NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Istri Pengganti

Mengejar Cinta Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Romansa / Konflik etika
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Veline ll

"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"

Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.

Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Aroma yang Menyiksa

Gedung Menara Adiguna berdiri kokoh mencakar langit Jakarta, namun di dalamnya, sang penguasa gedung sedang berjuang melawan gravitasi bumi. Devan Adiguna melangkah masuk ke lobi dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tetap terlihat tegas, meskipun sebenarnya pandangannya sedikit berputar.

Setelan jas mahalnya masih tampak sempurna, tapi jika dilihat lebih dekat, warna kulit Devan tidak seperti biasanya. Ia pucat, seperti orang yang belum sarapan tiga hari, atau lebih tepatnya—seperti pria yang sedang menanggung beban ngidam istrinya di pundak sendiri.

"Selamat pagi, Pak Devan," sapa sekretaris di depan lift dengan ramah.

Devan hanya mengangguk singkat. Masalahnya bukan karena ia sombong, tapi karena parfum floral yang dipakai sekretarisnya itu mendadak tercium seperti bau sampah busuk di hidungnya. Devan menahan napas sekuat tenaga sampai pintu lift tertutup.

Begitu sampai di lantai eksekutif, Rian sudah menunggu dengan jadwal yang padat. "Pak, sepuluh menit lagi rapat koordinasi dengan divisi konstruksi dan pemasaran dimulai. Mereka sudah menunggu di ruang VIP."

Devan menghela napas berat. "Siapkan kopi hitam tanpa gula, Rian. Dan tolong, bilang pada semua peserta rapat... jangan ada yang memakai parfum terlalu menyengat. Bilang saja sistem sirkulasi udara sedang sensitif."

Rian hanya bisa mengangguk paham. Ia tahu bosnya sedang dalam mode "penciuman super".

Rapat dimulai. Tiga jam yang terasa seperti tiga abad bagi Devan. Ia duduk di kursi kebesarannya, mencoba fokus pada grafik keuntungan dan progres pembangunan di Surabaya. Namun, konsentrasinya buyar setiap kali manajer pemasaran di sebelahnya bergerak. Bau parfum pria yang maskulin—yang biasanya terkesan mewah—kini membuat perut Devan bergejolak hebat.

Setiap kali rasa mual itu naik ke tenggorokan, Devan akan mengepalkan tangannya di bawah meja dan meminum air putih dengan cepat. Wajahnya yang tadinya hanya pucat, kini mulai berubah sedikit kehijauan.

"Pak Devan, bagaimana menurut Bapak tentang strategi branding kita untuk bulan depan?" tanya salah satu direktur.

Devan diam sejenak, menelan ludah dengan susah payah. "Lanjutkan saja. Saya setuju selama anggarannya tidak bengkak," jawabnya singkat, padat, dan penuh perjuangan menahan muntah.

Setelah tiga jam penuh siksaan aromatik, rapat akhirnya ditutup. Ruangan dikosongkan, meninggalkan Devan yang langsung menyandarkan kepalanya ke meja rapat yang dingin. Rian mendekat dengan perasaan tidak tega. Ia meletakkan sebotol minyak kayu putih kecil di dekat tangan bosnya.

"Pak, Bapak kelihatan pucat sekali. Mau saya batalkan jadwal siang ini?" tanya Rian prihatin.

"Jangan... aku tidak mau Papa Surya punya alasan untuk mengejekku lagi," gumam Devan tanpa mengangkat kepalanya. "Kenapa... kenapa hamil itu rasanya begini, Rian? Padahal bukan aku yang bawa bayinya."

"Itu namanya cinta luar biasa, Pak. Tapi kalau Bapak pingsan di sini, cinta Bapak jadi tidak ada gunanya," canda Rian tipis.

Saat Devan sedang berusaha mengumpulkan nyawanya kembali, tiba-tiba pintu ruang rapat terbuka dengan kasar. Suara langkah sepatu pantofel yang mantap menggema di ruangan itu, diikuti oleh suara tawa yang sangat akrab namun sudah lama tidak terdengar.

"Wah, wah! Jadi begini nasib Sang Singa Oxford setelah jadi CEO? Kelihatan seperti mayat hidup!"

Devan mendongak perlahan. Matanya yang sayu mencoba fokus pada sosok pria tinggi dengan gaya yang sangat santai—jaket kulit di atas kemeja putih dan celana jeans mahal. Pria itu adalah Kevin, sahabat karib Devan saat mereka masih berjuang mengejar gelar di Universitas Oxford, Inggris.

Kevin adalah putra dari keluarga pengusaha hotel internasional yang sudah lama menetap di London. Mereka berdua adalah duo maut di kampus dulu; Devan yang serius dan Kevin yang sedikit ugal-ugalan tapi jenius.

"Kevin?" Devan bergumam kaget.

Kevin melangkah maju, wajahnya yang tadinya ceria berubah menjadi sedikit cemas saat melihat kondisi Devan dari dekat.

"Astaga, Dev! Kamu sakit apa? Kenapa muka kamu pucat begitu? Apa kamu baru saja melihat hantu di ruang rapat ini?"

Kevin menoleh ke arah Rian. "Hei, Rian! Kamu asistennya, kan? Kenapa bosmu dibiarkan begini? Beri dia makan atau apa!"

Rian hanya tersenyum canggung. "Pak Kevin, masalahnya bukan karena kurang makan, tapi karena... yah, Pak Devan sedang 'berbagi beban' dengan istrinya."

