Survive Game adalah permainan dimana semua pemain nya harus bertahan hidup hingga dia menjadi orang terakhir, para pemain di bolehkan saling membunuh ataupun kerja sama. Dan siapapun yang berhasil bertahan sampai akhir, akan mendapatkan hadiah berubah hal untuk meminta satu permintaan apapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rider1049v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Depan.
Kiseki kembali ke dalam markas nya, dan di dalam markas terlihat Taro, Sky, Asaki, dan Yintia yang sedang bersama anak-anak.
"Yahoo.. Terima kasih sudah melindungi anak-anak." kata Kiseki sambil tersenyum.
Mereka berempat menatap Kiseki dengan tatapan yang tidak senang, Kiseki terlihat bingung.
"Ada apa semuanya?" tanya Kiseki.
Taro kemudian menunjukkan tangan kepala salah satu anak yang terputus, kepala itu kemudian berubah menjadi sebuah manekin.
"Apa maksudnya ini?" tanya Taro.
Kiseki menunduk dan terdiam, semangat nya menghilang, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Kiseki.
"Jawab kami, Kiseki." kata Taro.
Kiseki akhirnya tersenyum dan merenggangkan badannya.
"Yahhh. Kalau sudah ketahuan mau gimana lagi...." kata Kiseki. "Seperti yang kalian pikirkan mereka semua adalah manekin ciptaan ku." jawab Kiseki sambil tersenyum.
"Lalu dimana anak-anak yang asli?" tanya Yintia.
Kiseki tersenyum layaknya seorang psikopat. "Kalau aku bilang, aku sudah membunuh anak-anak itu dengan siksaan yang menyakitkan, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Kiseki.
Semuanya terkejut dengan perkataan Kiseki, mereka menunjukkan ekspresi yang penuh dengan kemarahan.
"Seharusnya kalian juga melihat anak-anak itu menjerit kesakitan dan meminta tolong, wajah mereka penuh dengan darah, tubuh mereka juga gemetar sebelum akhirnya mati cara yang sangat indah. Aku benar-benar menikmati setiap detik disaat-saat itu." kata Kiseki dengan senyuman psikopat nya.
Taro langsung menarik pedang nya dan mengayunkan nya ke arah leher Kiseki, sementara Sky bergerak dengan sangat cepat dan menyerang Kiseki dari belakang, tapi serangan mereka berdua dapat di hindari oleh Kiseki dengan sangat mudah karena Kiseki sudah melihat masa depan ini.
"Jangan galak begitu, aku hanya bercanda, anak-anak itu telah aku titipkan ke tempat yang lebih aman." kata Kiseki.
"Apa sebenarnya yang kau rencakan?" tanya Taro dengan tegas.
Kiseki tersenyum dan menjawab. "Aku sudah mengatakannya kan, bahwa aku ingin membereskan masalah yang ayah ku buat." jawab Kiseki.
Mereka masih menatap tajam dan waspada ke Kiseki, mereka tidak menurunkan kewaspadaan mereka sedikit pun.
"Sudah ku katakan bahwa aku bisa melihat masa depan, jadi tindakan kalian semuanya sudah ku ketahui." kata Kiseki.
"Katakan dengan jujur, apa sebenarnya yang kau rencana kan?" tanya Taro sekali lagi.
Kiseki menghela nafas panjang. "Sudah kubilang, kalau aku ingin membereskan masalah yang di buat oleh ayah ku," jawab Kiseki. "Hanya dengan candaan seperti itu, kalian langsung kehilangan kepercayaan kalian pada ku, benar-benar tidak menarik." keluh Kiseki dengan senyuman kecil.
Mereka masih menatap Kiseki dengan tatapan tidak percaya dan tetap waspada, tapi akhirnya mereka menenangkan diri dan menurunkan kewaspadaan mereka.
"Apa yang kau rencana kan dengan membawa kami kesini? Jika kau bisa melihat masa depan, maka kau seharusnya sudah tau ini akan terjadi, tapi kenapa kau tetap membawa kami kemari?" tanya Taro.
Kiseki duduk di sofa dengan gayanya yang sombong.
"Tentu saja aku sudah tau semuanya, dan aku membiarkan hal itu terjadi." jawab Kiseki.
"Itu yang tidak kami mengerti. Kenapa?" tanya Asaki.
Kiseki tersenyum dan menatap mereka berempat dengan tajam. "Anggap saja, semuanya saat ini berjalan sesuai skenario ku." jawab Kiseki.
"Artinya, saat ini kami hanya menjadi alat mu begitu?" tanya Sky.
"Benar!" jawab Kiseki sambil menjentikkan jari nya.
"Biarkan aku bertanya sekali lagi." kata Taro. "Kau sudah mengumpulkan 5 medali kan, kenapa kau tidak kembali dan lanjut ke phase 3?" tanya Taro.
Kiseki mengeluarkan satu medali nya dan menyerahkan nya ke Taro.
"Tutup mata mu." kata Kiseki.
Taro terlihat kebingungan tapi akhirnya dia menuruti Kiseki dan menutup mata nya, tiba-tiba Taro berada di sebuah ruangan putih dengan sebuah layar yang besar di depannya, dan di layar itu terdapat banyak sekali skill dan sihir yang harga nya 1 medali.
"Apa ini?" tanya Taro.
"Sekarang, coba kamu pilih salah satu skill yang kamu inginkan di layar itu." suara Kiseki bergema di tempat itu.
Taro mulai memilih skill yang dia inginkan, setelah mencari beberapa saat, Taro melihat sebuah skill menarik bernama A thousand swords.
""A thousand swords: membuat pengguna bisa mengayunkan ribuan tebasan dalam 1 detik." Skill yang menarik, akan ku ambil." kata Taro.
Taro membuka mata nya dan medali yang di pegang menghilang, dia merasakan kekuatan baru mengalir dalam diri nya.
"Jadi begitu, medali ini dapat di tukar menjadi berbagai macam kekuatan." kata Taro.
"Benar! Dan saat ini banyak orang sedang berlomba-lomba untuk menjadi yang terkuat dan memenangkan survival game ini." kata Kiseki.
"Apa kalian peserta sebelum nya?" tanya Yintia.
"Bukan," jawab Kiseki. "Selain kalian sebenarnya banyak orang yang di pilih, tapi kita di pisah-pisah di phase 1 dan berkumpul di phase 2." kata Kiseki.
"Jadi begitu," gumam Yintia.
"Apa masih ada pertanyaan lagi?" tanya Kiseki.
Semuanya terdiam dan tidak berbicara, menandakan bahwa mereka tidak memiliki pertanyaan lagi, Kiseki tersenyum puas lalu berdiri dari sofa.
"Kalau begitu, pastikan kalian bermain dengan baik, para pion ku yang lucu." kata Kiseki sambil tersenyum licik.