Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.
Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”
Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.
PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iblis dan Malaikat
CHAPTER 21
Shun dan lainnya telah sampai di kediaman Nightshade.
Mereka pun berpisah dan kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat – termasuk Yuzuriha, yang baru saja bangun ketika mereka tiba.
Shun kembali ke kamarnya dengan langkah yang tenang. Setelah memasuki kamar, ia langsung menuju kasur dan berbaring.
Ia menatap langit-langit kamar. Setelah mendengar masa lalu Riot, Shun merasa bahwa masih ada beberapa anggota Nightshade yang rupanya memiliki masa lalu yang mirip dengan dirinya dan Riot.
"Bagaimana dengan Yuzuriha ya...."
Sebelum bisa berpikir lebih jauh, Shun pun tertidur lelap.
Keesokan harinya, Shun pergi ke ruang perawatan karena masih memiliki beberapa luka dari pertempuran di Kota Entertainia kemarin.
Saat membuka pintu, ia melihat Yuzuriha sedang tertidur di atas kasur. Tentu saja tidak mengherankan jika Yuzuriha berada di sana – di antara semua yang bertempur, kondisinya paling parah. Beberapa tulang rusuknya patah dan lukanya cukup berat, padahal ia terus memaksakan diri untuk bertarung.
Tak lama kemudian, Dr. Wero mendekatinya dengan wajah yang tampak jengkel.
"Kenapa kau ada di sini?" tanyanya.
"Ya-yahhh..." Shun menggosok-gosok kepalanya sambil tersipu sedikit. "Ada beberapa luka sih, hehe." Ia melangkah ke arah kasur di sebelah Yuzuriha.
"Cih.... Dasar sialan, sudah berapa kali kamu kesini?" Dr. Wero mengambil suntikan yang sudah disiapkan.
Ia mengaktifkan energi Ten berwarna hijau muda, yang mengalir menyelimuti tubuhnya lalu terkonsentrasi ke dalam suntikan. Setelah itu, Dr. Wero langsung menyuntikkannya ke tubuh Shun.
Luka-luka pada tubuh Shun mulai perlahan menutup. Dr. Wero kemudian memberitahu bahwa ia perlu keluar sebentar karena ada urusan mendadak, lalu pergi meninggalkan ruangan.
Tak lama setelahnya, suara lembut Yuzuriha terdengar:
"Hebat ya, Riot..."
"E-eh, maaf ya sudah membuatmu terbangun," kata Shun sambil menoleh dan kemudian duduk di tepi kasurnya.
"Aku sebenarnya sudah bangun dari tadi kok," jawab Yuzuriha.
Kemudian ia mulai membuka pembicaraan yang sudah lama ingin ia sampaikan.
"Kalau Shuchan mau tahu, aku bergabung dengan Nightshade dengan alasan yang sama seperti kamu," ujar Yuzuriha.
"Sama denganku?" Shun membalas bertanya dengan tatapan penasaran.
"Ya. Aku bergabung untuk bisa bertemu 'dia'... dan membunuhnya." Tangan Yuzuriha tampak mengepal erat pada selimut yang menutupi badannya.
Shun melihat tangan itu dengan ekspresi khawatir. "Kenapa kamu ingin membunuhnya?" Dan Shun juga bingung, siapa yang dimaksud 'dia'
Saat pertanyaan itu keluar, tangan Yuzuriha menggenggam selimut lebih erat lagi sambil sedikit gemetar. Tanpa berpikir panjang, Shun segera memegang tangannya dengan lembut.
Yuzuriha menoleh ke arah Shun dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. "Terima kasih, Shuchan. Nanti aku akan cerita saja kalau sudah siap," katanya sambil memberikan senyuman hangat.
Shun pun tidak memaksanya, karena ia menyadari bahwa itu pasti adalah bagian masa lalu Yuzuriha yang tidak mudah untuk diceritakan.
Tak lama kemudian, Dr. Wero kembali ke ruang perawatan dan memberitahu bahwa Shun dipanggil oleh Riot untuk pergi ke ruang pelatihan.
Mendengar itu, Shun langsung bergegas pergi – lukanya sudah cukup sembuh untuk beraktivitas. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan ini, karena ingin menanyakan kepada Riot tentang apa itu "Fix".
Dengan cepat, Shun sampai di ruang pelatihan. Saat membuka pintu, ia melihat Riot dan beberapa anggota Nightshade yang tengah melaksanakan latihan.
Shun langsung mendekati Riot, dan Riot pun menghampirinya. Setelah saling bertatap mata, Riot langsung menepuk-nepuk pundak Shun sambil tertawa lebar.
"Hahaha!...." Ia berhenti menepuk dan menatap Shun dengan tatapan serius. "Bagaimana perasaanmu setelah membunuh manusia untuk pertama kalinya?"
Shun terdiam sejenak dan melihat tangan kirinya. "Rasanya.... aneh. Ada perasaan kehilangan dan ketakutan yang tercampur jadi satu," jawabnya pelan.
"Begitu ya..." Riot mengangguk dan menatap ke arah langit-langit ruangan. "Wah, berbeda ya dengan aku waktu pertama kali membunuh."
"Beda aja orang waras sama orang gila," jawab Shun dengan nada santai.
Tak terima, Riot langsung memukul pelan kepala Shun lalu mendekatinya. Shun perlahan berdiri dan segera mengajukan pertanyaan tentang apa itu Fix.
Riot terlihat sedikit terkejut. "Sepertinya Kai tidak pernah memberi tahu kamu ya?"
Kemudian Riot mulai menjelaskan istilah-istilah dasar dalam penggunaan energi Ten:
Yang pertama adalah 'Flow' – mengalirkan energi Ten ke seluruh bagian tubuh secara merata.
