Hiatus : persiapan case baru
Mereka ada dimana mana. mengintai dari balik bayangan bayang.
Bersembunyi disudut ruang gelap, dibawah tangga atau dikolong tempat tidurmu, dibawah pohon, jembatan, atau bahkan menyelinap di keramaian malam.
Kadang mereka muncul dengan rupa yang akrab untuk mendekatimu. Kadang juga dengan rupa yang menakutkan yang membuatmu bergidik ngeri.
Sekali mereka tertarik padamu, mereka akan mengikutimu, mengganggumu, kemanapun kamu pergi, sepanjang waktu, Bahkan menyelinap di balik tidurmu dan menjadi mimpi burukmu.
Kau tidak bisa lari atau sembunyi. Mereka akan terus mengkutimu sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuppy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Para Penjaga Hutan
Seorang laki-laki berdiri di antara pepohonan. Dengan mata terpejam seolah sedang bermeditasi. Dia memiliki tubuh yang tinggi dan berotot dengan kulit sawo matang hampir coklat.
Jika ini jaman kuno aku pasti sudah berpikir dia seorang prajurit yang kuat. Aku berjalan perlahan mendekatinya. Aku penasaran dengan sosok yang ada di depanku. Tapi suara gemerisik dari daun kering yang kuinjak membuat dia menyadari keberadaanku.
Dia membuka matanya dan melihat ke arahku dengan tajam. Usia laki-laki ini aku yakin tidak lebih tua dari Angga. Dia memiliki tekstur wajah yang menawan, namun tegas. Dan aku bisa merasakannya, dia memiliki sesuatu yang unik di dirinya.
Apakah dia sama sepertiku? Seseorang yang bisa melihat halus? Apa yang dilakukannya di hutan ini sendirian? Apa tadi dia sedang berinteraksi dengan makhluk-makhluk itu?
"Bukankah sudah ada peringatan tertulis di sana bahwa hutan ini berbahaya. Karena itu tidak boleh dimasuki oleh umum." Ujarnya menunjukkan papan peringatan.
"Ya, kurasa itu berlaku untukmu juga." Ucapku membalas peringatan pria itu.
"Aku penduduk asli sini." Ujarnya lagi.
"Kau penghuni hutan ini?" Tanyaku pura-pura terkejut. Meski aku tahu maksudnya. Pria itu tertawa mendengar sindiranku.
"Maksudku, aku lahir dan tinggal di desa ini." Jelas pria itu lagi.
"Jadi tidak masalah kalau penduduk asli yang masuk ke dalam sana?" Tanyaku menyelidik.
Tapi bukan jawaban yang kudapat, pria itu malah menatapku dengan sinis, " Apa kau mencurigai penduduk desa ini?"
Aku tidak bisa menyangkal kata-kata pria itu sepenuhnya. Aku sempat memeriksa beritanya di internet, banyak kasus hilangnya anak-anak yang tersesat di hutan ini.
Semua anak-anak itu bukanlah penduduk asli sini melainkan mereka anak dari kerabat yang berkunjung ke sini. Atau pengunjung yang singgah. Sampai sekarang anak-anak itu tidak pernah ditemukan meski upaya pencarian dilakukan. Sama seperti kasusnya Ello.
"Maksudku, kadang suatu tempat memiliki aturan yang tidak boleh dilanggar. Dan biasanya penduduk asli lebih tahu hal itu karena pengetahuan itu diwariskan secara temurun. Jadi kalau penduduk asli sini tidak mengalami hal buruk saat memasuki hutan .." aku mencoba menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Aku paham, maksudmu orang-orang itu celaka karena melanggar aturan 'kan?" Ujarnya melanjutkan pendapatku.
"Dugaanmu benar. Bagi penduduk asli ini hutan ini memiliki sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan untuk kelangsungan hidup mereka. Beberapa tanaman obat yang langka bisa ditemukan di dalam sana. Dan bagi anak-anak di sini hutan ini adalah halaman bermain mereka." Ujarnya menjelaskan.
"Para orang tua di sini membebaskan anak-anak mereka selama mereka tidak memasuki area terlarang dari hutan ini. Tapi kau tahu 'kan yang namanya anak-anak selalu tertantang untuk melanggar peraturan atau kadang mereka menganggap hal itu tidak penting. Jadi selalu ada satu atau dua anak yang melanggar batas."
"Apa terjadi sesuatu pada mereka?" Tanyaku.
"Ya, para penjaga hutan ini akan muncul untuk menakuti anak-anak."
"Para penjaga hutan?" Aku mendengar kata asing darinya yang membuatku penasaran.
"Ya, Makhluk ghaib berkekuatan besar yang diyakini menjaga hutan ini selama ratusan tahun atau bahkan ribuan tahun lamanya. Kadang mereka muncul dalam bentuk harimau yang besar untuk menakuti anak-anak nakal. Kadang dalam bentuk yang lebih mengerikan."
"Namun para penjaga hutan itu tidak melukai. Hanya sekedar menakuti saja agar mereka tidak mendekat."
"Kau tadi bilang para penjaga, apa ada lebih dari satu?" tanyaku
"Dua." Jawabannya, "satu berwujud pria dan satunya lagi wanita. Konon katanya di dalam sana ada pintu masuk menuju alam lain. Tempat yang tidak boleh dimasuki oleh manusia. Karena itu dua pelindung ditempatkan di sana untuk melindungi gerbang itu."
