"Cahaya di Tengah Hujan"
Rini, seorang ibu yang ditinggalkan suaminya demi wanita lain, berjuang sendirian menghidupi dua anaknya yang masih kecil. Dengan cinta yang besar dan tekad yang kuat, ia menghadapi kerasnya hidup di tengah pengkhianatan dan kesulitan ekonomi.
Di balik luka dan air mata, Rini menemukan kekuatan yang tak pernah ia duga. Apakah ia mampu bangkit dan memberi kehidupan yang layak bagi anak-anaknya?
Sebuah kisah tentang cinta seorang ibu, perjuangan, dan harapan di tengah badai kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1337Creation's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perpisahan sementara
Bab 21: Perpisahan Sementara
Pagi itu, udara masih terasa dingin ketika Rini membuka matanya. Langit di luar masih kelabu, matahari belum sepenuhnya terbit. Suara azan subuh berkumandang dari masjid terdekat, namun pikirannya begitu kacau hingga ia tidak mampu meresapi ketenangan yang biasanya datang bersama suara panggilan ibadah itu.
Di sampingnya, Nayla masih terbaring lemah. Napasnya tersengal, dadanya naik turun dengan berat. Wajahnya pucat, kelopak matanya sedikit membengkak karena demam yang belum juga turun. Aditya duduk di lantai dekat ranjang, kepalanya tertunduk. Matanya bengkak karena menangis semalaman.
Hari ini adalah hari keberangkatan mereka ke Jakarta.
Rini masih sulit percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi. Seolah hanya kemarin ia masih berjuang mencari sesuap nasi, dan kini ia harus membawa anaknya ke Jakarta untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. Semua ini terasa begitu cepat dan menyesakkan.
Namun satu hal yang pasti, ini adalah satu-satunya harapan yang mereka miliki.
Persiapan Keberangkatan
Di luar kamar, suara langkah kaki terdengar. Bu Lastri masuk ke dalam rumah dengan wajah serius.
“Rini, sudah siap?” tanyanya lembut.
Rini mengangguk pelan, meskipun hatinya masih penuh kecemasan. Dia menatap Nayla yang masih tertidur, lalu mengalihkan pandangannya pada Aditya.
Bu Lastri melangkah mendekat dan menyentuh bahu Aditya. “Nak, kamu paham kan kalau Ibu dan adikmu harus pergi?”
Aditya mengangguk lemah. “Iya, Bu. Tapi… aku takut.”
Rini mendekat dan berjongkok di hadapan anak sulungnya. “Adit… Ibu janji, Ibu akan kembali secepatnya. Kamu harus kuat, ya? Jaga diri baik-baik selama Ibu pergi.”
Air mata Aditya mulai menggenang lagi. “Tapi aku nggak mau sendirian, Bu… Aku takut…”
Rini menggenggam kedua bahu anaknya dengan erat. “Kamu nggak sendirian, Nak. Kamu akan tinggal dengan keluarga Bu Lastri sementara waktu. Mereka akan menjagamu.”
Aditya menunduk. Ia tahu bahwa tak ada pilihan lain, tetapi perasaan takut dan cemas tetap menggerogoti hatinya.
“Aditya, Nak…” suara Bu Lastri lembut. “Di rumahku ada cucu-cucuku. Kamu bisa bermain dengan mereka. Kamu juga bisa membantu di warung. Saya janji, kamu akan baik-baik saja.”
Aditya tetap diam, lalu tiba-tiba melingkarkan tangannya di leher ibunya, menangis di pelukannya. “Ibu… hati-hati ya… Jangan lama-lama…”
Rini membelai rambut anaknya, menahan tangis. “Ibu janji, Nak…”
Mereka bertiga larut dalam suasana penuh haru.
Perpisahan di Halaman Rumah
Tak lama kemudian, mobil hitam yang akan membawa mereka ke Jakarta tiba di depan rumah. Sopir pribadi Bu Lastri turun dan membantu memasukkan barang-barang ke dalam bagasi.
Rini menggendong Nayla yang masih lemah, tubuh anak itu terasa ringan di pelukannya. Aditya berjalan di sampingnya, menggenggam ujung baju ibunya.
Beberapa tetangga mulai berkumpul, sebagian dari mereka tampak terkejut melihat keberangkatan Rini yang tiba-tiba. Ibu Ayna berdiri di ambang pintu rumahnya, menatap dengan sinis.
“Hmm… akhirnya si miskin ini pergi juga,” gumamnya pelan, tapi cukup keras untuk didengar beberapa orang.
Rini tidak menggubrisnya. Dia terlalu lelah untuk peduli dengan mulut-mulut jahat di sekitarnya.
Saat mereka sampai di mobil, Bu Lastri menoleh ke arah Aditya. “Nak, Ibu harus pergi sekarang. Kamu baik-baik di rumah, ya?”
Aditya mengangguk pelan. Ia mencoba tegar, meskipun matanya berkaca-kaca.
Rini menunduk, menyentuh pipi anaknya dengan lembut. “Adit, Ibu pergi dulu, ya? Doakan adikmu cepat sembuh.”
“Iya, Bu…” suara Aditya hampir tak terdengar.
Rini menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri dan membuka pintu mobil. Dengan hati berat, ia masuk ke dalam mobil sambil tetap menggendong Nayla.
Sebelum mobil melaju, Aditya berlari ke samping jendela dan mengetuk kaca.
“Ibu!”
Rini buru-buru membuka kaca jendela. “Ada apa, Nak?”
Aditya menarik napas dalam-dalam. “Aku sayang Ibu…”
Air mata Rini jatuh begitu saja. Ia tersenyum meskipun dadanya terasa begitu sesak. “Ibu juga sayang Adit… Ibu janji akan kembali.”
Mobil mulai melaju perlahan, meninggalkan rumah sederhana yang penuh kenangan.
Dari dalam mobil, Rini terus menoleh ke belakang, melihat Aditya berdiri di pinggir jalan, melambaikan tangan dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.
Hatinya mencelos.
Kepergian ini bukan hanya perjalanan untuk menyelamatkan Nayla, tetapi juga ujian terbesar bagi keluarga kecil mereka.
Menuju Jakarta: Harapan yang Masih Ada
Perjalanan ke Jakarta terasa panjang. Rini menatap ke luar jendela, melihat pemandangan jalan yang perlahan berubah dari perkampungan sederhana menjadi jalanan kota yang lebih ramai.
Bu Lastri duduk di sampingnya, sesekali melirik ke arah Nayla yang tertidur di pangkuan Rini.
“Rini,” panggilnya pelan.
Rini menoleh. “Iya, Bu?”
“Kamu nggak perlu khawatir soal biaya. Aku sudah mengatur semuanya. Kita langsung menuju rumah sakit begitu sampai di Jakarta.”
Rini menggenggam tangan Bu Lastri erat. “Terima kasih, Bu… Saya nggak tahu harus berkata apa…”
Bu Lastri tersenyum lembut. “Jangan pikirkan itu. Yang penting sekarang, kita harus fokus untuk menyelamatkan Nayla.”
Rini mengangguk, meskipun hatinya masih dipenuhi rasa takut dan cemas.
Di luar, langit mulai berubah warna. Matahari mulai naik perlahan, menyinari perjalanan panjang mereka menuju harapan baru.
Namun, di dalam hatinya, Rini tahu bahwa perjalanan ini masih jauh dari selesai.
Akankah Nayla bisa selamat? Apakah mereka akan menemukan keajaiban di Jakarta?
Waktu yang akan menjawabnya.