Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.
Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.
Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.
Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Don Marco De Luca
Subuh belum benar-benar datang ketika mereka akhirnya berhenti.
Desa itu masih gelap, hanya lampu rumah Pak Raka yang menyala redup seperti tanda bahwa malam belum sepenuhnya pergi. Ayam belum berkokok. Jalan tanah basah oleh embun.
Mika menutup pintu perlahan. Nafasnya masih belum kembali normal, tapi langkahnya sudah lebih tenang.
Pak Raka duduk di bangku kayu dekat dinding, punggungnya menempel, mata terpejam sesaat. Kakinya gemetar kecil, bukan ketakutan, lebih kelelahan yang baru diizinkan muncul setelah tubuh yakin ia masih hidup.
Mika berdiri di depannya. Tangannya kotor jelaga. Bajunya berbau asap.
“Ayah,” katanya pelan, seperti takut suara itu memecahkan sesuatu.
“Kita selamat. Kita bisa pulang.”
Pak Raka membuka mata. Tidak langsung menatap Mika
“Jangan merasa senang dulu,” katanya.
Mika menelan ludah. “Mereka sudah jauh.”
Pak Raka menggeleng pelan. “Orang seperti Levis tidak mengejar untuk menangkap saja. Mereka mengejar untuk memastikan.”
Ia mengangkat wajahnya. Tatapannya tajam, sadar, terlalu tenang untuk orang yang baru lolos dari maut.
“Kita lolos karena mereka membiarkan.”
Kalimat itu menggantung di udara, lebih berat dari kejaran tadi malam.
Mika duduk perlahan di lantai, bersandar pada dinding yang sama. Untuk pertama kalinya sejak api itu menyala, tangannya gemetar.
“Berarti… ini belum selesai?”
Pak Raka tidak menjawab langsung. Ia hanya berdiri, berjalan pincang ke pintu, lalu membukanya sedikit. Angin desa masuk, membawa bau tanah dan pagi yang pura-pura damai.
“Tidak,” katanya akhirnya. “Ini baru dipindahkan.”
Di kejauhan, desa masih tenang. Tidak ada sirene. Tidak ada teriakan. Tidak ada tanda bahaya.
Dan justru itulah yang membuat Pak Raka menutup pintu kembali, rapat.
.
Di kota.
Rumah itu tidak berubah. Pilar-pilar tinggi, lampu kuning yang terlalu teratur, aroma kayu tua dan asap cerutu yang selalu sama. Tempat ini tidak menyambut. Ia hanya mengenali siapa yang masuk.
Beberapa wajah lama berdiri di serambi. Tidak ada pelukan. Tidak ada ucapan selamat datang. Hanya tatapan yang menilai apakah cerita tentang kematiannya benar-benar bohong.
Seseorang berbisik pelan, terlalu pelan untuk disebut sapaan.
“Dia kembali.”
"Kembali untuk memimpin atau disuruh."
Jovan melangkah masuk. Setiap langkahnya seperti dicatat. Bukan oleh kamera, tapi oleh ingatan orang-orang yang pernah berdiri di sisinya, lalu memilih sisi lain.
Di ruang utama, Don Marco belum muncul. Itu disengaja.
Levis berjalan setengah langkah di belakangnya. Posisi yang tampak sopan. Aman. Tapi Jovan tahu sebagai jarak itu bukan untuk hormat, melainkan untuk memastikan siapa yang lebih dulu ditembak jika keadaan berubah.
Seorang pelayan tua menyodorkan segelas air. Tangan pria itu sedikit bergetar. "Tuan Jovan, selamat datang."
Jovan hanya mengangguk dan tidak mengambilnya juga tidak diminum.
Ia melihat sekeliling. Dinding penuh foto lama. Wajah-wajah yang sudah mati, menghilang, atau berkhianat. Di salah satu sudut, ada ruang kosong itu bekas bingkai yang pernah dilepas. Tempat itu dulu miliknya.
Langkah kaki terdengar dari dalam.
Don Marco akhirnya keluar, berdiri di ambang pintu ruang kerja. Tidak mendekat. Tidak juga menyebut nama Jovan.
Hanya satu kalimat, datar, seolah membicarakan cuaca.
“Aku dengar kau jatuh… dan tidak mati.”
Jovan mengangguk kecil. “Ya. Paman Marco.”
Keheningan turun. Berat. Penuh hitungan.
Di saat itu, Jovan mengerti satu hal sederhana, Ia tidak dipanggil pulang untuk dirangkul. Ia dipanggil pulang untuk diuji ulang.
Dan di balik bahunya, Levis tersenyum tipis, sebagai senyum orang yang yakin permainan baru saja dimulai.
Don Marco tidak mempersilakan Jovan duduk. Itu juga ujian.
Ia berdiri di depan meja besar dari kayu gelap, kedua tangannya bertumpu di tepi, tubuhnya sedikit condong ke depan seperti posisi orang yang terbiasa memberi perintah, bukan menerima penjelasan.
“Ada pengiriman senjata,” kata Don Marco akhirnya. “Bukan kecil.”
Ia menggeser map cokelat ke tengah meja. Tidak dilempar. Tidak didorong kasar. Cukup digeser, seolah benda itu punya bobot yang harus dihormati.
“Sindikat luar. Masuk lewat pelabuhan timur. Mereka pikir wilayah kita longgar karena kita sibuk beres-beres internal.”
Don Marco menatap Jovan lurus. “Mereka salah.”
Jovan membuka map itu. Foto-foto satelit. Jadwal. Nama sandi. Jalur darat dan laut. Semua tersusun rapi dan terlalu rapi untuk misi yang bisa diserahkan ke siapa saja.
