NovelToon NovelToon
DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 Satria Sakit

Empat tahun telah berlalu sejak kelahiran Satria Putra Sultan. Anak laki-laki yang dulu hanya bisa tertidur damai di pelukan ibunya kini telah tumbuh menjadi sosok yang aktif dan lincah, dengan wajah tampan yang semakin mirip dengan ayahnya dan senyum hangat yang mewarisi dari ibunya. Setiap pagi, Satria selalu bangun lebih awal dari biasanya, berlari-lari kecil di halaman rumah sambil mengejar kupu-kupu atau bermain dengan bola kecil yang diberikan oleh Haji Mansur. Suara tawa dan keceriaannya selalu mengisi setiap sudut rumah, membuat hari-hari Sultan dan Alya semakin penuh dengan kebahagiaan.

Masa-masa musim hujan yang biasanya dinanti karena udaranya yang segar kini menjadi momok bagi keluarga Sultan. Hujan yang mengguyur kota Malang selama hampir dua minggu berturut-turut telah menciptakan banyak genangan air di berbagai tempat, termasuk di sekitar lingkungan rumah mereka. Meskipun Sultan dan Alya selalu rutin membersihkan tempat-tempat penampungan air di sekitar rumah, namun beberapa genangan air di jalanan dan halaman rumah tetangga yang tidak terurus menjadi tempat berkembangbiak bagi nyamuk Aedes aegypti—penyebab utama demam berdarah.

Awalnya, tidak ada yang menyadari bahwa bahaya telah mengintai. Pada hari Minggu pagi yang cerah setelah hujan reda, Satria tiba-tiba merasa tidak enak badan. Dia tampak lesu dan tidak bersemangat seperti biasanya, menolak untuk bermain dan hanya ingin berbaring di pangkuan ibunya. Alya mengira anaknya hanya kelelahan akibat bermain terlalu banyak hari sebelumnya, sehingga dia memberikan minuman hangat dan membiarkan Satria beristirahat di kamar tidur. Namun, pada malam hari yang sama, suhu tubuh Satria mulai meningkat secara drastis, mencapai 39,5 derajat Celsius. Dahinya yang panas membuatnya terus menangis dan mengeluh sakit kepala yang menyiksa.

“Sayang, coba tolong periksa Satria lagi,” ujar Alya dengan suara yang penuh kekhawatiran kepada Sultan, yang sedang memeriksa suhu tubuh anak mereka dengan termometer digital. “Suhu nya tidak kunjung turun meskipun sudah kuberi kompres dingin berkali-kali.”

Sultan mengangguk dengan wajah yang serius, tangannya sedikit menggigil saat melihat angka yang muncul di layar termometer. “Sudah tiga jam saya pantau, suhu nya justru semakin naik,” jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar. “Kita tidak bisa menunda lagi. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit.”

Tanpa berlama-lama, Sultan segera menyiapkan mobil sambil Alya membersihkan wajah dan tubuh Satria dengan lap basah yang hangat. Haji Mansur dan Bu Sri yang tinggal tidak jauh dari rumah mereka segera datang ketika mendengar kabar bahwa Satria sedang tidak enak badan. Mereka ikut serta dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Umum Daerah Malang, dengan hati yang penuh kekhawatiran dan doa yang terus mengalir dari bibir mereka.

Di rumah sakit, Satria segera diperiksa oleh dokter anak yang bertugas, Dokter Rina. Setelah melakukan pemeriksaan fisik dan beberapa tes awal, dokter mengungkapkan bahwa ada kemungkinan besar Satria menderita demam berdarah. “Kita perlu melakukan tes darah untuk memastikan diagnosisnya dengan tepat,” ujar Dokter Rina dengan suara yang penuh empati. “Gejala yang dialami oleh Satria—demam tinggi yang tidak kunjung turun, sakit kepala hebat, dan rasa tidak nyaman pada tubuh—merupakan gejala awal yang umum terjadi pada pasien demam berdarah. Kami akan memberikan perawatan suportif terlebih dahulu untuk menurunkan suhu tubuhnya dan menjaga kadar cairan dalam tubuhnya.”

