Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengantar Pulang
Sarah yang menyaksikan itu tersenyum bahagia. Rasa ragu yang sempat menghantui perasaannya perlahan memudar.
“Oh, hi sayang,” ucap Dave sambil membalas kecupan yang sama.
Elia sempat kaget tidak percaya. Tubuhnya mematung sejenak, seolah otaknya terlambat memproses apa yang baru saja terjadi.
“Kau ke sini bersama siapa?” tanya Dave, berpura-pura santai.
“Aku datang bersama Mom dan Kak Angel,” ujar Elia sambil menunjuk ke arah keduanya yang sejak tadi memperhatikan keromantisan mereka tanpa berkedip.
Dave menoleh mengikuti arah tunjuk Elia. Sudut bibirnya terangkat, lalu ia melepaskan rangkulannya dan melangkah menghampiri ibu dan kakaknya.
“Mom, Kak Angel… kalian di sini juga?” sapa Dave hangat sambil mencium pipi Sarah, membuat sang ibu tersenyum semakin lebar.
“Iya,” jawab Sarah. “Angel yang mengajak makan di sini. Katanya restoran Jepang ini yang terbaik".
Ucapan Sarah terdengar oleh salah satu staf restoran yang kebetulan melintas, dan langsung dibalas dengan senyum ramah.
“Oh begitu,” kata Dave. “Kalau begitu, bergabung saja dengan aku dan teman-temanku.”
Ia merangkul bahu Sarah dengan santai, sementara Angel berjalan di sisi mereka.
Setibanya di meja, James, Albert, dan Erik langsung meletakkan sumpit mereka.
“Hallo, Bibi Sarah. Apa kabar?” sapa Erik ceria.
“Kabar baik,” jawab Sarah sambil tersenyum hangat.
“Ya ampun, sudah lama sekali kita tidak bertemu.”
Pandangan Sarah kemudian beralih ke Elia, lalu kembali pada Dave dengan sorot mata penuh arti.
“Kau sudah memperkenalkan istrimu belum?” tanyanya, dengan penekanan yang membuat Dave refleks terkekeh.
“Astaga, hampir saja,” gumam Dave. Ia lalu menoleh ke arah Elia.
“Guys, kenalkan ini Elia, istriku.”
Elia menahan napas, lalu tersenyum ramah. “Halo semuanya, salam kenal.”
Tatapan ketiga pria itu serempak beralih padanya, disusul senyum sopan dan anggukan kecil. Seolah menilai, namun tanpa kesan menghakimi.
Mata Elia tanpa sadar teralihkan pada tas berwarna hitam yang tergeletak di atas meja. "Itu kan bekal makan siang yang kutitipkan pada Bimbim"gumam nya dalam hati.
Matanya sedikit membesar. "Astaga, Dave sungguh memakannya?" gumamnya lahi. Perasaan hangat perlahan mengembang di dadanya, membuat bibirnya hampir tersenyum sendiri.
Angel kemudian mengangkat tangan, memanggil pelayan untuk memesan menu.
“Ini, Nyonya,” ujar pelayan itu sopan sambil menyerahkan buku menu.
Karena nanti malam Angel sudah memiliki agenda makan malam, ia memilih menu yang ringan. “Aku pesan salad salmon dan ice lemon tea,” ucapnya mantap.
Sementara itu, Sarah dan Elia sepakat memesan satu set sushi untuk porsi dua orang.
“Baik, mohon ditunggu sebentar,” kata pelayan tersebut sebelum undur diri.
Elia masih bisa merasakan sisa debar di dadanya setiap kali mengingat kecupan Dave tadi. Sentuhan singkat, namun cukup membuatnya gugup.
Meski ia tahu semua ini hanya sandiwara demi menyenangkan hati sang mertua, perasaannya tetap tak bisa dibohongi.
“Oh iya,” Sarah kembali membuka percakapan, menoleh pada ketiga pria di hadapannya. “Tadi Dave bilang kalian dokter spesialis. Kalau boleh tahu, spesialis apa?”
James, Erik, dan Albert saling pandang sejenak, lalu hampir bersamaan mengacungkan tangan sambil menyebutkan bidang mereka masing-masing.
“Aku dokter spesialis kandungan,” ujar James.
“Aku bedah,” sambung Erik dengan nada bangga.
“Dan aku spesialis kejiwaan,” kata Albert sambil tersenyum tenang.
“Wah, hebat sekali,” ucap Sarah tulus. “Bibi bangga pada kalian. Semoga karier kalian semakin sukses.”
