Judul: White Dream With You
Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Menenun Kembali Serat yang Terputus
Matahari baru saja beranjak dari peraduannya ketika aku berdiri di ambang pintu kamar Ibu. Cahaya pagi yang lembut menerobos melalui celah gorden, menyinari debu-debu halus yang menari di udara. Ruangan ini sekarang terasa jauh lebih luas, mungkin karena mesin jahit tua yang selama sepuluh tahun menjadi pusat gravitasi kegelapan di rumah ini sudah tidak ada lagi. Kami telah memindahkannya ke gudang paling belakang, menutupinya dengan kain terpal tebal, dan berjanji untuk tidak pernah menyentuhnya lagi.
Aku memperhatikan Ibu yang sedang duduk di tepi tempat tidur. Tangannya, yang dulu selalu bergerak kaku seperti digerakkan oleh benang-benang tak kasat mata, kini terlipat tenang di atas pangkuannya. Namun, tatapannya masih sering tertambat pada sudut ruangan yang kosong, tempat mesin jahit itu dulu berada. Ada kerutan kesedihan yang mendalam di keningnya, sebuah beban rahasia yang tidak bisa hilang hanya dengan satu malam kemenangan.
"Ibu," panggilku lembut.
Ibu menoleh, dan untuk sesaat, aku melihat kilatan ketakutan di matanya sebelum akhirnya melunak saat menyadari bahwa itu adalah aku. "Vema... sudah siap berangkat sekolah, Nak?"
Aku berjalan mendekat dan duduk di sampingnya. Aku bisa mencium aroma minyak kayu putih dan sabun mawar yang samar dari tubuhnya—aroma yang jauh lebih baik daripada bau kemenyan dan kain tua yang dulu selalu melekat padanya. Aku meraih tangannya, merasakan tekstur kulitnya yang kasar namun kini terasa nyata, tanpa getaran mistis yang mengerikan.
"Hari ini Vema masuk agak siang, Bu. Ada jam kosong," dustaku sedikit agar bisa menemaninya lebih lama. "Ibu merasa lebih baik hari ini?"
Ibu menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan daun kering. "Ibu merasa... kosong, Vem. Selama sepuluh tahun, kepala Ibu penuh dengan suara mesin dan pesanan-pesanan yang mengerikan. Sekarang, setelah semuanya diam, Ibu justru bingung bagaimana caranya mengisi kesunyian ini tanpa rasa bersalah yang mencekik."
Aku baru saja hendak menjawab ketika terdengar suara langkah kaki yang mantap dari arah kamar. Pintu kamar terbuka, dan sosok Bapak muncul dengan senyum yang sudah lama tidak kulihat—sebuah senyum yang jujur tanpa beban yang disembunyikan. Bapak mengenakan kemeja rapi, sesuatu yang jarang ia lakukan di pagi hari kecuali ada acara penting.
"Bagaimana kalau kita isi kesunyian itu dengan suara deburan ombak?" ajak Bapak.
Aku dan Ibu menoleh secara bersamaan. Bapak berjalan mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Ibu dengan penuh kasih sayang. Selama masa-masa kutukan itu, Bapak seringkali tampak seperti bayangan di rumah ini—bekerja keras untuk menafkahi kami namun tidak berdaya melawan kekuatan gelap yang mengikat Ibu. Kini, ia seolah mendapatkan kembali perannya sebagai pemimpin keluarga.
"Bapak... apa maksudmu?" tanya Ibu dengan suara yang agak gemetar.
"Aku sudah meminta izin libur dari kantor hari ini. Kita akan pergi ke pantai Kenjeran, atau mungkin berjalan-jalan di taman kota. Kita butuh udara segar, kita butuh melihat warna selain hitam dan merah," ucap Bapak dengan nada yang tidak menerima penolakan, namun sangat lembut.
Ibu tampak ragu. Ia merapikan daster yang dikenakannya dengan gerakan gelisah. "Tapi... penampilanku... aku merasa belum siap bertemu banyak orang, Pak. Bagaimana jika mereka melihat jejak-jejak itu di wajahku?"
