(season 2)
Adira dan Abrisam terpaksa menjalankan hubungan jarak jauh karena impian dan cita-cita masing-masing. Namun, tidak semua orang bisa menjalankan itu termasuk mereka. Awalnya semua berjalan dengan lancar hingga suatu ketika ada saja masalah yang menguji cinta keduanya.
Kepercayaan mereka pun diuji, saling menyalahkan dan jarang kumunikasi. Apa mereka masih bisa mempertahankan hubungan yang sudah dirakit bertahun-tahun ini?
(season 1)
Adira Verbena, gadis kelas 12 SMA yang hanya ingin ketenangan dalam hidupnya. Ia ingin melewati masa sekolah dengan tidak terlibat masalah satu pun.
Jadi siswi teladan sepanjang sekolah adalah impian besarnya. Namun, tidak semulus itu. Nampaknya sejak mengenal Abrisam Pradipta impiannya itu harus hancur.
Banyak masalah yang datang melibatkan mereka berdua. Dira berusaha menghindarinya, tapi takdir seperti ingin menyatukan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tinkeerz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 21
Sam menatap ke arah meja makan saat langkahnya pada anak tangga berakhir. Matanya tertuju pada Tomi.
Ayahnya itu sarapan tidak bersemangat dan tatapannya juga kosong. Beliau sudah persis mayat hidup. Sudah kedua kalinya Sam melihat lelaki arogan itu seperti ini. Yang pertama ketika meninggalnya ibu kandung Abrisam.
Kasihan juga kalau dipikir-pikir, tapi rasa simpati Sam luntur seketika saat mengingat perlakuan Tomi pada anak dan istrinya.
Sam menghela napas dan berjalan ingin keluar rumah. Namun, Siska memanggilnya, “Abang nggak sarapan dulu?”
Anak laki-laki itu menoleh, “sarapan di sekolah aja, Bun. Sam pamit.”
Siska mengangguk mengerti. Ia memang tidak pernah memaksa Sam. Langkah Abrisam berhenti saat hampir tiba di dekat pintu keluar. Handphone-nya berbunyi dan ia lekas mengangkatnya.
Pesan dari Emran di grup chat mereka bertiga. Grup ugal-ugalan.
Emran
Cuy, anak 48 ngajakin tubir lagi nih. Masih nggak terima mereka.
Manha
Jabanin!
Emran
Sam gimana? Lo mau ikut ‘kan Sam? Kita butuh ide-ide cemerlang lo nih.
Ayo sam kita harus duel sama mereka. Kalau nggak mereka ngancem akan nyerang sekolah.
Wajah Adira muncul di pikiran Sam saat ia sedang menimbang-nimbang keputusan. Sebenarnya Sam ragu. Karena kalau ia ikut dan terseret lagi ke BK. Untuk kali ini Adira juga akan terbawa-bawa.
Namun, ini demi harga diri sekolahnya juga. Sam akhirnya mendapat keputusan. Ia pun segera membalas chatting itu.
Abrisam
Gue ikut.
Manha
Sip.
Abrisam
Jangan lupa hubungi anak MANJAL. Kita juga butuh bantuan mereka.
Emran
Oke!
Setelah itu Sam menutup room chat-nya. Kemudian memasukkan ponsel ke saku celana abu-abunya, lalu mengeluarkan kunci motor.
Ia melanjutkan langkah menuju halaman rumah tempat di mana motornya sudah disediakan oleh sopir pribadi keluarganya.
Teeeeettttt...
Bel sekolah nyaring menggema ke sepenjuru koridor. Sam terlihat terburu-buru memasukkan alat tulisnya ke dalam ransel. Ia juga melepas dasi, lalu menyimpan ke dalam tas itu.
Dari jauh Adira memperhatikan cowok itu. Gadis ini curiga karena sempat melihat alat pukul dari dalam tas Sam.
“Dir, pulang bareng gue lagi yok!” ajak Yara.
“Ajak gue sekali-kali kek,” sambar Violet.
“Rumah kita nggak searah ya.” Yara kembali menatap Adira, “mau nggak, Dir?”
Adira sedikit tersentak dan melepas pandangannya dari Sam saat cowok itu sudah keluar dari kelas.
“Gue pulang sendiri aja. Makasih tawarannya.” Adira tersenyum dan meraih ransel, lalu berlari kecil keluar dari kelas.
