"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Retakan yang Tak Terhindarkan
BAB 4: Retakan yang Tak Terhindarkan
Lorong rumah sakit di jam dua pagi terasa seperti dimensi lain yang hampa. Hanya ada suara dengung mesin pendingin ruangan dan langkah kaki perawat yang sesekali lewat. Arini terbangun dengan rasa haus yang mencekik, namun tubuhnya terasa seperti terikat beban seberat ratusan kilogram. Setiap kali ia mencoba menggerakkan lengannya, jarum infus yang tertancap di punggung tangannya terasa berdenyut, mengingatkannya bahwa ia bukan lagi Arini yang bebas berlari mengejar mimpi.
Di sofa kecil yang tidak nyaman di sudut kamar rawat, Rangga tidur dengan posisi meringkuk. Laki-laki itu bahkan tidak sempat melepas sepatu pantofelnya. Arini menatap wajah itu dalam remang lampu tidur. Rangga terlihat jauh lebih tua hanya dalam hitungan hari. Garis-garis kelelahan tercetak jelas di keningnya, bahkan saat ia terlelap.
Sampai kapan kamu akan bertahan di sampingku, Ga? bisik Arini dalam hati. Penyesalan itu kembali datang, menghantam kepalanya dengan rasa pusing yang lebih menyiksa daripada rasa mual akibat obat-obatan yang masuk ke tubuhnya.
Pagi harinya, ketenangan yang rapuh itu pecah.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapi dan tas bermerek masuk ke dalam kamar rawat dengan wajah tegang. Itu adalah Ibu Sarah, ibu kandung Rangga. Arini seketika merasa dunianya menciut. Selama ini, Ibu Sarah memang dikenal sebagai sosok yang sangat ambisius terhadap masa depan putranya.
"Mama? Kenapa ke sini?" Rangga langsung berdiri, mencoba menghalangi pandangan ibunya ke arah ranjang Arini.
Ibu Sarah tidak menjawab. Ia menatap Arini dengan tatapan yang sulit diartikan—antara kasihan dan keberatan yang nyata. "Mama dengar kamu melepaskan posisi manajer itu, Rangga. Rekan kantormu yang menelepon Mama. Kamu gila?"
"Ma, kita bicara di luar," bisik Rangga, mencoba menarik lengan ibunya.
"Tidak! Kita bicara di sini!" suara Ibu Sarah meninggi, membuat Arini refleks mencengkeram sprei tempat tidurnya. "Kamu melepaskan karier yang kamu bangun selama bertahun-tahun demi... demi ini? Rangga, Mama tahu kamu cinta sama Arini, tapi kamu harus realistis. Arini sakit parah. Dia butuh pengobatan yang biayanya tidak masuk akal. Kamu mau menghancurkan hidupmu sendiri?"
"Ma, cukup!" bentak Rangga. Arini belum pernah mendengar Rangga membentak ibunya seserius itu. "Arini bukan 'ini'. Dia calon istriku. Dia sedang berjuang, dan aku nggak akan membiarkan dia berjuang sendirian hanya karena masalah jabatan atau uang."
Ibu Sarah tertawa getir, matanya berkaca-kaca karena marah. "Uang? Kamu tahu berapa tabunganmu yang tersisa kalau semua ini terus berlanjut? Kamu akan jatuh miskin, Rangga! Dan saat itu terjadi, kamu tidak akan bisa menolongnya, dan kamu juga tidak akan punya apa-apa lagi untuk dirimu sendiri. Kamu menghancurkan masa depanmu demi seseorang yang bahkan dokter katakan... tidak punya banyak waktu."
Kalimat terakhir itu seperti petir yang menyambar Arini. Tidak punya banyak waktu.
Arini menutup matanya rapat-rapat, membiarkan air mata mengalir membasahi bantalnya. Ia ingin menghilang saat itu juga. Ia tidak ingin menjadi penyebab keretakan hubungan ibu dan anak. Ia tidak ingin menjadi parasit yang menghisap habis masa depan cerah Rangga.
"Keluar, Ma. Tolong keluar," ujar Rangga dengan suara bergetar menahan amarah.
Setelah ibunya pergi dengan hentakan kaki yang kasar, keheningan di kamar itu terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Rangga mendekat ke arah ranjang Arini, hendak menyentuh tangannya, tapi Arini menarik tangannya menjauh.
