NovelToon NovelToon
Lingkaran Cahaya Yang Terlupakan

Lingkaran Cahaya Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / TKP / Iblis
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

*"Di dalam kedalaman tanah yang menyelimuti kota Manado, ada sebuah ruang bawah tanah yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang telah 'dipanggil'. Lima belas wanita berjubah hitam berdiri melingkari lingkaran cahaya emas yang bersinar seperti darah yang baru saja mengering. Setiap malam, mereka menyanyikan doa yang tak dikenal manusia, memanggil sesuatu yang seharusnya tetap tertidur di dalam kegelapan.

Sevira, seorang dokter muda yang baru saja pindah ke Manado untuk mengobati warga miskin, tidak menyadari bahwa rumah yang dia sewa dulunya adalah bagian dari kompleks gereja kuno itu. Saat dia mulai menemukan jejak-jejak aneh – kain hitam yang tersangkut di pagar, suara nyanyian yang terdengar di malam hari, dan wajah-wajah menyakitkan yang muncul di cermin saat malam hujan – dia terjerumus ke dalam rahasia yang telah menyiksa keluarga keluarganya selama berabad-abad.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PASIEN YANG TIDAK BISA DISEMBUHKAN

Suara tembakan itu masih berdengung di telingaku saat aku berlari keluar dari kamar paling dalam. Lampu-lampu di lorong mulai menyala dengan sendirinya menyala redup lalu padam lagi seperti jendela yang sedang berkedip. Dari arah pintu utama terdengar suara orang berteriak, campuran antara ketakutan dan kemarahan.

Aku mengepak pintu klinik masyarakat tempat aku bekerja hanya lima blok dari rumah itu padahal seharusnya aku mulai kerja jam delapan pagi, tapi sekarang baru jam tiga lebih. Pintu depan terbuka lebar, dan aku melihat salah satu perawat, Ibu Yanti, duduk di lantai dekat meja resepsionis dengan wajah pucat seperti kain kafan.

“Bu Sevira… tolong… dia sudah tidak bisa diatur lagi,” ujarnya dengan suara gemetar, menunjuk ke arah kamar rawat inap kecil di dalam. “Dia terus berteriak tentang ‘mereka’ yang akan datang. Katanya mereka ingin membawanya pergi ke bawah tanah…”

Aku segera mendekatinya dan membantu dia berdiri. Bau keringat dan ketakutan mengelilingi ruangan, dan dari dalam kamar rawat inap terdengar suara nyanyian yang sama dengan yang kudengar di rumahku tadi malam tapi kali ini dinyanyikan dengan suara yang serak dan tidak jelas oleh orang dewasa.

“Saya akan melihatnya, Ibu Yanti. Kamu pulang saja dulu ya? Istirahat sebentar,” kataku sambil mengusap pundaknya dengan lembut. Aku tahu dia sudah bekerja malam penuh dan melihat hal yang tidak bisa dijelaskan pasti membuatnya sangat lelah.

Saat aku membuka pintu kamar rawat inap, sesuatu menyentuh wajahku seperti serutan kapas yang dingin dan lembab. Aku mengangkat tangan dan melihat ada sesuatu yang merah di ujung jariku. Darah. Tapi tidak ada luka di wajahku, dan tidak ada orang yang berdarah di sekitar sini.

 

Di ranjang paling dalam kamar itu, ada seorang wanita berusia sekitar lima puluhan yang terbaring dengan mata terbuka lebar. Rambutnya kusut dan penuh dengan tanah liat merah, padahal dia hanya dirawat karena demam tinggi semalam ini. Tangannya menggenggam seprai dengan kuat, dan di dahinya ada pola lingkaran yang sama seperti yang kudengar di kain hitam dan di lubang rumahku tapi kali ini dibuat dengan darah yang masih basah.

“Bu Siti?” tanyaku dengan hati-hati, mendekati ranjangnya. Aku mengenalnya dia adalah ibu dari tiga anak yang selalu datang ke klinik untuk berobat karena sakit perut atau flu. Suatu orang yang baik dan selalu tersenyum meskipun hidupnya sangat sulit.

Dia tidak menjawab, tapi matanya tetap terpaku pada langit-langit. Mulutnya terus bergerak menyanyi, nada yang sama seperti yang kudengar di malam hari. Aku mencoba menyentuh dahinya untuk memeriksa suhunya, tapi tanganku langsung terlempar ke belakang seolah ada kekuatan yang menolaknya.

“Jangan menyentuhnya, dokter,” suara dari belakang membuatku terkejut. Aku berbalik dan melihat seorang pria berjas hitam yang sedang berdiri di pintu kamar. Wajahnya tampak tegas tapi mata nya menunjukkan rasa khawatir yang dalam. “Nama saya Hasan Kapten Kepolisian. Kami sedang menyelidiki kasus hilangnya orang di daerah ini, dan nama Bu Siti sudah masuk dalam daftar yang perlu kami pantau.”

Aku mengangguk perlahan, masih melihat ke arah Bu Siti yang terus menyanyi. “Apa yang terjadi padanya, Pak Hasan? Semalam dia hanya demam tinggi, tapi sekarang…”

“Dia bukan yang pertama,” katanya mendekat ke ranjang. “Sudah tiga orang dalam seminggu yang mengalami hal yang sama. Semua ditemukan dengan simbol lingkaran di dahinya, dan semua terus menyanyi lagu yang sama sebelum menghilang tanpa jejak.”

