NovelToon NovelToon
Aku Berharga Saat Ku Jatuh

Aku Berharga Saat Ku Jatuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu / Menjadi Pengusaha / Cinta Murni
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arias Binerkah

Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.

Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.

Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.

Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..

Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 19.

Tin. Tin. Tin.

Suara klakson motor terdengar nyaring dari arah berlawanan. Pak Baskoro refleks memperlambat laju motor. Aurely yang mendengar teriakan Rizky menoleh.

Rizky yang sudah menghentikan motornya tepat di sisi jalan. Helm masih menutupi wajahnya. Ia mengangkat tangan memberi isyarat.

“Mbak… Pak… tunggu sebentar.” Teriak Rizky lagi.

Pak Baskoro menepi dan mematikan mesin. “Mas Rizky ada apa ya?” gumam Pak Baskoro.

Aurely terdiam menatap sosok Rizky. Jantungnya berdetak lebih kencang, berbagai perasaan berkecamuk. Takut ada berita buruk mengenai keluarga Bu Wiwid, takut berita buruk mengenai pekerjaannya.. Dan ada perasaan lain yang sulit untuk dijelaskan.

Rizky menjalankan motor pelan pelan mendekati motor Pak Baskoro. Ia membuka helmnya. Saat sudah berhenti.

“Maaf.” Ucap Rizky, Wajahnya tampak lelah, matanya merah seperti kurang istirahat.

“Maaf saya menghentikan Bapak dan Mbak Aurely.” katanya cepat. “Saya baru dari kampus lalu rumah sakit.”

Aurely langsung menoleh. “Anak Bu Wiwid, Rembulan gimana, Mas?”

Rizky menghela napas. “Harus opname. Panasnya belum stabil. Bu Wiwid jaga di sana.”

“Ya Allah…” Aurely menutup mulutnya sesaat. “Kasihan.”

Rizky mengangguk. “Itu sebabnya aku ngejar Mbak.”

Pak Baskoro memperhatikan mereka berdua dengan tenang. “Ada pesan, Mas?”

“Iya, Pak.” Rizky lalu menoleh ke Aurely. “Bu Wiwid titip pesan.”

Aurely menegakkan tubuhnya tanpa sadar. Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Besok pagi,” lanjut Rizky pelan, “Bu Wiwid minta Mbak datang lebih awal. Surat lamaran resmi itu… diserahkan langsung ke Bu Retno.”

Aurely terdiam.Nama itu membuat perutnya terasa mengeras lagi.

“Oh…” suaranya hampir tak terdengar. “Baik, Mas.”

Rizky mengangguk. “Aku kemungkinan juga tidak ke kios pasar. Aku ke kampus dan harus balik ke rumah sakit pagi-pagi.”

Rizky menatap wajah Aurely, tampak ia berat jika besok pagi tidak bisa ke kios pasar. Karena ia tahu Mamanya belum bisa menerima Aurely. Tapi tugasnya di luar kios pasar masih banyak.

Aurely mengangguk pelan. “Iya, Mas. Aku mengerti.”

Ada jeda singkat. Angin malam berembus, membawa suara kendaraan yang jarang lewat.

“ Kalau urusanku sudah selesai, aku sempatkan ke kios. Bu Wiwid kelihatannya juga khawatir,” tambah Rizky. “Tapi dia nitip salam buat Mbak. Katanya… tetap tenang.”

Aurely tersenyum kecil. “Sampaikan terima kasih ke Bu Wiwid ya, Mas.”

Rizky tersenyum tipis. “Pasti.”

Pak Baskoro akhirnya angkat suara. “Semoga anaknya cepat sembuh.”

“Amin, Pak. Terima kasih.”

Rizky memasang kembali helmnya. “Hati-hati di jalan, Pak, Mbak.”

“Iya, Mas.” Ucap Aurely.

“Hati hati juga Mas.” Ucap Pak Baskoro.

