NovelToon NovelToon
Only Ever

Only Ever

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Running On

Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab : 22

Hari berganti hari, dan kesibukan proyek film itu menyita hampir seluruh waktu mereka. Namun bagi Karin, hari-hari itu terasa berbeda. Lebih ringan. Lebih cepat berlalu. Dan—tanpa ia sadari—lebih menyenangkan sejak James datang ke Inggris dan resmi bergabung dalam tim mereka.

Di lokasi syuting, kedekatan Karin dan James terlihat begitu alami. Mereka sering terlihat berbincang, tertawa kecil di sela-sela pekerjaan, atau sekadar berdiri berdekatan sambil mendiskusikan hal-hal kecil. Keakraban itu begitu kasat mata, sampai beberapa staf lain diam-diam memperhatikan mereka dengan senyum iri. Dari kejauhan, Karin dan James tampak seperti sepasang kekasih yang serasi—ramah, hangat, dan selalu terlihat nyaman satu sama lain.

Dan tentu saja, semua itu tidak luput dari perhatian Arka.

Awalnya, Arka masih mampu mengendalikan dirinya. Ia mencoba bersikap profesional, meyakinkan diri bahwa apa yang ia lihat hanyalah kedekatan rekan kerja. Namun perlahan, ada sesuatu yang menggerogoti dadanya—perasaan yang semakin sulit ia abaikan.

Hingga suatu hari, tanpa sengaja, Arka melihat mereka di sebuah ruangan kecil di balik lokasi syuting.

Di sana, James tengah menyuapi Karin makanan. Bukan dengan cara yang dibuat-buat, melainkan dengan gerakan sederhana yang terasa akrab. Karin menerimanya tanpa ragu, lalu tertawa. Tak lama, Karin membalas—menyuapi James. Mereka tertawa bersama, suara tawa yang ringan, tanpa beban.

Arka berdiri terpaku.

Ia melihat betapa dekat jarak mereka. Betapa lepas tawa Karin bersama James. Terlalu lepas—lebih lepas dari yang pernah ia lihat akhir-akhir ini. Dan saat itu, Arka merasakan sesuatu yang menusuk dadanya pelan tapi pasti.

Ia terluka.

Arka menyadari, perlahan tapi menyakitkan, bahwa ia seperti kehilangan posisi dalam hidup Karin. Posisi yang dulu pernah ia miliki. Posisi yang dulu terasa aman. Dan tanpa ia sadari, ia lupa satu hal penting—bahwa ia kini hanyalah mantan. Bahwa dialah yang dulu memilih pergi dan melepaskan gadis itu.

Hari-hari berikutnya seolah menjadi rangkaian pengingat yang kejam.

Suatu sore, hujan turun tiba-tiba. Karin hendak pulang, dan Arka refleks mengambil payung, berniat menghampirinya. Namun lagi-lagi, ia terlambat. James sudah lebih dulu berada di sana, membuka payung dan memayunginya.

Di lain waktu, Karin hampir terjatuh karena kakinya terpeleset. Arka menahan napas, refleks ingin bergerak—tapi sekali lagi, James sudah lebih dulu menangkap Karin, menahannya agar tidak jatuh.

Ada juga saat Karin mengemukakan sebuah ide di tengah diskusi. James langsung memujinya dengan tulus, dan senyum Karin mengembang karena itu. Sebuah senyum yang membuat Arka merasa semakin terasing.

Perlahan, tanpa ia sadari, Arka mulai tidak menyukai James.

Bahkan hal-hal kecil pun mulai memancing emosinya. Saat melihat Karin dan James berbincang akrab di lokasi syuting, Arka mendadak merasa kesal. Amarah itu tak ia arahkan ke sumbernya, melainkan dilampiaskan pada orang lain.

Arka berdehem pelan, suaranya memotong ruang di antara mereka.

“Let’s continue.”

(Ayo, kita lanjut.)

Ia melirik ke arah kru dan aktor di lokasi syuting.

“We’re still shooting. Please get back to your positions.”

(Kita masih syuting. Tolong kembali ke posisi masing-masing.)

Nada suaranya terdengar profesional.

Terlalu profesional—seolah itu satu-satunya cara untuk menutupi sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya.

Di kesempatan lain, saat emosinya tak lagi terkendali, Arka menghentikan pengambilan gambar.

“Cut.”

Ia menatap para aktor dengan wajah dingin.

“That was bad. The acting feels off. Let’s do it again.”

(Itu buruk. Aktingnya terasa tidak pas. Kita ulang.)

Tak ada yang berani membantah.

Tak ada yang tahu bahwa kemarahan itu bukan untuk mereka.

Dan saat makan bersama, ketika James lebih dulu memberikan makanan pada Karin, Arka hanya berkata singkat tanpa menatap siapa pun:

“It’s fine. Let’s continue eating.”

(Tidak apa-apa. Kita lanjut makan saja.)

Tangannya mengepal di bawah meja.

