Seminggu menjelang hari bahagianya, dunia Jamila runtuh seketika. Di sebuah gubuk tua di tepi sawah, ia menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: Arjuna tunangannya, justru bermesraan dengan Salina, sepupu Laila sendiri. Sebagai gadis yatim piatu yang terbiasa hidup prihatin bersama kakaknya, Jamal, serta sang kakek-nenek, Engkong Abdul Malik dan Nyai Umi Yati, Mila memilih tidak tenggelam dalam tangis.
Jamila mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja lebih keras. Dengan kulit hitam manisnya yang eksotis dan kepribadian yang pantang menyerah, ia mencari nafkah melalui cara yang tak lazim: live streaming di TikTok. Bukan sekadar menyapa penonton, Jamila melakukan aksi nekat memanjat berbagai pohon mulai dari jambu hingga durian sambil bercengkerama dengan para followers nya
Awalnya hanya kagum pada keberanian Laila, Daren, pemuda tampan dari Eropa perlahan jatuh cinta pada ketulusan Jamila, dan berniat melamarnya, apakah Jamila menerima atau tidak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indira MR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18. Daren Ditolak
Udara kota Munich di bulan November terasa menusuk tulang, jauh berbeda dengan semilir angin Sukamaju yang membawa aroma tanah basah. Di sebuah apartemen penthouse mewah yang menghadap langsung ke Frauenkirche,
Daren berdiri mematung di balkon. Jiwanya tertinggal di gubuk kayu milik Engkong Malik.
Tangannya yang biasa memegang kemudi traktor kini memegang ponsel pintar terbaru. Dengan jempol gemetar, ia menekan nomor Jamila.
"Halo, Jamila?" suara Daren serak, teredam angin Eropa.
"Halo, Daren? Sudah sampai?" Suara Jamila terdengar jernih, namun datar.
"Sudah, Mil. Di sini dingin banget. I miss you so much. Aku kangen kamu, kangen Engkong, kangen teh manis buatanmu. Kamu... do you miss me too?"
Hening sejenak. Hanya terdengar suara jangkrik dari kejauhan Sukamaju.
"Daren," Jamila akhirnya bersuara.
"Aku rindu, tapi sebatas sahabat. Kamu punya proyek besar di Munich, ada Sakura yang setara denganmu. Focus on your job, Daren."
"Tapi aku nggak peduli soal itu, Mil! Aku bisa balik ke sana!"
"Nggak perlu. Aku nggak akan pilih kamu, Harun Dubai, atau Koko Sen. Kalian cuma teman biasa. Engkong sudah mau cariin aku jodoh orang kampung sini saja. Goodbye, Daren."
Klik. Sambungan terputus.
Daren menatap layar ponselnya yang gelap. Kalimat jodoh orang kampung terus terngiang. Ia menyeret Jerry ke sebuah klub malam eksklusif.
Di pojok VIP, Daren menenggak wiski gelas demi gelas.
"Sudahlah, Dar... enough," Jerry mencoba merebut botol itu.
"Besok ada rapat integrasi sistem. Jangan hancur cuma karena patah hati."
Daren tertawa getir, matanya merah.
"Karier? Buat apa kalau Jamila bilang aku cuma sebatas teman? I’m nothing to her, Jer!"
Daren menyandarkan kepala ke sofa kulit yang dingin. Dunianya berputar. Dalam mabuknya, ia mulai meracau habis-habisan bucin yang kehilangan arah.
"Mila... I love you... kamu jahat banget," gumamnya dengan lidah kelu.
"Kenapa kamu jutek banget sih? Why are you so mean to me? Tapi aku suka... aku cuma suka kamu, Mil. Biarpun kamu galak, biarpun kamu bau lumpur... I only want you, Jamila!"
Jerry hanya bisa menghela napas, sementara Sakura memperhatikan dari jauh dengan tatapan penuh kemenangan.
Daren pun berdiri dengan sempoyongan, menatap foto Jamila di ponselnya.
"Kamu pikir aku bakal nyerah? Wait for me, Jamila. Biarpun Engkong cariin jodoh, aku bakal beli seluruh sawah di Sukamaju kalau perlu!"
Keesokan harinya, meskipun kepalanya masih terasa seperti dihantam palu akibat mabuk semalam, Daren tetaplah seorang visioner yang keras kepala. Patah hati justru membuatnya semakin bucin yang ugal-ugalan.
Di kantor pusat Munich, bukannya memeriksa cetak biru proyek, ia malah sibuk menelepon kurir ekspedisi internasional.
