Profil Karakter Utama
Arkaen "Arka" Malik (30 th): CEO muda dari Malik Group yang terlihat bersih dan filantropis. Namun, di balik itu, ia adalah "Don" dari sindikat The Black King. Dia dingin, penuh perhitungan, dan tidak percaya pada cinta karena trauma masa lalu.
Alea Senja (24 th): Seorang jurnalis investigasi amatir yang cerdas namun sedang kesulitan ekonomi. Dia memiliki sifat yang berani, sedikit lancang, dan tidak mudah terintimidasi oleh kekuasaan Arka.
Alea tidak sengaja memotret transaksi ilegal di pelabuhan yang melibatkan Arka. Alih-alih membunuhnya, Arka menyadari bahwa Alea memiliki kemiripan wajah dengan wanita dari masa lalunya yang memegang kunci brankas rahasia keluarga Malik. Arka memaksa Alea menandatangani kontrak "Pernikahan Bisnis" selama satu tahun demi melindunginya dari kejaran faksi mafia musuh sekaligus menjadikannya alat untuk memancing pengkhianat di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun di Dalam Sampanye
Ketenangan di Jakarta setelah kejatuhan Baron ternyata hanyalah sebuah ilusi optik. Bagi Alea, tiga minggu terakhir terasa seperti transisi yang aneh; dari seorang jurnalis yang dikejar-kejar penagih hutang menjadi sosok yang fotonya terpampang di halaman depan majalah bisnis sebagai "Mata Tersembunyi Malik Group".
Malam ini, Arka mengadakan sebuah gala eksklusif di penthouse pribadinya di kawasan Mega Kuningan. Acara ini bukan sekadar perayaan kemenangan, melainkan sebuah pernyataan posisi. Arka ingin menunjukkan pada dunia bahwa Malik Group tidak runtuh—perusahaan itu hanya sedang berganti kulit.
Alea berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya dalam gaun sutra berwarna champagne yang jatuh selembut air di lekuk tubuhnya. Ia menyentuh kalung pemberian Don Malik yang kini melingkar di lehernya. Perhiasan itu terasa berat, bukan karena karatnya, tapi karena sejarah berdarah di baliknya.
"Berhenti menatap diri sendiri seolah kau sedang melihat orang asing," suara bariton Arka muncul dari arah belakang.
Arka melangkah masuk ke ruang rias, mengenakan kemeja hitam tanpa dasi, dengan jas yang tersampir santai di bahunya. Ia tampak lebih manusiawi tanpa seragam "perangnya", namun tatapannya tetap memiliki ketajaman yang sanggup menguliti rahasia siapa pun.
"Aku memang merasa seperti orang asing, Arka," Alea berbalik, membiarkan Arka melingkarkan tangannya di pinggangnya. "Tiga minggu lalu aku makan mi instan di rumah kontrakan yang bocor. Sekarang aku harus menjamu duta besar dan taipan minyak. Apa kau yakin aku tidak akan mempermalukanmu?"
Arka menarik Alea lebih dekat, mencium keningnya dengan lembut namun posesif. "Kau adalah satu-satunya orang di ruangan itu nanti yang memiliki kejujuran, Alea. Sisanya adalah ular yang memakai berlian. Jadi, jika ada yang harus merasa malu, itu adalah mereka."
"Rayuanmu semakin canggih," Alea terkekeh, merapikan kerah baju Arka.
"Itu bukan rayuan. Itu fakta bisnis," Arka menyeringai, lalu menuntunnya keluar menuju aula besar di mana denting gelas kristal dan musik jazz mulai memenuhi udara.
Pesta itu berjalan dengan ritme yang sempurna. Arka bergerak dengan keanggunan seorang predator di antara tamu-tamunya, sementara Alea berdiri di sampingnya, memberikan senyum yang cukup ramah namun tetap menjaga jarak. Namun, di tengah kerumunan pria-pria berjas kaku dan wanita-wanita bersosialita, Alea menangkap sebuah anomali.