Bapak berlutut di depan Ibu, menggenggam kedua tangannya. "Satu-satunya yang kulihat di wajahmu adalah istriku yang sudah kembali. Tidak ada orang lain yang tahu apa yang terjadi, dan mereka tidak perlu tahu. Hari ini hanya tentang kita bertiga. Tentang memulai kembali apa yang sempat terhenti sepuluh tahun lalu."
Aku melihat setetes air mata jatuh dari sudut mata Ibu. Ia menatapku, mencari dukungan. Aku mengangguk pelan, memberikan senyuman
penyemangat yang paling tulus yang bisa kuberikan.
"Ayo, Bu. Vema juga ingin melihat Ibu memakai baju yang berwarna cerah," bisikku.
Satu jam kemudian, kami sudah berada di dalam mobil tua Bapak yang aromanya khas—perpaduan antara pengharum mobil jeruk dan buku-buku lama. Ibu duduk di kursi depan di samping Bapak, mengenakan gamis berwarna biru muda yang selama ini hanya tersimpan di dasar lemari.
Meskipun ia masih tampak agak kaku dan sesekali meremas tangannya sendiri, aku bisa melihat sedikit binar kehidupan di matanya saat ia menatap pemandangan kota Surabaya yang berlalu di balik jendela.
Kami tidak pergi ke tempat yang mewah. Bapak membawa kami ke sebuah taman di tepian laut yang cukup tenang. Udara di sini terasa asin dan segar, sangat kontras dengan suasana rumah kami yang selama ini pengap.
Kami berjalan perlahan di sepanjang jalan setapak. Bapak menggandeng tangan Ibu dengan sangat erat, seolah-olah takut Ibu akan menghilang jika ia melepaskannya. Aku berjalan sedikit di belakang mereka, memberikan ruang bagi kedua orang tuaku untuk melakukan rekonsiliasi yang sangat mereka butuhkan.
"Lihat itu, Bu," Bapak menunjuk ke arah
perahu-perahu nelayan yang sedang bersandar. "Dulu kita pernah berjanji ingin mengajak Vema naik perahu saat dia masih kecil, tapi kita tidak pernah sempat melakukannya."
Ibu menunduk, suaranya terdengar sangat parau. "Maafkan aku, Pak. Aku telah menghabiskan sepuluh tahun hidup kita untuk melayani kegelapan itu. Aku telah mengabaikanmu, mengabaikan Vema... hanya untuk menyelamatkan kalian dengan cara yang salah."
Bapak berhenti berjalan dan memutar tubuh Ibu agar menghadapnya. Di bawah naungan pohon peneduh, Bapak menangkup wajah Ibu dengan kedua tangannya.
"Dengarkan aku," ucap Bapak dengan suara yang dalam dan stabil. "Kesalahan itu bukan milikmu sendiri. Kita semua terjebak. Tapi hari ini, aku tidak ingin membicarakan tentang tas hitam, tentang Pak Haryo, atau tentang benang-benang itu lagi. Aku ingin membicarakan tentang kita yang masih memiliki kesempatan. Aku mencintaimu bukan karena kamu sempurna, tapi karena kamu adalah bagian dari jiwaku yang hilang."
Ibu tangisnya pecah, namun kali ini bukan tangis ketakutan, melainkan tangis kelegaan. Ia menyandarkan kepalanya di dada Bapak, melepaskan segala sisa-sisa stres dan trauma yang selama ini ia kunci rapat-rapat. Aku berdiri beberapa langkah di sana, merasakan mataku sendiri mulai membasah.
Melihat mereka seperti itu, aku menyadari bahwa luka batin memang tidak bisa sembuh dengan cepat, namun cinta yang tulus adalah obat bius yang paling ampuh. Aku teringat pada Sarendra. Aku teringat bagaimana dia selalu menekankan tentang kejujuran dan keberanian untuk menghadapi kenyataan. Apa yang dilakukan Bapak saat ini adalah bentuk kejujuran yang paling murni; mengakui luka, namun memilih untuk tetap melangkah.
Siang harinya, kami duduk di sebuah warung makan di pinggir pantai. Kami memesan ikan bakar dan es kelapa muda. Suasana sangat cair. Bapak terus bercerita tentang hal-hal lucu di kantornya, mencoba membuat Ibu tertawa. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku mendengar suara tawa Ibu—sebuah suara yang jernih dan manis, seperti denting lonceng yang sudah lama hilang dari rumah kami.