“Kenapa dia?” tanya Yara. Violet mengedikkan kedua bahu tanda ia juga tidak tahu.
Gadis yang rambutnya dikuncir kuda itu terus mengekori Sam diam-diam. Sampailah di gudang belakang sekolah. Tempat itu dipenuhi rumput liar dan ada meja serta kursi yang sudah rusak. Memang jarang sekali ada orang yang main-main di situ.
Adira mengumpet di balik tembok. Ia melihat banyak sekali siswa di sana. Ada Leo juga, padahal Sam dan Leo tidak akur. Mengapa sepertinya sekarang seperti berteman?
“Gimana alat-alat yang kita kumpulin tadi udah kalian bawa?” tanya Sam pada pasukannya.
“Sudah.” Leo memukul-mukulkan tongkat kasti ke tangan, “sebenarnya gue malas kalau gabung lagi sama lo.”
“Udah akur dulu ngapa sehari ini.” Emran menepuk-nepuk bahu Leo.
“Mereka ini mau apa? Mau tawuran lagi?” gumam Dira yang masih bersembunyi.
“Gue lagi nggak mau ribut sama lo.” Tunjuk Sam pada Leo, “sekarang gue mau kasih tahu taktiknya agar kita menang.”
Semuanya diam. Mereka fokus pada apa yang Sam sedang arahkan. Adira juga ikut menyimak.
“Mengerti?” tanya Sam.
“Ngerti...” sorak mereka serempak.
“MANJAL udah lo hubungin ‘kan, Mran?” tanya Sam memastikan.
“Sudah, mereka langsung datang ke lokasi.”
“Oke, sekarang kita pergi. Nusa Bangsa!” teriak Sam mengepalkan tangan ke atas.
“Menang!” serempak semuanya menjawab dengan keras.
Adira buru-buru bersembunyi lebih dalam saat gerombolan laki-laki itu melintasinya. Ia tidak boleh ketahuan karena dia harus memastikan kalau mereka tidak benar tawuran lagi.
Melihat gerombolan itu sudah jauh Dira keluar dari persembunyiannya dan lekas berlari membuntuti dari belakang.
Mereka keluar dengan biasa saja melintasi koridor. Siswa-siswi bahkan guru yang masih bulak-balik di koridor tidak sama sekali curiga.
Siswa-siswa dari berbeda kelas itu juga keluar menggunakan motornya satu persatu. Semuanya teratur agar tidak ada yang tahu apa yang ingin mereka lakukan. Adira sempat salut dengan kompaknya cowok-cowok itu.
Adira berlari tergesa-gesa ke depan gerbang. Tangannya menghentikan sebuah taksi. Ia lekas masuk dan duduk di dalam mobil berwarna biru itu.
“Pak ikutin motor itu!” karena melihat motor Manha. Dira menunjuk motor temannya Sam saja. Pasalnya ia sudah tidak melihat batang hidung Sam lagi. Anak itu cepat sekali menghilang.
“Baik,” jawab singkat dari sopir taksi.
Mobil ini pun berjalan meninggalkan sekolah. Mata Dira tidak lepas mengawasi motor Manha.
“Jangan sampai ketinggalan, Pak. Ngebut sedikit!”
Sopir itu mengangguk dan menambah kecepatannya. Adira melirik jam tangannya. Sudah pukul tiga sore. Ia ada janji dengan Winda untuk mengantarkan kue pukul empat nanti. Dira tidak yakin jam segitu dia sudah ada di rumah. Alamat akan kena omelan Winda.
Taksi yang ditumpangi Adira berhenti di dekat motor-motor terparkir. Dira tahu betul itu motor-motor siswa di sekolahnya tadi.
“Ada tawuran mbak. Kita nggak bisa lewat,” ujar tukang taksi panik.
Adira mengamati diujung sana sudah terjadi perkelahian. Ia cepat mengeluarkan uang dari saku bajunya.
“Nih, Pak.” Adira memberikan uang itu pada sopir, lalu bergegas keluar.
“Mbak, di sini berbahaya!” teriakan dari sopir taksi itu pun tidak Adira hiraukan. Ia fokus pada Sam sekarang. Pikirannya hanya tertuju untuk mencari Sam di antara banyaknya orang itu.
