Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemenangan yang Berat
Sorak sorai terus menggema, tak henti hentinya, seperti gelombang pasang yang memenuhi setiap sudut Sarang Naga Patah. Nama "Hei Feng" diulang ulang oleh ribuan mulut, dicampur dengan teriakan kekaguman, ketidakpercayaan, dan bagi sebagian orang, jeritan kecewa karena kalah taruhan. Bunga bunga dan kain berwarna warni dijatuhkan dari tribun ke arena, menciptakan karpet aneh di atas debu dan batu yang hancur.
Tapi Xu Hao tidak mendengarnya. Telinganya mendenging karena benturan benturan keras, dan seluruh perhatiannya tertuju pada dua sosok yang turun dari tribun khusus tinggi. Mereka berjalan menuju arena dengan langkah tenang, tak tergesa, seolah olah kerumunan yang histeris itu tidak lebih dari angin lalu. Penatua Xu Li dan Xu Jian.
Dia berdiri di tempatnya, tubuhnya berdarah dan sakit, tetapi tetap tegak. Regenerasi alaminya bekerja diam diam di dalam, memperbaiki tulang rusuk yang retak dan luka di lengannya. Tapi dia dengan sengaja memperlambat proses itu, membiarkan darah tetap mengalir dari bibir dan lengan, menunjukkan gambaran seorang pemenang yang terluka parah namun masih bertahan.
Gor, wajahnya masih merah padam karena campuran kegembiraan dan kecemasan, bergegas mendekati Xu Hao. "Hei Feng! Luar biasa! Kau benar benar melakukannya! Kau mengalahkan Borong!"
Tangannya menepuk bahu Xu Hao, tapi kemudian dia melihat arah pandangan Xu Hao. Dia berbalik, dan wajahnya agak pucat melihat dua pria dari Klan Xu yang mendekat.
"Ah... Tuan Tuan dari Klan Xu," kata Gor, mencoba menyelipkan dirinya di antara mereka dan Xu Hao dengan sikap menghormati. "Pertarungan yang menarik, bukan? Bagaimana menurut kalian?"
Xu Li mengabaikan Gor. Matanya yang seperti mata elang tua tertancap pada Xu Hao. "Pertarungan yang mengesankan, Hei Feng. Atau, haruskah kami memanggilmu dengan nama lain?"
Suaranya tenang, tapi mengandung daya tembus yang aneh, seakan akan langsung menusuk ke dalam telinga dan pikiran Xu Hao.
Xu Hao mengangkat kepala, bertemu tatapan itu tanpa gentar. "Hei Feng adalah nama saya."
Xu Jian, yang berdiri di belakang Xu Li, memegang cermin kecil dengan erat. Matanya mengamati Xu Hao dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah olah mencoba melihat melalui kulit dan otot untuk mengamati inti dantiannya.
"Kami mewakili Klan Xu utama," kata Xu Li, tidak menjawab pertanyaan Xu Hao. "Kami mengamati pertarunganmu dengan penuh minat. Bakatmu... luar biasa untuk seorang kultivator tunawisma."
"Ini hanya hasil latihan keras dan sedikit keberuntungan," jawab Xu Hao, menjaga nada suaranya tetap rendah dan sederhana.
"Latihan keras?" Xu Li mengangkat satu alisnya yang tipis. "Teknik yang kau gunakan, terutama serangan terakhirmu yang mengalahkan Borong... ada keanehan di dalamnya. Sangat halus, hampir tak terdeteksi."
Xu Hao merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, tapi ekspresinya tidak berubah. "Saya tidak mengerti maksud Tuan. Itu hanya lompatan dan serangan siku biasa. Borong terbuka karena mengira saya akan melewatinya."
"Benarkah?" Xu Li mengambil langkah kecil mendekat. Jarak antara mereka sekarang hanya tiga langkah. "Cermin kecil kami mencatat gangguan ruang yang sangat kecil sesaat sebelum kau berubah arah di udara. Sebuah perubahan momentum yang... tidak wajar."
Gor, yang merasa situasi semakin tegang, mencoba menengahi. "Tuan Xu Li, mungkin itu hanya ilusi karena kecepatan tinggi? Atau mungkin efek dari benturan Qi mereka? Arena ini penuh dengan sisa sisa energi yang kacau..."
"Bisakah kau diam?" potong Xu Jian dengan tajam, tanpa melihat Gor.
Gor tercekik, wajahnya memerah karena marah dan takut.
