"Hangatkan tubuhku. Only one night."
Sebuah kalimat yang mengubah seluruh kehidupan Leon dan Bianca yang bertemu di Paris secara kebetulan.
Pertemuan singkat yang awalnya sebatas di Paris saja, siapa sangka berlanjut hingga saat keduanya kembali ke Indonesia.
Keduanya dipersatukan dengan status yang berbeda. Atasan dan bawahan. Hal tersebut membuat Leon memanfaatkan wewenangnya untuk bertindak dan bertingkah agresif kepada Bianca yang diam-diam telah mencuri ciuman pertamanya di Paris.
🫧🫧🫧
Halo semua! Ini novel terbaru Kak Shen. Yuk kepoin! 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sheninna Shen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bermain Peran
..."Baiklah. Kau sendiri yang memintaku untuk profesional, 'kan? Ayo kita mainkan peran itu." – Leonidas Salvatore...
Dua hari telah berlalu. Selama dua hari jugalah Leon dibuat tak tenang karena tak bisa menghubungi Bianca. Ia seperti cacing kepanasan tanpa kabar dari gadis itu.
Pagi Senin itu, Leon terus menerus melihat jam di layar laptopnya. Meskipun ia sedang melakukan pekerjaannya, tetap fokusnya terpecah menjadi dua.
"Bagus! Udah jam 11, tapi belum ada kabar!" geram Leon sambil mengepalkan tangannya. Bahkan gadis itu tak memberikan pesan pada divisi HRD bahwa hari ini ia tak masuk.
Pria dengan stelan jas abu-abu itu menghempaskan punggung kekarnya ke sandaran kursi sembari kedua tangannya berada di atas sandaran tangan kursi di kedua belah sisi. Ia menengadahkan kepalanya ke atas sembari memejamkan mata. Mencoba merelaksasikan pikiran sembari mencoba menenangkan perasaannya yang gelisah.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," ucap Leon dengan mata yang masih tertutup.
"Selamat pagi, Pak."
Mendengar suara yang sangat familiar dan ia rindukan tersebut, Leon langsung membuka paksa matanya. Ia melihat lurus ke depan ke arah sosok yang ia cari-cari selama dua hari ini. Ingin rasanya ia bangkit dari kursi dan langsung berlari lalu memeluk tubuh gadis itu, tapi ia menahan diri dan menjaga wibawanya. Apalagi saat ia mendengarkan gadis itu memanggilnya dengan sebutan 'Pak'. Berapa kali ia harus mengatakan pada gadis itu bahwa panggil saja namanya saat mereka berdua?
"Baiklah. Kau sendiri yang memintaku untuk profesional, 'kan? Ayo kita mainkan peran itu," batin Leon.
"Kamu tau ini pukul berapa?" tanya Leon dengan suara yang dingin. Ia sedang memainkan perannya sebagai CEO Salvatore Group.
"Sebelas, Pak. Maaf tadi saya ketinggalan kereta pagi. Saat ingin mengabari HRD, hp saya mati dan chargernya tinggal di rumah nenek saya."
"What?! Mengabari HRD?! Bukan memilih untuk mengabariku dulu?! Kau bahkan menganggap aku nggak ada Bianca?" geram Leon dalam hati sambil menatap kesal ke arah Bianca.
Leon merasa frustasi sekaligus kesal. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu ruangannya.
"Alfred! Katakan pada tim HRD untuk memberi surat peringatan kepada Sekretaris Bianca!" perintah Leon yang sengaja meninggikan suaranya agar terdengar oleh karyawan lainnya. Padahal, ia bisa saja memberikan perintah tersebut melalui telefon yang ada di mejanya.
Mendengarkan suara lantang Leon, para karyawan yang mendengar hal tersebut mendadak bergosip dan saling berbisik-bisik. Mereka terkejut akan kekejaman CEO baru mereka yang tampan itu.
Sementara itu, Bianca masih berdiri di posisi semula. Ia tak berani melihat ke belakang, ke arah Leon yang sedang berada di pintu ruangan. Sekujur tubuhnya bergidik ngeri begitu mendengarkan Leon meneriaki Alfred. Bahkan, pria yang semula hangat kepadanya mendadak menjadi menakutkan.
"Sekretaris Bianca, kau pikir perusahaan ini milikmu? Bisa datang seenaknya tanpa kabar? Hmm?" bentak Leon dengan suara yang lantang. Lagi-lagi ia sengaja berbicara keras agar para karyawan bergosip.
Kepala Bianca tertunduk dalam sembari ia meremas jemarinya menahan takut. Ia tak henti-hentinya menggigit bibirnya di situasi yang tak menguntungkan itu.
Leon menutup pintu ruangan dengan sangat keras sampai-sampai bunyi tersebut membuat tubuh Bianca terangkat karena terkejut. Pastinya semua karyawan mendengarkan suara keras pintu itu. Namun, di saat yang sama, Leon menyeringai puas sembari mengunci pintu ruangan tanpa sepengetahuan Bianca.
"Siang ini, aku akan menjadi CEO yang baik untuk sekretarisku," batin Leon sembari melonggarkan dasinya dan berjalan ke arah Bianca yang sedang membelakanginya.
Mata elang yang berwarna biru itu menatap lapar ke arah tubuh Bianca dari belakang. Ada kenakalan yang tersirat dipikiran pria itu. Ia bahkan sengaja membuat para karyawan yang ada di luar sana berfikir bahwa saat ini Bianca sedang dimarah habis-habisan oleh CEO perusahaan itu. Padahal, itu adalah trik yang sengaja ia buat untuk memberikan pelajaran pada gadis yang berani membuat ia tak tenang selama berhari-hari. Dengan begitu, tak akan ada yang curiga kenapa Bianca ditahan lama-lama di ruangannya bukan?
...🫧🫧🫧...
...BERSAMBUNG......
semangat terus🥰💪