkan Anya.

"Sudahlah, lepasin Arga! Dia mau pulang sama aku! Kamu nggak punya hati apa? Dia udah capek banget, jangan dipaksa!" Rina terus saja ngoceh tanpa menyadari bahwa Anya sudah berada di puncak kemarahannya.

Anya akhirnya memutuskan untuk mengalah dan melepaskan lengan Arga. "Oke, kalau kamu memang pengen banget sama Arga, yaudah ambil aja! Silahkan!" ucap Anya dengan nada sinis lalu berbalik dan pergi meninggalkan mereka berdua.

Melihat Anya pergi, Arga dengan kasar menepis tangan Rina yang berusaha menahannya. "Lepas! Arga mau pulang!" bentaknya dengan nada frustrasi.

"Iya, ayo kita pulang," ucap Rina yang masih berusaha meraih Arga.

"Arga mau pulang sama Anya!" ucap Arga dengan nada lemah sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Rina.

Meski tubuhnya terasa remuk, Arga berusaha sekuat tenaga untuk berdiri tegak. Ia ingin segera mengejar Anya, namun Rina dengan cepat menghadang jalannya. "Jangan jadi orang bodoh, Arga! Dia nggak layak buat kamu! Dia nggak pernah sayang sama kamu!" ucap Rina sambil mencengkeram erat tangannya.

Arga menatap Rina dengan sorot mata yang membara. "Lepasin Arga, Rina! Arga mau pulang sama Anya! Urusan kamu bukan urusan Arga!" bentak Arga dengan suara lantang.

Dengan mengerahkan seluruh kekuatannya, Arga berhasil melepaskan diri dari cengkeraman Rina yang begitu kuat. Setelah terbebas, Arga berlari terhuyung-huyung mengejar Anya yang sudah hampir menghilang dari pandangannya.

"Anya! Tunggu, Anya! Jangan tinggalin Arga!" teriak Arga dengan suara yang semakin melemah.

Anya berhenti melangkah dan berbalik menghadap Arga. Ia terkejut melihat Arga yang berlari dengan langkah sempoyongan dan wajah pucat.

Namun, belum sempat Anya menghampirinya, tiba-tiba saja Arga kehilangan keseimbangan dan jatuh pingsan tepat di hadapannya.

Melihat kejadian itu, Anya langsung dilanda kepanikan dan kekhawatiran. Arga tiba-tiba saja pingsan di depannya. Tanpa pikir panjang, Anya langsung menghampiri Arga. "Arga! Bangun! Arga, bangun!" ucap Anya sambil menepuk-nepuk ringan wajah Arga dengan suara yang bergetar karena panik.

"Tolong! Tolong! Siapa saja, tolong bantu saya!" teriak Anya histeris sambil berusaha mengguncang-guncang tubuh Arga. Matanya bergerak liar ke sekeliling, berharap ada seseorang yang bisa membantunya.

Beruntung, seorang pria paruh baya sedang menikmati sore dengan mengajak anjingnya jalan-jalan mendengar teriakan Anya dan langsung menghampirinya dengan wajah khawatir. "Ada apa, Nona? Kenapa ini?" tanya bapak itu dengan nada cemas.

"Pak, tolong... Tolong bantu saya. Suami saya tiba-tiba pingsan," ucap Anya dengan suara bergetar karena panik.

"Mari saya bantu, Nona," kata pria itu dengan sigap. Ia segera membantu Anya memapah Arga dan membawanya ke pinggir jalan agar lebih aman. "Kita harus cepat membawanya ke rumah sakit," lanjut pria itu sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celana. "Saya akan telepon ambulans sekarang."

Anya mengangguk dengan wajah pucat dan terus menggenggam erat tangan Arga seolah takut kehilangannya. Ia berharap Arga segera membuka matanya dan kembali bersamanya.

Tiba-tiba, dari kejauhan tampak Rina berlari menghampiri mereka dengan ekspresi wajah yang panik. "Arga! Astaga, apa yang terjadi padanya?! Siapa yang melakukan ini?!" tanya Rina dengan nada khawatir. Ia mencoba mendekati Arga, namun Anya dengan cepat menghalangi jalannya.

"Jangan sentuh dia!" bentak Anya dengan nada penuh amarah, mengingat bahwa semua ini terjadi karena ulah Rina.

Anya berdiri dengan tegap, menatap Rina dengan sorot mata yang membenci. "Ini semua gara-gara kamu! Kalau saja kamu tidak mengajak Arga kabur, dia tidak akan seperti ini!"

Rina mendecih sinis, menurutnya wanita di depannya ini sangat manipulatif. "Aku? Kamu bilang ini gara-gara aku? Justru ini semua salah kamu! Kamu sendiri yang tidak becus jaga suami sampai dia kabur dari rumah sambil menangis! Kamu tahu nggak, kalau aja Arga nggak ketemu sama aku, mungkin kejadiannya bakal lebih parah dari ini!"

"Sudah, sudah, jangan ribut di sini! Itu ambulansnya sudah datang," ucap pria paruh baya itu dengan nada menenangkan.

Ambulans tiba dengan suara sirine yang memekakkan telinga. Beberapa petugas medis segera keluar dan memeriksa kondisi Arga dengan sigap. "Cepat! Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!" seru salah seorang petugas medis dengan nada mendesak.

Para petugas medis kemudian mengangkat Arga ke atas ambulans. Anya dengan cepat ikut masuk ke dalam ambulans untuk menemani suaminya.

Saat Rina hendak ikut masuk ke dalam mobil ambulans, Anya dengan cepat memperingatinya dengan tatapan tajam. "Jangan berani-berani kamu ikut campur lagi!" ucap Anya dengan nada dingin dan menusuk.

Rina hanya bisa menggerutu kesal sambil menatap tajam ke arah ambulans yang melaju kencang, menghilang dari pandangannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!