Elia duduk kaku di samping Dave, berusaha bersikap senormal mungkin. Padahal jarak sedekat ini jarang mereka rasakan di rumah. Meski sering makan di satu meja, rasanya selalu ada batas tak kasat mata di antara mereka.
Bahkan tak jarang Dave memilih menghabiskan makanannya sendiri di kamar. Kini, duduk berdampingan seperti ini, Elia justru merasa asing. Dan entah kenapa, berharap kebersamaan singkat ini bisa bertahan sedikit lebih lama.
Sarah baru menyadari keberadaan tas bekal berwarna hitam di atas meja. Ia mencondongkan tubuh sedikit, menatapnya dengan rasa penasaran.
“Eh, ngomong-ngomong… ini tas bekal siapa?” tanyanya.
“Punyaku, Mom,” jawab Dave singkat.
“Punyamu?” Sarah mengernyit heran. Ia belum pernah melihat tas bekal itu sebelumnya. Setahunya, Dave juga tidak pernah membawa bekal ke kantor.
“Iya,” lanjut Dave, nadanya terdengar agak kaku. “Elia yang membuatkan bekal untukku setiap aku pergi ke kantor.” Ia sengaja menjaga ekspresinya tetap datar, seolah menepis sesuatu yang belum sepenuhnya ingin ia akui. Perasaan yang sebenarnya belum tumbuh, atau mungkin belum berani ia terima.
“Oh… so sweet sekali,” timpal Angel sambil tersenyum lebar. “Berarti kau pandai memasak ya, Elia?”
Elia mengangguk pelan, senyum malu-malu menghiasi wajahnya. “Tidak seberapa, Kak.”
“Kau harus bersyukur, Dave,” kata Sarah lembut namun tegas. “Punya istri seperti Elia. Sudah cantik, baik, pintar memasak pula.”
“Iya, betul,” Angel ikut menimpali tanpa pikir panjang. “Aku saja tidak pernah menyiapkan bekal untuk Billy.”
Ucapan itu langsung disambut tatapan agak tidak enak dari Sarah. Angel pun tersadar, terdiam sejenak. Maklum, kemampuan memasaknya memang sebatas mie instan.
“Kau tahu, Dave,” Erik ikut nimbrung sambil tersenyum usil. “Bekal dari istri itu biasanya jauh lebih nikmat daripada masakan koki bintang lima.”
“Kau ini seperti sudah beristri saja,” celetuk James cepat.
Tawa pun pecah di meja mereka. Suasana yang sempat kaku kembali mencair, dipenuhi canda ringan dan gelak kecil.
“Iya,” Dave akhirnya angkat bicara lagi. “Aku bersyukur mempunyai istri seperti Elia.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang sengaja diberi penekanan, “Walau awalnya… aku sempat tidak menerima perjodohan ini.”
Seisi meja mendadak terdiam. Suasana yang tadi riang seketika membeku. Sarah menatap Dave tajam, sementara Elia menunduk, jemarinya saling menggenggam tanpa sadar.
“Tapi,” Dave kembali berbicara, suaranya lebih dalam dan mantap, “Elia menunjukkan padaku arti ketulusan yang sebenarnya.”
Elia mengangkat wajahnya perlahan. Matanya bertemu dengan mata Dave singkat, namun cukup membuat dadanya terasa sesak oleh perasaan yang tak sempat ia siapkan.
“Pokoknya,” ujar Sarah dengan nada tegas, menatap Dave tanpa berkedip, “Mom berpesan padamu, jaga Elia baik-baik. Orang tulus tidak datang dua kali.”
Sarah sengaja mengucapkan kalimat itu di hadapan teman-teman Dave. Bukan tanpa alasan. Ia ingin mereka menjadi saksi, jika suatu hari nanti Dave berani bermain api dengan wanita lain.
“Iya, Mom,” sahut Dave singkat. Nadanya terdengar patuh, meski jelas ada keterpaksaan yang ia sembunyikan.
Di sebuah apartemen mewah, Bianca tampak uring-uringan. Wajahnya masam, alisnya berkerut sejak tadi. Ponsel di tangannya tak juga bergetar—tidak ada panggilan video seperti biasanya.
“Tidak mungkin Dave sedang bersama istrinya,” gumam Bianca kesal. “Dia kan tidak mencintai istrinya yang tidak modis itu.”
Ia bangkit dari sofa, lalu mondar-mandir tanpa arah, seperti setrikaan yang tak menemukan tempat berpijak. Sesekali ia berhenti hanya untuk menatap layar ponselnya, berharap ada nama yang muncul.