Selama menunggu hasil tes darah, waktu terasa sangat lama bagi keluarga Sultan. Satria yang biasanya aktif dan ceria kini terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit, matanya yang biasanya cerah kini tampak lesu dan berkaca-kaca karena rasa sakit yang dirasakannya. Alya tidak pernah menjauh dari sisi anaknya, tangan kanannya selalu menggenggam tangan kecil Satria dengan erat, sementara Sultan terus berjalan bolak-balik di sekitar ruangan dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Haji Mansur duduk dengan tenang di sudut ruangan, namun matanya yang sering mengawasi Satria menunjukkan betapa dalam kekhawatirannya terhadap cucunya yang tersayang.

Setelah sekitar dua jam menunggu, Dokter Rina kembali dengan hasil tes darah yang sudah keluar. Wajahnya yang serius membuat semua orang langsung merasa tegang. “Hasil tes menunjukkan bahwa Satria memang menderita demam berdarah dengue tipe tiga,” ujarnya dengan suara yang lembut namun jelas. “Jumlah trombositnya saat ini berada di angka 80.000/mm³, yang sudah berada di bawah batas normal. Kondisinya tergolong cukup berat sehingga ia perlu dirawat inap agar kami dapat memantau kondisinya secara terus-menerus dan memberikan perawatan yang sesuai.”

Kata-kata dokter tersebut seperti kilat yang menyambar hati Sultan dan Alya. Air mata kecemasan langsung menetes di wajah Alya, sementara Sultan mencoba tetap tenang untuk bisa mengambil keputusan yang terbaik bagi anaknya. “Baiklah Dokter, kami akan mengikuti semua anjuran Anda,” ujar Sultan dengan suara yang penuh tekad. “Silakan lakukan apa saja yang diperlukan untuk menyembuhkan Satria.”

Selama masa perawatan di rumah sakit, kondisi Satria fluktuatif dan membuat keluarga selalu berada dalam ketegangan yang tinggi. Pada hari kedua perawatan, suhu tubuhnya masih belum stabil dan jumlah trombositnya terus menurun menjadi 55.000/mm³. Satria mulai mengalami mual dan muntah secara berulang-ulang, sehingga tidak dapat makan atau minum dengan baik. Kulitnya juga mulai muncul bintik-bintik merah kecil yang menyebar dari leher hingga bagian dada dan lengan, tanda bahwa virus sudah mulai menyerang pembuluh darahnya.

“Kami akan meningkatkan dosis cairan infus dan memberikan obat untuk membantu meningkatkan jumlah trombositnya,” jelas Dokter Rina saat melakukan pemeriksaan harian pada Satria. “Namun yang paling penting adalah dukungan dari keluarga dan kesabaran dalam menjalani masa perawatan. Demam berdarah tidak bisa disembuhkan secara instan, tetapi dengan perawatan yang tepat dan istirahat yang cukup, kondisi pasien akan perlahan membaik.”

Setiap hari, Sultan dan Alya bergantian untuk menemani Satria di rumah sakit. Ketika Sultan harus pergi ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan dan mengatur program kerja sama dengan PT. Citra Kreatif Indonesia, Alya akan berada di sisi anaknya setiap saat, membacakan cerita atau menyanyikan lagu anak-anak yang dulu sering dinyanyikannya saat Satria masih bayi. Kadang-kadang, ibu-ibu dari kelompok kerajinan tangan Bu Siti juga datang untuk mengunjungi Satria, membawa makanan segar yang dibuat dengan cinta dan barang-barang kerajinan tangan yang diharapkan bisa membuat Satria lebih senang.

“Pak Sultan, Bu Alya, kami semua selalu berdoa untuk kesembuhan Mas Satria,” ujar Bu Siti saat mengunjungi Satria pada hari ketiga perawatan. “Kami telah mengumpulkan dana dari seluruh anggota kelompok untuk membantu biaya perawatan Mas Satria. Meskipun tidak banyak, semoga bisa meringankan beban Anda berdua.”

Sultan merasa sangat terharu dengan kebaikan yang diberikan oleh Bu Siti dan anggota kelompoknya. “Terima kasih banyak atas perhatian dan doanya, Bu Siti,” ujarnya dengan suara penuh penghargaan. “Kebaikan ini akan selalu kami ingat sepanjang hidup. Semoga kelompok kerajinan tangan kita bisa terus berkembang dan memberikan manfaat bagi banyak orang.”