Yang kedua adalah 'Wrap' – menyelimuti tubuh dengan energi Ten yang stabil, yang berfungsi untuk mengurangi dampak serangan pada tubuh.
Yang ketiga adalah 'Fix' – memusatkan seluruh energi Ten ke salah satu bagian tubuh atau senjata. Namun kekurangannya, bagian tubuh yang tidak dilindungi oleh energi Ten akan menjadi lemah seperti tubuh manusia biasa.
Dan yang terakhir adalah 'Turn' – mengubah bentuk atau sifat benda dengan cara menyelimutinya menggunakan energi Ten, biasanya dilakukan bersamaan dengan teknik Wrap.
Shun terkejut mendengar penjelasan itu. "T-ternyata semua itu punya nama ya..."
"Tentu saja, bodoh!" balik Riot sambil tersenyum.
Mereka mulai berbincang santai di ruang pelatihan, seolah-olah tidak ada hal berat yang terjadi kemarin. Namun suasana segera berubah – tiba-tiba Riot melancarkan tendangan horizontal ke arah Shun.
Shun berhasil menghindar dengan cepat, karena ia sudah mengantisipasi hal ini. Latihan dengan Riot memang selalu datang secara tiba-tiba.
"Kau sudah terbiasa ya," ucap Riot dengan senyuman puas. "Kalau begitu, tidak usah basa-basi lagi!" Ia menarik sabit sawah yang tergantung di punggungnya.
Riot mengaktifkan energi Tennya – energi berwarna merah tua mengalir menyelimuti tubuhnya lalu terkonsentrasi ke sabit sawah, yang kemudian berubah bentuk menjadi kama ninja dengan warna merah tua dan bentuk unik.
Shun pun tidak mau kalah. Ia menarik dua belati yang tergantung di pinggangnya dan mengaktifkan Ten-nya – energi hitam pekat dan merah menyelimuti tubuh serta belati-belatinya. Bilah belati berubah menjadi warna hitam dengan ujung yang lebih tajam, sedangkan gagangnya berubah warna merah.
Kemudian keduanya maju bersamaan ke tengah ruangan.
Mereka bertarung sambil tetap menunjukkan senyuman di wajah masing-masing. Setiap serangan yang dilancarkan ada yang berhasil ditangkis, namun ada juga yang mengenai sasaran – dan kali ini yang lebih banyak terkena adalah Shun.
Riot memang bertarung dengan sangat serius saat melawan Shun. Ia menggunakan teknik Fix pada kama-nya dan menyerang secara horizontal. Shun mencoba menangkisnya, namun terpental karena kekuatan serangan yang jauh lebih kuat ketika menggunakan Fix pada senjata.
Saat Shun baru saja berdiri, Riot kembali menggunakan Fix – kali ini pada kedua kakinya. Ia melesat cepat dan melancarkan tendangan horizontal yang sama seperti ketika mereka bertarung untuk pertama kalinya.
Namun kali ini, Shun berhasil menghindar dengan menunduk, lalu langsung membalas dengan serangan horizontal menggunakan tangan kanan, diikuti dengan serangan lanjutan dari tangan kiri.
Riot terpaksa melangkah mundur karena serangan beruntun yang dipancarkan Shun hingga memojokkannya ke dinding. Shun terus menyerang dengan cepat, sampai ujung bilah belatinya hampir mengenai area atas mata Riot.
Shun langsung berhenti dengan terkejut, takut benar-benar melukai mata Riot. Melihat kesempatan itu, Riot segera menggunakan Fix pada kaki kanannya dan menendang Shun dengan kekuatan penuh di bagian pinggang.
Shun langsung terpental jauh dan menabrak dinding belakang ruangan, yang langsung retak dan sebagian hancur. Darah keluar dari mulutnya dengan cukup banyak.
Riot langsung berlari cepat menuju Shun sambil berteriak: "Saat bertarung!.... Tidak boleh!!! lengah, tolol!!!!" Ia melesat ke depan untuk melancarkan serangan berikutnya, namun masih bisa dihindari oleh Shun yang sudah mulai bangkit.
Napas Shun terlihat berat dan ia kesulitan bergerak cepat akibat rasa sakit yang luar biasa. Namun semangatnya tidak sedikitpun goyah. Ia langsung berlari menuju Riot dan menyerang dengan gerakan yang lebih cepat dari sebelumnya. Melihat itu, Riot menunjukkan senyuman lebar dan berlari menyambutnya dengan kecepatan yang sama.
Keduanya saling beradu serangan dengan cepat, suara dentingan logam dari benturan senjata bergema keras di seluruh ruangan pelatihan. Anggota Nightshade yang tengah berlatih pun langsung berhenti aktivitas mereka, terpana melihat pertarungan antara Shun dan Riot.
Mereka bertarung dengan tingkat keahlian yang luar biasa, tanah bahkan seakan bergetar setiap kali senjata mereka bertemu. Semua orang yang menyaksikan hanya bisa terdiam dengan kagum.
Beberapa di antaranya mulai mengomentari bahwa pertarungan antara Shun dan Riot seperti pertarungan antara Iblis dan Malaikat.
Pertarungan terus berlangsung dengan sangat sengit, serangan demi serangan dilancarkan dengan kecepatan luar biasa – hingga tiba-tiba semua gerakan berhenti.
Shun melepas kedua belati yang digenggamnya dan menjatuhkannya ke lantai. Semua anggota yang menyaksikan pun bingung – apa yang terjadi dan siapa sebenarnya yang memenangkan pertarungan ini?
Shun menghela napas panjang dengan ekspresi sedikit kecewa. "Sial, aku kalah lagi!!"
Pertarungan Iblis dan Malaikat itu, akhirnya dimenangkan oleh Malaikat.