"Jerry! Cari toko perhiasan paling mahal di kota ini. Dan kirimkan drone pertanian tercanggih ke alamat Jamila di Sukamaju!" perintah Daren dengan mata sembab.
"Ren, are you crazy? Sukamaju itu sinyalnya saja susah, mau kamu kirimin high-tech drone?" protes Jerry.
"I don't care! Aku mau dia tahu kalau, Aku mau Mila tahu kalau aku serius. Tell them to pack it with a bunch of edelweiss flowers!"
Seminggu kemudian, ketenangan Sukamaju kembali terusik. Sebuah truk kargo besar berwarna putih bersih merayap pelan di jalanan tanah, berhenti tepat di depan rumah Engkong Malik.
Harun Dubai, yang sedang asyik memamerkan jam tangan KW-nya kepada warga, langsung melompat kaget.
"Waduh! Apalagi ini? Apa si Bule itu kirim tank tempur?" seru Harun panik.Kurir berseragam rapi turun dan membawakan sebuah kotak besar berbungkus beludru biru dengan pita perak.
Jamila keluar dengan daster bunga-bunganya, tangannya masih belepotan tepung karena sedang membuat bakwan.
"Dari siapa ini, Mas?" tanya Jamila heran.
"Dari Tuan Daren di Jerman, Mbak. Ada suratnya juga," jawab kurir itu sopan.
Jamila membuka amplop yang sangat wangi itu. Isinya tulisan tangan Daren dalam bahasa campuran yang kacau:
Dear Jamila,
my beautiful sunshine...
Aku tahu kamu bilang kita cuma teman. But I can't accept that. I'm literally dying here without you. Aku kirimkan Drone ini supaya kamu nggak capek lagi nyemprot pupuk di sawah.
And there's a diamond necklace in the box it reminds me of your eyes. Please wear it. I will come back for you, I promise. I'm so bucin for you, Mil!
Jangan terima lamaran siapapun sebelum aku balik!"
Sincerely
Daren
Belum sempat Jamila bereaksi, Engkong Malik merebut surat itu. Ia membacanya dengan kacamata kuda yang melorot ke hidung.Apa-apaan ini?! kalung berlian? Drone?" Engkong berteriak sampai sarungnya hampir lepas.
"Dia pikir cucu Engkong bisa dibeli pakai remot kontrol terbang? Jamila itu butuhnya suami yang bisa mimpin sholat, bukan yang hanya bisa kirim barang !"
Engkong Malik langsung mengambil sapu lidi.
"Mas Kurir! Bawa balik ini semua! Bilang sama si Bule itu, kalau mau lamar Jamila, bawa mahar yang masuk akal.
Beberapa hari kemudian, Daren menerima notifikasi bahwa paketnya
"Reject by Recipient".
Ia terduduk lesu di kursi kerjanya yang seharga ribuan Euro.
"Reject? Again?" gumam Daren lemas.
Sakura masuk ke ruangan dengan senyum tipis.
"Sudah kubilang, Daren. Your world is here. Gadis itu nggak butuh kalung berlianmu, dia butuh orang yang ada di sana setiap hari. Stop being so pathetic."
Daren menatap Sakura, lalu kembali menatap layar ponselnya. Bukannya menyerah, sifat keras kepalanya malah makin menjadi. "Jer! Siapkan jet pribadi. Kita ke Sukamaju akhir bulan ini. Aku nggak peduli soal proyek Munich!"
Di bandara internasional Munich, sebuah jet pribadi sudah siap di landasan pacu. Jerry tampak pucat, ia membawa tas punggung dengan terburu-buru.
"Ren, this is insane! Kita kabur di tengah krisis proyek? Sakura bakal meledak kalau tahu kita nggak ada di kantor pagi ini!"
Jerry panik sambil mengecek tabletnya.
Daren mengenakan kacamata hitam, gayanya sangat cool tapi hatinya ambyar.
"Biarin Sakura marah, Jer. I don’t care about the Munich project anymore. Kalau aku kehilangan Jamila, buat apa aku punya gedung tinggi di sini? I’m going to win her back, with or without Engkong’s permission!"
Tiba-tiba, suara langkah sepatu hak tinggi bergema di lorong bandara. Sakura datang dengan wajah merah padam.
"Daren! Are you out of your mind? Kamu mau buang kariermu demi gadis desa yang bahkan nolak pemberian mu?" teriak Sakura.
Daren berhenti sejenak, menoleh sedikit.
"Sakura, you said she needs someone who is there every day. So, I’m going to be there. Bukan sebagai CEO, tapi sebagai Daren yang siap masuk Islam dan belajar ngaji buat Jamila, Bye, Sakura!"
Bersambung