Di sudut ruangan, bersandar pada pilar marmer, berdiri seorang wanita yang tidak cocok dengan suasana Jakarta. Ia mengenakan setelan jas putih oversized dengan potongan maskulin yang tajam. Rambutnya hitam legam, dipotong bob sangat pendek yang menonjolkan rahangnya yang tegas. Matanya yang sipit menatap lurus ke arah Arka—bukan dengan kekaguman, tapi dengan tantangan.
Alea merasakan remasan tangan Arka di pinggangnya mengeras. Arka berhenti bernapas selama satu detik penuh.
"Arka? Kau oke?" bisik Alea.
"Jangan menoleh tiba-tiba," suara Arka terdengar sangat rendah, nyaris seperti geraman. "Wanita di pilar jam dua. Itu Yuki Nakamura."
"Siapa dia?"
"Masa lalu yang seharusnya sudah mati di Osaka," jawab Arka singkat.
Wanita itu, Yuki, menyadari bahwa ia telah terdeteksi. Ia tidak menghindar. Sebaliknya, ia berjalan mendekat dengan langkah yang sangat tenang, setiap langkahnya memancarkan otoritas yang setara dengan Arka. Beberapa tamu tanpa sadar memberi jalan padanya, merasakan aura bahaya yang terpancar dari tubuh wanita itu.
"Arkaen Malik," suara Yuki terdengar dingin, dengan aksen Jepang yang kental namun sangat fasih berbahasa Inggris. "Terakhir kali aku melihatmu, kau sedang melompati pagar rumah keluargaku di Osaka untuk menghindari upacara pertunangan kita."
Alea merasakan jantungnya mencelos. Pertunangan?
Arka meletakkan gelas wiskinya di meja dengan bunyi denting yang tajam. "Yuki. Sepuluh tahun tidak mengubah kebiasaanmu untuk datang tanpa diundang."
Yuki tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak menyentuh matanya yang sedingin es. Ia melirik Alea dari atas ke bawah, seolah-olah sedang memeriksa kualitas sebuah barang dagangan. "Jadi, ini alasanmu menghancurkan Baron dan menolak kembali ke Jepang? Seorang jurnalis dengan mata yang terlalu besar?"
Alea tidak mundur. Ia justru melangkah satu inci ke depan, berdiri tegak di samping Arka. "Nama saya Alea Senja. Dan jika Anda datang ke sini untuk bernostalgia tentang kegagalan cinta Anda sepuluh tahun lalu, saya rasa Anda salah alamat, Nona Nakamura."
Yuki menaikkan sebelah alisnya, tampak terkejut sekaligus terhibur. "Dia punya taring, Arka. Menarik." Yuki kemudian kembali menatap Arka dengan serius. "Ayahku tidak mengirimku ke sini untuk mengemis cintamu yang sudah basi. Kau menghancurkan Baron, yang berarti kau menghentikan jalur distribusi klan Nakamura di Asia Tenggara. Kami kehilangan kontrak triliunan karena 'pembersihan' moral yang kau lakukan."
"Dunia berubah, Yuki. Aku tidak lagi berbisnis dengan klan yang menggunakan jalur manusia untuk menyelundupkan barang," balas Arka tegas.
"Kau bicara seolah tanganmu bersih, Arka," Yuki tertawa kecil, suara tawa yang kering. "Ingatlah, tanpa bantuan klan kami sepuluh tahun lalu, kau sudah mati di tangan pamanmu sendiri. Sekarang, Ayahku menagih hutang itu. Hutang darah harus dibayar dengan darah. Jika kau tidak ingin kembali ke jalur kami, maka kami akan mengambil jalurmu secara paksa."
Yuki mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Arka yang bisa didengar Alea karena posisinya yang sangat dekat. "Nikmati sampanyemu malam ini, Arka. Karena besok pagi, Jakarta akan terasa jauh lebih kecil bagimu."
Tanpa menunggu balasan, Yuki berbalik dan menghilang di antara kerumunan tamu, meninggalkan keheningan yang mencekam di antara Arka dan Alea.
Setelah tamu-tamu mulai pulang, Arka berdiri di balkon dengan tangan mencengkeram pagar besi. Angin malam bertiup kencang, namun tidak bisa mendinginkan amarah yang terpancar dari tubuhnya.
