NovelToon NovelToon
Dua Pergi Satu Bertahan

Dua Pergi Satu Bertahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tatie Hartati

Ada tiga remaja putri bersahabat mereka adalah Tari, Tiara , dan Karin mereka mempunyai pasangan masing-masing. dan pasangan mereka adalah sahabatan juga termasuk geng brotherhood pasangan Tari adalah Ramdan, pasangan Tiara adalah Bara dan pasangan ketiga ada Karin sama Boby.. karena ada sesuatu hal ketiga cowok itu membuat pasangan mereka kecewa dengan kejadian yang berbeda - beda namun dia antara 3 pasangan itu hanya Tari dan Ramdan yang bertahan karena Tari memberikan kesempatan kembali kepada Ramdan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17 Akar Yang Bersemi

Di luar ruang OSIS, hiruk-pikuk suara siswa-siswi yang berlatih deklamasi puisi terdengar bersahutan. Tapi di dalam ruangan ber-AC itu, suasananya justru jauh lebih intens. Tiga pasang mata tajam sedang menatap lembar penilaian yang ada di meja.

Arga: (Menatap Ramdan dengan serius) "Ndan, gue mohon nanti pas kasih komentar ke peserta harus profesional dan objektif ya. Jangan mentang-mentang lo jago sastra, lo sikat semua tanpa ampun."

Ramdan: "Tenang kok, Ga. Aku pasti profesional. Tapi..." Ramdan menjeda kalimatnya, lalu menatap Arga dengan tatapan menyelidik. "Apa kamu juga bisa profesional? Jangan-jangan nanti kalau liat penampilan 'seseorang', kamu malah terbawa perasaan lagi?"

Mendengar sindiran halus Ramdan, Arga malah tertawa lepas, sebuah tawa yang jarang ia tunjukkan di depan anggota OSIS lain.

Arga: "Harus lah terbawa perasaan! Hahaha! Namanya juga puisi, Ndan. Kalau baca puisi nggak pake perasaan, mending baca jadwal piket kelas aja!"

Raihan: (Sambil geleng-geleng kepala sambil mencatat sesuatu) "Waduh, kalau Ketua dan Waketos-nya udah bahas perasaan begini, gue bagian yang ngitung poin aja deh. Takut kena radiasi baper kalian berdua."

Ramdan cuma mendengus pelan, tapi dalam hatinya dia setuju. Puisi memang soal rasa. Dan saat ini, rasanya campur aduk antara fokus lomba ke Kalimantan dan fokus melaksanakan tugas untuk pensi yang mungkin akan dia tinggalin.

Tawa di ruang OSIS seketika terhenti saat ponsel Arga yang tergeletak di meja bergetar hebat. Sebuah notifikasi chat dari Zahra muncul di layar.

Zahra: "Ga, sebentar lagi acara dimulai. Ayo kalian cepat masuk ke aula!"

Arga langsung mengetik balasan dengan cepat, tapi sebelum mengirimnya, dia menyempatkan diri buat "menyerang" balik rekan panitianya itu.

Arga: "Oke kita masuk sekarang. Oh iya nanti pas Anisa tampil duet bareng sama Arka untuk perwakilan dari kelas XII kamu yang tenang ya jadi MC jangan terbakar cemburu. Di hati Arka cuma ada kamu 🙏🏻🤭🤣🤣🏃"

Tak butuh waktu lama, balasan dari Zahra masuk lagi.

Zahra: "Diam kau! 🤭🤣🤣🤣"

Arga terkekeh sambil memasukkan ponselnya ke saku celana. Dia berdiri, membetulkan letak papan namanya, lalu menoleh ke arah Ramdan dan Raihan yang sedari tadi memperhatikan dengan muka kepo.

"Yuk, Bos-bos sekalian. Panggilan negara dari Kanjeng Ratu Zahra. Kita ke aula sekarang," ajak Arga.

Ramdan bangkit dari duduknya, tapi matanya sempat melirik layar HP Arga yang masih menyala. "Anisa duet sama Arka, Ga? Pantesan lo tadi bilang bakal 'terbawa perasaan'. Ternyata saingan lo kelas berat ya," sindir Ramdan telak sambil berjalan mendahului ke arah pintu.

