NovelToon NovelToon
Kesayangan Tuan Muda Mafia

Kesayangan Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Selingkuh / Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

Pagi datang tanpa hujan, tapi udara masih menyimpan sisa lembap semalam. Langit pucat, seperti belum sepenuhnya memutuskan akan cerah atau mendung.

"Pagi!!" Sapa Cherrin ceria, ia datang menghampiri nenek Serra yang duduk sambil menyesap tehnya.

"Pagi sayang.." nenek Serra menyambutnya dengan senyuman lebar.

Cup

Cherrin mengecup pipi wanita tua itu membuatnya terkekeh kecil. Nenek Serra mengelus kepala cucu angkatnya itu dengan penuh kasih sayang. Varla yang ada di sana melengos sebal. Ia muak sekali melihat pemandangan yang ada di depan matanya itu.

Zivaniel yang berdiri di sana tersenyum tipis nyaris tak terlihat, ia sangat suka sekali pemandangan ini, karena neneknya memang sangat menyayangi Cherrin.

"Nenek kapan pulangnya? Maaf ya, Cherrin nggak nyambut, soalnya tadi malam udah tidur." Ucap Cherrin manja.

Jangan heran, karena Cherrin memang anaknya seperti itu, ia manja sekali dengan nenek Serra dan Zivaniel. Hanya dua orang itu, karena mereka yang menganggapnya dan menyayanginya lebih. Tapi kalau Maxtin dan kakek De luca mereka tidak terlalu kejam, dan pada Cherrin juga mereka santai, tidak marah, tidak kesal, dan mer ka menyayanginya juga. Terlebih Maxtin tidak punya anak perempuan, dan De Luca juga tidak punya cucu perempuan di silsilah keluarga de Luca. Namun keduanya memang sama-sama datar, tidak tau cara mengutarakan kasih sayang itu. Mereka hanya diam, dan melihat Cherrin dari kejauhan, tapi tidak sama sekali membenci gadis kecil yang di anggap anggota keluarga mereka sendiri.

Berbeda dengan Varla, wanita itu sangat membenci Cherrin, ia bahkan tidak menyukainya. Kasih sayang nenek Serrra terbagi dengan orang asing.

Dan anggap lah Cherrin haus kasih sayang keluarga, karena nyatanya sedari kecil ia tidak memiliki keluarga.

"Nenek kapan pulangnya? Maaf ya, Cherrin nggak nyambut nenek."

"Larut sekali. Nenek juga sudah lihat ke kamar kamu. Dan kamu udah lelap banget. Nenek nggak tega bangunin." Ucap nenek Serra.

"Wah, aku ngorok pasti." Malu Cherrin.

Nenek Serra terkekeh gemas mencubit pipi bulat Cherrin. "Itu hal wajar."

"Yaaah..."

Maxtin dan De Luca ikut terkekeh tipis melihat kelucuan itu, begitupun dengan Zivaniel.

"Kamu udah sarapan?"

"Udah nek. Emm Cherrin pamit berangkat sekolah ya."

"Oke. Bareng sama Zivaniel?"

Cherrin menoleh ke arah pemuda datar itu. Ia menggelengkan kepalanya. "Nggak deh."

Alis Zivaniel terangkat. "Kenapa?" bukan nenek Serra melainkan ia yang protes, padahal ia ingin berangkat dengan gadis itu.

"Zivaniel banyak fansnya nek. Habis aku di marahin kalau dekat-dekat sama dia." Adu Cherrin lebay.

"Iya dong, anak saya tampan begitu, jelas banyak fansnya. Dari pada kamu" celetuk Varla, membuat suasana berubah.

Cherrin lupa di sana ada satu manusia yang tidak menyukainya. Tapi ia sama sekali tidak sakit hati. Ia sudah kebal dengan perkataan wanita itu.

Nenek Serra tersenyum. "Yasudah. Senyamannya kamu saja."

Zivaniel hendak protes, namun Cherrin langsung menyalami semua orang, begitupun dengan Varla, walaupun Varla setelah di dalam oleh Cherrin langsung mengusap tangannya kasar– jijik.

"Dadahhh" teriak Cherrin ceria ia berlari pergi dari sana, sebelum Zivaniel memaksanya berangkat bareng.

