NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mafia
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.

Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.

"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."

Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Penyatuan Dua Jiwa

Kamar utama di Villa de Nebbia hanya diterangi oleh pendar cahaya rembulan yang membias dari pantulan salju di luar jendela. Di atas ranjang luas itu, segalanya terasa begitu sakral. Ketegangan dunia luar seolah terserap oleh dinding-dinding batu vila, menyisakan ruang hampa yang kini hanya diisi oleh suara napas dua manusia yang sedang berada di puncak kerinduan.

Harry menatap Kayra yang terbaring di bawahnya dengan pemujaan yang tidak bisa dijelaskan. Perlahan, tangannya yang besar dan kasar mulai merayap naik, melewati lekukan pinggang Kayra hingga menyentuh dadanya yang kenyal. Harry meremasnya dengan penuh kelembutan, seolah takut akan merusak porselen berharga tersebut.

Detik itu juga, sebuah desahan lembut langsung keluar dari bibir Kayra. Suara itu terdengar seperti melodi yang menenangkan, namun bagi Harry, desahan itu adalah minyak yang disiramkan ke atas api gairah yang sudah membara. Gairah itu membakar setiap inci sarafnya, membuat Harry merasa lebih hidup daripada sebelumnya.

Dengan gerakan yang penuh kepastian namun tetap menjaga kelembutan, Harry mulai menanggalkan pakaian Kayra satu per satu. Saat helai terakhir kain itu terlepas, Harry terdiam sejenak. Ia memandangi tubuh Kayra yang indah di bawah cahaya temaram, tubuh yang selama ini tersembunyi di balik jas lab putih atau mantel tebal.

Harry merunduk, memberikan kecupan lembut di kening Kayra, lalu menatap matanya dalam-dalam. Tatapan yang begitu intens itu membuat Kayra mendadak merasa sangat terekspos, wajahnya merona merah karena malu.

Harry tersenyum tipis, lalu ia mulai melepaskan pakaiannya sendiri. Saat sweater dan celananya terlepas, kejantanannya terlihat jelas di depan mata Kayra. Mata Kayra membelalak kaget, ia segera memalingkan wajahnya ke samping dengan gerakan refleks, mencoba menyembunyikan rasa kikuknya yang luar biasa.

Harry terkekeh rendah, suara tawanya terdengar seksi di keheningan malam.

"Tidak perlu malu, Kayra. Kau akan merasakan kekuatannya nanti," bisiknya tepat di telinga wanita itu.

Kayra semakin terbelalak. Ia memukul dada Harry pelan, sebuah protes yang justru terdengar seperti godaan.

Namun, perhatian Kayra segera teralihkan saat jemarinya menyentuh permukaan kulit Harry. Pandangannya terpaku pada luka di perut Harry yang kotak-kotak dan berotot. Bekas jahitan operasi darurat yang Kayra lakukan di dalam gua itu masih terlihat jelas, kemerahan di antara kulit yang keras.

Kayra mengusap luka itu dengan ujung jarinya, sangat pelan dan penuh perasaan. Alis Harry berkerut, otot perutnya menegang saat merasakan sentuhan dingin tangan Kayra, namun pria itu tidak meringis sedikit pun. Ia hanya menahan napasnya, menikmati perhatian medis yang kini bercampur dengan kasih sayang murni.

Tiba-tiba, Kayra menghentikan gerakannya dan menatap Harry dengan sorot mata ragu. "Harry, bisakah kau ... pelan-pelan?"

Harry menghentikan ciumannya di leher Kayra. "Kenapa, Sayang? Apa kau takut?"

Kayra menggigit bibir bawahnya, tampak ragu sebelum akhirnya berbisik, "Karena ... selain ini adalah yang pertama bagiku, lukamu juga belum sepenuhnya sembuh. Aku tidak ingin jahitan itu terbuka lagi karena ... gerakanku."

Harry terdiam seketika. Gerakannya membeku. Ia menatap Kayra dengan tatapan tidak percaya. "Kau ... tidak pernah melakukan ini? Sama sekali tidak pernah? Bahkan dengan mantan kekasihmu?"

Kayra menggeleng pelan, rasa malu semakin mewarnai pipinya. "Aku ... aku terlalu sibuk belajar dan mengejar beasiswa. Aku tidak punya waktu untuk pacaran, apalagi melakukan hal seperti ini. Bagiku, anatomi manusia hanya ada di buku teks, Harry."

Seketika itu juga, Harry merasakan hatinya membuncah. Ada rasa hangat yang mekar di dadanya, rasa bangga dan posesif yang luar biasa. Di dunia yang ia tinggali, di mana segala sesuatu bisa dibeli dan kesucian adalah hal langka, ia menemukan bahwa wanita yang ia cintai ini memberikan segalanya yang murni kepadanya. Harry merasa sangat terhormat karena dialah orang pertama yang akan memiliki Kayra sepenuhnya.