Raihan cuma bisa nahan tawa di belakang. "Sabar ya Arga, kalau puisi mereka terlalu romantis, nanti gue pinjemin tisu deh buat ngelap air mata di meja juri!"

Baru saja Ramdan mau melangkah keluar pintu dengan senyum kemenangan, langkahnya mendadak terhenti karena ucapan Arga yang setajam silet.

Arga: "Eh, bentar Ndan... Gue hampir lupa. Itu kelas XI IPA 1 kan perwakilannya Tari juga duet sama Afan? Hayohhh... gue sih profesional ya, tapi kalau lo liat mereka tatap-tatapan pas baca puisi romantis, pasti nanti ada yang kebakaran jenggot nih!"

Seketika, aura dingin di sekitar Ramdan berubah jadi makin beku. Ramdan menoleh perlahan, menatap Arga dengan tatapan datar yang kalau bisa bicara mungkin bunyinya: "Mau mati sekarang apa nanti, Ga?"

Ramdan: "Afan? santai aja Ga gue pasti profesional apalagi mereka duet demi membela nama kelas, jadi kenapa aku marah?"( dalam hati ia gue cemburu)

Raihan: "WADIDAW! Gila, gila! Afan si cowok kalem ketemu Tari si sekretaris cantik. Gue ramal nih aula bakal penuh sama asap cemburu dari meja juri! Hahaha!"

Ramdan tidak menjawab. Dia hanya mengeratkan pegangan pada map penilaiannya.

Ramdan menarik napas panjang, menata kembali ekspresi wajahnya yang sempat sedikit goyah. Ia hanya sekadar berdehem dan menatap Arga dengan sangat tenang, terlalu tenang malah.

Ramdan: "Tenang saja. Itu sudah kesepakatan kelas, kan? Lagian ini acara sekolah, kenapa mesti marah? Gue profesional, Bang."

Arga cuma bisa menaikkan satu alisnya, tersenyum simpul melihat gimana keras kepalanya Ramdan menyembunyikan rasa cemburunya.

Arga: "Oh gitu? Oke deh kalau emang nggak marah. Berarti nanti kalau Afan megang tangan Tari sebagai pemanis acting di panggung, nilai dari lo tetep objektif ya, Pak Waketos? Hahaha!"

Ramdan tidak menjawab lagi. Dia langsung jalan mendahului Arga dan Raihan menuju aula. Langkah kakinya terdengar lebih tegas dari biasanya.

Raihan: (Berbisik ke Arga) "Ga, liat deh langkah kakinya Ramdan. Itu bukan langkah kaki orang tenang, itu langkah kaki orang yang lagi nyusun strategi buat 'musnahin' Afan setelah acara beres! Hahaha!"

Sesampainya di aula, suasana sudah sangat meriah. Zahra terlihat sibuk dengan HT-nya, mengarahkan para peserta. Di pojok panggung, Ramdan sekilas melihat Tari yang sedang memegang teks puisi, sedang berdiskusi serius dengan Afan.

Ramdan segera duduk di kursi juri, membuka map-nya, dan mulai menulis nama peserta pertama dengan tekanan pulpen yang cukup kuat. Profesional, Ndan. Profesional, batinnya berulang kali, meski matanya tetap saja melirik ke arah duet IPA 1 itu.

Lomba pembacaan puisi kategori solo sudah berlangsung hampir dua jam. Satu per satu perwakilan kelas naik ke atas panggung dengan berbagai gaya; ada yang terlalu teatrikal sampai berguling di lantai, ada yang suaranya terlalu kecil hingga tenggelam oleh suara kipas angin aula, dan ada yang membacakan puisi tentang senja yang terasa membosankan bagi para juri.

Di meja juri, Ramdan sudah beberapa kali memutar-mutar pulpennya, sesekali melirik jam tangan. Arga bahkan sudah menghabiskan botol air mineral keduanya karena rasa kantuk yang mulai menyerang.

