“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”
Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.
Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.
Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu 20
Nadya masuk ke kamarnya dengan langkah berat, wajahnya masih mengulas kegetiran. Ia lalu duduk di kursi, tangannya memeluk erat lututnya yang terlipat, tatapannya kosong ke luar jendela.
Tubuhnya tetap diam saat Dewi masuk untuk mengambil beberapa keperluan milik Adam, matanya menunjuk singkat saat gadis itu bertanya tentang letak barang yang dicarinya.
Melihat Nadya, sudut bibir Dewi melengkung tipis, ujung matanya melirik sinis.
“Tau rasa kamu sekarang, Nadya. Tinggal tunggu di depak sama Bang Rizal, terus otewe jadi gembel lagi deh kamu,” cibir Dewi sambil memasukkan barang-barang Adam sebelum melenggang keluar dengan wajah congkak.
Nadya bergeming di tempatnya, kehangatan yang beberapa bulan ia rasakan seolah membeku oleh badai yang menghantam telak semangat hidupnya.
‘Bahkan untuk sekedar singgah di tempat yang ku kira rumah saja, aku tidak pantas. Lalu, untuk apa aku ada di dunia,’ batinnya bergumal lirih.
Ia kemudian beranjak dari duduknya, mengambil laptop serta ponselnya, menatap lekat photo Adam yang ia jadikan wallpaper di layar laptop sebelum membuka deretan file yang berbaris rapi. Bibirnya bergumam pelan.
“Izin mengabadikan kisah kita di cerita hidup Nad-nad, ya, Ndut.”
Dengan penuh keyakinan Nadya mengklik satu file yang beberapa bulan terakhir ia kerjakan di sela-sela kerepotannya mengurus Adam.
Klik.
Proposal pengajuan skripsi Universitas Bumi Ruwa Jurai Fakultas Ilmu Gizi Dan Kesehatan Masyarakat.
Di ruang tengah, Rizal masih duduk termangu, di depannya Bu Harmi berdiri sambil bersedekap tangan.
“Kamu yakin, Zal, ini keputusan tepat buat Adam?” seru Bu Harmi.
Rizal menghela napas berat, satu tangannya mengusap wajah kasar. “Entahlah, Bu. Aku juga bingung harus gimana. Mamah nggak sepenuhnya salah, tapi…,” Rizal menggantungkan ucapannya, tarikan napas berat kembali berhembus dari bibirnya.
“Kamu itu harus tegas, Zal. Ibu ngerti mertua mu itu juga pengen ngurus cucunya, tapi permasalahannya ini menyangkut kesehatan Adam dan Nadya,” ujar Bu Harmi.
Rizal menoleh ke arah sang Ibu yang sudah duduk di seberangnya, mata ambernya menyipit sedikit. “Nadya?”
Bu Harmi menatap tajam ke arah sang putra, tubuhnya sedikit condong ke depan. “Cara mertuamu memisahkan paksa Adam dan Nadya itu terlalu tiba-tiba, Zal. Baik Nadya ataupun Adam pasti kaget. Adam pasti akan rewel karena perutnya belum terbiasa, sedangkan Nadya, Asi yang tidak diminum Adam akan mengendap dan itu sakit, Zal, bisa-bisa dia demam.”
Rizal menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, bahunya merosot. Ucapan sang mertua yang membawa nama Sukma membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Bahkan ketika Adam dibawa oleh sang mertua ke rumahnya, ia hanya mengangguk tanpa berpikir untuk mencegah.
Ia memejamkan matanya sejenak, seolah ingin meredamkan riuh di kepalanya, lalu beranjak dari duduknya. Suaranya terdengar berat.
“Rizal akan coba bicarakan ini dengan Nadya, Bu,” ucapnya kemudian sembari berjalan ke kamar Nadya.
Di depan pintu kamar yang sedikit terbuka, Rizal berhenti sejenak. Ia menatap sebentar Nadya yang nampak serius di depan laptopnya, sudut matanya mengerjap gelisah menahan keraguan yang membendung di hatinya.
Ia kemudian menarik napas dalam-dalam, sebelum mengetuk pintu kamar Nadya, pelan.
“Nad, boleh Abang masuk?” tanyanya, suaranya ditekan selembut mungkin agar tak terdengar bergetar.
Nadya hanya berdehem kecil tanpa menoleh ke arah pintu.
Rizal masuk dengan sedikit ragu, bibirnya dikulum singkat sebelum mulai berbicara dengan hati-hati. “Nad, tentang Adam, apa tidak apa-apa Adam disambung susu formula, maksud Abang—”
“Tanya ke Hasna, Bang, Hasna ‘kan lebih paham dengan hal itu,” sergah Nadya.
“Nad, sedari awal ‘kan kita sepakat untuk semua keputusan yang menyangkut Adam, Abang butuh pendapat kamu sekarang, sebelum semuanya terlambat,” ujar Rizal.
Nadya tertawa hambar, pandangannya masih fokus pada layar laptopnya. “Sudah terlambat, Bang. Lagipula biar aja lah, toh yang ngasih keluarganya yang lebih tau tentang kondisi Adam. Abang saja yang Papa kandungnya nggak ada ketegasan, ngapa pula saya yang orang lain suruh ikut mikir.”