Sungguh, Cherrin itu bukan takut pada fans pria itu, tapi ia lebih ke– malu atas kejadian kemarin. Rasanya ia malu sekali, apalagi ia yang mencium Zivaniel. Ck, pemuda itu dulu ya... Jangan salah. Cherrin kan gantian eh..

Cherrin berangkat sekolah naik sepeda motor maticnya, Zivaniel di dalam rumah yang melihat itu hanya terkekeh kecil. Ia berjalan menghampiri satu persatu anggota keluarganya dan mencium tangan mereka.

"Belajar yang pintar."

"Iya nek." nenek Serra mengecup tangan cucu kesayangannya itu.

"Habis pulang sekolah jangan kelayapan, Kakek mau kamu lihat berkas perusahaan." Ujar kakek De Luca dengan datar, sambil menepuk pundak cucunya itu.

Zivaniel mendengus, "Ya."

"Belajar yang rajin ya sayang.."

"Iya ma."

"Ingat malam nanti, Niel!" Kata papa Maxtin membuat Zivaniel mendesah kasar.

"Aku berangkat"

"Iya, hati-hati ya soon!!"

Zivaniel berjalan santai menuju mobilnya.

Di halaman sekolah, suara langkah kaki bercampur dengan dengus knalpot dan tawa yang masih mengantuk.

Zivaniel datang seperti biasa.

Tidak tergesa. Dan tetap mencuri perhatian semua murid perempuan. Tapi tetap saja, ada hal-hal yang tidak pernah bisa ia kendalikan—tinggi badannya, bahunya yang lurus, wajah tenangnya yang selalu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang orang lain tidak tahu.

Cherrin melihatnya dari kejauhan.

Ia berdiri di dekat tangga gedung utama, memeluk buku ke dada, menunggu jam pertama dimulai. Rambutnya dibiarkan tergerai hari ini, sedikit bergelombang, jatuh melewati bahu. Ia sudah berusaha keras pagi ini untuk bersikap biasa saja.

Tidak menatap terlalu lama.

Tidak tersenyum lebih dulu.

Tidak berlari menghampiri.

Ia ingin terlihat… normal.

Tapi detik berikutnya, sesuatu menggeser fokus semua orang.

Seorang perempuan berjalan masuk melewati gerbang.

Seragamnya sama, tapi caranya mengenakan berbeda. Roknya pas, kemejanya rapi tanpa kusut, rambut hitamnya dikuncir tinggi dengan pita kecil berwarna biru muda. Langkahnya ringan, tapi penuh percaya diri—seperti orang yang tahu ia akan diperhatikan, dan tidak keberatan akan hal itu.

“Siapa tuh?”

“Murid baru?”

“Cantik, ya…”

Bisik-bisik muncul seperti gelombang kecil.

Cherrin ikut menoleh, awalnya tanpa beban.

Lalu perempuan itu berhenti.

Tepat di depan Zivaniel.

“Aku Zella.”

Suaranya jernih. Tidak ragu. Bahkan sedikit ceria. Ia mengulurkan tangannya ke arah Zivaniel yang pada saat itu sedang dengan Dimas, membahas tentang rapat OSIS selanjutnya.

Zivaniel berhenti melangkah. Ia menatap perempuan itu sebentar—bukan lama, bukan intens, tapi cukup untuk membuat Cherrin menyipitkan matanya, dan tanpa sadar mengeratkan pelukannya pada buku.

“Iya?” jawab Zivaniel singkat.

Zella tersenyum. Senyum yang terlatih, tapi tidak palsu. “Aku murid baru. Aku belum terlalu kenal siapa-siapa di sini.”

“Oh.”

Tidak ada sambutan hangat. Tidak ada basa-basi.

Tapi Zella tidak mundur.

Dan beberapa murid perempuan sudah kasak kusuk.

"Anjir, berani betul dekatin Zivaniel kita."

"Ck, bangke, minta di botakin"

“Aku lihat kamu dari gerbang. Kamu kelihatan… bisa diandalkan.”

Ia terkekeh kecil, seperti sedang mengatakan hal sepele.

Cherrin menelan ludah.

Bisa diandalkan?

Dari mana dia tahu?

Zivaniel mengangguk kecil. “Kalau butuh info kelas, papan pengumuman ada di sebelah sana.”

Ia menunjuk tanpa benar-benar menatap.

“Oh, aku tahu.” Zella mendekat setengah langkah. “Tapi aku lebih pengin denger langsung dari orang.”

