NovelToon NovelToon
ENIGMA

ENIGMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Manusia Serigala / Dokter Genius / CEO Amnesia / Cinta pada Pandangan Pertama / Transformasi Hewan Peliharaan / Pengasuh
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Esmeralda Aramoa memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh subjek bernama AL. Namun, fasilitas penelitian itu hancur dan AL menghilang. Suatu ketika Di tengah hutan sunyi, predator itu kembali—lebih besar, lebih buas, dan siap merobek leher Esme.Saat kuku tajam mulai menggores nadinya, dalam keputusasaan maut, Esme meneriakkan kebohongan gila: "Berhenti! Aku adalah istrimu!"

Apakah predator haus darah itu akan percaya begitu saja?
Siapa sebenarnya sosok AL sebelum ingatannya terhapus paksa?
Apakah kebohongan ini akan menjadi pelindung atau justru jebakan mematikan saat insting liar AL mulai menuntut haknya sebagai seorang suami?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Amarah Sang Pelindung

Pagi yang seharusnya damai di lereng bukit itu terusik oleh kedatangan tiga orang pria asing yang menunggangi motor trail dengan suara bising. Mereka bukan warga desa tempat Esme tinggal, melainkan pemuda dari desa seberang yang terkenal sebagai kelompok penagih hutang dan preman bayaran. Kabar tentang kecantikan "Dokter Tumbuhan" yang memiliki suami raksasa yang linglung ternyata telah sampai ke telinga mereka, dan mereka datang karena rasa penasaran yang dibumbui niat buruk.

AL sedang berada di halaman samping, mencoba membelah kayu dengan satu tangan—sebuah latihan yang dia ciptakan sendiri agar kekuatannya tidak meluap—ketika para pria itu berhenti tepat di depan pagar pondok.

"Oi! Di mana wanita cantik yang katanya tinggal di sini sendirian dengan pria cacat mental itu?" teriak salah satu pria berambut gondrong dengan tawa mengejek.

AL berhenti membelah kayu. Dia berdiri tegak, tingginya yang luar biasa membuat para pemuda di atas motor itu harus mendongak. AL menatap mereka dengan wajah datar, namun tangannya yang memegang kapak kayu mencengkeram gagangnya hingga kayu itu sedikit retak.

"Namaku Aleksander De Januer. Dan di sini tidak ada wanita yang tinggal sendirian. Ada aku, suaminya," ucap AL dengan suara bariton yang berat dan tenang.

"Hahaha! Lihat ini, dia benar-benar bisa bicara!" pria kedua turun dari motornya, melangkah angkuh mendekati AL. "Dengar, Raksasa. Kami dengar istrimu punya banyak uang dari hasil menjual obat-obatan. Kami datang untuk minta 'pajak keamanan' wilayah. Paham?"

Esme keluar dari dalam pondok karena mendengar keributan. Wajahnya seketika pucat melihat tiga pria asing dengan tampang preman itu. "Siapa kalian? Pergi dari tanahku sekarang juga!"

Mata si pria gondrong berbinar melihat Esme. "Wah, ternyata benar-benar cantik. Jauh lebih cantik dari foto yang beredar. Hei, Manis, kenapa kau memilih pria kaku ini? Bagaimana kalau ikut kami ke kota? Kami bisa memberimu kesenangan yang tidak bisa diberikan oleh suami linglungmu ini."

Pria itu mencoba melangkahi pagar, namun dalam sekejap mata—sebuah gerakan yang bahkan tidak sempat ditangkap oleh mata manusia biasa—AL sudah berdiri tepat di depan pria itu. Jarak mereka hanya beberapa senti. AL tidak menggunakan kapak, dia hanya meletakkan tangannya di dada pria itu dan mendorongnya perlahan.

Pria itu terlempar ke belakang hingga menabrak motornya sendiri sampai terguling.

"Jangan dekati Moa," geram AL. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan suara predator yang sedang memperingatkan wilayah kekuasaannya. "Bang Togar bilang, jika ada serangga yang mencoba mendekati bunga, aku harus meremuk sayapnya."

"Sialan! Berani kau melawan kami?!" pria ketiga mengeluarkan sebilah pisau lipat dari sakunya.

Esme berteriak, "AL! Jangan! Masuk ke dalam rumah!"

Namun, AL tidak bergerak. Insting pelindungnya telah mengambil alih sepenuhnya. Dia teringat pelajaran "Dominasi" dari Bang Togar, namun kali ini versinya jauh lebih gelap dan nyata. AL melangkah maju, auranya begitu pekat hingga burung-burung di sekitar pondok terbang menjauh karena ketakutan.

"Kau membawa benda tajam untuk menyakiti keluargaku?" tanya AL dengan nada dingin yang menusuk tulang.

Dengan gerakan kilat, AL menangkap pergelangan tangan pria berpau itu. Hanya dengan satu remasan lembut, terdengar bunyi "KRAK" yang membuat pria itu berteriak histeris menjatuhkan pisaunya. AL kemudian mengangkat pria itu dengan satu tangan pada kerah bajunya, mengangkatnya hingga kaki pria itu menggantung di udara.

"Moa adalah istriku. Jika kau berani menyebut namanya dengan mulut kotormu lagi, aku akan memastikan kau tidak akan bisa bicara selamanya," ucap AL sambil menatap mata pria itu dengan pupil yang sudah menyempit menjadi garis vertikal yang tajam.

