Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Keesokan harinya, Seyra menatap seluruh murid Akademi Edevane yang sedang memperhatikan dirinya dengan tatapan tidak suka. Sejak kejadian kemarin ketika dia menggoda ketua Osis, banyak murid yang menjadi fans Aron jadi benci padanya.
Seyra berjalan menyusuri lorong, dia menjadi perhatian para murid yang ada di koridor sekolah. Dan juga para siswi yang sedang istirahat di sisi lapangan.
"Jaga tuh mata, sebelum gue congkel!" Seyra berteriak parau.
Dia menatap seluruh murid yang sedang memperhatikan dirinya, "Berhenti natap gue, atau gue tonjok wajah kalian hah?!"
Seketika semua murid mengalihkan pandangan, sebagian dari mereka ada yang terbirit-birit masuk ke dalam kelas. Kedatangan Seyra sudah terkenal seantero sekolah, jejak digitalnya selama di Paris sudah sampai ke telinga mereka.
Seyra merupakan siswi yang di takuti di sekolahnya, gadis itu tak pernah main-main dengan ucapannya. Berita keributan hingga pindah sekolah berkali-kali sudah menyebar luas, banyak yang beranggapan orang tua Seyra memindahkannya ke Paris karena lelah dengan kelakuan gadis itu yang lebih bar-bar dan sulit di kendalikan.
Fakta sebenarnya, adalah ketika Seyra duduk di bangku sekolah dasar. Dia memukul anak dari kepala sekolahnya hingga masuk rumah sakit, Seyra di keluarkan dan pindah sekolah lagi hingga tujuh kali.
Namun, tabiat berantem yang sudah mendarah daging dalam diri gadis itu membuat sang ayah frustasi dan memilih membiarkan Seyra tinggal bersama kakeknya. Meski hal itu, tak juga membuat gadis itu bertobat justru menjadi semakin liar.
Maka dari itu, para murid enggan berinteraksi dengannya. Di banding Valeri yang suka menindas, Seyra yang awalnya pendiam lebih kejam karena dia akan bertindak tanpa peduli lawannya lemah atau kuat.
"Huft, cape juga jadi pusat perhatian. Emang ya, latar belakang yang buruk selalu mendongkrak popularitas." Ujarnya pede.
Dia mengibaskan rambut panjangnya, bangga karena masa lalunya yang buruk dia tak perlu bersikap sok baik demi mendapatkan teman, saat akan kembali melangkah dari belokan muncul Elsa yang membuat tubuh mereka berdua tabrakan.
Bruk.
"Aduh..." Seyra berteriak, saat tubuhnya menghantam lantai. Dia menatap Elsa yang terduduk di depannya, "Lo nggak apa-apa, Sa?"
Elsa mendongak, lalu mengangguk. "Ya, lo sendiri gimana? gue minta maaf tadi nggak lihat jalan."
"Gak apa-apa, gue juga salah."
"Sekali lagi, gue minta maaf." Kata Elsa parau.
Seyra mengangguk maklum, bersamaan dengan itu muncul Arthur yang baru saja keluar dari lapangan indoor dengan seragam basketnya. Di samping Arthur, ada Ozil dan juga teman-temannya.
Arthur mengernyitkan dahi, menatap Seyra yang sedang meringis seperti menahan sakit. Pemuda itu berlari mendekati yang sedang berusaha untuk berdiri.
"Seyra," panggil Arthur seraya berlari ke arah gadis itu.
Sontak Seyra menoleh, dia menaikan sebelah alisnya, heran. "Apa?"
"Lo kenapa? siapa yang bikin lo jatuh?" cecar Arthur begitu tiba, dan langsung membantu Seyra berdiri.
"Gue cuma jatuh, nggak usah lebay deh." Jawab Seyra jengah.
Dia mengamati tatapan Arthur yang tertuju pada Elsa, tanpa berniat mengganggu Seyra berniat pergi namun Arthur menahan pergelangan tangannya.
"Ayo ke rumah sakit." Tawarnya.
Sontak semua orang tercengang, termasuk Ozil yang kini berdiri di samping Elsa.
"Ngapain? gue nggak sakit." Tolak Seyra.
"Tapi, tadi lo kesakitan." Protes Arthur kekeh.
"Gue bilang nggak, ya, nggak. Udah ah, gue mau ke kelas," Ujarnya menepis halus tangan Arthur yang memegang tangannya.
Tanpa permisi Arthur mengangkat tubuh Seyra dan menggendongnya menuju kelas, tanpa memperdulikan protes gadis itu.
Sedangkan Ozil dan Elsa yang melihatnya merasa aneh, terlebih Elsa karena baru kali ini dia melihat Arthur pemuda yang terkenal tidak peduli ada siapa pun menunjukan kepeduliannya pada Seyra.
"Si Arthue udah bucin aja." Ujar Jazi menggelengkan kepalanya pelan.
Raga mengangguk, "Iya, kayanya dia beneran suka sama Seyra deh. Bukan cuma karena kalah taruhan waktu itu."
"Ngomong-ngomong, gimana kalau sampai Seyra tahu kalo sebenarnya Arthur nembak dia karena kalah main Truth or Dare." Imbuh Galen.
Mereka semua mengangkat kedua bahunya acuh, "Nggak tahu, pastinya kalo itu gue pasti bakal marah sih." Cetus Ozil yang sejak tadi hanya diam.
Berbeda dengan Elsa yang kini menatap kepergian dua sejoli itu dengan tatapan rumit. Entah apa yang sedang di pikirkan gadis itu, sampai membuat kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.