Xu Hao tetap tenang. "Saya tidak tahu apa yang Tuan lihat atau deteksi. Saya hanya seorang petarung arena yang mencoba bertahan hidup. Jika ada yang aneh, mungkin itu berasal dari teknik Borong atau dari formasi arena yang tidak stabil."
Xu Li mengamatinya beberapa saat lagi, lalu tiba tiba mengulurkan tangannya. "Bolehkah aku memeriksa denyut nadimu? Sebagai bentuk... penghargaan atas kemenanganmu. Klan Xu sering merekrut bakat bakat liar seperti dirimu."
Itu jebakan. Jika Xu Hao membiarkan Xu Li menyentuhnya, terutama di titik nadi dimana aliran darah dan Qi paling terasa, maka teknik penyamaran darahnya yang tidak permanen mungkin akan terdeteksi. Atau tingkat kultivasi sebenarnya yang tersembunyi bisa terbaca.
"Maaf, Tuan," kata Xu Hao, mengambil langkah mundur halus. "Saya terluka parah. Qi saya kacau. Pemeriksaan sekarang tidak akan akurat. Dan... saya lebih suka kebebasan. Saya belum tertarik bergabung dengan klan manapun."
Penolakan langsung. Udara di sekeliling mereka seakan membeku.
Xu Jian mengerutkan kening. "Kau menolak tawaran Klan Xu?"
"Bukan menolak. Hanya belum tertarik," ulang Xu Hao.
Xu Li menarik tangannya kembali. Ekspresinya tetap dingin, tidak bisa dibaca. "Baik. Kami tidak akan memaksamu. Tapi ingat, bakat seperti dirimu akan menarik perhatian banyak pihak, dan tidak semua pihak itu bersahabat." Dia memberikan pandangan yang dalam. "Jika kau berubah pikiran, kami akan berada di Penginapan Surgawi di Pulau Pusat selama seminggu. Cari Xu Li."
Dia lalu berbalik, memberi isyarat pada Xu Jian, dan mereka berdua berjalan pergi, menyusuri tepi arena, dihujani sorak sorai penonton yang tidak menyadari percakapan tegang yang baru saja terjadi.
Gor menghela napas lega yang sangat besar. "Demi langit... aku pikir mereka akan menangkapmu di tempat."
Xu Hao mengawasi kedua sosok itu hingga hilang dari pandangan. "Mereka mencurigai sesuatu. Tapi belum pasti."
"Ya, itu jelas. Kau harus pergi. Sekarang juga." Gor menurunkan suaranya. "Kristal hadiahmu. Seribu kristal tinggi, ditambah bagian mu. Aku akan siapkan dalam bentuk kartu penyimpanan kristal. Lebih mudah dibawa. Tapi butuh waktu beberapa jam untuk menghitung dan mentransfer."
"Berapa lama?"
"Mungkin sampai malam. Prosesnya rumit, ada banyak pihak yang terlibat."
Xu Hao mengangguk. "Saya akan tunggu di kamar saya. Tolong kirimkan ke sana begitu siap."
"Tentu. Dan... tentang Borong." Gor melirik ke arah tengah arena, di mana beberapa tabib dan petugas sedang membantu Borong yang masih duduk, kepalanya tertunduk. "Dia tidak terluka parah selain tulang rusuknya. Tapi itu pukulan telak bagi harga dirinya."
"Aku akan menemuinya nanti," kata Xu Hao. Dia merasa perlu menghormati lawannya yang tangguh.
Dia berbalik dan berjalan pelan menuju pintu keluar arena, meninggalkan keriuhan di belakang. Setiap langkah terasa sakit, tapi dia menahannya. Penonton di tribun berteriak namanya, beberapa mencoba menyentuhnya saat dia lewat, tapi petugas arena membentuk barisan untuk melindunginya.
Saat Xu Hao sampai di koridor sepi menuju kamarnya, dia bertemu Minlie. Perempuan itu berdiri bersandar di dinding, menunggu.
"Selamat," katanya, senyum kecil di bibirnya. "Kau membuatku kaya hari ini. Taruhanku melipatgandakan."
Xu Hao menganggak. "Bagus untukmu."
"Tapi itu bukan tanpa harga." Minlie mendekat, suaranya berbisik. "Aku melihat wajah kedua ular itu saat mereka turun. Mereka tidak senang. Dan mereka penasaran. Sangat penasaran."
"Aku tahu."
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Ambil hadiahku, lalu pergi dari sini secepat mungkin."