"Selanjutnya, peserta terakhir untuk kategori solo," suara MC kembali menggema, kali ini dengan nada yang lebih segar. "Perwakilan dari kelas XI IPA 1... Mentari Ramadhanty "

Seketika, suasana aula yang tadinya mulai gaduh oleh bisik-bisik siswa yang bosan, mendadak senyap. Nama itu punya daya pikat tersendiri.

Tari melangkah naik. Tanpa atribut berlebihan, hanya dengan seragam OSIS yang rapi dengan balutan kerudung yang sederhana. Namun, saat dia berdiri di bawah lampu sorot, aura yang dipancarkannya seolah memadamkan eksistensi peserta-peserta sebelumnya.

Ramdan berhenti memainkan pulpennya. Dia menegakkan punggung, matanya terkunci pada sosok gadis yang selama ini memenuhi pikirannya.

Tari: (Dengan menggunakan stand mic, dia membawa gitar dengan sangat cantik ) "Judul puisi saya... Menjadi Lebih Baik."

Meskipun sambil memetik senar gitar ,namun suara Tari mengalun jernih, mengisi setiap sudut ruangan yang sunyi.

"Aku pernah menjadi ranting yang patah karena angin masa lalu, tergeletak di tanah, menunggu seseorang untuk memungutku. Namun kini aku sadar, aku adalah akar... yang harus kuat tertanam, meski badai datang menghajar."

Setiap kata yang keluar dari bibir Tari terasa seperti tamparan bagi Arga, namun menjadi pelukan bagi Ramdan. Tari membuktikannya hari ini; dia tidak butuh siapa-siapa untuk berdiri tegak. Dia adalah pemeran utama dalam hidupnya sendiri.

Saat bait terakhir diucapkan, aula tetap hening selama beberapa detik. Tak ada yang berani bersuara sampai akhirnya tepuk tangan paling riuh pecah, merobek keheningan yang magis itu.

Di meja juri, Ramdan merasa dadanya sesak oleh rasa bangga. Dia sadar, Tari yang ada di hadapannya sekarang adalah versi terbaik yang siap berjalan beriringan dengannya. Arga yang duduk di sebelah Ramdan hanya bisa tersenyum tipis, sebuah senyum kekalahan yang paling tulus yang pernah ia miliki.

Tepuk tangan untuk kategori solo baru saja mereda saat MC kembali ke tengah panggung dengan energi yang lebih meledak-ledak.

"Luar biasa! Solo putri tadi benar-benar menutup kategori pertama dengan sangat manis. Tapi tahan dulu napas kalian, karena setelah ini... suhu aula akan semakin panas! Sekarang, saatnya kita masuk ke kategori yang paling ditunggu-tunggu: Kategori Duet!" seru MC disambut teriakan histeris para siswa.

Ramdan yang baru saja mau menghela napas panjang, mendadak kaku saat melihat Afan mulai naik ke panggung sambil menenteng gitar akustiknya.

"Langsung saja, kita panggilkan peserta pertama dari kelas XI IPA 1... Afan Maulana Malik dan Mentari Ramadhanty

Ramdan mengeratkan pegangan pada pulpennya. Di bawah lampu sorot, Afan memberikan tangan untuk membantu Tari naik ke panggung. Dan tepat saat itu, profesionalitas Ramdan benar-benar berada di ujung tanduk."

1
yanzzzdck
semangat yaa
Tati Hartati: makasih kak
total 1 replies
yanzzzdck
semangat
yanzzzdck: iya aman aja
total 2 replies
kalea rizuky
lanjut
Tati Hartati: siap kak...
total 1 replies
kalea rizuky
q ksih bunga deh biar makin bagus ceritanya
Tati Hartati: makasih banget ya kakak
total 2 replies
kalea rizuky
moga bagus ampe end dan gk bertele tele ya thor
Tati Hartati: makasih kak dukungannya
total 1 replies
yanzzzdck
semangat💪
Tati Hartati: Terimakasih banyak atas supportnya... semangat juga ya kakak..
total 1 replies
yanzzzdck
semangat aku bantu like semua, kalo bisa like balik ya, kalo gbisa gpp🙏
Tati Hartati: sama sama... insyaallah nanti aku kalau udah santai pasti mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!