Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arus Balik di Sungai Code
Sekar berlari. Napasnya memburu, paru-parunya terasa seperti diisi pasir panas. Ia tidak lagi peduli pada jariknya yang sesekali tersingkap, atau selop kulitnya yang licin di atas paving block trotoar. Di belakangnya, suara gemuruh air terdengar semakin dekat, seolah lautan sedang mengejar langkah kakinya yang kecil.
Jalanan di sekitar Alun-Alun Utara kacau balau. Orang-orang berlarian tanpa arah, berteriak-teriak memanggil nama anggota keluarga mereka. Mobil-mobil berhenti mendadak, klakson berbunyi panjang dan memekakkan telinga, menciptakan simfoni kepanikan yang sumbang.
"Tsunami! Ada tsunami di tengah kota!" teriak seorang tukang becak yang menggenjot pedalnya sekuat tenaga ke arah utara, melawan arus lalu lintas.
Sekar nyaris tertabrak sepeda motor yang melaju zigzag di trotoar. Ia melompat ke sisi pagar benteng Vredeburg, jantungnya serasa mau copot. Tsunami? Di tengah kota yang berjarak tiga puluh kilometer dari pantai? Logika manusia modern sedang dipatahkan dengan cara yang paling brutal.
Ia menoleh sekilas ke arah selatan. Pemandangan itu membuatnya mual.
Pohon beringin kembar di tengah alun-alun sudah tidak terlihat lagi. Tempat itu kini menjadi pusaran air raksasa yang berputar berlawanan arah jarum jam. Airnya bukan cokelat seperti banjir luapan sungai, melainkan biru kristal yang menyala. Dan di atas pusaran itu, langit terbelah. Kilat-kilat biru menyambar-nyambar, bukan ke tanah, tapi ke arah bangunan-bangunan keraton, seolah sedang mencari target spesifik.
Gusti Pangeran...Sekar membatin pilu. Apakah sang Pangeran selamat? Apakah keris berlekuk tujuh itu cukup untuk menahan tombak dewa?
"Mbak! Jangan bengong! Lari!"
Sebuah tangan menarik lengan Sekar. Seorang mahasiswa dengan jaket almamater kuning kumal menyeretnya menjauh dari tembok benteng yang mulai retak. "Bangunan tua ini mau rubuh! Getarannya parah banget!"
Sekar menurut, kakinya dipaksa bergerak lagi. "Kita mau ke mana?" tanyanya terengah-engah.
"Ke jembatan Sayidan! Cari tempat tinggi!" jawab mahasiswa itu panik.
Jembatan Sayidan. Sungai Code.
Ingatan Sekar tersentak kembali pada perintah Pangeran Suryo. Pergi ke hulu. Ke pertemuan sungai Opak dan Oya. Tapi untuk keluar dari kota yang terkepung ini, ia harus mengikuti arus pelarian manusia, setidaknya sampai ia menemukan celah untuk berbelok.
Mereka berlari menyusuri Jalan Malioboro yang kini berubah menjadi sungai dangkal. Air merembes keluar dari celah-celah trotoar, dari lubang selokan, dari retakan aspal. Air asin. Bau amis tembaga itu semakin kuat, bercampur dengan bau bensin dan keringat ketakutan.
Etalase toko-toko batik pecah berantakan. Manekin-manekin berpakaian lurik hanyut, mengambang dengan pose kaku yang mengerikan, seolah mayat-mayat tanpa kepala sedang berenang.
Saat mereka mencapai ujung jalan, dekat pasar Beringharjo, Sekar melihat sesuatu yang membuatnya berhenti mendadak. Mahasiswa tadi terus berlari, melepaskan pegangannya, hilang ditelan kerumunan.
Di tengah perempatan jalan, sebuah lampu lalu lintas meledak, memercikkan bunga api. Tapi bukan itu yang menarik perhatian Sekar.
Di sana, berdiri di atas mobil sedan yang penyok, ada seekor kuda.
Bukan kuda delman. Kuda ini besarnya dua kali lipat kuda biasa. Kulitnya pucat, sepucat mayat yang terlalu lama terendam air. Surainya basah kuyup, meneteskan air yang langsung menguap begitu menyentuh kap mobil yang panas. Dan matanya... matanya hanya berupa rongga hitam yang kosong.
Kuda itu meringkik. Suaranya bukan suara hewan. Suaranya seperti jeritan besi yang ditekuk.
Tidak ada orang lain yang memperhatikannya. Semua orang terlalu sibuk menyelamatkan diri. Tapi Sekar tahu, kuda itu melihatnya.
Kuda itu adalah pengintai.
Cincin di jari manis Sekar terasa menyengat, panas sekali, seperti ditempelkan bara api. Sekar meringis, menggenggam tangannya erat-erat. Sembunyikan baumu, kata Pangeran Suryo. Sembunyikan.
Sekar menundukkan kepala, membaur di antara rombongan ibu-ibu pengajian yang sedang menangis sambil membaca ayat kursi. Ia menahan napas, mencoba menekan rasa takutnya, mencoba menjadi tidak terlihat.