Sunyi sesaat.

Cherrin merasa ada sesuatu yang menggesek dadanya. Bukan sakit—lebih seperti tekanan kecil yang tidak jelas bentuknya.

"Cabut" ucap Zivaniel pada Dimas.

Dimas masih sempat-sempatnya dadah pada perempuan cantik itu.

"Gue Dimas"

Perempuan itu membalas dengan senyuman manis. "Eh temennya kelas berapa?"

Dimas mengerjap. “Kelas sebelas A.”

“Wah, sama.” Mata Zella berbinar. “Berarti kita sekelas.”

Zivaniel tidak menyahut, ia berjalan pergi.

Dan saat itu—saat kata kita meluncur begitu ringan—Cherrin tahu, ini bukan akan jadi hari yang tenang. Cherrin mendengus, ia mengepalkan kedua telapak tangannya dengan kencang.

Jam pelajaran berjalan lambat.

Bukan karena materinya sulit, tapi karena perhatian Cherrin terus terpecah. Ia bahkan tidak fokus sama sekali. Icha yang ada di sampingnya langsung menyenggol lengannya karena Bu Dewi menyerocos panjang lebar. Takut temannya itu kena omel.

Dan benar saja, Bu Dewi sudah menatap Cherrin yang melamun.

"Cherrin!!"

Cherrin tersentak. "Ya Bu?"

"melamun kamu di jam pelajaran saya?!"

Cherrin mengerjap. "E--nggak buk."

Bu Dewi menyipitkan matanya. "Kalau tidak kerjakan soal nomor 2 sekarang"

Mata Cherrin terbelalak, namun ia segera bangun dari duduknya, karena Bu Dewi terus mengomel.

Icha yang melihat itu meringis.

*

Zella duduk dua bangku di depan Zivaniel. Terlalu dekat untuk disebut kebetulan, terlalu pas untuk diabaikan. Sesekali, perempuan itu menoleh ke belakang—bertanya soal catatan, meminjam pulpen, atau sekadar tersenyum kecil tanpa alasan jelas.

Zivaniel bahkan tidak peduli sama sekali.

Tapi Zella tidak berhenti.

Saat bel istirahat berbunyi, Zella sudah berdiri lebih dulu. Ia menunggu Zivaniel di dekat pintu kelas, seolah itu hal paling wajar di dunia.

“Aku belum tahu kantin di mana,” katanya ringan. “Kamu mau bareng?”

Cherrin yang lagi ngutip sampah karena di hukum oleh bu Dewi di dekat kelas Zivaniel jadi tersentak mendengar itu.

Zivaniel menggeleng. “Gue ada urusan.”

“Oh.” Zella memiringkan kepala. “Sama siapa?”

Zivaniel terdiam sepersekian detik.

Cherrin tidak tahu kenapa detik itu terasa panjang sekali.

“Teman,” jawabnya akhirnya.

Zella tersenyum lagi. “Oh. Aku ikut, boleh?”

Cherrin berdiri terlalu cepat dari jongkoknya.

Zivaniel langsung melirik ke arahnya.

Pandangan mereka bertemu.

Dan di sana—di sela detik yang singkat itu—ada sesuatu yang hanya mereka berdua pahami. Ingatan tentang malam, tentang mobil, tentang keheningan yang hangat.

“Cherrin,” panggil Zivaniel.

Nama itu keluar begitu saja. Tanpa sadar. Tanpa direncanakan.

Zella ikut menoleh. Matanya menyapu Cherrin dari ujung rambut sampai ujung sepatu, cepat tapi tajam.

“Oh,” katanya. “Ini temanmu?”

Cherrin tersenyum. Tipis. Terlalu sopan. “Iya.”

Zella mengulurkan tangan. “Zella.”

Cherrin menjabatnya. Telapak tangan mereka bertemu—dingin dengan dingin.

“Cherrin.”

Tidak ada yang salah dari perkenalan itu.

Tapi Cherrin menangkap sesuatu yang aneh dari gadis baru itu.

Zivaniel tidak memperdulikan itu, ia menarik tangan Cherrin yang kotor dan membawanya pergi, membuat Zella mendelik.

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Elran cemburu melihat kedekatan Niel dengan Cerrin ..
Julia and'Marian: 🤭🤭🤭,,
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
mampir otor 🙏😊
Julia and'Marian: amiin kak, makasih doanya🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!