Ibu mulai berani memperhatikan sekitar. Ia melihat anak-anak kecil yang berlarian dengan layang-layang, melihat pasangan muda yang berswafoto, dan ia tampak mulai menyadari bahwa dunia masih terus berputar dengan indah meskipun ia sempat merasa dunianya berhenti.
"Vema," panggil Ibu di sela-sela makan kami.
"Iya, Bu?"
"Tadi pagi, saat Sarendra datang menjemputmu di sekolah atau di rumah, sampaikan terima kasih Ibu padanya ya. Anak itu... dia memiliki sorot mata yang sangat teguh. Sama seperti Bapakmu saat masih muda."
Aku tersenyum, pipiku terasa sedikit hangat. "Iya, Bu. Nanti Vema sampaikan."
"Ibu juga ingin suatu saat nanti Sarendra main ke rumah lagi," lanjut Ibu, kali ini dengan nada yang lebih tenang. "Ibu ingin memasakkan sesuatu untuknya sebagai tanda terima kasih karena telah menjagamu dan membantu kita mengakhiri semua ini."
Bapak tertawa kecil sambil menggoda. "Wah, sepertinya Sarendra sudah mendapat restu besar dari Ibu ya?"
"Bapak!" aku memprotes dengan wajah memerah, sementara Ibu hanya tersenyum tipis—sebuah pemandangan yang membuat hatiku terasa sangat penuh.
Sore harinya, saat kami kembali ke rumah, suasana yang tadinya terasa hampa kini mulai terisi oleh energi yang positif. Ibu tampak jauh lebih rileks. Ia tidak lagi duduk mematung, melainkan mulai bergerak membereskan pot-pot bunga di teras rumah yang selama ini terbengkalai.
Bapak membantunya, sambil sesekali bercanda dan menyiramkan sedikit air ke arah Ibu, membuat Ibu membalasnya dengan tawa. Aku memperhatikan mereka dari balik jendela ruang tamu, merasa sangat bersyukur.
Namun, di sudut hati yang paling dalam, aku tahu bahwa ini hanyalah awal dari perjalanan panjang. Rasa khawatir itu masih ada—kekhawatiran jika suatu saat bayang-bayang Pak Haryo kembali muncul dalam mimpi, atau jika trauma Ibu kambuh saat melihat jarum jahit. Tapi melihat bagaimana Bapak mendampingi Ibu hari ini, aku yakin bahwa kami tidak akan pernah lagi menghadapi kegelapan itu sendirian.
Aku mengambil ponselku dan mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Sarendra.
'Dra, hari ini aku menghabiskan waktu dengan Bapak dan Ibu. Semuanya berjalan sangat baik. Ibu sudah bisa tertawa lagi. Terima kasih sudah menguatkanku untuk tetap berada di samping mereka. Sampai jumpa besok di sekolah.'
Tak lama kemudian, sebuah balasan masuk.
'Aku senang mendengarnya, Vem. Sampaikan salamku untuk Bapak dan Ibu. Beristirahatlah yang cukup. Kamu hebat hari ini.'
Aku tersenyum menatap layar ponselku. Hari ini bukan hanya tentang memperbaiki hubungan orang tuaku, tapi juga tentang memperbaiki diriku sendiri. Aku belajar bahwa pemaafan adalah sebuah proses, dan pemulihan adalah sebuah pilihan yang harus diambil setiap hari.
Malam itu, saat aku berbaring di tempat tidur, aku tidak lagi merasa takut pada kegelapan di sudut kamar. Aku menatap langit-langit, membayangkan masa depan yang kini terasa jauh lebih nyata dan terjangkau. Tidak ada lagi benang merah mistis yang mengikatku, namun aku merasakan sebuah ikatan yang jauh lebih kuat—ikatan cinta keluarga yang telah teruji oleh api penderitaan dan keluar sebagai pemenang.
SMK Pamasta mungkin memiliki sejarah yang kelam, namun hidupku kini memiliki bab baru yang terang. Dan aku akan menjaganya dengan seluruh kekuatanku.
ada apa dgn vema
lanjuuut...