Rizky mengangguk, namun sebelum motor Pak Baskoro bergerak.. “Eh Mbak , mengenai foto foto itu, bisa dicek di CCTV pasar. Di kios Bu Wiwid juga ada CCTV tapi saya belum sempat cek.” Ucap Rizky selanjutnya .

“Baik Mas, terima kasih.” Ucap Aurely.

Rizky mengangguk sambil tersenyum. Rizky membalikkan arah motornya dan perlahan berjalan ..

Pak Baskoro pun memutar gas , dan motor melaju perlahan.

Beberapa meter berlalu tanpa kata. “Aurely,” panggil Pak Baskoro lembut.

“Iya, Yah?”

“Kamu kenapa diam?”

Aurely menatap jalan di depannya. Lampu-lampu terlihat kabur.

“Entah, Yah…” katanya jujur. “Rasanya nggak tenang.”

Pak Baskoro tidak memaksa. “Karena besok?” Masih kepikiran foto foto Ayah?”

“Iya.” Aurely menarik napas dalam. “Bu Retno. Surat lamaran. Dan… aku takut salah lagi.”

“Juga masih penasaran, siapa yang sudah mengambil foto foto Ayah.” Suara Aurely lagi, “Ayah marah dengan foto itu?”

Pak Baskoro menoleh sekilas. “Kamu sudah melakukan yang bisa kamu lakukan hari ini.”

“Dan untuk foto foto itu tak usah begitu kamu pikirkan.” Ucap Pak Baskoro menjalankan motor lebih kencang. “Lama lama mereka akan diam sendiri. Tidak berisik.”

Aurely mengangguk, tapi dadanya masih berat. Besok pagi terasa begitu dekat.

Dan entah kenapa, kali ini bukan tubuhnya saja yang lelah. Melainkan hatinya yang gelisah, menunggu hari baru dengan rasa was-was yang sulit dijelaskan.

☀️☀️☀️

Pagi datang terlalu cepat bagi Aurely.

Ia terbangun sebelum azan subuh, jantungnya sudah berdegup tak beraturan. Tidak ada mimpi buruk, tapi rasa gelisah itu menempel sejak ia membuka mata.

Surat lamaran itu terlipat rapi di dalam map cokelat. Aurely sudah membacanya berulang kali semalam, memastikan tidak ada salah tulis, tidak ada kalimat yang terdengar berlebihan. Namun tetap saja, perasaannya tidak kunjung tenang.

“Aurely, sarapan dulu,” suara ibunya memanggil dari dapur.

“Iya, Bun.”

Ia memaksa menelan beberapa suap nasi, meski rasanya hambar. Pak Baskoro hanya memperhatikannya tanpa banyak bicara. Ia tahu, hari ini bukan hari yang bisa diringankan dengan nasihat panjang.

“Kita berangkat lebih pagi?” tanya Pak Baskoro.

“Iya, Yah. Harus lebih awal.”

Pak Baskoro mengangguk. “Ayah juga akan ke kios koperasi dulu.”

Sepanjang perjalanan, Aurely memeluk map itu erat di dadanya. Angin pagi dingin, tapi telapak tangannya tetap hangat oleh keringat.

Pasar masih setengah terjaga ketika mereka tiba. Beberapa pedagang baru membuka terpal, aroma tanah basah dan sayur segar bercampur di udara.

“Jangan terlalu khawatir Rel,” kata Pak Baskoro saat motor berhenti. “Kalau ada apa apa kabari Ayah.”

Aurely mengangguk. “Iya, Yah.” Ucap Aurely lirih, “Aku sadar Yah, ternyata satu kesalahan tidak cukup dihapus dengan kata maaf.”

Pak Baskoro mengusap lembut kepala Aurely, “Iya, kamu harus lebih baik dalam sikap dan tutur kata, terus menerus jangan berhenti,” ucapnya pelan penuh kasih, “tapi jangan lupa, kamu juga berhak belajar dari kesalahan. Ayah percaya kamu pasti bisa.”

Aurely menelan ludah. Kata percaya itu justru membuat matanya terasa panas.