Saat makan bersama pun, kejadian serupa terulang. Arka berniat mengambilkan makanan untuk Karin, tapi James sudah lebih dulu melakukannya. Hal sederhana, tapi cukup membuat tangan Arka mengepal tanpa sadar.

Ia sering berdiri memandangi mereka dari kejauhan, rahangnya mengeras, dadanya sesak oleh perasaan yang tak ia akui—bahwa ia sedang cemburu, dan bahwa ia takut benar-benar kehilangan Karin.

Malam itu, saat makan bersama tim, Karin minum terlalu banyak.

Awalnya ia masih tertawa wajar, masih bisa duduk tegak. Namun perlahan, tawanya menjadi lebih keras, geraknya lebih ceroboh, dan kata-katanya mulai melompat ke mana-mana.

Saat mabuk, Karin berubah seperti anak kecil.

Ia banyak berbicara, tertawa tanpa sebab, dan mengatakan hal-hal yang bahkan ia sendiri tak pahami sepenuhnya.

James memperhatikannya sejak tadi. Ketika melihat Karin mulai kesulitan menjaga keseimbangan, ia berdiri. Ia berniat mengantarnya pulang.

Namun sebelum James sempat mendekat, Arka lebih dulu berdiri.

Ia menghampiri Karin dan menopang tubuhnya dengan sigap.

Karin tertawa kecil, lalu mendorong dada Arka pelan.

“Jangan sentuh aku,” katanya sambil tertawa.

Nada suaranya ringan—bukan marah, benar-benar suara orang mabuk.

Ia lalu berbalik, menatap James dengan mata sedikit sayu tapi masih berbinar.

Tangannya meraih tangan James.

“James, let’s go home.”

(James, ayo pulang.)

James terkejut sesaat, lalu ikut berdiri, membiarkan dirinya ditarik.

Namun dengan cepat, Arka menahan tangan Karin.

Genggamannya tidak keras, tapi cukup untuk menghentikannya.

James berhenti.

Pandangan matanya jatuh pada tangan Arka yang menggenggam pergelangan tangan Karin.

Di detik itu, Arka sadar—

ada sesuatu antara Karin dan James.

Dan James pun sadar—

ada sesuatu antara Karin dan Arka.

Sesuatu yang tidak mereka ucapkan, tapi terlalu nyata untuk diabaikan.

James menatap Karin, lalu berkata dengan suara lebih pelan,

“Karin, I’ll take you home. You’re drunk.”

(Karin, biar aku antar pulang. Kamu mabuk.)

Arka mengatakan sesuatu dengan cepat menggunakan bahasa Indonesia, nadanya tegang.

James tidak mengerti apa yang ia katakan.

Karin dengan dingin melepaskan tangan Arka.

“Aku mau pulang sama James aja.”

Ia tertawa kecil, lalu menatap Arka tanpa benar-benar fokus.

“Kamu pergi aja ke Inggris. Di sana kamu bisa jadi produser terkenal.”

Arka langsung menarik tangan Karin lagi.

Gerakan itu membuat James kesal.

Ia maju dan menepis tangan Arka dari pergelangan tangan Karin.

“If she doesn’t want to, don’t force her.”

(Kalau dia tidak mau, jangan memaksanya.)

Arka menatap James dengan dingin.

“This is none of your business.”

(Ini bukan urusanmu.)

Ia kembali hendak meraih tangan Karin.

Namun kali ini, Karin menarik tangannya sendiri.

“Jangan ganggu aku.”

Senyumnya masih ada, tapi suaranya mulai bergetar.

“Kenapa kamu tiba-tiba peduli sama aku?”

“Bukannya dulu kamu yang ninggalin aku dan pergi ke sini buat lanjutin kariermu?”

“Bukannya kamu malu punya pacar kayak aku?”

Kata-kata itu keluar berantakan—jujur, tanpa saring, khas orang mabuk.

Orang-orang di sekitar mereka hanya saling pandang.

Tak satu pun mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.

“Terus kenapa sekarang kamu mau dekat sama aku lagi?” lanjut Karin.

“Kenapa kamu mau nganter aku pulang?”

Arka terdiam.

Tak ada satu pun kata yang bisa ia ucapkan.

Akhirnya ia hanya berkata pelan,

“I’ll take you home.”

(Aku akan mengantarkanmu pulang.)

Karin menggeleng.

“I don’t want you to.”

(Aku tidak mau.)

Ia terdiam sesaat, lalu—salah menarik tangan.

Bukan Arka.

James.

“Let me go with him.”

(Biarkan aku pulang dengan dia.)

Mereka pun pergi.

Langkah Karin sedikit oleng, tawanya masih terdengar pelan.

James mengikutinya, menjaga langkahnya tanpa banyak bicara.

Sementara Arka tetap berdiri di tempat.

Dan tim lain hanya bisa menatap bingung—

tak mengerti apa yang baru saja terjadi,

namun tahu,

ada sesuatu yang pecah malam itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!