"Arka," Alea mendekat, menyentuh bahu Arka yang kaku. "Apa maksudnya dengan upacara pertunangan itu?"
Arka menghela napas panjang, sebuah suara yang sarat dengan beban masa lalu. "Sepuluh tahun lalu, saat aku masih sangat muda dan putus asa untuk menjatuhkan Baron, aku pergi ke Jepang. Aku meminta bantuan klan Nakamura, sindikat pelabuhan terbesar di Osaka. Harganya bukan uang, Alea. Harganya adalah aku harus menikahi Yuki untuk menyatukan dua kekuatan."
"Dan kau kabur?"
"Aku menyadari bahwa Yuki lebih haus darah daripada Baron. Jika aku menikahinya, Malik Group hanya akan menjadi sayap bagi kejahatan yang lebih besar. Aku melarikan diri semalam sebelum upacara. Itu adalah penghinaan terbesar bagi klan mereka."
Alea terdiam, mencoba memproses informasi itu. Ia menyadari bahwa musuh yang mereka hadapi sekarang jauh lebih terorganisir dan kejam daripada Baron yang serakah.
Tiba-tiba, ponsel Arka bergetar hebat. Itu adalah Rio.
"Tuan! Anda harus ke lobi sekarang!" suara Rio terdengar panik—sesuatu yang sangat jarang terjadi.
Arka dan Alea segera berlari menuju lift dan turun ke lantai dasar. Di lobi, beberapa petugas keamanan tampak pucat pasi. Di tengah ruangan, tepat di depan pintu masuk utama, terdapat sebuah kotak kayu besar yang dibungkus dengan kain sutra putih bermotif bunga krisan—lambang klan Nakamura.
Arka mendekati kotak itu dengan waspada. Ia menggunakan sebilah pisau untuk menyobek kainnya dan membuka tutup kotak tersebut.
Alea terpekik dan menutup mulutnya. Di dalam kotak itu, tergeletak kepala salah satu manajer pelabuhan Malik Group yang baru saja mereka lantik kemarin. Di dahinya, terukir sebuah simbol Jepang dengan bekas sayatan pisau.
"Ini peringatan," suara Arka bergetar oleh amarah yang tertahan. "Mereka mulai menyerang aset kita."
"Arka, apa yang harus kita lakukan?" tanya Alea, matanya berkaca-kaca melihat kekejaman itu.
Arka berdiri tegak, matanya menatap tajam ke arah pintu masuk, seolah ia bisa melihat Yuki Nakamura yang sedang menertawakan mereka dari kejauhan. "Mereka ingin perang? Mereka akan mendapatkannya."
Arka berbalik ke arah Alea, memegang kedua bahunya dengan kuat. "Alea, dengar. Jakarta tidak lagi aman. Yuki akan mengincarmu sebagai titik lemahku. Aku harus mengirimmu ke tempat yang tidak bisa mereka jangkau."
"Tidak!" bantah Alea keras kepala. "Aku tidak akan lari. Kau bilang aku adalah pasangamu, kan? Pasangan tidak saling meninggalkan saat badai datang."
Arka menatap mata Alea yang penuh tekad. Ia melihat api yang sama yang ia rasakan saat mereka berada di gudang dulu. Perlahan, genggamannya melunak.
"Baiklah," bisik Arka. "Tapi mulai detik ini, kau harus belajar bagaimana cara memegang senjata lebih dari sekadar kamera. Karena di hadapan klan Nakamura, kata-kata jurnalis tidak akan ada harganya."
Alea mengangguk pelan. Ia menyadari bahwa gaun champagne-nya sudah ternoda oleh bayangan darah. Malam itu, pesta kemenangan mereka resmi berakhir, dan sebuah babak baru yang lebih gelap, lebih berdarah, dan melibatkan kekuatan internasional baru saja dimulai.
"Rio," panggil Arka tanpa menoleh.
"Ya, Tuan?"
"Siapkan keberangkatan ke Jepang. Jika mereka ingin bermain di rumahku, maka aku akan menghancurkan rumah mereka lebih dulu."