Saat dia berbicara, aku merasakan getaran dari kain hitam yang masih kubawa di dalam kantong baju. Aku menariknya perlahan dan melihat pola di atasnya mulai bersinar dengan cahaya emas yang samar sama seperti pola di dahi Bu Siti.

Bu Siti tiba-tiba berhenti menyanyi dan memalingkan wajahnya ke arahku. Matanya yang dulunya lembut kini penuh dengan warna hitam pekat, tanpa ada putih sama sekali. “Mereka sudah datang untukmu juga, dokter,” katanya dengan suara yang tidak seperti miliknya sendiri. “Kamu yang mereka cari. Kamu adalah satu-satunya yang bisa membuka pintunya…”

Aku merasa pusing dan melihat kilas balik lagi kali ini aku melihat Bu Siti sedang berdiri di halaman rumahku kemarin malam, bersama dengan kelompok wanita berjubah hitam. Mereka sedang mengelilingi lubang di tanah, dan Bu Siti adalah salah satu yang membawa ember berisi darah untuk ritual.

“Kenapa kamu melakukan itu?” bisikku tanpa sadar.

“Karena kita tidak punya pilihan,” jawab Bu Siti dengan suara normal lagi, tapi matanya masih hitam pekat. “Jika kita tidak melakukan ritualnya, mereka akan keluar dan membunuh semua orang yang kita cintai. Lebih baik kita mengorbankan diri sendiri daripada melihat mereka menderita…”

Suara gemuruh datang dari bawah tanah, seperti gempa kecil yang membuat lantai bergetar. Kapten Hasan segera mengambil radio yang ada di pinggangnya dan berbicara dengan cepat dalam bahasa yang tidak aku mengerti. Aku melihat Bu Siti mulai merentangkan tangannya ke arah langit-langit, dan tubuhnya mulai mengapung perlahan dari ranjang – seolah ada tangan-tangan tak terlihat yang sedang mengangkatnya.

 

“Kamu harus pergi dari sini sekarang, dokter!” teriak Kapten Hasan, mencoba menarik tanganku. “Ini sangat berbahaya!”

Tapi aku tidak bisa bergerak. Mataku terpaku pada Bu Siti yang sedang mengapung di udara, dan aku bisa melihat wajah-wajah lain yang muncul di baliknya wajah-wajah orang yang sudah hilang, semua dengan mata hitam pekat dan tersenyum dengan bibir yang penuh darah.

“Kamu harus datang dengan kami, Sevira,” ujar Bu Siti, suara nya terdengar seperti banyak orang yang berbicara sekaligus. “Kamu adalah penerusnya. Kamu adalah satu-satunya yang bisa menyelesaikan semuanya…”

Sebelum aku bisa merespons, ada kilatan cahaya emas yang terang dari simbol di dahinya. Cahaya itu menyelimuti seluruh kamar, dan ketika cahaya itu hilang, Bu Siti sudah tidak ada di ranjang lagi. Hanya ada sehelai kain hitam yang baru saja dilepas dari tubuhnya, dan di atasnya tertulis dengan darah: “Rumahmu adalah pintunya. Malam depan mereka akan membukanya.”

Kapten Hasan mengecek ranjang dan sekitarnya dengan cepat, tapi tidak menemukan jejak apapun dari Bu Siti. “Dia benar-benar hilang,” bisiknya dengan suara penuh kekaguman dan ketakutan. “Sama seperti yang lain.”

Aku mengambil kain hitam baru itu dan menyatukannya dengan yang kubawa dari rumahku. Saat kedua kain itu bersentuhan, mereka menyatu menjadi satu kain yang lebih besar, dengan pola lingkaran yang semakin jelas dan lengkap. Di tengah pola itu, aku bisa membaca tulisan yang kecil tapi jelas: “Sri Maharani Pendiri.”

Itu adalah nama ibu ku.

Kapten Hasan melihat kain itu dengan wajah yang semakin serius. “Kamu tahu apa ini artinya, dokter?”

Aku menggelengkan kepala, tapi hati aku sudah tahu jawabannya. Aku mengambil dompetku dan menunjukkan foto kecil aku bersama ibu ku saat aku masih kecil. Di latar belakang foto itu, ada rumahku yang baru aku sewa dan di teras belakangnya, kelompok wanita berjubah hitam sedang berdiri melingkari lingkaran yang sama seperti yang kudengar sekarang.

“Rumah itu adalah milik keluarga saya, Pak Hasan,” bisikku dengan suara yang lemah. “Dan sepertinya saya sudah terlibat dalam ini jauh sebelum saya lahir.”

Saat kita keluar dari klinik, aku melihat ke arah rumahku yang terletak di kejauhan. Cahaya emas sedang menyala terang dari kamar paling dalamnya seolah pintu yang sudah lama terkunci akan segera terbuka. Dan aku bisa mendengar suara mereka lagi ratusan suara yang sedang menyanyi bersama, menunggu kedatangan mereka yang akan membuka pintu itu.

Malam depan akan menjadi malam yang menentukan.

1
grandi
bau yang gak enak
grandi
cepat
grandi
aku suka tentang sejarah 👍
grandi
hujan 👍
Dewi Kartika
mantap thor
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!