Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.
Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)
untuk mengubah sejarah Grand Line.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI TERAKHIR DAN PERPISAHAN
Hari ketiga dimulai dengan tenang.
Terlalu tenang.
Garp tidak membangunkan kami dengan sadis. Tidak ada air es. Tidak ada lemparan ke danau. Bahkan dia membiarkan kami tidur sampai jam lima pagi—dua jam lebih lama dari biasanya.
Itu justru membuat kami curiga.
"Ace... kenapa jii-chan diam saja?" Sabo berbisik saat kami bangun dan melihat Garp duduk di luar dengan wajah serius.
"Entah. Tapi aku punya firasat buruk."
Kami keluar dengan hati-hati. Garp menoleh dan tersenyum—tapi bukan senyum lebar biasanya. Ini senyum tipis yang penuh arti.
"Selamat pagi. Sarapan sudah siap. Makan sepuasnya. Hari ini kalian akan butuh banyak energi."
Sarapan mewah tersedia—nasi berlimpah, telur goreng, daging panggang, ikan bakar, bahkan ada buah-buahan segar. Seperti jamuan terakhir sebelum eksekusi.
Kami makan dengan perasaan campur aduk—senang karena makanan enak, tapi takut karena pasti ada sesuatu yang mengerikan menunggu.
Setelah sarapan, Garp berdiri.
"Ikut kakek."
Kami mengikutinya menuju tempat yang belum pernah kami kunjungi—area hutan paling dalam dimana pohon-pohonnya sangat besar dan rapat. Cahaya matahari hampir tidak tembus. Suara binatang liar terdengar dari segala arah.
Di tengah hutan itu, ada area terbuka besar. Dan di sana berdiri... makhluk-makhluk raksasa.
Beruang setinggi lima meter dengan cakar tajam seperti pedang. Harimau dengan taring sepanjang lengan orang dewasa. Bahkan ada sesuatu yang terlihat seperti gorila tapi ukurannya sebesar rumah.
"Ini..." Sabo pucat pasi. "Binatang buas raksasa?!"
"Ya. Ini bagian terdalam hutan Dawn Island yang bahkan pemburu berpengalaman tidak berani masuk," Garp menjelaskan santai. "Binatang-binatang di sini sudah bermutasi karena makan tumbuhan langka. Kekuatan mereka setara bajak laut dengan bounty puluhan juta belly."
Aku menelan ludah. Ini gila.
"Dan latihan terakhir kalian adalah..." Garp menyeringai lebar. "Bertahan hidup di sini selama dua belas jam. Dari jam enam pagi sampai jam enam sore. Tanpa bantuan kakek."
"DUA BELAS JAM?!" kami berteriak bersamaan.
"Ya. Kalian berdua akan ditinggal disini. Harus bertahan dari serangan binatang buas, cari makan sendiri, dan yang paling penting—jangan sampai mati."
"Tunggu tunggu tunggu!" aku protes keras. "Kami masih anak-anak! Ini terlalu berbahaya!"
"Makanya kakek bilang latihan hari ini paling berat," Garp tertawa. "Tapi tenang, kakek akan awasi dari jauh. Kalau benar-benar situasi hidup-mati, kakek akan bantu. Tapi selain itu, kalian harus selesaikan sendiri."
Dia melepas ransel besar dan melemparnya pada kami.
"Isinya perbekalan dasar—air, sedikit makanan darurat, perban, dan senjata sederhana. Gunakan dengan bijak."
Lalu dia langsung melompat ke atas pohon dan menghilang—meninggalkan kami berdua sendirian di tengah hutan berbahaya.
Hening mencekam.
Lalu terdengar geraman dari semak-semak di kiri.
"Sabo... kita lari atau lawan?" aku berbisik pelan.
"Lari dulu! Cari tempat aman untuk bertahan!"
Kami berlari sekuat tenaga saat beruang raksasa muncul dari semak dan langsung mengejar dengan kecepatan mengejutkan untuk tubuh sebesar itu.
"CEPAT! DIA MENGEJAR!" Sabo berteriak panik.
Aku aktifkan Observation Haki—cari jalur tercepat dan teraman. Ada celah di antara dua pohon besar—sempit tapi cukup untuk kami lewat.
"KESANA!"
Kami meluncur masuk celah. Beruang raksasa mencoba mengikuti tapi tubuhnya terlalu besar—terjebak di antara pohon.
ROAARRR!
Dia mengamuk, mencakar pohon sampai hancur—tapi kami sudah lari jauh.
"Hah... hah... selamat untuk sementara..." Sabo terengah-engah.
Tapi sebelum bisa istirahat, terdengar suara desis dari atas.
Ular raksasa dengan sisik hitam mengkilap melilit cabang pohon—menatap kami dengan mata kuning berbahaya.
"Kenapa sih?!" aku frustrasi. "Baru lima menit sudah ketemu dua monster!"