“Kenapa aku?” tanya Jovan.
Don Marco tidak menjawab langsung. Ia menoleh sedikit, ke arah Levis yang berdiri tenang di sisi ruangan, wajahnya bersih, nyaris sopan.
“Karena orang-orang ini,” Don Marco kembali menatap Jovan, “pernah mendengar namamu. Mereka akan gugup. Mereka akan membuat kesalahan.”
Levis tersenyum kecil. “Dan karena Jovan paling tahu cara membuat orang merasa aman… sebelum semuanya runtuh.”
Jovan menutup map itu. “Targetnya?”
“Gudang transit,” jawab Don Marco. “Malam. Tidak ada saksi. Tidak ada sisa.”
Jovan mengangguk pelan. Ia sudah membaca semuanya.
“Aku ikut,” kata Levis tiba-tiba.
Keheningan singkat. Don Marco tidak langsung menolak.
“Sebagai apa?” tanyanya.
“Sebagai pengawas,” jawab Levis cepat. “Aku ingin belajar langsung. Dan… memastikan tidak ada kesalahan.”
Jovan tidak menoleh. Tapi ia tahu bahwa itu bukan permintaan. Itu perang yang dibungkus ambisi.
Don Marco mempertimbangkan beberapa detik. Lalu mengangguk. “Baik. Kalian berdua.”
Levis menoleh ke Jovan, tatapannya singkat, penuh arti. “Kita kerja sama lagi,” katanya. “Seperti dulu.”
Jovan akhirnya menatapnya. “Tidak ada yang seperti dulu.”
Levis tersenyum. “Kita lihat saja.”
.
Ruang persiapan berada di bawah rumah tua itu, tanpa jendela, tanpa jam. Waktu tidak penting di tempat seperti ini. Yang penting hanya urutan.
Jovan berdiri di depan meja besi panjang. Di atasnya, senjata tersusun rapi, bersih, terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Pistol, magasin cadangan, pisau pendek dengan gagang yang sudah aus di bagian ibu jari. Senjata yang ia kenal. Senjata yang pernah ia simpan, lalu ia tinggalkan.
Ia menatapnya tanpa menyentuh.
Seorang anak buah Don Marco berdiri di sudut ruangan, menunggu isyarat yang tidak kunjung datang. Akhirnya ia melangkah mundur, memberi ruang.
Jovan meraih pistol pertama. Beratnya masih sama. Dingin di telapak tangan. Ia memeriksa magasin, menggeser pengaman, lalu meletakkannya kembali—bukan karena ragu, tapi karena ingatan bekerja terlalu cepat.
Ia berpakaian sederhana. Jaket gelap tanpa tanda, kaus hitam, celana yang memudahkan bergerak. Tidak ada jas. Tidak ada simbol. Malam ini bukan tentang menunjukkan siapa dia. Malam ini tentang menyelesaikan sesuatu.
Levis masuk tanpa suara. Berdiri di belakangnya. “Kau masih ingat jalurnya,” kata Levis santai.
“Aku tidak pernah lupa,” jawab Jovan.
Levis mengambil satu senjata, menimbangnya sebentar. “Don Marco hanya percaya padamu.”
Jovan akhirnya menoleh. “Dan kau?”
Levis tersenyum kecil. “Aku belajar percaya pada hasil.”
Tidak ada jabatan tangan. Tidak ada janji. Yang ada hanya kesepakatan tanpa kata: tugas ini harus berhasil. Apa pun yang terjadi setelahnya, itu urusan lain.
Jovan memasukkan pistol ke dalam sarung. Mengencangkan jaketnya sekali. Satu tarikan napas, bukan untuk menenangkan diri, tapi untuk memastikan tubuhnya siap.
Di luar, suara mesin mobil mulai menyala satu per satu.
Jovan melangkah keluar lebih dulu.
Saat pintu besi menutup di belakangnya, ia tahu satu hal dengan pasti, malam ini bukan sekadar operasi. Ini adalah ujian, bukan dari Don Marco,
bukan dari musuh, melainkan dari Levis, yang berdiri terlalu dekat untuk disebut sekutu.
Malam itu, iring-iringan mobil bergerak keluar kota.
Lampu-lampu jalan berganti gelap. Bau laut mulai terasa. Gudang-gudang tua berdiri seperti bangkai besi di tepi pelabuhan.
Jovan duduk di kursi belakang, senjata sudah di tangannya. Bahunya masih menyimpan sisa nyeri lama, bukan dari peluru, tapi dari pengkhianatan yang belum selesai.
Di depan, Levis memberi instruksi singkat. Terlalu singkat. Terlalu percaya diri.
Jovan mencatatnya. Cara Levis memilih jalur. Cara ia menempatkan orang. Cara ia sengaja mengambil risiko kecil yang terlihat berani, padahal berisik.
Ini bukan soal misi. Ini soal siapa yang terlihat lebih layak di mata Don Marco.
Saat mobil berhenti, suara laut terdengar jelas.
Jovan turun lebih dulu. Udara asin menyentuh wajahnya.
Ia tahu satu hal pasti malam ini, Jika misi ini berhasil, Levis akan berdiri di samping namanya. Jika misi ini gagal, Levis ingin namanya berdiri di atas namanya.
Dan di tempat lain, jauh dari gudang dan senjata, sebuah desa kecil sedang bernapas kembali— tanpa tahu bahwa satu keputusan malam ini akan menentukan apakah ketenangan itu sementara… atau berakhir berdarah.