"Rangga, dengarkan ibumu," suara Arini parau dan lemah. "Dia benar. Aku ini lubang hitam. Aku cuma bakal menghisap semua hal baik di hidupmu sampai nggak ada yang tersisa. Tolong, Ga... mumpung masih awal, pergilah. Kembali ke kantormu, minta maaf pada Pak Bos, dan cari kehidupan yang normal."
Rangga berlutut di samping ranjang, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Arini. "Rin, tatap aku."
Arini menggeleng, ia terus terisak.
"Tatap aku, Arini!" paksa Rangga lembut. Saat Arini akhirnya menatapnya, Rangga tersenyum tipis, jenis senyum yang paling menyedihkan yang pernah Arini lihat. "Ibuku benar soal satu hal: uangku mungkin akan habis. Karierku mungkin akan terhambat. Tapi dia salah soal satu hal yang paling penting. Hidupku nggak akan hancur karena menjagamu. Hidupku justru hancur kalau aku berdiri di puncak karierku, punya banyak uang, tapi saat aku pulang, orang yang kucintai nggak ada di sana."
"Tapi kamu akan menderita, Ga..."
"Biarkan aku menderita karenamu, daripada aku bahagia tanpa kamu," jawab Rangga tegas.
Satu jam kemudian, perawat datang untuk memulai sesi kemoterapi pertama. Arini melihat kantong berisi cairan bening yang digantung di tiang infus. Itu adalah cairan yang katanya akan membunuh sel jahat di tubuhnya, tapi Arini tahu cairan itu juga akan membunuh bagian dari dirinya yang lain.
Selama proses berlangsung, Arini merasakan sensasi dingin yang aneh merambat di pembuluh darahnya. Mual yang hebat mulai menyerang. Ia merasa kepalanya ingin pecah. "Pusing" yang ia keluhkan di awal bukan lagi sekadar kiasan.
Ruangan rumah sakit seolah bergoyang, warna putih di sekitarnya terasa menyilaukan dan menyakitkan.
Setiap kali Arini ingin menyerah dan memejamkan mata selamanya karena tidak kuat menahan mual, ia merasakan genggaman tangan Rangga yang tak pernah lepas. Rangga membisikkan doa-doa, membisikkan janji tentang pantai yang ingin mereka kunjungi, tentang anak-anak yang pernah mereka khayalkan.
Sore harinya, saat Arini mencoba menyisir rambutnya yang terasa kusut, jantungnya seolah berhenti berdetak. Segenggam rambut hitam panjangnya tertinggal di sisir. Ia mencobanya lagi, dan lagi. Rambut-rambut itu rontok seolah akarnya sudah mati.
Arini menatap gumpalan rambut di tangannya dengan tatapan kosong. Ia merasa sangat buruk rupa. Ia merasa bukan lagi Arini yang cantik yang dulu sering dipuji Rangga.
"Ga... lihat," Arini menunjukkan tangannya yang penuh rambut pada Rangga yang baru saja kembali dari menebus obat.
Rangga terdiam di ambang pintu. Ia meletakkan tas plastiknya, lalu berjalan perlahan mendekati Arini. Tanpa berkata-kata, ia mengambil sisir dari tangan Arini. Ia duduk di belakang Arini di atas ranjang, lalu mulai menyisir rambut gadis itu dengan sangat lembut, seolah Arini adalah porselen yang sangat mudah pecah.
"Nanti kita potong pendek saja ya? Biar kamu nggak pusing mengurusnya," ujar Rangga tenang, suaranya tidak menunjukkan tanda-tanda jijik atau terkejut.
"Aku bakal botak, Ga. Aku bakal kelihatan aneh. Kamu pasti malu punya tunangan kayak aku," isak Arini, bahunya terguncang hebat.
Rangga memutar tubuh Arini agar menghadapnya. Ia mengecup kening Arini lama sekali. "Kamu tetap wanita paling cantik yang pernah aku kenal, mau rambutmu panjang, pendek, atau nggak ada sama sekali. Karena aku jatuh cinta sama Arini yang di dalam sini," Rangga menyentuh dada kiri Arini, "bukan cuma apa yang ada di luar."
Arini luruh di pelukan Rangga. Di tengah rasa sakit, mual, dan pusing yang mendera, ia menyadari satu hal. Perjuangan ini bukan lagi hanya soal hidup atau mati, tapi soal seberapa kuat mereka bisa tetap saling menggenggam saat badai berusaha menceraiberaikan mereka.
Namun, di luar sana, Ibu Sarah tidak tinggal diam. Ia mulai merencanakan sesuatu agar putranya kembali ke "jalan yang benar", bahkan jika itu berarti harus menyakiti Arini lebih dalam lagi.