Kuda itu memutar kepalanya, mengendus udara. Hidungnya mendengus, mengeluarkan uap dingin. Ia melompat turun dari mobil dengan gerakan yang terlalu ringan untuk ukuran tubuh sebesarnya, mendarat tanpa suara di aspal basah.
Sekar memejamkan mata, terus berjalan mengikuti arus massa. Jangan lari, bisik instingnya. Kalau kamu lari, kamu jadi mangsa.
Ia berjalan selangkah demi selangkah, melewati kuda hantu itu. Jaraknya hanya beberapa meter. Sekar bisa mencium bau napas kuda itu—bau ganggang busuk dan laut dalam yang tidak tersentuh cahaya matahari.
Kuda itu mendengus tepat di telinga kirinya.
Sekar menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, menahan jeritan. Ia terus berjalan, berpura-pura menjadi manusia biasa yang buta akan hal gaib.
Setelah beberapa detik yang terasa selamanya, kuda itu berbalik arah. Ia melompat pergi, berlari menuju arah Keraton, bergabung dengan pasukannya yang lain.
Sekar lemas. Kakinya gemetar hebat hingga ia harus berpegangan pada tiang listrik. Ia berhasil. Cincin itu bekerja. Tapi ia tahu, keberuntungan tidak akan bertahan selamanya.
Ia harus segera keluar dari jalan utama.
Sekar berbelok ke gang sempit di samping Toko Progo, menuju perkampungan di bantaran Kali Code. Gang itu sepi, hanya ada beberapa kucing yang mengeong gelisah di atas atap seng.
Sampai di bibir sungai, Sekar tertegun.
Kali Code, sungai yang membelah kota Yogyakarta, biasanya berair keruh kecokelatan dan dangkal di musim kemarau. Tapi hari ini, airnya bening. Terlalu bening.
Dan arusnya... arusnya mengalir terbalik.
Air sungai itu tidak mengalir ke selatan menuju laut. Air itu mengalir naik, dari selatan menuju utara, menuju hulu di Gunung Merapi. Air laut sedang memaksa masuk, mendaki daratan, melawan gravitasi.
Di dalam air yang bening itu, Sekar melihat ikan-ikan air tawar—wader, lele, nila—mengambang mati dengan perut kembung. Mereka tidak kuat menahan kadar garam yang mendadak tinggi.
"Jalur bawah tanah..." gumam Sekar, teringat ucapan Eyang.
Ternyata bukan hanya sungai bawah tanah. Sungai di permukaan pun sudah dikuasai. Poseidon tidak hanya menyerang lewat udara dan tanah, dia juga menggunakan nadi-nadi air kota ini sebagai jalan tol bagi pasukannya.
Sekar menatap ke arah hulu, ke arah utara. Gunung Merapi terlihat samar di kejauhan, tertutup awan mendung. Di sanalah tujuannya. Tapi bagaimana ia bisa ke sana jika sungainya sendiri sudah menjadi wilayah musuh?
Tiba-tiba, dari arah bawah jembatan, muncul sebuah perahu kecil. Perahu getek bambu yang biasa dipakai warga untuk menyeberang. Di atasnya, duduk seorang kakek tua bertopi caping, sedang merokok klobot dengan santai, seolah tidak peduli dunia sedang kiamat.
"Mau nyeberang, Nduk?" tanya kakek itu santai.
Sekar ragu. Apakah kakek ini manusia? Atau hantu air lainnya?
Kakek itu tersenyum, memperlihatkan gigi-giginya yang hitam karena sirih. "Tenang wae. Simbah bukan demit. Simbah cuma tukang getek yang bingung, kok airnya malah ngajak naik gunung. Ya sudah, Simbah ikut saja. Lumayan, irit tenaga nggak usah ndayung."
Sekar menatap mata kakek itu. Mata manusia. Ada binar jenaka dan ketulusan di sana, sesuatu yang tidak dimiliki makhluk-makhluk laut barat itu.
"Simbah mau ke mana?" tanya Sekar hati-hati.
"Ke mana air membawalah," jawab si Kakek, lalu menepuk ruang kosong di depannya. "Naik sini. Keliatannya kamu mau ke utara juga. Kakimu lecet itu, kasihan."
Sekar melihat kakinya. Benar saja, selopnya sudah hilang entah di mana, telapak kakinya berdarah tergores aspal.
Tanpa berpikir panjang lagi, Sekar melompat turun ke atas getek bambu itu. Perahu kecil itu bergoyang, lalu perlahan bergerak melawan arus yang deras, didorong oleh kekuatan air pasang yang aneh.
"Pegang yang kenceng, Nduk," kata Simbah sambil membuang puntung rokoknya ke air. Puntung itu mendesis, lalu tenggelam. "Sepertinya 'tamu' kita lagi buru-buru mau ketemu Tuan Rumah di gunung."
Sekar mencengkeram bambu getek yang basah. Di bawahnya, di kedalaman sungai yang bening itu, ia melihat bayangan-bayangan panjang melesat cepat mendahului perahu mereka. Bayangan berbentuk manusia berekor ikan, membawa tombak, berenang menuju Merapi.
Mereka sedang menuju jantung api.
Perang ini bukan hanya soal laut melawan darat. Ini soal air melawan api. Dan Sekar, di atas perahu rapuh ini, terjebak tepat di tengah-tengahnya.