Minlie mengamatinya, lalu mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku jubahnya. Itu adalah sebuah peta kulit yang digulung. "Ini. Peta detail Wilayah Seribu Pulau, dengan lokasi lokasi formasi teleportasi tidak resmi, pasar gelap, dan rute pelarian yang jarang digunakan. Mungkin membantumu."
Xu Hao menerimanya. "Kenapa membantuku lagi?"
Minlie mengangkat bahu. "Seperti yang kukatakan. Aku suka melihat orang kecil membuat masalah untuk klan besar. Dan... kau tidak buruk sebagai partner latihan." Dia berbalik untuk pergi.
Setelah Minlie pergi, Xu Hao masuk ke kamarnya. Dia segera duduk bersila di lantai, tidak peduli darah yang menodai lantai batu. Dia menutup matanya, dan dengan sangat hati hati, melepaskan sedikit kendali pada penyembuhan alaminya. Hukum Asal yang tersembunyi mulai bekerja lebih aktif, memperbaiki kerusakan internal dengan kecepatan yang lebih wajar untuk kultivator Soul Transformation, tapi tetap cepat.
Sambil menyembuhkan, pikirannya berputar.
"Xu Li... dia merasakan gangguan ruang. Aku terlalu ceroboh. Menggunakan bahkan sedikit sentuhan Dao Ruang terlalu berisiko." Dia mengutuk dirinya sendiri dalam hati. "Tapi saat itu, tidak ada pilihan lain. Borong akan menghancurkanku jika aku tidak melakukannya."
Dia menarik napas dalam. "Sekarang, mereka mencurigai. Mereka tidak punya bukti, tapi kecurigaan saja sudah cukup bagi Klan Xu untuk bertindak. Aku harus menghilang sebelum mereka memutuskan untuk menangkapku untuk 'diinterogasi' lebih lanjut."
Setelah sekitar dua jam bermeditasi, luka lukanya sudah membaik secara signifikan. Tulang rusuk yang retak sudah menyatu, lukanya sudah menutup membentuk jaringan parut merah muda. Dia berdiri, membersihkan darah yang mengering di tubuhnya dengan sebuah kain basah yang disediakan di kamar.
Ada ketukan di pintu.
"Siapa?"
"Aku, Gor. Bawa hadiahmu."
Xu Hao membuka pintu. Gor masuk, membawa sebuah kotak kayu gelap yang sederhana. Wajahnya masih tegang.
"Ini. Kartu penyimpanan kristal." Gor membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah lempengan batu jade tipis berukuran telapak tangan, dengan pola cahaya biru berdenyut di dalamnya. "Seribu kristal hukum tingkat tinggi tepat, disimpan di dalamnya. Cukup sentuh dengan kesadaran spiritual-mu untuk mengambil atau menambah. Dan ini," dia mengeluarkan sebuah kantong kain kecil, "bagianmu. Dalam bentuk kristal tingkat menengah dan rendah, lebih mudah digunakan untuk transaksi sehari hari. Total setara dengan sekitar tiga ratus kristal tinggi lagi."
Xu Hao mengambil lempengan jade dan kantong itu, memeriksanya dengan kesadaran spiritualnya sekilas. Jumlahnya benar.
"Terima kasih."
"Jangan terima kasih dulu." Gor menutup kotak. "Mereka... mereka menanyaimu lagi."
"Mereka?"
"Xu Li dan Xu Jian. Mereka datang ke kantorku saat aku menghitung. Bertanya lagi tentang asal usulmu, di mana kau pertama kali muncul, apakah kau pernah menyebut nama lain selain Han Feng."
Gor menggeleng. "Aku bilang tidak tahu. Tapi mereka... mereka meninggalkan ini." Dia mengeluarkan sebuah lencana perunggu kecil dengan simbol naga melingkar. "Mereka bilang, jika kamu berubah pikiran tentang bergabung, sentuh lencana ini dengan Qi-mu, dan mereka akan tahu di mana kamu berada."
Xu Hao memandang lencana itu dengan tatapan dingin. "Alat pelacak."
"Tentu saja. Kau tidak akan menerimanya, kan?"
"Tidak." Xu Hao tidak menyentuhnya. "Buang atau hancurkan."
"Sudah kuduga." Gor memasukkan lencana itu kembali ke sakunya. "Sekarang, saran terakhirku. Pergi. Sekarang juga. Jangan tunggu sampai pagi.
Xu Hao mengangguk. "Aku akan melakukannya. Tapi pertama, aku ingin menemui Borong."
"Borong? Kenapa? Dia mungkin masih marah."
"Justru karena itu."