“Nadya….”
“Abang kalau sudah nggak ada perlu mending keluar, saya nggak mau dapet tuduhan aneh-aneh lagi. Kalau memang ada hal penting panggil aja, nanti saya yang keluar kamar,” sahut Nadya tanpa menoleh ke arah Rizal sedikitpun.
Rizal terdiam, sorot matanya goyah sebelum akhirnya meredup. Ia kemudian berbalik melangkah keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Pikirannya semakin berisik dengan keraguan dan rasa bersalah yang saling berhimpitan.
Di tempat berbeda, beberapa Ibu-Ibu nampak berkumpul di teras rumah Bu Sartini. Dengan berbinar mereka bergantian melihat Adam, sesekali di antara mereka mengambil Adam dari pangkuan Bu Sar, sekedar menimang atau mencium dengan gemas.
“Mirip sekali dengan Almh. Mamahnya, yo, Sar,” ujar Fatimah, tetangga samping rumah Bu Sar.
“Matanya mirip Yuk Nadya,” celetuk Amelia, anak Fatimah yang baru berusia sepuluh tahun.
“Mata kamu jereng apa, Mel, anak seganteng ini di samain sama Nadya,” sahut Bu Sartini tidak terima. “Jelas-jelas mukanya plek-ketiplek Sukma dibilang mirip Nadya. Cih, membayangkan pun tak sudi,” imbuh wanita berambut keriting itu.
“Kalau wajahnya mirip Sukma, tapi hidungnya persis Bang Rizal,” timpal Hasna yang juga turut ke rumah Bu Sartini.
“Kamu rajin-rajin ngedeketin Bu Harmi, Has, sapa tau di angkat jadi mantu, kamu sama Sukma ‘kan dari dulu dekat sama Rizal, mana tau dia naksir ganti sama kamu,” ujar Fatimah sambil menggeplak pelan paha Hasna.
Hasna menunduk sekilas—menyembunyikan senyum malu-malu, lalu kembali mendongak seraya mengambil Adam dari pangkuan Fatimah.
“Aku mah nggak peduli Bang Rizal mau sama siapa, Wak, yang penting sayang sama Adam,” dustanya, dalam hatinya ia mengaminkan ucapan Fatimah dengan kencang.
Fatimah kembali berujar, kali ini sambil menunjuk singkat wajah Hasna. “Ya sekarang, siapa lagi kalau nggak kamu, anak kampung sini cuma kamu yang deket sama Rizal.”
Sontak ucapan Fatimah mendapat tatapan tajam dari Bu Sartini. Wanita beralis lancip itu merebut cepat Adam yang sedikit menggeliat di pangkuan Hasna.
“Heh, Patime Kamu lupa ada Dewi. Rizal itu sudah janji sama Sukma kalau mau jagain adeknya. SELAMANYA.” tekan Bu Sartini. “Tapi, kalau Hasna mau jadi pilihan kedua, ya nggak apa-apa, coba aja sapa tau Rizal mau ngelirik,” lanjutnya, dengan wajah congkak.
“Kalau nggak malah di dobel sama Rizal, zaman sekarang ‘kan lagi musim istri dua. Lagian hartanya Rizal juga banyak, gampanglah buat dia ngurusin istri dua,” seloroh Fatimah.
“Amit-amit Patime, jangan sampe anakku yang cantik dan berpendidikan itu di poligami. Tapi, mau siapapun lah yang nikah sama Rizal, asal bukan si Nadya itu. Bisa rusak masa depan cucu saya kalo di urus anak nggak berpendidikan kaya dia,” oceh Bu Sartini.
“Wak Sar ini macam benci betul sama Nadya-Nadya itu, memang kaya apa sih orangnya? Kata Yessy orangnya baik, cantik juga,” timpal Nurjanah, tetangga depan rumah Bu Sartini.
Mendengar ucapan Nurjanah, mata Bu Sar mendelik seketika, bibirnya berkedut sinis. “Cantik apanya Nur, jauh kalo di banding Sukma sama Dewi, kalo sama Hasna masihlah 11-12, tapi kalo di banding anak gadis ku, ya jauh kemana-mana,” sahutnya, lalu melirik ke arah Hasna. “Bener nggak, Has?”
Hasna yang mendapat pertanyaan dadakan mengiyakan sambil mengangguk pelan, tapi dalam hati gadis itu mengumpat tajam.
‘Mulut Wak Sar ini dari dulu nggak ada berubahnya. Lihat aja, kalo aku sudah nikah sama Bang Rizal nggak bakal dia aku izinkan nengok ke rumah, apalagi sampe minta jatah uang bulanan sama Bang Rizal.’
Obrolan penuh sindiran itu pun bergulir hingga matahari tinggi, Adam yang sedari pagi tidak minum Asi mulai gelisah dan terus menangis meski sudah diberi susu berkali-kali. Hal itu membuat panik Hasna, namun kepanikan gadis itu ditepis oleh ucapan Bu Sartini.
“Namanya anak bayi baru disapih, ya begini. Makanya kamu cepet cari jodoh sana, Has, cari bos-bos kaya, jangan mengharapkan Rizal aja.”
Bersambung.
Bayangan visual Dewi.
Bayangan visual Hasna
Semangat 🔥