Mendengar kata "istri", gerakan Kevin langsung berhenti. Matanya menyipit, menatap Devan dengan tatapan yang sangat tajam. Aura persahabatan yang tadi hangat mendadak berubah menjadi tegang.

"Istri?" Kevin mengulang kata itu dengan nada rendah. "Tunggu dulu. Apa aku salah dengar?"

Kevin memukul meja rapat dengan tangannya. BRAK!

"Devan Adiguna! Apa maksudnya istri? Kamu sudah menikah?!" teriak Kevin. Suaranya menggema sampai ke luar ruangan.

Devan memijat keningnya yang berdenyut. "Kev, pelankan suaramu. Kepalaku mau pecah."

"Pecah? Harusnya kepalamu memang pecah!"

Kevin berjalan mondar-mandir di depan Devan dengan wajah merah padam. "Kita bersumpah di depan perpustakaan Oxford dulu, kalau salah satu dari kita menikah, yang satunya harus jadi Best Man. Kita berjanji akan merayakan pesta bujang paling gila di Eropa! Dan sekarang aku datang ke Indonesia, ingin memberi kejutan padamu, malah aku yang dapat kejutan kalau kamu sudah menikah—bahkan istrimu sudah hamil?!"

Kevin berhenti dan menatap Devan dengan kecewa. "Kenapa kamu tidak memberitahuku, Dev? Apa aku bukan lagi sahabatmu? Kenapa tidak ada undangan yang sampai ke London?"

Devan menarik napas panjang, mencoba meredam kemarahan Kevin. "Dengarkan aku dulu, Kev. Pernikahanku... itu terjadi cukup cepat. Dan saat itu ada banyak konflik internal keluarga yang harus ku selesaikan. aku tidak terpikirkan namamu, karena aku dan Shena hanya mengundang beberapa tamu saja."

"Shena?" Kevin mengangkat alisnya. "Siapa dia? Model? Putri bangsawan? Atau siapa?"

"Dia wanita terbaik yang pernah kutemui," jawab Devan dengan senyum tipis yang tulus, meskipun wajahnya masih pucat. "Dia bukan sekadar status, Kevin. Dia adalah segalanya bagiku. Dan sekarang, dia sedang mengandung anakku. Makanya aku jadi begini."

Kevin terdiam. Ia melihat ketulusan di mata Devan. Kemarahannya perlahan mulai luntur, berganti dengan rasa penasaran dan sedikit simpati. Ia menarik kursi dan duduk di sebelah Devan.

"Jadi... ini yang namanya Couvade Syndrome? Kamu ikut merasakan mual-mual karena dia hamil?" Kevin mulai tertawa kecil, kali ini bukan mengejek, tapi lebih ke rasa tidak percaya. "Devan yang dulu paling anti dengan perasaan lembek, sekarang jadi begini gara-gara seorang wanita. Luar biasa."

Kevin menepuk bahu Devan dengan keras. "Oke, oke. Aku memaafkan mu soal undangan itu, tapi dengan satu syarat."

"Apa?" tanya Devan waspada.

"Bawa aku bertemu istrimu sekarang juga. Aku ingin melihat wanita luar biasa macam apa yang bisa membuat seorang Devan Adiguna jadi 'kucing rumahan' yang pucat pasi begini," ujar Kevin sambil menyeringai.

Devan melirik jam tangannya. "Ini baru jam satu siang. Aku masih ada satu rapat lagi dengan bagian legal."

"Batalkan semuanya, Rian!" perintah Kevin tanpa rasa bersalah. "Bosmu ini butuh udara segar dan dukungan moral dari sahabatnya. Biar aku yang menyetir, kamu istirahat saja di belakang, Dev."

Rian menatap Devan, meminta persetujuan. Devan yang merasa memang sudah tidak sanggup lagi mencium aroma kantor lebih lama lagi, akhirnya mengangguk. "Rian, atur ulang jadwal besok pagi. Aku pulang sekarang."

"Nah, begitu dong!" Kevin bangkit dengan semangat. "Ayo, Papa muda. Kita pergi. Aku juga ingin tahu, apakah istrimu akan kaget melihat teman tampanmu ini."

Saat mereka berjalan menuju lift, Devan kembali merasakan mual saat melewati dispenser pewangi ruangan otomatis. Ia segera membekap mulutnya.

"Sabar, Dev! Bertahanlah sampai mobil!" seru Kevin sambil merangkul pundak sahabatnya itu, membantunya berjalan.

Di dalam hati, Devan merasa senang Kevin datang. Kehadiran sahabatnya itu sedikit banyak mengalihkan fokusnya dari rasa mual yang menyiksa. Namun di sisi lain, Devan juga sedikit khawatir. Bagaimana reaksi Shena nanti melihat Kevin yang berisik? Dan yang lebih penting... apakah Kevin akan membawa aroma parfum yang aneh-aneh ke rumah?

"Kev," panggil Devan saat mereka di dalam lift.

"Ya?"

"Kamu tidak pakai parfum yang aromanya seperti bunga lili atau vanila, kan?"

Kevin mengendus ketiaknya sendiri dengan bingung. "Tidak. Ini aroma kayu cendana asli. Kenapa?"

"Bagus. Kalau tidak, aku akan menendang mu keluar dari mobil sebelum sampai gerbang kantor."

...****************...

Kevin tertawa terbahak-bahak. "Selamat datang di kehidupan baru, Devan si CEO Pucat!"

1
Kostum Unik
🤭🤭🤭...
Kostum Unik
🤣🤣🤣
MayAyunda
keren 👍👍
😍
Marine
semangat author! ceritanya bagus
Veline: makasih 🔥🔥🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!