"Kayra," Harry berbisik, suaranya kini terdengar begitu emosional. Ia mengecup ujung hidung Kayra dengan penuh janji. "Aku bersumpah akan memberimu kenangan yang paling indah malam ini. Aku akan menjagamu seolah kau adalah napas terakhirku."

Harry tidak menunggu jawaban lagi. Ia langsung membenamkan wajahnya di belahan dada Kayra, menghirup aroma tubuh wanita itu yang harum dan segar.

Sentuhan itu seketika membuat Kayra melenguh panjang, tangannya meremas rambut hitam Harry, menarik pria itu semakin dalam ke pelukannya.

Di dalam kamar yang menjadi saksi bisu itu, Harry memulai penjelajahannya dengan sangat sabar. Ia mencium setiap inci kulit Kayra, memberikan perhatian pada setiap titik sensitif yang membuat wanita itu gemetar.

Harry menepati janjinya untuk bergerak dengan sangat hati-hati. Di bawah temaram lampu tidur yang meredup, ia menatap wajah Kayra yang tampak begitu rapuh sekaligus mempesona. Setiap inci tubuh Kayra adalah keajaiban medis yang kini ia puja sebagai seorang pria, bukan sebagai pasien.

"Kau sangat indah, Kayra ... melampaui apa pun yang pernah kubayangkan," bisik Harry, suaranya parau oleh gairah yang ia tahan sekuat tenaga.

Matanya menelusuri lekuk tubuh Kayra dengan kekaguman yang begitu dalam, membuat Kayra merasa seolah-olah ia adalah satu-satunya wanita yang tersisa di bumi ini.

Namun, saat Harry mulai memasuki intinya, ia merasakan tubuh Kayra menegang hebat. Kayra mencengkeram bahu Harry, kuku-kukunya sedikit menekan kulit pria itu. Sebuah rintihan sakit yang tertahan keluar dari bibirnya, dan tak lama kemudian, Harry melihat butiran bening mengalir dari sudut mata Kayra, membasahi bantal sutra di bawahnya.

Harry segera menghentikan gerakannya. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat saat melihat air mata itu. Kekhawatiran mendalam langsung menyapu gairahnya.

"Kayra? Sayang, hei ... lihat aku," bisik Harry cemas.

Ia menumpu tubuhnya dengan lengan, menjaga agar tidak membebani perut Kayra sementara lukanya sendiri berdenyut nyeri. Ia mengusap air mata di pipi Kayra dengan ibu jarinya yang kasar namun sangat lembut.

"Maafkan aku ... apakah sangat sakit? Kita bisa berhenti, kita tidak harus melakukannya sekarang jika kau tidak siap."

Kayra menggeleng pelan, napasnya masih tersengal dan pendek-pendek. Ia mencoba mengatur rasa sakit yang asing namun intens itu. "Tidak, Harry ... jangan berhenti. Ini ... ini hanya kejutan bagi tubuhku. Aku hanya butuh sedetik."

Harry mengecup dahi Kayra, lalu beralih ke kelopak matanya yang basah. Ia membisikkan kata-kata penenang di telinga wanita itu, sebuah sisi Marcello yang tidak pernah diketahui dunia luar.

"Bernapaslah bersamaku, Kayra. Ikuti iramaku," gumam Harry lembut. "Aku di sini. Aku tidak akan menyakitimu lebih jauh. Aku mencintaimu ... kau dengar itu? Aku mencintaimu melebihi nyawaku sendiri."

Mendengar pengakuan yang begitu jujur dari bibir Harry, perlahan ketegangan di tubuh Kayra mencair. Rasa sakit itu perlahan digantikan oleh kehangatan yang menjalar, sebuah perasaan penuh yang membuatnya merasa utuh. Kayra menarik wajah Harry, menyatukan kening mereka.

"Jangan berhenti, Harry," bisik Kayra, kali ini dengan suara yang lebih mantap. "Bawa aku pulang ... bersamamu."

Harry tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan rasa syukur dan kasih sayang. Ia memulai kembali gerakannya dengan sangat perlahan, memberi waktu bagi tubuh Kayra untuk menyesuaikan diri.

Setiap gerakan Harry adalah bentuk komunikasi tanpa kata bahwa ia kini bukan lagi monster yang ditakuti dunia, melainkan seorang pria yang telah menemukan rumahnya di dalam diri seorang wanita bernama Kayra Ardeane.

Malam itu, di tengah kesunyian Alpen, rasa sakit berubah menjadi kenikmatan yang meluap, dan air mata berubah menjadi desahan bahagia. Mereka tidak hanya menyatukan raga, tapi menyegel takdir mereka dalam sebuah ikatan yang jauh lebih kuat dari dendam dan darah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!