Bianca dulu seorang influencer dengan ribuan pengikut. Hidupnya penuh sorotan, endorsement, dan pujian. Namun sejak menjalin hubungan dengan Dave, semuanya berubah. Dave melarangnya bekerja, melarangnya aktif di media sosia. Alasannya klise, demi kebaikan dan ketenangan hubungan mereka.
Kini, di apartemen itu, Bianca tak punya kegiatan lain selain menunggu kabar dari seorang pria yang bahkan bukan miliknya sepenuhnya.
Dan semakin lama ia menunggu, semakin jelas rasa gelisah itu berubah menjadi ketakutan. Takut kehilangan, takut tergantikan, takut kenyataan yang selama ini ia tolak mulai menampakkan diri.
Makan siang berlangsung lancar tanpa gangguan apa pun. Dave sengaja mengaktifkan mode senyap di ponselnya, khawatir Bianca nekat menghubunginya lebih dulu. Padahal sebelumnya ia sudah berpesan dengan tegas agar Bianca tidak menghubunginya, kecuali jika Dave yang memulai.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, kebersamaan itu pun terpaksa diakhiri. Dave mengangkat tangannya memanggil pelayan untuk meminta bill. Tak lama kemudian, pelayan tersebut kembali dengan membawa nota dan meletakkannya di atas meja dengan sopan.
Dave meraih dompetnya, lalu mengeluarkan kartu hitam yang terselip rapi di dalamnya. Hari ini, ia memang berniat mentraktir makan teman dan keluarganya. Tanpa banyak alasan, hanya karena ia ingin.
“Dave, nanti aku transfer untuk biaya makan aku hari ini,” ucap James akhirnya, wajahnya tampak sungkan. Perasaan tidak enak jelas tergambar di matanya. Bagaimanapun, merekalah yang mengajak makan siang, bukan sebaliknya.
Dave terkekeh pelan, lalu menggeleng. “Aku tidak akan memberikan nomor rekeningku padamu,” ujarnya sambil tersenyum santai namun tegas.
Sebelum James sempat membalas, Sarah ikut menimpali, “Anggap saja ini sebagai jamuan untuk menyambut kepulangan kalian.”
Ucapan itu membuat suasana seketika mencair. Albert, James, dan Erik saling berpandangan, lalu mengangguk bersamaan.
“Terima kasih, Dave,” ucap mereka kompak.
Dave hanya membalas dengan senyum tipis. Di balik ekspresinya yang tenang, ada rasa hangat yang jarang ia rasakan. Kebersamaan sederhana, tanpa tuntutan, tanpa konflik. Untuk sesaat, ia lupa pada kerumitan hidupnya yang lain, sebelum akhirnya semua kembali berjalan seperti semula.
Satu per satu mereka keluar dari dalam restoran. Udara siang menyambut dengan hangat ketika pintu kaca itu tertutup di belakang mereka. Dave sempat berniat mengantar teman-temannya ke tempat masing-masing, terlebih mobil yang ia bawa cukup untuk menampung enam orang sekaligus.
Namun niat itu terpaksa ia urungkan begitu menyadari keberadaan Elia di sisinya. Terutama Sarah. Dave sudah bisa membayangkan rentetan omelan yang akan keluar jika ia nekat meninggalkan istrinya demi mengantar yang lain. Sarah bukan tipe yang akan membiarkan hal seperti itu berlalu begitu saja.
"“Kalian sudah pesan taksinya?” tanya Dave sambil menoleh.
Erik, yang memang bertugas memesan taksi, hanya mengangguk sekilas tanpa menatap Dave. Kedua matanya terpaku pada layar ponsel, jarinya bergerak cepat mencoba berbagai aplikasi. Wajahnya makin lama makin kusu
t.
Hampir sepuluh menit berlalu, namun tak satu pun taksi yang berhasil mereka dapatkan. Berkali-kali mencoba, hasilnya tetap sama, gagal.
“Sial! Kenapa sulit sekali mendapatkan driver,” gerutu Erik kesal.
Sementara itu, Angel dan Sarah memilih menunggu di dalam mobil. Keduanya sudah tak tahan berdiri terlalu lama di luar dengan cuaca yang lumayan panas dan menyengat.
Elia, yang sejak tadi hanya berdiri diam di samping Dave, akhirnya memberanikan diri menyuarakan pendapatnya. “Kenapa tidak kau saja yang mengantar mereka, Dave?” ujarnya ringan.
Dave menoleh. “Lalu, kau pulang bersama Mom dan Kak Angel?”
“Tentu saja aku pulang bersamamu,” jawab Elia sambil tersenyum menggoda. Namun, ekspresi Dave tetap datar, nyaris tanpa reaksi.