Ular itu menyerang dengan kecepatan kilat—mulut terbuka lebar dengan taring penuh racun.
"ACE! KIRI!"
Aku reflex lompat kiri—taring menggigit tanah tempat aku berdiri. Asap naik dari tanah—racunnya sangat kuat sampai mencairkan tanah!
"Sabo! Alihkan perhatiannya! Aku akan bakar!"
Sabo langsung bergerak—lempar batu ke arah kepala ular. Ular itu marah dan mengejarnya.
Aku fokus energi ke tangan. Api menyala—bukan bola api biasa tapi berbentuk tombak tajam.
"HIKEN: SPEAR!"
Tombak api meluncur cepat—menusuk tepat di mata ular raksasa.
HISSSSSS!
Ular menggeliat kesakitan—tubuhnya memukul-mukul sembarangan menghancurkan pohon di sekitar. Tapi akhirnya diam—mati dengan luka bakar di kepala.
"Berhasil..." aku kolaps sebentar. "Tapi energi berkurang banyak..."
"Jangan habiskan energi sembarangan. Masih lama sampai jam enam sore," Sabo mengingatkan sambil membantu aku berdiri.
Dia benar. Ini baru awal. Masih ada sebelas jam lebih.
Kami harus hemat energi dan pilih pertarungan dengan bijak.
"Cari tempat tinggi. Dari sana kita bisa lihat sekitar dan siapkan strategi," aku menyarankan.
"Bagus. Kesana—pohon besar itu kelihatan kokoh."
Kami memanjat pohon setinggi dua puluh meter—cukup tinggi untuk aman dari kebanyakan predator darat tapi tidak terlalu tinggi sampai jadi target predator udara.
Dari atas, kami bisa lihat hutan luas dengan berbagai binatang raksasa berkeliaran. Beruang, harimau, babi hutan sebesar gajah, bahkan ada burung raksasa terbang di langit.
"Ini seperti pulau prasejarah..." Sabo bergumam takjub sekaligus takut.
"Kita bagi tugas. Kau jaga dengan Observation Haki—kasih tau kalau ada bahaya mendekat. Aku siapkan perangkap dan pertahanan dengan api."
"Oke!"
Kami bekerja sama. Sabo duduk dengan mata tertutup—fokus penuh ke Observation Haki untuk monitoring area. Aku turun sedikit dan buat ring api kecil di sekitar pohon—tidak besar tapi cukup untuk bikin binatang buas ragu mendekat.
Dua jam berlalu dengan tenang. Beberapa binatang mendekat tapi melihat api langsung pergi.
Tapi ketenangan itu pecah saat—
"ACE! ADA SESUATU YANG BESAR MENDEKAT! SANGAT BESAR!"
Aku merasakan getaran tanah. Semakin kuat. Semakin dekat.
BOOM! BOOM! BOOM!
Dari balik pohon-pohon besar, muncul sosok yang membuat kami speechless.
Gorila raksasa setinggi sepuluh meter. Ototnya besar seperti batu. Matanya merah menyala. Dan yang paling mengerikan—dia terlihat PINTAR. Tidak seperti binatang buas biasa yang hanya ikut instink.
"Itu... King Kong versi One Piece?!" Sabo berteriak panik.
Gorila itu menatap kami. Lalu menatap ring api di sekitar pohon.
Dan dia tersenyum—senyum yang menunjukkan kecerdasan berbahaya.
Dia mengambil batu besar dan lempar ke arah kami.
"LOMPAT!"
Kami melompat ke pohon sebelah saat batu menghantam pohon tempat kami berdiri—CRACK—pohon patah jadi dua!
"Dia terlalu kuat untuk dilawan langsung!" aku berteriak sambil terus lompat dari pohon ke pohon menghindari lemparan batu.
"Lalu bagaimana?!"
"Kita harus outsmart dia! Aku punya rencana!"
Aku berbisik cepat ke Sabo. Dia mengangguk—meski ragu—dan langsung bergerak.
Sabo turun dari pohon dan berlari ke arah terbuka—dengan sengaja menarik perhatian gorila.
"HEI MONYET JELEK! KESINI!"
Gorila marah—mengejar Sabo dengan kecepatan mengejutkan.
Sementara itu, aku bergerak ke posisi—memanjat pohon tertinggi yang ada di jalur Sabo lari.
Sabo berlari sambil terus menghindar lemparan batu dan pukulan gorila. Dia gunakan Observation Haki maksimal—prediksi setiap serangan dan dodge dengan timing sempurna.
Saat mereka melewati bawah pohonku—
"SEKARANG!"
Aku melompat dari atas dengan kedua tangan menyala penuh. Semua energi yang tersisa dikumpulkan jadi satu serangan.
"HIKEN: METEOR SLAM!"
Aku jatuh seperti meteor berapi—kedua kepalan menghantam tepat di puncak kepala gorila raksasa.
BOOOMMM!