"Apa tidak masalah kau menceritakan hal ini pada orang luar?" tanyaku lagi.
"Itu hanyalah dongeng sebelum tidur yang di ceritakan orang tua pada anaknya. Apa kau menganggapnya serius?"
"Apa ada yang pernah melihat wujud penjaga itu?" Tanyaku lagi.
"Tidak ada. Kalaupun ada mereka cuma bocah-bocah nakal yang katanya melihatnya. Orang dewasa tidak menanggapinya secara serius."
"Bagaimana kalau orang dewasa yang melanggar? Apa yang akan terjadi?"
"Mereka akan dipindahkan secara paksa keluar dari hutan ini. Sama seperti yang terjadi pada seorang pemuda yang mencoba masuk baru-baru ini. "
'apa yang dimaksud orang itu adalah kak Angga?' pikirku.
Dari apa yang disampaikan aku bisa menyimpulkan bahwa penduduk desa ini meyakini keberadaan dua penjaga hutan itu. Dan mereka percaya bahwa hilangnya anak-anak itu dan kecelakaan yang terjadi di hutan ini bukanlah perbuatan penjaga hutan.
Kalau begitu siapa yang bertanggungjawab atas hilangnya anak-anak itu? Dan apa yang ada di dalam hutan itu yang bisa membuat anak-anak itu terbunuh?
"Ris!" Suara seorang pria tua memanggil. Suara yang familiar di telingaku.
Saat aku berpaling ke suara itu. Dan melihat pak Dodo berdiri tak jauh di belakangku. Pak Dodo sama terkejutnya melihatku.
"Lho? Mbaknya ke sini lagi? Apa tersasar lagi seperti waktu itu?" Tanya pak Dodo padaku keheranan.
Aku menanggapinya sambil tertawa kecil. "Bukan, Pak. Saya kesini cuma mampir sebentar habis dari rumah kerabat di desa sebelah."
"Bapak kenal perempuan ini?" Tanya pemuda itu pada pak Dodo.
"Iya nak, ini yang pernah mampir menginap di rumah kita. Yang bapak ceritakan tempo hari." Jawab pak Dodo pada pemuda itu.
"Mbak Melya. Benar 'kan? Bapak masih inget." Ujarnya padaku.
"Benar pak." Sahutku.
"Ini anak bapak yang pernah bapak ceritakan. Namanya Haris. Dia kerja di kota. Jadi cuma kalau pas libur seperti ini saja pulang." Pak Dodo memperkenalkan putranya padaku.
Kami berkenalan singkat.
"Ini pak. Sebagai ucapan terima kasih karena sudah bantu saya waktu itu. Saya memang berniat mampir. Tidak disangka malah bertemu di sini." Ucapku sambil memberikan bingkisan berisi makanan khas daerah. Kuharap ini bisa mengurangi kecurigaan Haris padaku. Dan menunjukkan tujuanku datang ke desa ini.
"Duh, gak usah mbak meli. Bapak niat bantu dengan ikhlas."
"Iya pak. Saya tahu bapak tulus. Dan ini bentuk ketulusan saya juga. Jadi tolong diterima." Ucapku sedikit memaksa. Pak Dodo pun akhirnya menerimanya.
Pak Dodo menawariku untuk mampir lagi ke rumahnya. Tapi hari semakin sore, jadi aku menolaknya. Aku tidak ingin kemalaman di jalan.
"Tunggu!" Panggilku ke Haris, sesaat sebelum berpisah. Haris menghentikan langkahnya. Sementara pak Dodo tetap berjalan di depannya.
"Ada apa nona yang selalu penasaran? Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi?" Sahutnya mencibir.
"Aku ingin tahu, apa ada salah satu penduduk sini yang pernah membangun rumah di dalam sana dan tinggal di dalam hutan?" Tanyaku. Jika firasatku benar, jika mimpi yang ku alami kemarin malam bukan sekedar mimpi melainkan petunjuk tentang hutan ini, maka bisa dipastikan ada bahaya yang mengancam yang tidak disadari oleh penduduk sini.
"Tidak ada. Setahuku tidak ada yang tinggal di dalam. Kau pikir orang sesinting apa yang bisa tinggal di dalam hutan sana sendirian?" Tanya Haris balik. Tanpa menunggu jawabanku dia beranjak pergi.
"Orang yang cukup sinting yang bisa menghilangkan nyawa anak-anak tak berdosa." Gumamku setelah Haris dan pak Dodo pergi.
MASIH MENUNGGU.
akhir nya berakhir jga kisah pilu dan menegangkan ini.
Legaaaaa.....
Ceritany menarik,seru dan tegang.
aq suka 👍👍👍
Selalu ditunggu.
Saya juga dianugerahi sense of horor yg peka wlau sekrng gk bisa liat lgi ,klo wktu kcl sering mreka nampk ,karna khodam warisan leluhur trlalu nyeremin mkya wlau mata batin dh kebuka max ttp aja mreka TAKUT NAMPAKIN DIRI .
Cuma kdng pas lwt t42 yg "wingit" suka panas dingn & benturan energi bkin aq gatel2 smlman biasa mlai magrib smpe subh hbis tu norml lgi , sya kdamg lngsung rukyah mandri utk netralin Alhamdulillah
Salam dari Danyang LELEMBUT 😘