“Iya, Yah… terima kasih.”

Pak Baskoro tersenyum singkat lalu menepuk bahunya. “Ayah ke koperasi dulu. Kamu cepat ke kios.”

Aurely mengangguk. Ia turun dari motor, berdiri sesaat memperhatikan punggung ayahnya yang menjauh di antara deretan kios. Ada rasa ingin memanggil, tapi ia menahannya. Hari ini, ia harus berjalan sendiri.

Aurely terus melangkah ke kios terbesar di ujung pasar.

Saat sampai di dekat kios. Hati Aurely lega. Rolling door rumah makan dan toko roti masih tertutup. Hanya pintu yang sudah terbuka. Seperti pagi kemarin, di saat ia datang.

Aurely terus melangkah masuk. Suasana masih sepi. Baru beberapa karyawan yang datang. Lampu di dalam menyala sebagian. Aroma masakan dari dapur belakangan telah tercium oleh Arumi.

Aurely menghela napas pelan. “Baru sehari tidak ketemu Bu Wiwid dan Elin Elang, terasa sudah berhari hari..” gumamnya.

Namun di saat ia baru berjalan empat langkah. Jantungnya berdetak lebih keras. Saat pandangan matanya melihat show room toko roti, dari arah pintu

Dan di kursi pojok itu, Bu Retno sudah duduk.

Perempuan itu mengenakan pakaian rapi berwarna gelap, rambutnya tersanggul sederhana. Sebuah cangkir kopi terletak di samping buku catatan yang sudah terbuka.

Aurely berhenti sejenak di ambang pintu. Menarik napas panjang..

“Pagi sekali Bu Retno sudah datang.” Gumamnya di dalam hati, “bahkan belum ada karyawan yang membersihkan ruang ini.”

Lalu melangkah masuk.

“Selamat pagi, Bu,” ucapnya pelan tapi jelas.

Bu Retno mengangkat wajahnya. Tatapannya langsung tertuju pada map di tangan Aurely.

1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
aduh aduh ada yg kebakaran tapi bukan hutan, ada yg membara tapi bukan arang 😋 bolehnya iri, bolehnya kesal, bolehnya marah, bolehnya ngancam /NosePick//NosePick/
Siti Naimah
tantangan hidup Aurel masih berlanjut.semangat pantang menyerah Aurel.. buktikan bahwa kamu mau maju
Siti Naimah
Aurel biar bertambah pengalaman hidup.bahwa tidak semua orang seperti Bu wiwid.yg well come sama dirinya.bu Retno ibunya Rizky pribadi yg berbeda..semoga engkau lulus Aurel
Siti Naimah
ibunya Rizky Bu Retno kelihatan nya galak ya? semoga saja Aurel aman.
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
Siti Naimah
penasaran banget deh...kok ada aja yang tahu kehidupan keluarga Aurel..
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
Siti Naimah
itulah Aurel.. biarpun hidup di desa namanya peluang untuk maju tetep saja ada.makanya harus ikhtiar dan selalu optimis 💪
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
pokok e ttp smgt mbk yu
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
ahhhh tepat sasaran deh
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
hahahahha hayo mulai deh
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
lha tetbawa juga hadeh rel knp suka kali gyu dikit2 mewek sih jd lebih kuat napa
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
hahh saiapa itu
Ranti Calvin
👍
Siti Naimah
nha..Aurel sekarang kamu dapat ilmu kan?tentang kisah hidupnya Bu Wiwid.
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
tuuh kan... ceu @Ai Emy Ningrum bener kan.. 🤣🤣🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
lha ada apa cari2 pemilik
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
ehh .. ngaku juga
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
hayao siala tuhh
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
wehh lucu ini orng dia di bantu mlh ngejek pula hadeh dasar org muna wis angel
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
healah sastro2 kok ya segituya
tp tak apa ya pak bas slow aja spa tau nnti dpt yg lebih gede lagi rezekinya
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
heheh mulut orang mah suka gtu rel
harus kuat dan tahan banting
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!