Ledakan api besar. Gorila jatuh berlutut—pusing berat dari benturan.
"SABO! SEKARANG!"
Sabo langsung balik—tongkat berubah jadi tombak improvisasi dengan ujung yang diasah. Dia tusuk tepat di mata gorila.
"GYAAAAA!"
Gorila mengamuk buta—memukul sembarangan menghancurkan segalanya di sekitar. Tapi gerakan jadi tidak terkoordinasi karena pusing dan buta sebelah.
Kami mundur cepat—menjauh dari jarak aman.
Lima menit kemudian, gorila akhirnya kolaps—kehabisan energi dari mengamuk. Tidak mati tapi tidak sadarkan diri.
"Berhasil..." aku jatuh duduk. "Tapi energi hampir habis total..."
"Aku juga... tangan gemetar semua..." Sabo juga kolaps.
Kami istirahat di tempat aman sambil makan bekal darurat dan minum air. Recovery sedikit energi.
Jam menunjukkan pukul sebelas siang. Masih tujuh jam lagi.
Tapi kami sudah melewati ujian terberat—mengalahkan predator terkuat di hutan ini.
Sisa waktu dihabiskan dengan bersembunyi, menghindari konflik yang tidak perlu, dan sesekali berburu binatang kecil untuk tambahan makanan.
Saat jam enam sore tiba—matahari mulai tenggelam—Garp muncul tiba-tiba dari balik pohon.
"Waktu habis! Kalian bertahan!"
Kami langsung kolaps lega—akhirnya selesai!
"Bagus! Sangat bagus! Kalian bahkan mengalahkan Raja Hutan—gorila raksasa yang bahkan pemburu veteran takut hadapi!" Garp tertawa bangga. "Kakek tidak salah pilih! Kalian berdua punya potensi jadi monster di masa depan!"
Dia mengangkat kami berdua—meski kami penuh luka dan kotor—dan membawa pulang ke gubuk.
Di gubuk, Dadan sudah siapkan pesta besar—makanan berlimpah untuk rayakan keberhasilan kami.
"Kalian gila bertahan di hutan itu!" Dadan berkata sambil merawat luka kami. "Bahkan anak buahku yang dewasa tidak berani masuk!"
"Kami juga tidak mau masuk kalau ada pilihan..." Sabo mengeluh sambil meringis saat luka dibersihkan.
Malam itu adalah malam paling hangat. Semua orang tertawa, makan bersama, dan merayakan.
Tapi aku tahu ini juga malam perpisahan.
Besok Garp akan kembali ke markas Marine.
Dan kami kembali ke latihan biasa dengan Yamamoto.
Sebelum tidur, Garp memanggil kami ke luar.
"Tiga hari ini kalian sudah berkembang luar biasa. Armament Haki-mu Ace sudah setara Marine Captain level rendah. Observation Haki-mu Sabo bahkan lebih tajam dari beberapa Vice Admiral yang kakek kenal."
Pujian besar dari pahlawan Marine.
"Tapi jangan berhenti disini. Terus latihan. Terus jadi lebih kuat. Karena suatu hari..." dia menatap kami serius. "Suatu hari kalian akan hadapi musuh yang bahkan kakek tidak yakin bisa kalahkan."
"Siapa?" aku bertanya—meski sudah tahu jawabannya.
"Pemerintah Dunia. Jika kalian benar-benar pilih jadi bajak laut, mereka akan jadi musuh terbesar kalian. Dan mereka punya kekuatan yang bahkan legenda takut."
Im-sama. Gorosei. Senjata kuno. Semua ancaman tersembunyi yang belum terungkap di timeline.
"Tapi kakek percaya kalian bisa. Dengan kekuatan D dalam darah kalian, tidak ada yang mustahil."
Kekuatan D. Kehendak D. Takdir yang dibawa orang-orang dengan inisial itu.
"Sekarang tidur. Besok kakek harus pergi pagi-pagi. Jaga diri baik-baik. Dan jaga Luffy. Bocah itu akan jadi seseorang yang luar biasa suatu hari nanti."
Kami berpelukan—pelukan pertama dan mungkin terakhir dalam waktu lama.
"Terima kasih, jii-chan," aku berbisik tulus. "Untuk segalanya."
"Gwahaha! Tidak usah berterima kasih! Ini tugas kakek! Sekarang tidur!"
Pagi harinya, saat kami bangun, Garp sudah pergi.
Hanya ada catatan singkat di meja:
"Jadi kuat. Jadi bebas. Tapi jangan lupa—kakek akan selalu di pihak kalian, apapun yang terjadi. - Garp"
Aku menyimpan catatan itu dengan hati-hati.
Tiga hari neraka sudah berlalu.
Dan kami keluar jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Api takdir berkobar lebih terang.
Ditempa oleh pahlawan.
Siap menghadapi dunia yang kejam.
Ini baru permulaan.
Permulaan dari legenda yang akan lahir.
BERSAMBUNG