Lin Feng, pendekar tampan berilmu tinggi, menjadi buronan kekaisaran setelah difitnah membunuh seorang pejabat oleh Menteri Wei Zhong. Padahal, pembunuhan itu dilakukan Wei Zhong untuk melenyapkan bukti korupsi besar miliknya. Menjadi kambing hitam dalam konspirasi politik, Lin Feng melarikan diri melintasi samudra hingga ke jantung Kerajaan Majapahit.
Di tanah Jawa, Lin Feng berusaha menyembunyikan identitasnya di bawah bayang-bayang kejayaan Wilwatikta. Namun, kaki tangan Wei Zhong terus memburunya hingga ke Nusantara. Kini, sang "Pedang Pualam" harus bertarung di negeri asing, memadukan ilmu pedang timur dengan kearifan lokal demi membersihkan namanya dan menuntut keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Aji Brajamusti
Di dalam gubuk yang remang-remang, hanya diterangi oleh sebatang lilin lebah, Lin Feng duduk bersila dengan susah payah. Di hadapannya, Ki Ageng Bang Wetan mendengarkan dengan saksama, sementara Joko duduk di pojok sambil mengunyah ubi rebus, matanya melotot mendengar cerita sang pendekar asing.
Lin Feng mulai bercerita dengan suara yang sesekali terputus oleh rasa nyeri di dadanya. Ia mengisahkan pengkhianatan Kasim Wei Zhong, pembunuhan Menteri Bao yang jujur, hingga bagaimana ia dijadikan kambing hitam atas pencurian dokumen rahasia negara.
"Aku bukan pembunuh!" Lin Feng menggeram, sepasang matanya berkilat penuh amarah layaknya mata pedang yang haus darah. "Wei Zhong... kasim busuk itu telah meracuni seluruh daratan Tiongkok dengan lidah apinya, memaksaku terbuang jauh hingga ke tanah Jawa ini hanya untuk menghindari jerat fitnahnya yang keji."
Ia mengepalkan tinju hingga buku jarinya memutih. "Hanya karena ia menggenggam takhta dari balik bayang-bayang, ia merasa bisa menghapus kehormatanku dan menjadikanku buronan kekaisaran. Di Hutan Tarik ini, setiap tetes darah pasukan Bhayangkara yang tumpah adalah hutang nyawa yang akan kutagih langsung ke leher si Kasim pengkhianat itu. Kekuatan kaki tangannya mungkin nyata, namun dendamku jauh lebih abadi. Di Hutan Tarik, aku terpaksa melawan pasukan Bhayangkara. Dan pemimpin mereka... pria perkasa itu..."
Lin Feng menyentuh dadanya yang dibalut kain. "Pukulannya... aku belum pernah merasakan kekuatan seperti itu. Setiap kali tinjunya mendekat, udara seolah terbakar. Meski aku menggunakan teknik terbaikku, tenaganya berlipat ganda, seolah-olah ia memukul dengan beban seluruh gunung di tanah Jawa ini."
Ki Ageng Bang Wetan mengelus janggut putihnya yang panjang. "Kau beruntung masih bernapas, Anak Muda. Yang kau hadapi itu adalah Aji Brajamusti. Itu adalah puncak dari ilmu kanuragan tanah Jawa yang dimiliki oleh Sang Mahapatih."
Lin Feng mengerutkan dahi, ekspresi heran tampak jelas di wajah tampannya. "Aji Brajamusti? Jurus macam apa itu, Ki Ageng? Di negeriku, kami melatih Qì untuk ketajaman dan kecepatan, tapi kekuatan pria itu... itu terasa seperti bukan sekadar tenaga dalam manusia."
Ki Ageng tersenyum tipis, lalu memberikan penjelasan:
"Brajamusti bukan sekadar teknik memukul. Braja berarti logam atau petir, dan Musti berarti kepalan. Siapa pun yang menguasai ilmu ini, tangannya menjadi sekeras baja dan bobot pukulannya menjadi tidak masuk akal. Sekali hantam, batu karang bisa hancur menjadi debu, dan tulang pendekar paling tangguh pun akan remuk tanpa sisa."
"Tapi bagaimana bisa tenaga manusia menjadi seberat itu?" tanya Lin Feng masih tidak percaya.
"Itu karena ia tidak hanya mengandalkan otot," lanjut Ki Ageng sembari menunjuk ke bumi. "Pemilik Brajamusti menyatukan energi batinnya dengan elemen tanah dan logam. Pukulannya mengandung berat bumi. Itulah mengapa kau merasa seperti dihantam oleh gunung. Jika bukan karena teknik meringankan tubuhmu yang luar biasa, dada dan paru-parumu pasti sudah hancur seketika."
Joko menyahut sambil menelan ubi terakhirnya, "Betul itu, Mas Lin! Patih Gajah Mada itu kalau sudah marah, satu kali pukul bisa bikin gajah roboh! Mas Lin ini sakti sekali bisa selamat."
Lin Feng terdiam, merenungi penjelasan itu. Ia menyadari bahwa di dunia ini, masih banyak kekuatan yang belum ia pahami. Teknik Zhua Tai miliknya memang mematikan karena merusak sendi, tetapi Aji Brajamusti adalah kekuatan penghancur yang brutal dan jujur.
"Aku datang membawa dendam dan fitnah," gumam Lin Feng pelan. "Tapi sepertinya, tanah ini menuntutku untuk belajar lebih dari sekadar bertahan hidup."
Ki Ageng Bang Wetan berdiri, menatap Lin Feng dengan serius. "Jika kau ingin membersihkan namamu dan menghadapi utusan Kasim Wei yang pasti akan datang mencarimu, kau tidak bisa hanya mengandalkan ilmu dari utara. Kau harus belajar cara menetralisir hawa panas Brajamusti dalam tubuhmu, atau kau akan mati perlahan karena luka dalam."