Terlebih dulu Dira mengambil kayu yang tergeletak di jalan, lalu dengan nekat bergabung di antara ramainya orang.
“Sam, lo di mana?” teriak Adira terus berjalan sambil melihat sekelilingnya. Kayu ia genggam erat di depan dada.
“Aaaa!” Dira berteriak saat kayu yang dibawanya terjatuh karena di pukul seseorang.
Dia mulai panik. Mau keluar juga akan susah. Tidak ada cara lain Adira terus berteriak.
“Sam! Sam! Abrisam!” ia keluarkan seluruh tenaga untuk memanggil cowok itu.
Sam menendang lawannya dan menoleh saat mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Tidak sengaja sepasang matanya menangkap sosok Adira.
“Ngapain dia di sini?” gumam Sam.
Cowok itu melihat seseorang mendekati Adira dengan membawa pisau kecil. Sepertinya ia ingin menghabisi cewek itu.
Sam cepat berlari ke arah gadis yang memejamkan mata sambil meneriaki namanya itu.
“Adira awas!” teriak Sam membuat Dira membuka matanya dan tersenyum menatap Abrisam.
Lelaki itu melompat membelakangi Dira. Refleks gadis itu ikut menoleh ke belakangnya.
“Aagghh!” Sam mengerang kesakitan. Pisau itu menusuk di belakangnya tepatnya di bawah pundak sebelah kanan.
“Sam!” teriak Adira menahani tubuh cowok itu yang makin lama makin roboh.
Orang yang menusuknya sudah berlari. Adira tidak kuat menahan tubuh tinggi itu, mereka sama-sama jatuh ke jalan dengan kepala Sam ada di paha Dira.
“Sam bangun!” Dira menepuk-nepuk pipi Abrisam.
Matanya terbuka, gadis yang sudah berlinang air mata ini tersenyum tipis.
“L-lo ng-nggak pa-pa?” tanya Abrisam terputus-putus.
Adira menangis, “gue nggak apa. Lo yang luka. Jangan pikirin gue. Ayo kita bangun. Kita ke rumah sakit.”
Sam menggeleng, “gue ng-nggak perlu ke-ke rumah sakit.”
Ia berusaha bangkit sendiri, tapi tidak lama jatuh dan pingsan di paha Adira.
“Sam! Tolong!” tidak ada yang peduli dengan mereka. Semua yang ada di sana sibuk membela diri mereka masing-masing.
“Dira, Sam kenapa?”
Betapa terkejutnya Adira melihat sosok Afraz ada di lokasi tawuran itu.
“Lo kok bisa di sini?” tanya Adira dengan air mata sudah membasahi pipi.
“Nanti gue jelasin. Kita harus bawa Sam ke rumah sakit dulu.” Adira mengangguk.
Bersama-sama mereka berdiri dan memapah Abrisam.
“Lewat sini!” Adira mengikuti saja jalan yang dipilih oleh Afraz.
“Sam kenapa?” tanya Manha dengan tampang yang sudah acakan. Ia tidak sengaja melihat ketiga orang itu melintas di pinggir jalan.
“Sam kena tusuk gara-gara mau selamatin gue,” jelas Adira masih disertai tangisan.
“Apa?”
“Sudah kalian nggak usah pikirin kami. Kami akan membawa Sam ke rumah sakit,” ucap Afraz.
“Terus bagaimana dengan motor Sam?” tanya Manha.
“Tunggu sebentar,” Afraz merabah saku celana Abrisam dan mengambil kunci motornya, “nih, bawa motornya pulang.” Ia memberikan kunci motor itu pada Manha dengan cara melemparnya.
Mereka berempat dan semua orang yang sedang berkelahi menoleh ke sumber suara. Terdengar suara sirine mobil polisi.
“Ada polisi. Gue duluan!” Manha buru-buru kabur.
Afraz dan Adira melanjutkan langkah bersembunyi-sembunyi. Kemudian menaiki motor Afraz.
“Ini nggak apa-apa bertiga?"
“Lagi urgent Dira. Pakai motor lebih cepat sampai.”
Adira mengangguk dan menahan tubuh Sam yang didudukkan di tengah jok.
yg salah dia kenapa anaknya yg kena dampak nya. siapa suru Uda tua masih jatuh cinta
pas di tipu marah".