“Maksudmu bagaimana?” tanya Dave singkat.
“Kita antar mereka ke tempat masing-masing, baru setelah itu pulang ke rumah. Eh, atau kau mau kembali ke kantor?” lanjut Elia.
Dave terdiam sesaat. Ada rasa berat di dadanya untuk menjawab iya, karena itu sama saja dengan menuruti saran Elia sepenuhnya. Namun melihat kondisi di sekitar, ia tak punya banyak pilihan.
“Baiklah.”
Dave menoleh ke arah ketiga temannya. “Albert, Erik, James. Biar aku yang mengantar kalian pulang.”
“Jangan, Dave. Kami tidak mau merepotkan kalian,” ujar James sungkan.
“Tidak apa-apa. Anggap saja ini seperti jalan-jalan. Pasti kalian rindu atmosfer Bangkok, kan?” timpal Elia cepat. Dave hanya menggulirkan mata, menatapnya malas.
“Wah, idemu bagus sekali, Elia. Kita bisa sambil berbincang di dalam mobil. Ya, hitung-hitung menghabiskan sisa libur kita sebelum besok kembali bertugas,” kata Erik antusias.
“Ayo, ikut aku ke mobil. Cuacanya sangat panas,” ajak Dave sambil bergerak tergesa.
Sebelum masuk, Elia menghampiri Sarah sejenak untuk menyampaikan bahwa mereka akan mengantar teman-teman Dave terlebih dahulu.
“Baiklah, sayang. Kalau begitu hati-hati ya. Ibu menunggu kalian di rumah saja,” ucap Sarah lembut.
“Baik, Mom.”
Kini kelimanya berada di dalam mobil, melaju membelah jalanan kota dengan Dave sebagai pengemudi. Sepanjang perjalanan, Erik terus mengoceh tanpa henti, membuat James dan Albert saling pandang dengan wajah pening.
“Kalian tahu, waktu aku di China, aku mengunjungi satu kota yang sempat jadi pusat wabah. Dan kalian tahu?” ucapan Erik terhenti sesaat, seolah menimbang kembali ingatan menjijikkan itu. “Saat aku masuk ke toilet… ada seorang pria yang sedang buang air besar dan bahkan tidak menutup pintunya.”
James langsung meringis, sementara Albert mendesah panjang. Dave hanya fokus pada jalan, berharap cerita Erik berhenti sampai di situ, meski firasatnya berkata sebaliknya.
Elia bergidik ngeri sambil tertawa kecil, antara jijik dan terhibur. Reaksi itu justru membuat Erik semakin bersemangat. Dengan gestur tangan yang berlebihan, ia kembali melanjutkan ceritanya. Kali ini dengan nada yang jauh lebih dramatis.
“Dan hal yang paling menegangkan dalam hidupku adalah,” ucap Erik, sengaja memberi jeda. “Saat aku mengunjungi sebuah resto untuk bertemu seorang wanita yang kukenal lewat aplikasi kencan.”
James dan Albert saling pandang, sudah menebak ke mana arah cerita itu akan berujung.
“Tapi ternyata wanita itu membohongiku,” lanjut Erik dengan suara lebih rendah. “Dia sudah punya suami. Dan kau tahu apa yang terjadi setelah itu?” Erik mencondongkan tubuhnya ke depan. “Aku hampir saja dibunuh oleh suaminya sendiri.”
Elia refleks menutup mulut, matanya membelalak. “Serius?” tanyanya setengah tak percaya.
“Serius,” jawab Erik mantap. “Pria itu datang dengan wajah merah padam, membawa belati. Kalau saja James dan Albert tidak segera datang…” Erik menghela napas panjang, menatap lurus ke depan. “Mungkin sekarang aku sudah tidak ada di dunia ini.”
James mendengus. “Berlebihan. Kami hanya menarik mu keluar dari restoran.”
“Ya, tapi tetap saja. Kalian menyelamatkan nyawaku,” sahut Erik cepat.
Albert menggeleng pelan. “Itulah akibatnya kalau asal swipe tanpa mikir.”
Di kursi pengemudi, Dave tetap diam. Tangannya mantap di setir, namun rahangnya mengeras tipis. Cerita Erik, entah kenapa, membuat pikirannya melayang pada kebohongan, rahasia, dan konsekuensi yang menunggu siapa pun yang bermain api. Elia melirik Dave sekilas, menyadari perubahan kecil itu dan senyum di bibirnya perlahan memudar, digantikan rasa penasaran yang tak terucap.
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
semoga berbeda ini cerita