Pada hari kelima perawatan, kondisi Satria mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang menggembirakan. Suhu tubuhnya akhirnya stabil di angka 37,5 derajat Celsius dan dia mulai bisa makan makanan lunak dengan sedikit demi sedikit. Jumlah trombositnya juga mulai meningkat perlahan menjadi 120.000/mm³, membuat seluruh keluarga merasa lega dan penuh harapan. Dokter Rina menyatakan bahwa Satria telah keluar dari fase kritis dan hanya membutuhkan waktu beberapa hari lagi untuk bisa pulang dan melanjutkan perawatan di rumah.

“Kondisi Mas Satria memang sudah jauh lebih baik,” ujar Dokter Rina dengan senyum hangat saat memeriksa kondisi Satria pada hari keenam perawatan. “Namun, ia masih perlu menjalani masa pemulihan yang cukup lama di rumah. Pastikan ia cukup beristirahat, mendapatkan makanan yang bergizi dan mudah dicerna, serta selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar untuk mencegah terjadinya komplikasi atau infeksi kembali.”

Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, hari yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Satria akhirnya bisa pulang ke rumah, dengan wajahnya yang mulai kembali cerah dan senyumnya yang mulai muncul lagi. Sultan membawa anaknya dengan hati-hati ke dalam mobil, sementara Alya membawa tas yang berisi obat-obatan dan anjuran perawatan dari dokter. Haji Mansur dan Bu Sri sudah menunggu di rumah dengan hidangan kesukaan Satria yang sudah siap di meja makan, serta dekorasi kecil yang membuat rumah terlihat lebih hangat dan menyambut kedatangan anak mereka yang telah pulih.

Selama masa pemulihan di rumah, Satria harus beristirahat dan tidak boleh melakukan aktivitas yang berat selama beberapa minggu ke depan. Namun, hal itu tidak membuatnya merasa kesepian. Sultan dan Alya selalu menemukan cara untuk membuat hari-hari Satria tetap menyenangkan, seperti bermain permainan papan, menggambar bersama, atau berjalan-jalan santai di taman kota yang tidak jauh dari rumah mereka. Ketika kondisi Satria semakin membaik, Sultan mulai membawanya ke kebun kerajinan tangan yang dikelola oleh kelompok Bu Siti, agar ia bisa belajar tentang budaya dan keterampilan tradisional sejak dini.

“Lihat, Nak Satria,” ujar Bu Siti dengan senyum hangat saat menunjukkan berbagai produk kerajinan tangan yang dibuat oleh anggota kelompoknya. “Ini adalah tas anyaman bambu yang dibuat dengan tangan sendiri, dan ini adalah boneka kain batik yang sama dengan yang kami berikan padamu saat kamu lahir. Semua ini dibuat dengan cinta dan kerja keras dari ibu-ibu di kelompok kami.”

Satria melihat dengan mata yang penuh rasa kagum, tangan kecilnya dengan hati-hati menyentuh produk-produk yang indah itu. “Ini cantik sekali, Bu Siti,” ujarnya dengan suara yang lembut namun jelas. “Saya juga ingin bisa membuatnya seperti ibu-ibu nanti.”

Kata-kata Satria membuat semua orang yang ada di sana tersenyum. Sultan melihat ke arah anaknya dengan rasa bangga yang luar biasa, menyadari bahwa pengalaman yang dialami Satria telah mengajarkannya tentang pentingnya menjaga kesehatan dan menghargai kerja keras serta kebaikan orang lain. Dia berjanji di dalam hatinya bahwa dia akan selalu mengajarkan Satria tentang nilai-nilai yang benar dalam hidup, serta pentingnya membantu sesama dan menjaga lingkungan sekitar untuk menciptakan dunia yang lebih baik bagi semua orang.

Di halaman rumah yang sudah kembali bersih dan bebas dari genangan air, sinar matahari pagi mulai menerpa dengan hangat, menyinari wajah Satria yang sedang bermain dengan bola kecilnya kembali. Suara tawa dan keceriaannya yang kembali mengisi setiap sudut rumah menjadi bukti bahwa kebahagiaan memang selalu datang kembali setelah masa-masa sulit berlalu. Dan di dalam hati keluarga Sultan, mereka tahu bahwa pengalaman ini telah membuat mereka semakin kuat dan semakin menghargai setiap momen kebersamaan yang mereka miliki bersama-sama.

 

1
Anonymous
pakai chatgpt?
niadatin tiasmami: kok komen gt
total 2 replies
only siskaa
seruu🔥mmpir juga ya kk
niadatin tiasmami: ok kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!