Gor menghela napas. "Baik. Dia ada di kamar perawatannya, di sayap timur. Tapi cepatlah. Aku tidak ingin ada insiden lain."
Kamar perawatan Borong lebih mirip ruang pelatihan kecil dengan tempat tidur besar. Borong duduk di tepi tempat tidur, tubuh bagian atasnya dibalut perban ketat di sekitar dada. Wajahnya pucat, tapi matanya tajam saat melihat Xu Hao masuk.
"Kau," katanya, suaranya serak.
"Borong," balas Xu Hao, berdiri di dekat pintu. "Aku datang untuk... memberi hormat. Pertarungan yang hebat."
Borong mengamatinya beberapa saat, lalu mendecakkan lidah. "Duduklah. Berdiri di sana membuatku harus mendongak, dan dadaku sakit untuk melakukan itu."
Xu Hao duduk di bangku di seberangnya.
"Kau menang dengan tipu muslihat," kata Borong langsung.
"Ya."
"Tapi itu adalah tipu muslihat yang cerdas. Kau memanfaatkan kebiasaanku, kelemahanku, dan lingkungan." Borong menghela napas, sebuah suara yang dalam dan bergetar. "Aku meremehkanmu. Itu kesalahanku."
"Kau adalah petarung terkuat yang pernah kuhadapi," kata Xu Hao dengan jujur.
Borong tersenyum pahit. "Jangan beri aku pelipur lara. Aku kalah. Titik." Dia lalu menatap Xu Hao lebih dalam. "Tapi kau... kau bukan hanya petarung arena. Siapa dirimu sebenarnya, Hei Feng?"
Pertanyaan yang sama. "Seorang pengembara yang butuh sumber daya."
"Pengembara." Borong mengulangi kata itu, seolah olah mencicipinya. "Baiklah. Jaga rahasiamu. Tapi dengarkan. Klan Xu menanyaimu. Mereka ada di sini lebih dari sekadar menonton pertarungan. Mereka mencari seseorang atau sesuatu."
"Aku tahu. Mereka sudah mendatangiku."
"Lalu?" Borong mencondongkan tubuh ke depan, sedikit memicingkan mata karena sakit. "Apa yang akan kau lakukan?"
"Pergi."
"Bijaksana." Borong mengangguk perlahan. "Jika kau perlu tempat untuk bersembunyi, aku punya sebuah pulau kecil di utara. Terpencil. Tidak banyak yang tahu."
Tawaran itu mengejutkan Xu Hao. "Kenapa membantuku?"
"Karena kau mengalahkanku. Dan... karena aku juga tidak suka Klan Xu. Mereka mencoba merekrutku bertahun tahun lalu. Saat aku menolak, mereka mencoba mengintimidasi ku." Borong meludah ke lantai, sebuah gerakan tidak hormat. "Jadi, jika kau bisa menjadi duri bagi mereka, aku senang membantumu menjadi duri yang lebih tajam."
Xu Hao mempertimbangkan. Tapi kemudian dia menggeleng. "Terima kasih. Tapi lebih baik aku tidak melibatkanmu. Aku akan pergi sendirian."
Borong tidak memaksa. "Baik. Tapi ingat, tawaranku tetap terbuka. Jika kau dalam masalah, temukan kapal dengan bendera palu dan matahari terbit di dermaga mana pun di wilayah ini. Itu milikku. Mereka akan membawamu ke aku."
"Terima kasih," kata Xu Hao lagi, kali ini dengan rasa hormat yang tulus. Dia berdiri.
"Semoga cepat sembuh."
"Kau juga." Borong mengangkat tangannya, sebuah bentuk salam perpisahan. "Dan Hei Feng... berhati hatilah. Klan Xu seperti laba laba. Mereka memiliki jaring yang sangat luas. Dan sekali mereka menaruh curiga pada seseorang, mereka tidak akan berhenti."
Xu Hao mengangguk, lalu meninggalkan kamar.
Dia kembali ke kamarnya, mengumpulkan sedikit barang barangnya. Hanya pakaian cadangan dan beberapa pil penyembuhan dasar. Segala yang penting ada di cincin penyimpanannya. Dia mengenakan jubah sederhana berwarna coklat, menarik tudungnya ke atas kepala, dan keluar dari kamar.
Dia berjalan melalui koridor yang sepi, lalu keluar dari kompleks arena melalui pintu belakang yang jarang digunakan. Malam sudah turun, dan langit dipenuhi bintang bintang. Udara dingin menerpa wajahnya.
up up up