Dua teman lainnya yang melihat kawan mereka diperlakukan seperti boneka kain segera menarik teman mereka yang kesakitan, menaikkannya ke motor, dan kabur tunggang langgang tanpa berani menoleh lagi.

Suasana kembali hening, kecuali suara napas AL yang memburu. Tangannya masih mengepal, dan matanya masih berpendar kuning keemasan.

Esme berlari mendekati AL, tangannya gemetar saat menyentuh lengan bawah AL yang terasa keras seperti baja. "AL... Aleksander... tenanglah. Mereka sudah pergi."

AL menoleh perlahan. Saat melihat wajah Esme yang ketakutan, amarah di matanya perlahan memudar. Kuku-kukunya yang sempat memanjang kembali memendek. Dia menatap tangannya sendiri, lalu menatap Esme dengan wajah yang tiba-tiba berubah menjadi sangat sedih dan bingung.

"Moa... apakah aku baru saja menjadi monster lagi?" bisik AL dengan suara bergetar. "Aku... aku tidak ingin menakutimu. Tapi mereka ingin membawamu pergi. Aku tidak bisa membiarkannya."

Esme segera memeluk tubuh besar AL, menyandarkan kepalanya di dada pria itu yang masih bergemuruh hebat. "Tidak, kau bukan monster. Kau pelindungku. Terima kasih, Aleksander. Kau baru saja menyelamatkanku."

AL membalas pelukan Esme dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Esme. "Aku tidak suka mereka menatapmu seperti itu. Bang Togar bilang, seorang suami harus menunjukkan kepada dunia bahwa istrinya adalah miliknya yang paling berharga. Apakah aku sudah melakukannya dengan benar?"

Esme tersenyum di dalam pelukan AL, meski matanya berkaca-kaca. "Iya. Kau melakukannya dengan sangat benar. Tapi tolong, jangan patahkan tulang orang lagi jika tidak terpaksa, ya?"

AL mengangguk patuh. "Mengerti, Moa."

---

Malam harinya, AL tampak lebih pendiam. Kejadian tadi siang nampaknya membangkitkan sisa-sisa memori tentang kekuatannya yang liar. Dia duduk di depan perapian, mengelus Ocan yang entah kenapa kali ini bersikap manis dan duduk di pangkuan AL seolah mengakui bahwa AL adalah penjaga rumah yang sah.

"Moa," panggil AL saat Esme membawakannya segelas susu hangat.

"Ya?"

"Tadi saat aku marah, aku merasa ada sesuatu yang ingin meledak dari dalam tubuhku. Rasanya sangat kuat, tapi juga sangat menakutkan," ucap AL jujur. "Apakah suami-suami di desa juga merasakan hal yang sama?"

Esme duduk di samping AL, memegang tangan pria itu. "Itu namanya adrenalin, AL. Dan rasa takut itu muncul karena kau peduli padaku. Itu hal yang wajar bagi manusia."

AL menatap Esme, lalu tiba-tiba dia melakukan gebrakan yang membuat Esme tertegun. AL menarik tangan Esme dan mengecup telapak tangannya dengan sangat lembut, satu per satu jari dihentikan oleh bibirnya.

"Bang Togar bilang, setelah seorang pria melindungi wanitanya, dia berhak meminta imbalan berupa pelukan yang lama," ucap AL dengan wajah polos namun tatapannya sangat dewasa. "Bolehkah aku memintanya sekarang? Aku merasa sangat lelah menjadi pelindung."

Esme tidak bisa menolak. Dia merayap masuk ke dalam dekapan AL di sofa depan perapian. Mereka duduk berpelukan dalam keheningan yang nyaman, hanya ditemani suara kayu bakar yang berderak.

"Aku mencintaimu, Moa," bisik AL untuk yang kesekian kalinya, namun kali ini terdengar jauh lebih tulus dan tanpa tekanan dari Bang Togar. "Aku akan selalu menjadi pagar berdurimu."

Esme memejamkan mata, menikmati detak jantung AL yang kini menjadi irama favoritnya. "Aku juga mencintaimu, Aleksander."

Namun, di tengah suasana romantis itu, AL tiba-tiba bersuara lagi. "Moa, jika kita terus berpelukan begini, apakah bayinya akan benar-benar keluar dari pusarmu besok pagi? Aku sudah menyiapkan kain bersih di samping tempat tidur kalau-kalau itu terjadi."

Esme seketika melepaskan pelukannya dan menatap AL dengan wajah datar. "ALEKSANDER! Sudah kubilang Bang Togar itu pembohong dalam urusan biologi!"

AL tertawa kecil, tawa pertamanya yang terdengar sangat lepas dan bahagia. "Aku tahu, Moa. Aku hanya ingin melihat wajah merahmu lagi. Kau sangat cantik kalau sedang marah."

Esme speechless. Dia baru saja menyadari bahwa AL sudah mulai belajar cara menggoda (teasing) secara mandiri. Sang predator ternyata tidak hanya tumbuh secara fisik, tapi juga secara mental—menjadi pria yang semakin sulit untuk diabaikan.

Ocan mengeong sekali, lalu melompat pergi ke kamarnya sendiri, merasa bahwa malam ini dunia hanya milik dua manusia yang sedang mabuk asmara tersebut.

1
Ceye Paradise
🫶😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!